jump to navigation

Komunitas Juni 13, 2016

Posted by anditoaja in Politik, Uncategorized.
trackback

Suku bangsa yang biasa berinteraksi dengan suku bangsa lain cenderung mempunyai sikap terbuka. Mulai dari urusan berniaga dan komunikasi, hingga nikah campur agama. Interaksi lintas budaya membuat mereka menjadi masyarakat modern, yang moderat dan menyerap segala kebaikan budaya lain, mengaktualkan budaya asli, hingga melahirkan budaya baru. Seharusnya demikian. Silakan cermati wajah tim kesebelasan sepakbola Prancis, AS, dan Inggris, maka kita dengan mudah mengenali mana yang keturunan Afrika, Arab dan Hispanik. Tanpa warga pendatang, Prancis tidak akan juara Piala Dunia FIFA 1998.

Tapi sikap terbuka terhadap eksternal atau komunitas lain yang kebetulan minoritas kadangkala dibarengi dengan sikap abai untuk penguatan internal karena silau dengan kuantitas mayoritas yang mereka miliki. Hingga suatu saat, setelah kaum minoritas menguat pada aspek ekonomi karena sikap ulet dan teguhnya. Reaksi mayoritas galau mudah ditebak, saling menyalahkan atau menjadikan minoritas sebagai musuh bersama, mulai dari mengolok-olok budaya hingga sentimen agama. Sikap mengejar prestasi sebagai salah ciri masyarakat modern menurut Talcott Parsons, tidak tampak.

Jadi, apa artinya Indonesia dengan ratusan suku bangsa? Dalam konteks MEA saat ini, Indonesia adalah pasar bagi berbagai komoditas. Pada saat yang sama kaum mayoritas kuantitas menjadi buruh bagi kaum minoritas. Kesenjangan ini terus meluas karena antar kelas buruh pun sibuk saling negasi.

Di semua daerah mana pun di indonesia, tak pandang suku atau agama, warga pribumi biasanya kalah kompetitif secara ekonomi dengan warga pendatang. Semua ini karena silau dengan klaim aset dan kuantitas tapi abai peningkatan kapasitas dan kualitas.

Di Eropa, AS, dan Australia pun demikian. Kaum migran yang kebetulan keturunan Arab/Asia/Afrika lebih ulet dibandingkan dengan warga asli. Kaum pendatang mau kerja apa saja agar bisa hidup. Terutama bagi imigran gelap. Lambat laun mereka menguasai berbagai sektor padat karya. Apalagi kaum migran ini punya ikatan kekerabatan yang kuat, berkongsi dalam perniagaan, dan doyan bikin anak. Maka jumlahnya naik signifikan. Sedangkan warga pribumi masih mengkhayal bisa dapat pekerjaan enteng tapi cepat hasilkan duit banyak. Akhirnya banyak pribumi menganggur, huniannya terdesak ke dalam gang atau ke pinggiran kota. Mereka menjadi warga pinggiran dalam arti sebenarnya. Galau sejadi-jadinya.

Kita bisa amati kondisi Singapura. Warganya sibuk mengejar karir, sehingga tidak mau punya anak. Perempuan Singapura lebih suka memelihara anjing daripada menanggung hamil 9 bulan. Kalau mereka ingin anak, adopsi saja. Atau, tambah anjing peliharaan. Sedangkan pekerja asingnya doyan bikin anak. Lama-lama lapangan kerja dipenuhi pekerja asing. Kini Singapura sedang panik dengan peningkatan warganya yang lansia tapi tidak ada penambahan generasi muda. Padahal demografi akan menentukan nasib negara. PM Lee Hsien Loong berkata cemas, “…piramida penduduk (kami) akan terbalik … Kami akan tumbuh berusia lebih cepat daripada masyarakat di dunia.” Siapa yang akan membayar pajak? Siapa yang akan menjadi tentara? Singapura galau. Stabilitas politiknya terancam.

Indonesia dengan ratusan suku bangsa dan wilayahnya yang sangat strategis merupakan kekuatan sosial ekonomi politik dunia. Asalkan tokoh masyarakatnya solid, elitnya tidak berburu rente, dan membuka lapangan kerja bagi warga bangsanya. Bila hal ini diabaikan, gerbong atau komunitas lain yang akan mengisi berbagai sektor publik di negeri tersebut. Jadilah Indonesia sebagai komunitas galau.[]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: