jump to navigation

Buruh Gerakan Buruh (3) Agustus 21, 2010

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

Banyak organisasi mempunyai kelengkapan struktur dan misi besar perjuangan. Namun tidak semuanya berhasil mencapai tujuan. Mengapa?

Salah satu penyebabnya adalah disorientasi perjuangan. Blueprint dan roadmap yang digagas pada awal pembentukan organisasi terabaikan karena kendala-kendala saat beraktivitas, mulai dari kesalahan budgeting, penyusunan program, penentuan prioritas, hingga penempatan orang. Semua hal ini seyogyanya dikembalikan kepada mindset dasar gerakan, bagaimanakah kita memandang pasukan dan misi perjuangan ini yang sebenarnya?

Kita boleh memperlakukan organisasi sosial seperti ketentaraan, ada jenderal dan serdadu. Jenderal yang memikirkan tujuan perang, skenario tempur, logistik pasukan dan kelengkapan senjata. Serdadu direkrut untuk berperang, ditempatkan sesuai keahlian masing-masing. Serdadu hanya diberi gambaran besar tentang alasan mereka bertempur. Namun serdadu tidak perlu tahu seberapa besar argumentasi dan apologia sang jenderal. Juga tidak perlu mengurusi segala hal diluar perang. Dia hanya diberi iming-iming medali kehormatan dan kenaikan pangkat. Sebuah kebanggaan bagi orang sekelasnya.

Karena perubahan politik, jenderal memberitakan info genting justru pada saat serdadu sudah mendekati daerah musuh: parlemen tidak mengabulkan tambahan dana perang. Jenderal segera melobi tokoh-tokoh penting di istana negara dan parlemen. Keputusan jadi berperang ataukah tidak, diserahkan kepada masing-masing tentara. Mereka harus bertempur dan menyiapkan segala sesuatunya sendiri, karena kapal sudah terbakar, sebagaimana perintah jenderal dari markas besarnya. Serdadu yang terpecah konsentrasi tidak akan mampu bertempur dengan baik.

Organisasi mungkin bisa diposisikan seperti samurai pasca restorasi Meiji. Samurai tanpa majikan di era industrialisasi disebut juga Ronin. Akhirnya mereka menjadi pasukan tempur mandiri yang bersama-sama merebut alat produksi. Seperti kisah Shalahuddin Al-Ayyubi. Dia memerintahkan membakar kapal agar pasukannya tidak lagi berpikir mau pulang, dengan Shalahuddin sendiri bersama pasukan. Artinya, pasukan mendapatkan dorongan mental bahwa Shalahuddin tidak sekadar mengeluarkan perintah, namun ikut terjun ke medan perang.

Di beberapa tempat, perintah ‘bakar kapal’ hanya dikenakan kepada pasukan. Sedangkan panglima perang tidak terkena dampaknya sedikitpun, kecuali membiayai pembuatan kapal tersebut. Mungkin ia turut pula beserta rombongan kapal. Tapi sebelum kapal itu dibakar, ia telah menyiapkan kapal cadangan, sehingga selalu ada kemungkinan untuk kembali.

Dalam dunia marinir, pasukan yang diperintahkan membakar kapal itu disebut ‘pasukan bangkai’ yang memang diterjunkan untuk mati. Tidak diharap kembali. Untuk merangsek ke sasaran vital harus ada tumbal. Nanti pasukan gelombang kedua yang akan memberesinya.

Organisasi dapat juga dimisalkan sebagai Mafia, kepemimpinan kolegial. Semua mempunyai alat produksi sehingga tidak ada ketergantungan logistik dengan organisasi. Di Indonesia zaman dulu, gaya mafia dimainkan oleh Sarekat Islam (SI). Para pedagang Indonesia berkumpul untuk menghadapi hegemoni pedagang Eropa dan Timur Asing. Kini peran SI dimainkan dengan baik oleh Partai Golkar.

Zaman dulu ada pula Ikhwan al-Shafa, semacam lembaga think tank bawah tanah (akibat represi rezim saat itu) yang melahirkan gagasan-gagasan untuk dipublikasikan. Belum ada data yang jelas sejauh klaim basis massa mereka. Partai Sosialis Indonesia dapat dikatakan mengikuti gaya ini. Format kontemporernya seperti Kabinet Indonesia Muda, sebuah komunitas bursa gagasan aktivis/politisi muda.

Mungkin ada pula bentuk dan gaya organisasi lain yang bisa dijadikan alternatif. Atau bisa juga kita mengkreasi suatu organisasi yang khas dengan segala info yang kita terima. Intinya, membentuk/merebut organisasi itu mudah. Tapi jauh lebih sulit mempertahankannya. [andito]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: