jump to navigation

Independensi SPSI Versus Periuk Nasi Maret 2, 2012

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

“Saya melihat kaum pekerja punya potensi luar biasa dalam mendorong terjadinya proses perubahan. Saya tidak sedang memuji di hadapan para pekerja, tapi faktanya memang demikian. Gerakan dan keterlibatan penuh kaum pekerja dalam beberapa aksi belakangan ini, mampu menggetarkan nyali penguasa.” (Rizal Ramli, 20 Februari 2012)

Kata mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, gerakan pekerja ditakuti karena prinsip independensi, menjaga jarak dari kepentingan partai politik atau golongan mana pun. Dengan menjaga independensi, organisasi pekerja berpeluang lebih besar untuk merangkul organisasi pekerja lain, sehingga memiliki posisi tawar lebih tinggi dalam memperjuangkan kepentingan pekerja.
Sayangnya, kepentingan modal masih menjadi primadona bagi sebagian besar elit organisasi pekerja. Dengan bujukan sedikit uang, mereka rela membelokkan arah organisasi menjadi tak menentu atau disesuaikan dengan kepentingan pengusaha atau golongan tertentu. Prinsip mereka sederhana, ambil dulu uang yang sudah didepan mata, soal idealisme bisa dirumuskan kembali.
Praktik ini menjadi semakin riskan bila melihat latar belakang pengurus serikat yang mengandalkan periuk nasinya dari jabatannya dalam struktur organisasi. Pada umumnya mereka tidak bekerja lagi atau pensiun sehingga tidak punya kemampuan logistik yang mandiri. Dengan demikian, kebutuhan pribadi menjadi acuan dominan dalam pengelolaan serikat. Apalagi tidak banyak serikat yang mau menata diri, sebab hanya akan menyingkirkan posisi mereka yang sudah mapan selama belasan atau puluhan tahun.
Munculnya dualisme kepengurusan di tubuh KSPSI antara Kongres Malang dan Kongres Jakarta, setelah sebelumnya terpecah antara KSPSI Pasar Minggu dan KSPSI Kalibata, hanyalah secuil bukti betapa intervensi luar, dan modal, sangat rentan di tubuh organisasi pekerja tertua ini. Tidak heran, nama SPSI sering dicibir oleh konfederasi lain yang sudah berbenah diri, meremajakan organisasi dan menyolidkan ideologi gerakan.
Siapapun kubu yang benar di KSPSI, kelas pekerja menanti tindakan konkret serikat untuk membela kepentingan pekerja. Misalnya saja, angka upah pekerja memang naik dari tahun ke tahun, tapi secara kualitas kehidupan mereka menurun karena turunnya daya beli. Kaum pekerja masih belum memperoleh perlindungan yang sewajarnya. Hingga awal tahun 2012, sebanyak 32 BUMN belum mengikutkan seluruh pekerjanya dalam program Jamsostek. PT PLN, misalnya, hanya mendaftarkan sebagian pekerjanya saja. Sepanjang tahun 2011 sebanyak 3.848 perusahaan melakukan pelanggaran aturan ketenagakerjaan dan norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Dengan jumlah pekerja yang signifikan, seharusnya organisasi pekerja mampu mendorong perubahan yang lebih baik. Karena bersatu, pekerja menjadi kuat. Aksi turun ke jalan tol dan mogok kerja di KBN baru-baru ini telah menyadarkan semua pihak tentang kekuatan nyata kelas pekerja. Dengan prinsip independensi, gerakan kelas pekerja mampu menggetarkan nyali penguasa. [andito]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: