jump to navigation

SPSI Februari 29, 2012

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

 

“SPSI bagaikan merek kendaraan bermotor yang tak lepas dari negara yang memproduksinya. Kalau bicara sepeda motor di Jepang maka yang dikenal adalah Honda. Kalau bicara masalah pekerja di Indonesia, maka yang kita kenal adalah SPSI.” (Shigeru Wada, pada Kongres KSPSI VIII di Malang, 17 Februari 2012)

 

 

Konfederasi pekerja selalu menjadi incaran banyak pihak, terutama politisi dan/atau pengusaha. Dengan klaim anggota yang signifikan, konfederasi pekerja seperti kue legit tiap dilahap, digerakkan untuk melawan atau mendukung rezim yang berkuasa saat ini.

Rezim Suharto menyatukan organisasi pekerja dalam wadah Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) pada 20 Februari 1973. Dalam rangka asas tunggal, Sudomo selaku Menaker Kabinet Pembangunan IV mengondisikan Kongres FBSI tahun 1985 untuk berganti nama menjadi SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Suharto meneguhkan hari kelahiran FBSI sebagai Hari Pekerja Indonesia (Harpekindo) dalam Kepres No. 9 Tahun 1991 pada tanggal 20 Februari 1991. Penetapan ini nampaknya untuk memutus rantai solidaritas antara buruh Indonesia dan buruh internasional pada hari buruh sedunia 1 Mei.

Kekuasaan SPSI yang nyaris seumur Orde Baru memanipulasi kesadaran sebagian besar pekerja bahwa satu-satunya organisasi pekerja yang legal adalah SPSI. Padahal pasca Reformasi 1998 setidaknya telah melahirkan KSBSI, KSPI, dan KASBI. Ketua umum KSPSI lebih berpeluang menjadi Menteri Tenaga Kerja. Meskipun faktanya menyatakan bahwa Presiden cenderung memilih Menaker dari unsur militer (misalnya Sudomo) atau pengusaha (contohnya A Latif) atau partai (misalnya Fahmi Idris dan Muhaimin).

Nuansa “politis” mewarnai Kongres KSPSI VIII di Malang yang memilih Yorris TH Raweyai, Ketua DPP Partai Golkar, sebagai Ketua Umum KSPSI. Menurut Yorris, Kongres ini memiliki legitimasi kuat karena sudah melebihi kuorum dan dihadiri stakeholder, yaitu unsur MPO, DPP, 8 FSPA, DPD, dan DPC. Selang satu hari berlangsung pula Kongres KSPSI di Jakarta yang memilih Andi Gani Nuawea, salah seorang aktivis PDIP, dengan dukungan Sekjen DPP, Bendahara DPP, dan 6 dari 14 FSPA (NIBA, LEM, KEP, TSK, RTMM, PPMI).

Yorris menilai ilegal Kongres KSPSI Jakarta. Sedangkan Sekjen KSPSI Suwarno menuding Pjs. Ketua Umum KSPSI Mathias Tambing menggelar kongres di Malang tanpa persetujuan DPP dan MPO.

Semua organisasi berskala nasional berpeluang mendulang suara pada Pemilu 2014. Organisasi ini juga berpotensi mempertahankan atau menjatuhkan rezim saat ini. Sehingga, dengan kepemimpinan penguasa dan pengusaha di KSPSI, apakah kiprah organisasi pekerja ini kedepan akan bermanfaat bagi pekerja?

Dengan nama besar dan kekuatan SPSI, seharusnya kesejahteraan pekerja membaik. Namun upah layak dan jaminan sosial masih jauh dari impian. Bahkan untuk memimpin diri mereka sendiri pun mereka butuh bantuan para penguasa dan pengusaha. Kedua kelas ini sudah pasti mendapatkan banyak keuntungan dengan memimpin organisasi kelas pekerja. Padahal mereka sama sekali bukan kelas pekerja. [andito]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: