jump to navigation

Hubungan Industrial Pancasila: Siapakah yang Anti Pancasila? Agustus 27, 2011

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

 

Hubungan Industrial Pancasila merupakan semangat untuk melaksanakan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Pelakunya adalah pengusaha, pekerja, dan pemerintah. Pada masa Orde Lama, sistem ketenagakerjaan didominasi kegiatan sosial politik yang kental. Tidak hanya ramai dengan perdebatan ideologis, namun juga menorehkan pengalaman traumatik. Kehidupan sosial ekonomi kita terbengkalai.

Orde Baru tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Pembangunan harus dipercepat di segala bidang. Untuk itu harus tercipta stabilitas nasional dalam sektor produksi barang dan jasa. Tafsir tunggal ‘stabilitas politik’ adalah dengan mengeluarkan 5 paket UU Politik pada tahun 1973. Isinya adalah masalah penyederhanaan partai politik dan organisasi massa melalui azas tunggal Pancasila. Organisasi pekerja disatukan dalam wadah Federasi Buruh Seluruh Indonesia pada 20 Februari 1973. Pada Desember 1974, seminar nasional yang dihadiri wakil dari serikat pekerja, pengusaha, pemerintah dan akademisi melahirkan konsensus tentang Hubungan Industrial Pancasila.

Karakteristik utama Hubungan Industrial Pancasila adalah kerjasama pekerja dan pengusaha dalam menyukseskan pembangunan. Tugas pekerja adalah meningkatkan produksi dan produktifitas kerja. Pekerja wajib menciptakan ketenangan, ketentraman dan ketertiban dalam bekerja. Pekerja juga wajib menciptakan ketenangan pengusaha dalam menjalankan bisnisnya. Timbal baliknya, pengusaha wajib meningkatkan kesejahteraan pekerja. Pengusaha juga wajib menghormati pekerja sesuai dengan martabatnya sebagai manusia.

Sayangnya, pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila jauh panggang dari api, baik itu era Orde Baru, termasuk pada era Reformasi ini. Upah pekerja dipermainkan, PKB diabaikan, Kelembagaaan penyelesaian perselisihan hubungan industrial diintervensi. Bagaimanakah UU Ketenagakerjaan? Dokumen mulia ini bahkan tidak bisa apa-apa ditengah praktik kerja kontrak dan borongan (outsourcing) yang merajalela. Saat pekerja hendak menjalankan haknya untuk berunding tentang upah layak, kondisi tempat kerja, standar K3, jaminan sosial, dan status ‘kemitraan’ yang tidak jelas; itikad baik ini diberi stigma buruk: tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dan kebudayaan nasional Indonesia, dan tentu saja, berbau komunis. Semua masalah harus diselesaikan dalam bentuk musyawarah mufakat, dalam perspektif tunggal pengusaha.

Lalu, siapakah yang sebenarnya anti Pancasila? Siapakah sesungguhnya musuh nyata bangsa Indonesia? [andito]

 

Komentar»

1. Hubungan Industrial Pancasila: Siapakah yang Anti Pancasila? | Ishe Diora Weblog - April 5, 2013

[…] Sumber : https://anditoaja.wordpress.com/2011/08/27/hubungan-industrial-pancasila-siapakah-yang-anti-pancasila… […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: