Lembaga Penghisap Buruh Desember 8, 2009
Posted by anditoaja in Buruh.add a comment
”Semoga Tuan bisa menyuarakan penderitaan kami.” Suaranya tercekat. Nampak benar ia lelah hati dan traumatik. Terbayang kembali peristiwa-peristiwa sial yang dialaminya. Terlibat dalam agenda aksi, namun dipolitisir oleh lembaga perburuhan yang biasa mendampinginya. (lagi…)
Dilema Ideologisasi Serikat Pekerja Juni 4, 2009
Posted by anditoaja in Buruh.2 comments
“Workers have the right to form and join unions of their choosing, bargain collectively and go on strike.” (Paul Kersey)
Dalam sebuah hubungan industrial, kesejajaran antara korporasi dan pekerja menentukan kualitas kerjasama dan komunikasi di antara kedua belah pihak. Pekerja yang bermodal lemah (dari sisi konsep, skill, dana, jaringan dan massa) berposisi tawar lemah dan cenderung dilemahkan. (lagi…)
Dirikanlah Negara Islam: Testimoni Seorang Romo Mei 27, 2009
Posted by anditoaja in Sosial.5 comments
Artikel ini pernah aku teruskan ke milis SMA Negeri 1 Bekasi karena menurutku menarik dan layak kita renungkan bersama. Sayangnya ada beberapa tanggapan yang, menurutku, berlebihan/mendramatisir sehingga membelokkan substansi kritiknya. Sebelum aku tanggapi, aku salinkan isi lengkap artikel tersebut:
Dirikanlah Negara Islam: Testimoni Seorang Romo (lagi…)
Realitas dan Kesadaranku April 22, 2009
Posted by anditoaja in Uncategorized.4 comments
Socrates: Karena setiap persepsi berkaitan secara khusus dengan keberadaanku, maka persepsiku adalah benar bagiku dan, seperti kata Protagoras, aku adalah hakim segala sesuatu yang memang milikku, yang ada sebagaimana adanya, dan segala sesuatu yang bukan milikku, yang tidak ada sebagaimana adanya (Plato, “Theaetetus”, 160c)
Nasib Perkaderan [1] April 14, 2009
Posted by anditoaja in Pendidikan.4 comments
Apakah dunia perkaderan itu sebuah utopia?
“Perkaderan itu masa lalu. Kini saatnya kita fokus kepada kesejahteraan keluarga.”
Aku baru saja bertemu dengan seorang teman lama. Dia kini aktif wira-wiri di beberapa partai besar membuat seminar ini dan itu dengan rekan-rekannya di berbagai instansi dan LSM. Penampilannya sekarang lebih bersih dan terawat. Apa tujuan semua kegiatan tersebut? “Gini aja pak. Daripada dananya dimakan sama elite partai, lebih baik kita jadikan seminar. Syukur-syukur ada peserta yang dapat hidayah dan berubah jadi baik.” (lagi…)
Lia Eden Maret 18, 2009
Posted by anditoaja in Agama.19 comments
Don’t be satisfied with stories, how things
have gone with others. Unfold
your own myth, without complicated explanation,
so everyone will understand the passage,
We have opened you.
(Jalal al-Din Rumi)
Beberapa waktu lalu, aku menerima SMS dari seorang teman di Bandung. Isinya isu aku ditangkap oleh polisi. (lagi…)
Pekerjaan Lim Maret 16, 2009
Posted by anditoaja in Buruh.15 comments
Tadi pagi ia datang ke kantorku. Wajahnya serius. “Ini untuk direkturku. Bacalah.” Katanya seraya menyerahkan sepucuk surat. Isinya pernyataan kepada pimpinan perusahaannya agar mengabulkan salah satu dari dua opsi: Menjadikannya karyawan outsource atau ia mengundurkan diri. (lagi…)
Dr. O. Hashem: Semangat Hidup, Rasionalitas dan Buku Maret 6, 2009
Posted by anditoaja in Testimoni.18 comments
“A hero is born among a hundred, a wise man is found among a thousand, but an accomplished one might not be found even among a hundred thousand men.” (seorang pahlawan lahir di antara ratusan orang, seorang bijak ditemukan di antara ribuan orang, tetapi seorang yang sempurna malah mungkin tidak bisa dijumpai di tengah-tengah ratusan ribu manusia) (Plato, 428-348 SM)
Kitab Suci Maret 5, 2009
Posted by anditoaja in Agama.8 comments
Oon: Darimana anda mengenal dan percaya Tuhan?
Santri: Dari kitab-Nya.
Oon: Mengapa?
Santri: Karena di dalam kitab-Nya itulah diterangkan bahwa Dia itu ada.
Oon: Berapa jumlah Tuhan?
Santri: Satu.
Oon: Darimana kau mengetahui dan mengklaim demikian?
Santri: Dari kitab-Nya. (lagi…)
Kereta Februari 24, 2009
Posted by anditoaja in Sosial.3 comments
Jumat 20 Februari 2009, jam 16-an WIB.
Kereta Rangkaian Listrik baru saja tiba dari arah Jakarta. Di sore mendung itu aku tetap memaksa masuk ke gerbong keempat tak berlampu dan sudah dijejali penumpang. Aku harus tiba di Depok secepatnya. Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, tas punggung aku sandang di dada. Hape juga sudah aku pindahkan dari saku celana ke dalam tas. Di dalam demikian pengap. Aku dorong sedikit-sedikit orang-orang yang di dalam agar aku bisa juga nyempil di antaranya. Untunglah tinggi badanku di atas rata-rata sehingga cukup menghirup udara di atas kepala penumpang. (lagi…)









