jump to navigation

Karbala Melawan Lupa Desember 27, 2009

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

Jumat sore, 10 Muharram 61 Hijriyah, bertepatan dengan 10 Oktober 680 Masehi, Husain bin Ali terbunuh pada usia 57 tahun bersama 72 pengikutnya di padang Karbala, Irak. Kepala mereka disembelih dan dibawa ke Ubaidillah bin Ziyad, gubernur Kufah. Tubuh mereka dikubur oleh penduduk al-Ghadiriyah dari Bani Asad sehari setelah mereka terbunuh.

Siapakah Husain? Ia lahir di Madinah, Kamis 3 Syaban 4 H. Ayahnya Ali bin Abi Thalib, ibunya Fathimah binti Muhammad. Ia digelari Sayyid al-Syuhada (Penghulu para syuhada), sering dipanggil dengan nama Abu Abdillah, dan namanya sering ditulis Al-Husain sebagai petanda satu-satunya ‘Husain’ di jagad ini. Ia dikenal sebagai cucu kinasih Nabi Muhammad saw. Salah satu hadis kondang mengenainya, “Husain dariku dan Aku dari Husain. Allah menjadikan teman orang yang menjadikan Husain sebagai temannya dan memusuhi orang yang menjadikan Husain sebagai musuhnya.”

Mengapa cucu Nabi harus dibunuh oleh umat kakeknya? Sejarah umat Islam sungguh berbeda dengan sejarah Islam. Sejarah Islam yang suci dimulai dari pengangkatan Muhammad bin Abdullah sebagai nabi dan rasul Tuhan yang terakhir hingga wafatnya pada 23 Hijrah di Madinah. Sedangkan sejarah umat Islam dimulai saat polemik suksesi pasca Nabi antara kubu Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Saidah (sekitar 200-an meter sisi barat daya Masjid Nabawi), hingga zaman sekarang.

Dalam “Martyrdom: Arise and Bear Witness” (Ali Syariati), “History of the Caliphs” (Rasul Ja’fariyan), dan “Al-Khilafah wa al-Mulk” (Abu al-Ala al-Mawdudi) dikatakan, pasca Nabi wafat, penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam mulai terjadi secara kecil-kecilan dan membesar bak bola salju, mengkristal sedemikian rupa sehingga masyarakat awam pun tidak bisa lagi membedakan mana ajaran Nabi yang asli dan mana yang buatan.

Sekadar contoh. Gerakan sembahyang (shalat) punya beragam gaya. Meskipun semua rujukan mengarah kepada cara ibadah Nabi. Namun transmisi ajaran beliau diperoleh dari laporan pandangan mata orang-orang yang berbeda. Padahal Tuhan berfirman bahwa sembahyang itu tiang agama. Kini umat Islam terbiasa mengamalkan agama berdasarkan interpretasinya sendiri. Bukan karena keluasan ilmu mereka, melainkan karena kacaunya sistem ajaran Islam.

Tribalisme Pengubah Pesan Ilahi

Masyarakat egaliter yang dibangun oleh Nabi dengan susah payah, sebagaimana yang diungkap oleh Robert N Bellah dan Abu’l A’la Al-Maududi, runtuh ketika faksi-faksi politik dan tribalisme menjadi mazhab agama baru. Awalnya, para senior Quraisy takluk telak saat Makkah jatuh dan kemudian memaksanya berislam agar jiwanya selamat. Namun dendam kesumat tetap tersimpan rapi. Secara perlahan, mereka mulai mendapuk posisi-posisi kunci dalam struktur pemerintahan Islam. Kekuasaan mereka semakin solid setelah uang negara (baitul mal) dilebihkan atas mereka melalui keputusan khalifah saat itu.

Penganakemasan keluarga dekat dan menumpuk-numpuk harta yang dipraktikkan oleh penguasa membuat gesekan sosial yang tajam. Bahkan tak kurang Abu Dzar berteriak lantang kepada rezim saat itu, “Beritakanlah kepada para penumpuk harta, yang menumpuk emas dan perak. Mereka akan disetrika dengan api neraka! Kening dan pinggang mereka akan disetrika di hari kiamat!” Tentang Abu Dzar, Rasulullah pernah bersabda, “Tidak ada di dunia ini orang yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar.”

Namun buku sejarah tidak pernah memberi tempat sedikitpun kepada orang-orang yang kalah. Sejarah adalah akumulasi ceritera keberhasilan, kemenangan, kegemilangan dan kejayaan penguasa. Sedangkan tragedi, ceritera tentang kegagalan, kekalahan, kepudaran dan kehancuran adalah milik mereka yang tertindas, aib dan bau busuknya harus dibuang jauh-jauh. Penguasa berkepentingan mendesain dan mengatur jalannya sejarah dan bagaimana ia ditampilkan. Tidak boleh ada tokoh “lain,” sebab dia berpotensi merusak harmoni.

Dalam ruang publik yang hegemonik, orang-orang kalah bersiasat menelurkan budaya tanding. Bahwa berbeda, bertentangan, dan kalah bukanlah aib. Ia hanyalah sekadar tapak kehidupan yang harus dilalui. Mengenang masa lalu yang penuh penderitaan dan mengambil inspirasi pembebasan yang dihasilkannya adalah sebuah tindakan tanpa henti. Sebab berhenti mengingat adalah mengingkari keberadaan diri sebagai makhluk sejarah. Dan lagi, ingatan manusia menjadi membahayakan karena menyimpan harapan dari penderitaan yg sewaktu-waktu bisa meledak menjadi kekuatan pembebasan.

Ingatan kolektif akan sejarah bersifat emansipatoris, menentang historisisme yang melihat masa lalu sebagai sejarah an sich. Tanpa ingatan kolektif, sejarah manusia akan terpuruk pada tradisionalisme dan fundamentalisme yang antiperubahan demi pembebasan dan romantisme historis. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa belajar dari sejarah. “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” begitu pidato “JAS MERAH” Bung Karno.

Membongkar Mitos ’Kesalehan’ Rezim

Ketika singgasana kecongkakan dan kemarukan menggantikan sajadah ketawaduan dan kesederhanaan. Ketika kebenaran menjadi kabur, membuih, mengasing, dan akhirnya lenyap tiada bekas. Ketika kezaliman penguasa harus diterima sebagai bukti keadilan Tuhan di dunia…

Ketika agama Tuhan dinistakan, dijadikan mainan, dimanipulasi, dan didagangkan. Ketika kemunafikan dan kepalsuan iman merebak, bersolek rupa dalam topeng ‘kejujuran’ dan ‘kebenaran ilahi’. Ketika umat bingung, kepada apa dan siapa mereka harus berpegang. Saat itulah Husain bin Ali bangkit menjadi saksi, menyentak sanubari kita, bahwa [sekadar] beragama itu tidak cukup. Apalagi bagi kita yang menjadi korban sejarah.

Husain ingin menunjukkan kepada umat, seandainya mereka sudah mengidolakan penguasa Bani Umayyah sebagai pemimpin Islam yang baik hati, jujur dan tidak sombong. Tapi lihatlah apa yang mereka perbuat kepada cucu pembawa risalah ilahi, Nabi Muhammad saw?

Bukan sekadar pesakitan, ayahnya Ali bin Abi Thalib difitnah dan dimaki di atas mimbar. (Mungkinkah karena hal itulah sengaja dibuat aturan agar jamaah shalat dilarang berbicara saat khatib di atas mimbar, karena dikhawatirkan muncul protes karena isi ceramah yang penuh fitnah?). Hasan kakaknya diracun. Pengikutnya pun mulai diintimidasi secara terang-terangan.

Fans murjiah, sekte fatalis yang tidak mau bersikap atas pertunjukan maksiat penguasa, merapal selaksa alasan dalam wirid dan zikir di sudut-sudut masjid. Kini anak buyutnya, menjelma sebagai “murjiah gaul”, menganggap agama tidak butuh tangisan apalagi untuk sejarah yang sudah lewat seribuan tahun lebih. Buat apa?

Cukup dimengerti bagi yang berislam asal saja. Apalagi kita terpisah jarak 1370 tahun hijriyah dengan kejadian tersebut. Tapi akal sehat semua manusia cukup mengantarkan kepada kita bahwa konflik antara Yazid bin Muawiyah dan Husain bin Ali tidak sekadar lanjutan pertarungan politik antar ayah-kakeknya, Nabi Muhammad Versus Abu Sufyan dan Ali bin Abi Thalib Versus Muawiyah bin Abu Sufyan.

Apa perbedaan Husain dan Muhammad? Husain berjuang melawan penindasan saat tidak mempunyai pasukan, sedangkan Muhammad melawan saat mempunyai pasukan. Husain membawa seluruh keluarganya ketika hijrah menuju Kufah, sedangkan Muhammad hanya hijrah sendiri tidak bersama keluarganya. Husain pergi ke Kufah yang mengkhianatinya, sedangkan Muhammad pergi ke Madinah setelah dinanti pengikut setianya. Husain berjuang di saat dominasi negara demikian kuat, sedangkan Muhammad berjuang pada saat belum ada kekuatan negara yang dominan. Dan sehubungan dengan nasab, kakek Husain itu Rasulullah terbesar sedangkan Muhammad ’hanya’ berkakek penjaga Kabah.

Tentu saja perbandingan kedua tokoh besar ini bukan untuk meninggikan dan merendahkan salah satunya. Hakikat perjuangan Muhammad dan Husain adalah sama. Namun dalam kerangka transformasi ideologi, perlu kita maklumkan karakteristik setiap perjuangan yang berbeda dalam ranah kala dan matra.

Perjuangan Nabi adalah perjuangan eksternal, perjuangan antara kawan dan lawan. Perjuangan ‘Ali adalah internal, antara kawan dan “kawan” (musuh dalam selimut). Dan perjuangan Husain adalah perjuangan dari kedua tipe perjuangan tersebut, karena menentang kezaliman penguasa sekaligus menyeleksi pengikut setianya.

Jangan Sampai Lupa

Memperingati tragedi pembantaian di Karbala adalah meraup sari ajaran Tuhan, bahwa beragama itu tidak sekadar merayakan ritus an sich. Itu tidak cukup. Tapi beragama artinya memilih, di jalan mana kita menjalani kebertuhanan. Apakah di jalan para Nabi yang penuh onak dan duri karena setiap saat adalah praktik amar maruf nahi munkar? Ataukah di jalan para penjual ayat-ayat Tuhan yang kitab suci menyebutnya ‘keledai yang di atasnya menumpuk kitab-kitab’? Mereka bisa tetap asyik masyuk beragama tanpa perlu melawan penguasa tiran dan sistem yang zalim.

Karena itulah, ada dua bentuk keagamaan: yang borjuis dan proletar. Agama borjuis merayakan kemewahan dan kesenangan. Tradisi perayaannya adalah suka cita, pelampiasan dan maksimalitas hedonisme. Contohnya adalah kemeriahan Idul Fitri yang menjelma sebagai komoditas kapitalis.

Sedangkan bagi penganut agama proletar, agama adalah ajang refleksi atas nilai-nilai kemanusiaan, yang direfleksikan dengan pengorbanan. Tidak heran, agama-agama besar menyatakan tradisi pengorbanan sebagai perayaan keagungan ajaran ilahi. Dalam Islam, hal itu terejawantah dalam Idul Qurban.

Tentu saja penganut agama borjuis turut mengklaim juga berkorban. Tapi kita mafhum, pengorbanan ini bukan sekadar mengeluarkan uang untuk beli hewan korban atau menyantuni anak yatim. Bukan sekadar itu. Amal saleh itu harus merasuk dalam segenap jiwa sehingga pemberi dan penerima adalah satu jiwa sependeritaan dan kepedulian. Seperti pengorbanan Habil dan Qabil yang sama praktik namun beda kualitas. Habil berkorban dengan penuh khidmat, Qabil ’berkorban’ dengan segala kepongahan. Kita tahu, kaum Islam borjuis lebih senang memperingati 10 Muharram sebagai ”hari anak yatim” sebagai momentum untuk bersedekah, bukan ritual penyembelihan cucu Nabi dan pengikutnya di Karbala. Dengan bersedekah kepada anak yatim, tanggung jawab sosial serasa ’telah ditunaikan’. Berbeda dengan memperingati Asyura yang ujung-ujungnya melawan penguasa zalim. Kita masih bisa tertawa sambil bersedekah kepada anak yatim. Tapi sungguh kita durjana bila masih bisa tertawa mengingat penyembelihan Al-Husain.

Saatnya Memegang Sejarah

Kini sejarah ada di tangan kita, mau diapakan agama ini? Selalu menatap ke depan karena memang tidak peduli atas jejak masa lalu? Atau sekadar mengutuki masa lalu dan memandang sinis masa depan? Ataukah menimpa spiritualitas sejarah masa lalu demi melanggengkan nilai-nilai suci untuk masa depan? Karenanya, tidak ada yang salah memperingati targedi Karbala.

Kita wajib memaparkan ke depan khalayak adalah bahwa jalur Islam (das sollen) dan sejarah Islam (das sein) tidaklah seiring. Bahwa sejarah kemanusiaan kadang tidak bersanding dengan struktur komunitas manusia itu sendiri…

Imam Khomeini pernah berkata, ”Rahasia majlis-majlis peringatan kematian (haul) adalah kemampuannya untuk menyatukan dan membangun persatuan di antara sesama Muslim. Sisi politik majlis-majlis tersebut lebih kuat daripada sisi-sisi lainnya.”

Dengan demikian, menjaga Asyura (tragedi 10 Muharram) tetap hidup adalah tugas politik dan ibadah. Berkabung untuk orang yang telah berkorban demi Islam berperan besar dalam memajukan revolusi. Kita sangat berhutang budi pada majlis-majlis duka ini serta takbir-takbir yang diserukan di sana. Kita tidak berkumpul dalam majlis-majlis ini untuk sekadar menangis. Tangisan kita adalah tangisan politik.

Kaum mustakbirin, penindas, komparador, penjilat, takut terhadap setiap tindakan untuk menyatukan rakyat demi menentang kezaliman. Sekadar kita hadir untuk menangis tidak akan membuat mereka khawatir. Yang mereka khawatirkan ialah dampak politik majlis-majlis ini sebagai sistem pengingat memori umat. Karena sangat mungkin, dalam suatu masa, ada umat yang tidak tahu bahwa penguasa yang dikenal ’saleh dan baik’ adalah musuh agama yang sesungguhnya. Yaitu ketika mereka menanggalkan kebenaran dan menyatakan kemungkaran.

Umat harus dibangunkan, agar semua bisa menjadi saksi… [andito]

Komentar»

1. tantangan - Desember 27, 2009
2. Karbala Melawan Lupa « Maula - Desember 28, 2009
3. Ibeng - Desember 28, 2009

Cuma kisah kemalangan toh’..!
saya rasa masih banyak kisah kemalangan yang lebih tragis daripada Husein.
buat saya mengambil pesan untuk tujuan hidup kedepan.
bukan mengenang kemalangan yang tidak meninggalkan pesan kedepan.

4. Aldi Karmawan - Desember 28, 2009

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang tidak melupakan akan sejarah.

5. ruz - Mei 21, 2010

Sdh di takdirkan seperti itu…
tinggal bagaimana Qt hidup di saat ini, mengambil Ibroh!
Makanya berhati-hati jg mengambil Ibroh!
Salah mengambil Ibroh, bs-bs menyerupai Yazid/ malah melebihinya.
Berhati-hati….

6. Radite Azis - Januari 25, 2011

TULISAN REVOLUSIONER, COPAS BOS


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: