jump to navigation

BBM Mei 26, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

“Saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama memahami kondisi ini dengan semangat tanpa menyerah, dengan tegar dan tabah” (petuah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang kenaikan harga BBM).

Sejak zaman kuda lumping, Indonesia adalah negara produsen energi. Setelah zaman globalisasi status Indonesia bergeser menjadi negara produsen dan konsumen energi. Ini semua akibat meningkatnya kebutuhan energi karena pembangunan dan pertambahan jumlah penduduk (220 juta). Produksi energi dan sumber daya mineral kita cenderung meningkat, kecuali minyak bumi. Solusinya, kita perlu menerapkan kebijakan harga, diversifikasi dan konservasi energi. Itu kata Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pada 5 Mei 2008.

Sebagai warga negeri yang awam untuk kalkulasi sumber daya mineral. Kita cuma merasakan hidup yang semakin susah, rumit, dan njelimet.

Pada 1 Oktober 2000, harga premium naik dari Rp1000 menjadi Rp1150 (naik 15%)

Pada 1 April 2001, harga premium naik dari Rp1150 menjadi Rp1150 (naik 0%)

Pada 17 Januari 2002 harga premium naik dari Rp1150 menjadi Rp1450 (naik 26%)

Pada 1 Januari 2003 harga premium naik dari Rp1450 menjadi Rp1810 (naik 25%)

Pada 1 Maret 2005 harga premium naik dari Rp1810 menjadi Rp2400 (naik 33%)

Pada 1 Oktober 2005, harga premium naik dari Rp2400 menjadi Rp4500 (naik 87,5%)

Pada 24 Mei 2008, harga premium naik dari Rp4500 menjadi Rp6000 (naik 33%).

Sejak 2000 BBM kita naik 7 kali. Aku mengetahui info ini usai nonton Indiana Jones di Setiabudhi One. Yang meneken surat keputusan itu Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, dilanjutkan oleh Megawati Soekarno Putri dan disempurnakan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sehari pasca kenaikan BBM, aku suka memperhatikan seringai kondektur saat menagih ongkos dan ekspresi pasrah penumpang saat merogoh kocek lebih dalam 30-50% dari ketentuan normal. Supir dihantui setoran yang menaik. Pemilik bis dihantui harga onderdil. Pemilik onderdil dihantui harga kebutuhan pokok rumah tangga yang melonjak. Istri pemilik onderdil dihantui ancaman kekerasan bila gaji pembantunya tidak naik. Pembantu itu pun dihantui tagihan kondektur yang gayanya semi memeras.

Saat aku kuliah di Bandung, pada 1996 harga seporsi nasi + 1 potong daging ayam + kerupuk + pisang + es teh manis + lalapan adalah Rp750. Menu yang sama dengan harga yang lebih miring dirasakan oleh mahasiswa di Yogya. Pada 2001, harga makanan tersebut di Jakarta adalah Rp3000. Pada awal tahun 2008 adalah Rp11000. Setelah Tuhan YME menakdirkan harga premium menjadi Rp6000, aku merogoh saku Rp13000 untuk menu yang sama. Bila aku tetap ngotot mengeluarkan Rp750 di tahun 2008 ini, aku praktis hanya bisa makan 1 bungkus nasi + 1 kerupuk.

Apakah kita semakin miskin atau makmur? Menurut meteran kain pemerintah, yang namanya miskin bila penghasilannya sama atau kurang US$ 1 per hari, setara dengan 1 beef burger termurah di McDonalds dan sebungkus nasi warteg. Bila mau sedikit irit, 1 dolar Amrik ini bisa menjadi 2 liter beras. Kata World Bank, miskin itu kurang dari US$ 2 per hari. Kataku, naik bis PPD AC Bekasi-Jakarta PP Rp16000. Dalam pandangan pemerintah Indon, US$ 2 itu masih termasuk mampu, karena bisa beli beras 2 kg dan telor ayam 1 kg (sekitar 18 butir). Ade Rai biasa makan 1 kg telur ayam sendirian, setiap hari . Tidak jauh dari tempat tinggalku, 1 butir dibagi untuk 1 keluarga (suami, istri, 2 anak).

Pada tahun 2001, karyawan masih bisa menabung dari gaji terendah Rp1 juta. Pada tahun 2008, dengan gaji Rp2,5 juta karyawan tidak bisa menabung dan tidak bisa kredit rumah. Itu kata Kompas pada perengahan Mei 2008. Tapi sekarang setiap anak sekolah sudah melek komputer. Laptop juga bukan barang mewah lagi. Laptop seharga belasan juta rupiah 4-5 tahun yang lalu sekarang hanya berharga jutaan saja.

Menurut kabar resmi pemerintah, inflasi tahun 2002 adalah 10,03%, inflasi tahun 2003 adalah 5,1%, inflasi tahun 2004 adalah 6.4%, inflasi tahun 2005 adalah 18%, inflasi tahun 2006 adalah 6,6%, inflasi tahun 2007 adalah 6,59%. Kelihatannya enteng ya, sebagian besar inflasi di bawah satu digit. Tapi tiap tahun harga barang naik menggigit, dari belasan hingga 20-30an persen.

Bukankah pencabutan subsidi BBM adalah sebab kenaikan semua harga yang akhirnya juga menimpa rakyat kecil?

Ah, tidak. Siapa bilang? Rakyat itu pekerja keras dan kreatif. Mereka punya banyak alternatif saat krisis bahan bakar. Saat mereka kesulitan minyak tanah, mereka segera beralih ke gas elpiji. Saat tarif telepon kita paling mahal se akhirat, pemilik handphone Nokia jenis communicator terbanyak sedunia ada di Republik Indonesia. Tiap tahun kendaraan bermotor selalu bertambah. Untuk membelinya harus pakai uang, bukan daun. Jadi, rakyat Indonesia pasti punya uang, tidak miskin.

Bukankah panjangnya antrian pembeli minyak tanah atau bensin itu tanda kemiskinan? Bukan. Itu adalah gaya silaturahmi dan sikap gotong royong. Kedua hal ini adalah warisan budaya bangsa, harus dilestarikan. Lihatlah wajah mereka selalu tersenyum. Senyum adalah tanda bahagia. Mereka bahagia bisa antri membeli BBM karena tanda tubuh mereka masih kuat.

Kata Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla, rakyat Indonesia itu tahan banting, tabah, beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Setiap ada musibah, selalu dihadapi dengan senyum. Apalagi kalau disorot kamera televisi, “Nyak, beh, aye masup tipi!” Aku yakin, dalam lubuk hati yang paling dalam kedua tokoh tersebut, mereka juga ingin sesekali merasakan nyemplung di kali Ciliwung. Aku juga yakin, presiden kita tidak keberatan bila sidang kabinet disediakan air tanah Jakarta yang kandungan bakteri ecoli-nya demikian mempesona. Demi rakyat, mereka siap melakukan apa pun. Bertaruh nyawa saja berani demi membela harga dii bangsa, apalagi sekadar mandi di kali Ciliwung dan minum air tanah Jakarta.

Bukankah Bantuan Langsung Tunai (BLT) Rp100 ribu tiap keluarga adalah sekadar politik pencitraan pemerintah?

Bukan. Itu fitnah. Bantuan itu justru tanda pemerintah peduli dan ingat pada rakyat miskin. Di dalam UUD merk 1945 atau amandemen ditegaskan bahwa rakyat miskin dipelihara negara. Nah, BLT adalah bukti bahwa mereka terpelihara kemiskinannya. Bila BBM tidak naik = tidak ada BLT = pemerintah sulit mencari alasan memelihara mereka. Untuk mengambil jatah BLT, harus menunjukkan kartu pengenal. Artinya, pemerintah benar-benar ingin memastikan bahwa mereka adalah orang miskin dan sekali miskin tetap miskin. Di sinilah tugas negara sebagai pemelihara fakir miskin teraktualisasi.

Siapa yang TIDAK PERNAH merasakan dampak kenaikan BBM?

Tentu saja setiap tuan-tuan anggota legislatif dan pemerintah yang kuasa mencabut subsidi BBM. Ingat, semua anggota dewan, baik yang protes maupun setuju. “Makanya, kita harus mengubah parlemen supaya lebih peduli pada rakyat!” demikian ujar temanku. Ia mencontohkan kasus laptop anggota dewan. Yang pertama kali minta pengadaan laptop adalah anggota dewan dari Fraksi Partai Agama. Tapi setelah isu ditanggapi miring, segera gerbong itu balik arah dan pura-pura peduli pada opini masyarakat. Begitu pula saat kenaikan gaji anggota dewan yang mengundang berahi itu. Opini di media massa PDIP menolak keras. Tapi di lingkungan dalam, mereka mendukung rekan fraksi lain yang mengajukan kenaikan gaji.

Temanku yang lain menimpali, “Dengan harga premium Rp 6000, pemerintah sebenarnya masih terbebani subsidi. Titik impasnya itu di kisaran Rp8423 sesuai harga pasaran dunia.” Dia putra anggota dewan sebuah Partai Golkar. Mamanya aktivis pengajian yang suka demonstrasi anti Israel. Kemudian obrolan beralih ke topik-topik lain yang lebih ringan. Hm, memang enak diskusi di Starbuck Coffee. Cukup memesan segelas kopi seharga 35 ribuan perak, kita bisa ngobrol nyaman di kursi empuknya. Tidak ada bau knalpot, tidak ada pengamen jalanan, tidak tersentuh keringat orang. Dan yang terpenting, kepala tidak cepat panas… [andito]

Komentar»

1. economatic - Mei 27, 2008

Kalau gitu lebih baik nggak usah pakai minyak bumi, pakai aja minyak goreng, minyak rambut, minyak kelapa, minyak telon, minyak tawon, atau kulit berminyak …..
Memang ada baiknya kita menghemat konsumsi BBM, walaupun itu harus secara Nasional.
Salam Kenal http://economatic.wordpress.com/

2. penyokongpaklah - Mei 28, 2008


COBA LIAT SITUS:
rompaklah-malingsia.blogspot.com

3. Harga Naik karena BBM naik? « wak AbduLSomad - Mei 28, 2008

[…] baru itu bernama BBM, konon kabarnya dia (si BBM) ini sanggup membuat harga barang barang lain melejit naik? padahal setahu saya BBM ini cuma […]

4. Reza Fattah - Mei 31, 2008

memang kita kaya kok…

5. Reza Fattah - Mei 31, 2008

btw pernah ya kita diskusi di Starbuck? seingat saya belum pernah dech.. atau saya yang lupa?

6. WORLEWOR - Juli 31, 2008

Kalo anggota DPR naik, para model mendesah……aaahhhh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: