jump to navigation

Pendidikan Nasib Juni 13, 2016

Posted by anditoaja in Pendidikan.
trackback

Sudah nasib, kita dididik untuk menerima nasib. Hal ini bukan sikap pasrah atau melankolis. Justru ini adalah sikap sadar, sikap rasional. Bahwa kita dididik untuk menerima segala akibat dari sistem yang kita jalani selama ini. Alam ini telah mendudukkan diri kita sedemikian rupa, sehingga kita hanya perlu berperan sebaik-baiknya. Penolakan atas sistem ini merupakan tindakan tak patut. Kita menjadi orang yang tak bersyukur, tak sabar, dan sombong. Apabila sikap negatif ini terus kita pendam, kata Mario Teguh, tak lama lagi kita akan depresi atau bunuh diri.

Sistem ini mendorong kita harus punya ketrampilan (skill) agar dapat hidup. Sistem juga mengajarkan kita, ketidaktrampilan itu kenistaan. Orang tanpa ketrampilan seperti benalu, lambat laun akan tersingkir, terbuang dan terlupakan. Tidak ada ampun. Maka berlomba-lombalah kita meraih ketrampilan. Sebab ketrampilan itu autentik, spesial, terdaftar, dan berstandarisasi. Warga desa menjual lahan warisannya, sumber pangan dan pekerjaannya, agar anak-anaknya masuk sekolah dan memperoleh standar, biasa disebut ijazah. Dengan bekal ijazah, mereka berpeluang kerja di pabrik-pabrik. Tak heran, jumlah rumah tangga petani (RTP) turun dari 31 juta RTP pada 2003 menjadi 26,5 juta pada tahun 2013. Mereka mengejar upah, tapi mereka tidak bakal mampu membeli kembali lahan mereka yang terjual. Tidak mengapa. Sebab mereka sudah menjadi orang yang terdaftar, berstandar.

Orang hidup harus punya standar resmi. Pakem inilah yang menyematkan kita sebagai makhluk berbudayaan. Manusia harus punya dan masuk dalam standar kebudayaan yang terakui dalam sistem. Itulah adabnya. Orang yang keluar pakem, tidak melakoni budaya arus utama, sama saja tidak beradab, tidak bisa masuk dalam pakem kehidupan. Ia merusak tatanan, mengusik harmoni. Karena itu, ia harus ditertibkan, ditaklukkan, agar beradab.

Kaum beradab mengatasi kaum tak beradab. Orang-orang mesti masuk dalam sistem pengetahuan, pendidikan, sosial politik dan ekonomi yang sudah distandarisasi. Semua orang, dengan pembagian kerja yang berlaku, menjalankan kewenangannya untuk memperoleh hak-haknya. Pembagian kerja yang mendikotomikan kerja cerdas, kerja keras, kerja tuntas dan kerja ikhlas. Kerja cerdas hanya milik mereka yang beradab. Selain mereka adalah pekerja yang harus mengunyah ketiga model kerja lainnya.

Orang-orang yang berstandar menengah, rata-rata SMA, bekerja pada usaha padat karya untuk mengejar upah sekadar hidup di kabupaten/kotanya. Serajin-rajinnya mereka bekerja, paling banter menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA. Setelah itu anak tersebut segera mencari pekerjaan dengan upah standar, persis seperti ayahnya delapan belas tahun lalu. Itu jalan terhormat, daripada menjadi bagian dari 7,56 juta orang penganggur (BPS, Agustus 2015).

Sistem kehidupan inilah yang membuat kualitas setiap pekerja yang bekerja keras selalu menurun, lambat namun pasti. Setiap ojek online tetap sebagai ojek online. Setiap Pekerja Rumah Tangga akan melahirkan PRT baru untuk mengasuh anak majikan generasi selanjutnya. Teller bank menjadi teller permanen, di bank manapun. Office boy, satpam, guru, pun demikian. Tidak ada sharing profit, apalagi saham, atas usaha yang mereka lakukan. Sistem telah membuat mereka terdidik untuk menerima nasib. Sebab, bila mereka tidak bersyukur, tidak sabar, mereka bisa depresi dan bunuh diri.[andito]

 

 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: