jump to navigation

Politik Kesadaran di Komunitas Buruh Januari 21, 2010

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

“Go to the people, Live among them, Learn from them, Plan with them, Work with them, Start with what they know, Build on what they have, Teach by showing, Learn by doing, Not a showcase but a pattern, Not odds and ends but a system, Not piecemeal but an integrated approach, Not to conform but to transform, Not relief but release.” (Credo of Rural Reconstruction)

Selama ini hubungan perburuhan hanya melibatkan aktivis LSM, pengurus Serikat Buruh/Pekerja dan buruh itu sendiri dalam bingkai masyarakat industrial (dengan cengkok ‘kanan’) dan/atau masyarakat perburuhan (dengan cengkok ‘kiri’). Sedangkan perhatian terhadap struktur sosial yang melatari kerja si buruh jarang diperhatikan. Alasannya sering disederhanakan: karena sang buruh adalah representasi sejati masyarakat buruh itu sendiri.

Memang, eufemisme kapitalis atas nama program sosial korporasi juga merambah hingga ke pelosok pemukiman warga buruh. Produksi yang mereka jalankan meniscayakan sebuah kemestian reproduksi dan relasi antar produksi. Perusahaan (berperspektif) global sudah menyadari bahwa keberlanjutan produksi dan kelipatan kapital mereka tidak bisa maksimal tanpa pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar sistem korporasi mereka.

Dengan mengenyampingkan pandangan radikal-reaksioner-instan yang senantiasa curiga-sinis-a priori, kita bisa ambil sikap tengah dalam memandang setiap usaha superstruktur membangun relasi dengan infrastruktur. Bahwa dalam setiap pencitraan yang mereka bidik, selalu membawa blessing in disguise bagi kelas buruh sendiri. Situasinya semacam politik etis Belanda yang mendasari kemerdekaan Indonesia oleh kalangan kelas menengah Indonesia. Maka program sosial korporasi bisa dikawal sehingga muncul kesadaran kolektif masyarakat buruh.

Korporasi berharap adanya timbal balik berupa hutang budi dan dependensi dari keluarga buruh. Tujuan utamanya adalah determinasi produksi. Namun politik etis ini juga berefek lain dengan memunculkan kesadaran dan transformasi peran sosial kelas buruh. Bahwa hubungan kerja profesional seharusnya bukan semata-mata milik si suami yang notabene buruh. Bahwa dalam mata rantai pencitraan si istri buruh tidak sekadar cukup diberikan ketrampilan perempuan atau rumah tangga. Meskipun tujuannya untuk menopang ekonomi keluarga. (Sebuah pengakuan bawah sadar bahwa korporasi hanya membuat si buruh bertahan hidup, bukan menyejahterakan). Bahwa anak-anak mereka pun tidak sekadar cukup diberikan penampungan pendidikan di PAUD atau sekolah bebas/alternatif. Dan rumah buruh tidak sekadar direnovasi dan dibenahi agar selalu tetap layak huni. Bukan sekadar itu.

Efek politik etis korporasi membuka ruang kesadaran kolektif kelas buruh tentang macetnya sistem jaminan sosial di negara kita. Betapa pemerintah selama ini tidak pernah memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya yang secara eksplisit tertuang di dalam UUD 1945. Bahwa negara borjuis ini telah memindahkan kewajiban kodratinya kepada korporasi sekaligus untuk mendapatkan citra pro-rakyat. Sungguh tindakan yang sangat tidak etis.

Di tangan komunitas buruh, keberadaan klinik kesehatan, rumah belajar, PAUD, dan segala program sosial korporasi dimanfaatkan secara maksimal untuk mengajarkan, tentu saja dengan cara yang khas, tentang apa itu ideologi, kelas, distribusi kapital, state apparatus, dan semua teori sosial standar, yang dalam rezim oligarkis disimpan/disembunyikan hanya untuk mahasiswa tingkat lanjut. Wajar, banyaknya teori sosial yang dihafal tidak berbanding lurus dengan membela kelas tertindas.

Dengan terbukanya kesadaran tersebut, pengawasan atas sistem produksi dan reproduksi di korporasi di satu sisi dan represi negara dalam sisi lain menjadi tanggung jawab kolektif kelas buruh. Mereka tidak bergantung lagi kepada aktivis LSM. Mereka tidak perlu lagi mengandalkan sentralisasi gerakan kepada segelintir tokoh masyarakat. Mereka tidak perlu kuatir lagi dengan hadangan birokrasi.

Pada tahap itu, struktur keluarga buruh menjelma sebagai struktur ideologis. Kesadaran kelas membuat istri dan anak-anak buruh memberikan perlawanan yang khas terhadap gurita korporasi dan negara. Mungkin hal inilah yang membuat Theodore Roosevelt berkata, “It is essential that there should be organization of labor. This is an era of organization. Capital organizes and therefore labor must organize.

Masalah terbesar yang harus dijaga adalah mengatur ritme sehingga praktik ini tidak menimbulkan riak yang tidak perlu. Era reaksioner usai sudah. Konfrontasi dan aksi massa terbuka harus dikembalikan dalam koridornya sebagai opsi politik terakhir. Dalam sistem politik borjuis dan ekonomi pasar liberal, tindakan-tindakan revolusioner hanya mengadu domba antara rakyat awam yang sensitif terhadap kekerasan dengan rakyat pekerja. Kita harus meyakinkan diri bahwa kemenangan jangka panjang berdampak lebih luas dan sistemik daripada kemenangan instan.

Perebutan kuasa negara mensyaratkan kesolidan sistem ideologi dan logistik di internal komunitas buruh itu sendiri. Tujuan pengorganisiran kelas buruh adalah pembongkaran mitos bahwa perubahan sosial selalu dimulai dari kelas menengah borjuis. Ketika seluruh tabir kesadaran itu terkuak, tiada lagi hijab antara realitas dan pengamat. Maka, “Go to the people, … Not to conform but to transform, Not relief but release.” [andito/leads]

Komentar»

1. ahmadsamantho - Januari 22, 2010

Bagus To… Bravo… Hidup Buruh & Serikat Pekerja

2. Mohammad Reza - Maret 7, 2010

sadarkan buruh untuk kemajuan Indonesia!

3. amir - Maret 13, 2010

bang saya tau abang dari senior2 di UPI…
bang tulis tentang situs FFI dong, terutama tentang tuduhan-tuduhannya terhadap Islam..membaca situsnya terasa di dekontruksi lagi tanpa adanya rekontruksi..makasih sebelumnya

salam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: