jump to navigation

The Party’s Over: ACFTA dan Daya Saing Bangsa Maret 17, 2010

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

Perdagangan bebas itu takdir yang dipuja sekaligus dimaki. Ia merupakan berkat bagi pengusaha besar tetapi bencana bagi pengusaha kecil yang tidak punya keunggulan dari skala, kualitas, dan biaya produksi. Kondisi ini tentu saja berdampak signifikan bagi pekerja. Pelakunya melibatkan negara mana saja, lintas ideologi politik. Bahkan China yang notabene negara komunis pun membanjiri pasar dunia dengan segala macam produknya. Kini, awal 2010, Indonesia dan negara-negara se-Asia Tenggara berkongsi bebas bersama China.

China Radio International memberikan makna positif bagi perjanjian perdagangan bebas, yaitu terhapusnya tarif dan proteksi perdagangan antar anggota kawasan (trade creation). Penghapusan bea masuk akan meningkatkan efisiensi produksi dalam kawasan karena ongkos transaksi menurun. China memberi bukti. Pra ACFTA, 40% impor Indonesia berasal dari China. Pasca ACFTA, diprediksi impor tersebut naik hingga 70%.

Dengan penghimpunan modal lintas negara, idealnya, akan tercipta kestabilan dan pertumbuhan perdagangan terhadap luar negeri (trade diversition). Pasar yang meluas akan meningkatkan permintaan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran di suatu negara.

Itulah berkah perdagangan bebas bagi China. Tapi tidak demikian halnya dengan Indonesia. Gara-gara ACFTA, sedikitnya 10 sektor manufaktur di Indonesia akan bangkrut total. Wajar kiranya, sedikitnya 18 asosiasi industri nasional menyatakan tidak siap menghadapi serbuan produk China. Akibatnya, kata Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), sekitar 7,5 juta pekerja terancam dipecat. Jamsostek mencatat 2,5 juta pekerja akan kehilangan pekerjaan. Kini pemerintah sedang pusing renegosiasi atas 228 pos tarif yang dinilai tidak siap.

Potensi membanjirnya barang China akan berdampak pada kinerja industri dalam negeri Indonesia. Sungguh menarik, kini pengusaha dan pekerja Indonesia berperasaan yang sama: khawatir. Pengusaha khawatir posisi mereka sebagai produsen (industri) akan berubah menjadi pedagang. Karena penjualan terganggu, pengusaha mulai mengurangi produksi dan menumpuk barang di gudang dan akhirnya merumahkan pekerja. Akhirnya, daripada merugi sebagai produsen menyaingi China, mereka berharap meraup laba sebagai pedagang produk-produk China.

Tentu saja, sudah karakter pengusaha untuk menumbalkan pekerja demi menyelamatkan modalnya. Dan ACFTA adalah dalih pengaruh eksternal ke sekian untuk pemecatan (PHK) pekerja. Sebelumnya, alasan mem-PHK pekerja didasarkan pada krisis moneter 1997 dan krisis ekonomi global 2008.

Dalil klise mereka, tindakan tidak populer ini ”terpaksa dilakukan” karena kinerja perusahaan terus merugi akibat kondisi perekonomian nasional yang tidak menguntungkan. Setelah pekerja di-PHK dengan alasan efisiensi, mereka direkrut kembali dengan sistem kontrak. Praktik ini akan menurunkan jumlah angkatan kerja formal kita yang hanya 32,14 juta orang (30,65%) dari total angkatan kerja di Indonesia sebanyak 113,83 juta orang (Desember 2009).

Dalil dan Potensi Bangsa

Banyak hal yang bisa dijadikan alasan mengapa kita belum siap menghadapi perdagangan bebas. Sektor riil terganjal bukan karena suku bunga kredit. Tingkat suku bunga kredit saat ini 12-13% cukup rendah bila dibanding dengan beberapa tahun silam yang pernah di posisi 20-30%. Meskipun China hanya 4-6%. Kambing hitam diarahkan kepada kondisi birokrasi dan perizinan yang tidak efisien yang memunculkan ongkos biaya birokrasi selain ongkos biaya produksi. Kendala tersebut membuat investor enggan berinvestasi di sektor riil di Indonesia. Bila tidak diselesaikan maka bank-bank juga enggan membiayai sektor riil.

Ada lagi pihak yang melihat persoalan pada mentalitas bangsa kita. Dalam segala hal bangsa kita cendrung mengejar kenyamanan (comfort zone).

Indonesia pernah mengirim guru-guru ke Malaysia di awal-awal kemerdekaannya. Bahkan dengan operasi rahasia Indonesia sempat mengirimkan warga melayunya agar populasi melayu menang pemilu. Tapi itu dulu. Sekarang eranya berbeda. Laba 1 BUMN Malaysia (Petronas) mengungguli dari semua laba BUMN di Indonesia. Kita punya Repelita. Namun Malaysia lah yang sungguh-sungguh tinggal landas. Kini mereka melenggang tenang ke pasar bebas.

Singapura dikenal sangat produktif. Tapi kata sebagian peneliti, orang Singapura itu pencemas. Mereka hanya punya sebongkah tanah, tidak punya sumber daya alam seperti Indonesia. Ketersediaan air bersih mereka hasil impor dari Malaysia. Tapi daerah mereka kini meluas dengan menguruk pantainya yang tanahnya dibeli murah dari Indonesia. Kecemasan itu menaikkan adrenalin mereka untuk maju.

Berbeda dengan bangsa kita yang sejak masa lalu tersekat-sekat dalam kasta-kasta sosial dan kemudian dilanggengkan oleh pemerintahan kolonial. Kelas tertinggi dari bangsa Belanda dan warga Eropa, kemudian raja-raja feodal yang berdarah biru, tuan-tuan tanah yang feodal, kaum pedagang borjuis termasuk di dalamnya imigran Asia, barulah kemudian inlander pekerja-pekerja kasar.

Sejak awal Belanda tidak pernah berkehendak membangun kelas menengah, kecuali yang terdapat di kalangan bangsawan. Hingga kini, jejak birokat feodal masih terasa di beberapa kementrian.

Setelah globalisasi, tepatnya pasca reformasi, para keturunan darah biru tiarap. Pada masa Orba, mereka makmur sejahtera dengan rente dan monopoli. Kini pesta telah usai. Tidak ada lagi previlese.

Dengan banyaknya perusahaan global yang masuk ke pasar nasional, kompetisi berlangsung meriah. Pemerintah yang pada masa lalu bertindak sebagai regulator sekaligus pemain akhirnya wajib menyesuaikan diri. BUMN yang biasanya memperoleh privilese dalam pengadaan barang dan jasa akan turut efisien, memutus rantai birokrasi yang selama ini rawan pungutan liar dan korupsi, dan memasang manajemen yang profesional dan karyawan yang kompeten di bidangnya. Profesionalisme BUMN juga menghindarkan mereka sebagai sapi perah elite negara.

Perdagangan bebas membuat pemerintah, suka tidak suka, terfokus meningkatkan daya saing pelaku ekonomi di negaranya. Rencana pembangunan menjadi lebih matang dan spesifik; pengalokasian anggaran pembangunan yang efektif dengan menyeleksi proyek mana yang lebih kompetitif; memangkas proyek-proyek mercu suar yang berjangka panjang. Semuanya dilakukan demi perluasan pasar.

Menguatkan Pondasi

The party is over. Pesta proteksi dan penganakemasan perusahaan negara terhadap hasil alam, produk, dan distribusinya telah usai. Kita harus menyadarinya. Pengaruh ACFTA akan terasa sekali. Dilihat dari kacamata bisnis, produksi kita masih di bawah dan skala produksi China luar biasa besar sehingga dapat menjangkau pasar dunia.

Kekuatan negosiasi China sangat tinggi. Mereka punya portofolio yang bagus. Mereka kuat dari sisi G2G. Pengusaha diberikan insentif listrik dan gas. Di China biaya buruh biasanya 5-10%. Komponen biaya total yang normal. Dihadapkan dengan pasar bebas, harga pokok harus lebih rendah dari harga pasar. Pondasi ekspor mereka kuat karena skala produksi. Mau tidak mau pasar Indonesia juga dimasuki. Kita belum bisa dan masih rentan. Kita pun masih tergopoh-gopoh bersaing dengan negara lain seperti India dan Vietnam.

Dalam mempersiapkan upaya-upaya peningkatkan daya saing produk-produk nasional, banyak aksi nyata yang perlu dilakukan bersama, terutama oleh pemerintah.

Terkait dengan masalah SDM pekerja, prioritas utama adalah meningkatkan kompetensi tenaga kerja dalam negeri. Hal ini diseimbangkan dengan penerapan sertifikasi bagi tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia.

Sehubungan dengan peningkatan daya saing produk lokal, pemerintah diharapkan mengurangi/membebaskan pajak pertambahan nilai (PPn) bagi industri dan biaya perizinan sekaligus memberikan insentif fiskal, subsidi bunga hingga pinjaman modal kerja dengan bunga rendah pada sektor industri yang terkena dampak FTA. Termasuk juga subsidi energi listrik dan gas bagi kelancaran produksi nasional.

Di samping itu, perbaikan infrastruktur pendukung seperti jalan dari sentra-sentra produksi ke pelabuhan utama (Hub) maupun pelabuhan pelabuhan feeder. Juga pelaksanaan asas cabotage dalam kepelabuhanan. Pengamanan pasar domestik, baik dengan meningkatkan pengawasan di borders points peredaran barang di pasar lokal maupun promosi penggunaan produksi dalam negeri.

Bila semua ini dilakukan secara serius akan memberikan harapan bagi terciptanya win-win solution dan hubungan yang fair dalam pelaksanaan ACFTA. [andito, dari berbagai sumber]

Komentar»

1. arie haryadi - April 22, 2010

salam,,,,,bang, ada petunjuk untuk referensi-nya dan datanya ga soal ACFTA??saya lagi nyari untuk skripsi saya…nuhun.

2. Rae Mohr - Mei 28, 2010

If only more than 68 people would hear this.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: