jump to navigation

Membangun Daya Saing yang ’Kesiangan’ Juli 1, 2010

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

GLOBALISASI bukan makhluk asing bagi kelas pekerja Indonesia. Mereka dibangunkan oleh alarm jam SEIKO, membersihkan badan dengan produk Unilever, memakai pakaian GAP, sepatu Clarks, jam tangan Swiss Army, parfum Hugo Boss, breakfast dengan masakan ala China atau Jepang dari gandum Amerika, pergi ke kantor dengan kendaraan Honda, isi bensin di Shell, lunch di fastfood restoran McDonald’s sambil mendengar MP3 lagu barat dari iPod, makan buah dari Thailand, berkomunikasi dengan ponsel Nokia, belanja kebutuhan pokok di Carrefour, dinner dengan daging Australia, dan tidur di rumah yang dibangun dari semen Holcim.

Sebagian besar barang yang kita pakai dan beredar di sekeliling kita berasal dari luar negeri, atau dibuat dari pabriknya yang ada di Indonesia. Segala yang ’dari luar’,awalnya tidak bermasalah bagi pekerja. Alih-alih khawatir, mereka menjadikan ’merek luar’ itu sebagai bagian dari gaya hidup dan menunjukkan status sosial mereka. Dominasi barang impor dalam mindset pekerja dianggap hanya efek kecil dari globalisasi. Tidak masalah barang impor masuk ke Indonesia. Karena toh, barang Indonesia juga banyak yang diekspor ke luarnegeri.

Pasca CAFTA berlaku, kehadiran barang impor mulai lebih diperhatikan. Kali ini dengan nada khawatir. Apalagi setelah diketahui bahwa nilai ekspor produk Indonesia tidak sepesat dan sedinamis negara-negara maju. Ujung tombak ekspor manufaktur Indonesia ke pasar internasional masih sebatas tekstil, garmen, kulit, sepatu, kayu, makanan, dan barang elektronik sederhana. Apalagi setelah kita tahu bahwa sangat mungkin ada impor pekerja asing yang merampas posisi pekerja Indonesia.

Struktur ekspor ini tidak berubah sebelum, saat dan setelah krisis ekonomi global pada 1997 dan 2008. Rendahnya teknologi yang digunakan dalam proses produksi industri padat karya ini membuat daya saing bangsa kita menurun di pasar lokal dan global. Dengan meningkatnya tingkat upah dan biaya produksi, harga pasar dunia menjadi semakin kompetitif dan menekan keuntungan di sektor industri.

Semua fenomena di atas hanyalah gunung es dari proses industrialisasi di negara kita yang terencana dan terfokus jelas. Tidak ada roadmap atau blueprint yang terartikulasi secara eksplisit dan diinternalisasi oleh dunia industri secara serius. Tak mengherankan jika daya saing industri kita di pasar internasional kemudian begitu rendah. Dan dengan fondasi industri yang begitu dangkal dan rapuh seperti sekarang tidaklah mengherankan jika daya tahan kita terhadap gejolak eksternal begitu ringkih.

Kondisi berbeda dialami negara-negara Asia lain seperti Malaysia, Thailand, Taiwan, Korea yang juga pernah dihantam krisis ekonomi. Mereka berhasil menggeser teknologi rendah mereka ke teknologi tinggi dan menapak kokoh ke posisi negara industri maju.

Daya saing pekerja

Bagaimana dengan nasib pekerja?

Bila defisit neraca perdagangan non-migas ini dibiarkan terus, maka bukan saja pendapatan negara yang akan berkurang, malah status negara pun berubah dari negara produsen ke negara konsumen. Deindustrialisasi mengakibatkan PHK dan penyerapan tenaga kerja yang rendah. Efeknya pengangguran merebak, daya beli masyarakat menurun, kualitas kesehatan dan pendidikan masyarakat memburuk karena perubahan pola konsumsi.

Industri yang menurun akan berakibat pada penurunan kesejahteraan pekerja. Perusahaan sering potong kompas dengan menimpakan kesialan bisnisnya kepada pekerjanya. Manajemen menganggap perusahaan tidak akan terpuruk bila aturan dan perundang-undangan ketenagakerjaan yang ’mengistimewakan’ pekerja itu direvisi oleh pemerintah.

Padahal banyak perusahaan di negara-negara makmur, misalnya saja Jerman, Swiss, Swedia, Jepang, yang menggaji pekerjanya dengan upah tinggi namun juga mampu bersaing di pasar global.

Serikat pekerja yang kuat, vokal dan berani juga tidak bisa dijadikan kambing hitam berkurangnya daya saing kita. Serikat pekerja yang kuat justru kontributif terhadap peningkatan daya saing nasional. Contohnya saja serikat pekerja di Jerman dan Swedia.

Tapi perusahaan punya banyak alasan untuk melakukan efisiensi. Dengan terbukanya keran perdagangan bebas, negara kita tidak bisa lagi mengekslusifkan pekerjaan-pekerjaannya hanya pada warga negaranya saja. Pekerja asing sudah menghadang di pintu gerbang perusahaan kita, siap dibayar lebih rendah dengan pemangkasan berbagai fasilitas namun performa tidak kalah dengan pekerja lokal, menggantikan pekerja organik yang dinilai banyak tuntutan dan berbiaya tinggi.

Daya saing pekerja, kemakmuran perusahaan

Sambil menyiapkan penguatan basis kelas pekerja yang kokoh dan melek industri. Bersama masyarakat sipil dan politik lainnya, kelas pekerja wajib menyokong sikap proaktif pemerintah untuk mereformasi dan merevitalisasi sektor perpajakan agar muncul kemandirian fiskal dan mengurangi ketergantungan kepada pinjaman luar negeri. Tentu saja hal ini harus diawali dengan pengakuan bahwa sektor industri kita memang memiliki kelemahan struktural yang sangat mendasar jauh sebelum krisis ekonomi.

Sumber utama peningkatan daya saing adalah peningkatan produktivitas di sektor industri. Industrilah yang sesungguhnya punya kaitan langsung dalam menciptakan lapangan pekerjaan, menambah penghasilan pekerja dan berperan penting dalam mengatasi kemiskinan.

Ekonomi yang memiliki daya saing adalah ekonomi yang mampu melahirkan dari rahimnya perusahaan-perusahaan kelas dunia, yang tidak hanya mampu menahan gempuran pesaing-pesaing asing di pasar domestik tapi juga mampu melakukan penetrasi dan memenangkan persaingan di pasar-pasar internasional.

Di sinilah akhirnya kita tahu bahwa peningkatan daya saing negara dan perusahaan tidak bisa dilepaskan dari peran kelas pekerja. Sehingga kita tidak perlu mendikotomikan pekerja dan pengusaha selama kedua belah pihak mempunyai tujuan yang sama: kesejahteraan dan kemakmuran, tentu tanpa ada yang pihak terluka.

Pelibatan kelas pekerja dalam masalah-masalah perusahaannya hakikatnya adalah juga untuk saling menyelamatkan diri dari gempuran perusahaan-perusahaan global. Karenanya, posisi pekerja hendaknya tidak lagi sebagai sekrup perusahaan, sekadar bawahan yang mudah diperintah. Pekerja yang ’pasang badan’ berjibaku memperkuat eksistensi dan meningkatkan profit perusahaan hendaknya diposisikan sebagai mitra kerja lahir dan batin.

Pekerja merupakan instrumen penting dalam memenuhi kebutuhan konsumen, karena proses yang ada dalam perusahaan dijalankan oleh pekerja. Untuk itu, penting bagi perusahaan untuk memenuhi ekspektasi yang wajar dari pekerja agar bisnis bisa berjalan dengan baik. Pekerja berhak untuk memperoleh kompensasi dari waktu dan tenaga yang didedikasikan kepada perusahaan dalam bentuk gaji dan tunjangan atau manfaat lainnya.

Selain itu, agar pekerja dapat bekerja dengan baik dan loyal, mereka membutuhkan adanya rasa aman terhadap kelangsungan perusahaan dan pekerjaan mereka, serta membutuhkan adanya kondisi kerja yang baik dan kepuasan dalam bekerja. Di era global sekarang, sudah lazim setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan sebagai wujud penghargaan hasil kerja dan atas hierarkinya.

Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan pengangguran, dan setiap pekerja mau dan dapat memahami apa pun yang mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya perusahaan. Yang nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat pada setiap individu.

Sehingga bukan masalah kita bangun, membersihkan badan, berpakaian, sarapan, berkendaraan, makan siang, ngemil, berkomunikasi, belanja, makan malam, dan tidur di rumah bersama ’barang impor’, selama kita berhasil membangun sistem industrial yang mendukung kepentingan kelas pekerja. Mereka siap menghantarkan perusahaan dalam kompetisi global dan memperkuat daya saing bangsa. [andito/dari berbagai sumber]



Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: