jump to navigation

Lembaga Penghisap Buruh Desember 8, 2009

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

”Semoga Tuan bisa menyuarakan penderitaan kami.” Suaranya tercekat. Nampak benar ia lelah hati dan traumatik. Terbayang kembali peristiwa-peristiwa sial yang dialaminya. Terlibat dalam agenda aksi, namun dipolitisir oleh lembaga perburuhan yang biasa mendampinginya.

Larangan istrinya, yang ke sekian kali, agar ia tidak terlibat dalam serikat, tidak digubrisnya. Ia sadar aktivitasnya bisa berujung (kembali) kepada PHK. Atau jenjang kariernya yang diabaikan oleh manajemen. Tapi nurani untuk membela nasib sesama pekerja membuatnya menerima tawaran bergiat (kembali) dalam program organisasi (serikat) buruh/pekerja bersama lembaga perburuhan itu. Ia hanya berharap, aktivitasnya tidak lagi dipolitisir oleh sang aktivis.

Pengalamannya bergaul dengan aktivis buruh memberinya banyak pelajaran. Tidak semua aktivis buruh memahami perburuhan atau memperjuangkan nasib buruh. Tidak jarang di antara mereka saling sikut demi (lebih) mengeksiskan organisasi atau dirinya sendiri. Tidak sedikit pula yang menjadikan organisasi buruh sebagai batu loncatan karir ke kursi menteri negara atau komisaris BUMN.

Itulah yang membuatnya sensitif terhadap kata-kata manis aktivis buruh. Dia curiga, di balik rayuan itu terselip agenda politik pribadi sang aktivis. Ujung-ujungnya, dia kembali menjadi ampas organisasi.

Lambat laun ia dapat memetakan karakteristik aktivis buruh. Di balik misi pemberdayaan buruh, tercuat sebuah agenda pribadi yang sama busuknya dengan misi korporasi.

Jualan berita buruh. Menjual isu buruh adalah ladang ekonomi tersendiri bagi sebagian aktivis buruh. Isu tersebut tidak mesti berasal dari hasil penelitian lembaga mereka sendiri. Kadangkala, berita koran diblow up sedemikian rupa sehingga terkesan bombastis. Mereka pun tidak malu mengklaim angka-angka penelitian yang diperjuangkan oleh organisasi/lembaga lain.

Mereka berkubang dalam jaringan media dan beraktualisasi dari seminar ke seminar di hotel-hotel mewah. Paparan teori dan analisa angka muncul di sana-sini, dramatis dan provokatif. Tapi jangan tanya apa buruh yang di akar rumput mengenal mereka. Atau, apakah mereka juga merasakan kultur buruh, denyut nadi di dalam bilik pengap kamar/rumah buruh. Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu: Buruh itu data, dan data itu uang.

Jualan kasus buruh. Mereka menyisir komunitas buruh, mencatat dan menghimpun semua problematika buruh. Bekal itu mereka jadikan dasar program pemberdayaan dan advokasi. Alih-alih mencari solusi terbaik yang pro buruh dalam konflik hubungan industrial, mereka mematangkan kasus yang ada menjadi sebuah aksi massa.

Kepada buruh, mereka menjanjikan kemenangan. Semudah bukti-bukti tekstual tentang pelanggaran yuridis perusahaan. Mereka arahkan buruh untuk demonstrasi, mogok dan melambatkan kerja. Tapi mereka tidak mengalkulasi dengan sepenuh hati. Bahwa perusahaan punya nafas lebih panjang untuk bermain rally, mengombang-ambingkan kasus di Pengadilan Hubungan Industrial yang jelas-jelas memakan waktu, biaya, pikiran, dan keringat. Dan buruh hanya punya modal keringat dengan dana dan waktu yang terbatas. Militansi keburu habis di tengah jalan. Padahal permainan baru dimulai. Serikat tidak cukup modal menghidupi mereka. Dan organisasi buruh tidak peduli bahwa program mereka menumbalkan buruh-buruh.

Lembaga perburuhan hanya sibuk mendata kasus yuridis mereka sebagai porto folio lembaga. Di luar sana, buruh bertarung membingkai takdir buruk mereka pasca pemecatan karena serikat mereka, sudah jelas, hanya menyuplai semangat tanpa logistik memadai untuk keluarga buruh terpecat itu. Mereka menderita, tapi lembaga buruh itu berfoya-foya dengan rupiah hasil negosiasi diam-diam dengan perusahaan. Mereka siap beralih tempat mencari mangsa baru: buruh bermasalah yang mau bermitra dengannya untuk aksi massa lagi.

Jualan keringat buruh. Mereka adalah aktivis organisasi buruh. Mereka representasi dari segenap massa buruh yang karena ketidakmampuan dalam mengelola, mempercayakan organisasi kepada mereka. Sebagian dari mereka adalah buruh juga, atau mantan buruh. Sebagian lain adalah pemain cabutan. Mungkin karena pengalaman sebagai aktivis mahasiswa/partai yang kemudian ditarik sebagai pengurus.

Amunisi pergerakan mereka berasal dari iuran organisasi (check of system). Alih-alih sebagai struktur delegasi kerja, hierarki organisasi menciptakan kelas sosial baru. Pengurus sangat menikmati kedudukannya dan mempertahankannya selama mungkin. Pikirannya hanya meraup iuran sebanyak mungkin. Program kerja diciptakan sebagai upaya menghabiskan iuran, bukan sebagai tanda pengabdian kepada anggota.

Ia tidak heran dengan watak (manajemen) korporasi yang memang berorientasi meraup profit sebanyak mungkin. Semaksimal mungkin hingga tiada sekoin pun yang disisakan untuk pekerjanya. Namun ia sungguh tidak memahami kok ada (aktivis) buruh yang tega menghisap sesama buruh.

Namun, seberapa pun besarnya rasa kecewanya, ia masih menyisakan sejumput harap bahwa ada leader yang mampu bukan saja mengetahui dan menunjukkan jalan, tapi juga memimpin jalan bagi kesejahteraan buruh. Ia percaya masih ada lembaga yang rela berkeringat-berdarah segala pikiran, tenaga dan dana, turun ke bawah membangun basis massa buruh yang kuat. Leader yang LEADS the way…

”Semoga Tuan bisa menyuarakan penderitaan kami.” Suaranya terdengar lirih. Ditatapnya lekat-lekat aktivis itu. Ia takut, bila gerakan buruh ini kembali oleh elite organisasi. Ia takut gelap mata dan membunuh si penghisap buruh itu… [dit/leads]

Komentar»

1. lisa - Januari 6, 2010

sang g penghisap sejati bagi klas buruh adalah kaum borjuasi, mereka merampas nilai lebih dari hasil kerja buruh, maka musuh sejati buruh adalah klas borjuasi/klas pemilik alat produksi dimana mereka tidak terlibat dalam produksi tetapi menguasai seluruh hasil produksi klas buruh hanya karena mereka telah membeli tenaga klas buruh dengan sangat murah jika dibandingkan dengan nilai lebih yang diciptakan oleh kelas buruh.

Klas borjuasi, sebagai klas pemilik alat produksi sekligus sebagai klas yang berkuasa saat ini, dengan berbagai cara mereka membuat regulasi yang menguntungkan bagi kepentingan klasnya, dan merugikan klas buruh, bagaimana UU No. 13 tahun 2003, undang-undang No. 2 tahun 2004, tentang PHI, undang-undang No. 21 tahun 2000 tentang serikat buruh/serikat pekerja yang terlihat demokratis tetapi sesungguhnya upaya klas borjuasi untuk memecah gerakan buruh dan kekuatan klas buruh.

selain itu mereka juga berupaya dengan segala cara untuk mereduksi gerakan serikat buruh sejati, dengan cara membuat lembaga kerjasama tripartite yang terdiri dari perwakilan buruh, perwakilan pengusaha dan perwakilan pemerintah, dimana notabe serikat buruh yang tergabung dalam tri partite nasional adalah serikat buruh yang berwatak kuning, yang dengan terang selalu mendukung kebijakan perintah yang merugikan buruh dan cenderung meredam gerakan buruh dari bawah.

persoalan klas buruh dari waktu-kewaktu semakin komplek, penderitaan dan ketidak adilan dai tahun-ketahun semakin dalam, upah murah, kondisi kerja yang buruk, tidak adanya kepastian kerja akibat sistem kerja kontrak dan outsourshing dan lain sebagainya.

persoalan buruh semakin panjang saja akibat dari dominasinya gerakan serikat buruh kuning, dan serikat buruh yang dipimpin oleh para oportunis.

jadi sangat bisa dimaklumi kemudian adanya pikiran buruh yang berkembang bahwasannya, sebagian mereka menilai bahwa pimpinan serikat buruh hanyalah mencari keuntungan atas penderitaan klas buruh, ini adalah satu kenyataan yang terjadi hingga saat ini, maka dengan demikian bersikap apatis bukanlah jalan yang tepat dalam situasi saat ini, justeru klas buruh harus mulai kritis dan membangun serikat buruh sejati adalah jalan satu-satunya, dengan menyandarkan atas kekuatan sendiri dan untuk kepentingan dirinya sendiri, melalui perjuangan massa adalah pilihan yang tepat,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: