jump to navigation

Dilema Ideologisasi Serikat Pekerja Juni 4, 2009

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

Union Workers Rights 2

“Workers have the right to form and join unions of their choosing, bargain collectively and go on strike.” (Paul Kersey)

Dalam sebuah hubungan industrial, kesejajaran antara korporasi dan pekerja menentukan kualitas kerjasama dan komunikasi di antara kedua belah pihak. Pekerja yang bermodal lemah (dari sisi konsep, skill, dana, jaringan dan massa) berposisi tawar lemah dan cenderung dilemahkan.

Kesadaran untuk lebih dimanusiawikan dan dihargai secara profesional oleh manajemen memberanikan pekerja berhimpun dalam suatu serikat pekerja (SP). Mereka sadar, gerakan individual hanya berdampak pada perbaikan inividual, belum tentu berefek pada sistem secara keseluruhan. Dalam suatu kondisi, mereka bisa sebagai korban dari kebijakan manajemen.

Korporasi yang peka menyadari peran vital pekerjanya. Demi menghindari citra buruk dan penurunan transaksi bisnis, ia berkenan memberikan reward dan punishment yang baik sesuai dengan klausul-klausul yang tercantum di dalam PKB. Diyakini, peningkatan kesejahteraan pekerja akan turut meningkatkan kinerja, produktivitas, dan keharmonisan di dalam korporasi. (Manajemen yang bertindak represif dalam mengelola psikologi ketakutan terhadap buruh berupah rendah akan dibahas pada tulisan tersendiri.)

Dalam situasi yang mapan dan harmonis, pekerja kembali asik dengan dirinya sendiri. Mereka tidak menganggap SP sebagai sebuah wadah vital komunitas pekerja. SP tak ubahnya pemadam kebakaran yang bergerak hanya ketika ada gejolak di internal korporasi, misalnya besaran bonus. Artinya, gerakan protes SP bukan karena masalah prinsip, apalagi ideologis, melainkan karena kenyamanannya terusik.

Namun militansi mereka hanya bergema di areal korporat. Bila terjadi suatu gejolak di korporat lain, belum tentu SP mapan tersebut peduli, apalagi mempunyai daya tekan sebagaimana yang mereka lakukan terhadap manajemen mereka sendiri. Dalam sistem global, gejolak bisa muncul bukan dari kebijakan manajemen melainkan efek domino dari transaksi global dan sistem moneter internasional. Manajemen yang jeli segera menyikapi SP mapan dengan segera menyesuaikan gaji sehingga tidak sempat menimbulkan riak. Inilah praktik kapitalisme ersatz.

Akhirnya, SP bukan sekadar dituding ‘yellow union’, melainkan kumpulan pekerja elite yang menyimpan kartu truf kebobrokan manajemen dan juga tahu bagaimana memanfaatkan rekan-rekannya yang levelnya lebih rendah. Taktiknya, SP memainkan bahasa diplomasi konseptual kepada manajemen sambil memberikan tekanan bahwa mereka menguasai jaringan pekerja di level operation yang sudah terbiasa memakai otot.

Ketidakmampuan manajemen menjamah karyawan di tingkat operation memudahkan elite SP untuk mengikat ketaatan atas dasar kesetiakawanan, tidak butuh teori nasionalisme, sosialisme, bahkan teks-teks keagamaan. Bila solidaritas buruh (labour) dibentuk oleh rasa ketertindasan dan ketakutan komunal. Maka solidaritas pekerja (employee) dibentuk oleh rasa kesetiakawanan karena menjaga privelese dan kemapanan bersama. Muncullah kelas borjuis kecil (little/petty/petite bourgeoisie), sebuah lapisan semu di dalam korporat antara manajemen dan buruh (level rendah).

Kemudahan material yang didapat oleh pekerja hakikatnya menyimpan bom waktu. Pseudo kemapanan membuat mereka laksana pemilik korporat. Cukup duduk santai saja maka uang akan mengalir tiap saat. Tidak heran, pengurus elite SP kerap menolak disebut sebagai buruh. “Kami bukan buruh, tapi pekerja.” Kesadaran semu semacam ini membuat lagaknya pun semakin borjuis, sesuatu yang kontras dengan status resmi mereka. Borjuis mengacu pada kapasitas individu mengakumulasi usaha mandiri dan mendesain passive income. Sedangkan buruh/pekerja mengacu pada kapasitas individu upahan yang mendesain massive income.

Situasi mapan sungguh meninabobokan namun berbahaya. Ketersediaan segala sesuatu membuat pekerja malas/tidak mau menggali dan meluaskan potensi diri, terutama pada kapasitas ideologi. Sebagai komunitas, pekerja seyogyanya mendalami teori dan aplikasi sosialisme. Setidaknya mengetahui konsekuensi praktis pekerja upahan. Dalam istilahnya, kondisi pekerja mapan seperti tidur. Mereka baru terjaga setelah menua. Ketika dana pesangon dan pensiun yang mereka terima mulai tidak mampu mencukupi segala kebutuhan apalagi keinginan dan gaya hidup mereka. Ketika mereka tidak mampu berbisnis/wiraswasta. Ketika nilai deposito atau hasil investasinya tidak sebesar pengeluaran mereka.

Gerakan pekerja kelas menengah berimplikasi lebih luas daripada buruh marjinal, yang masyarakat awam pun menilai mereka paria. Bukan sekadar perubahan sistem sosial, namun juga struktur politik negara dan bahkan ideologi bangsa. Apa yang kelas pekerja menengah nikmati saat ini sesungguhnya tidak seberapa besar dan penting dibandingkan dengan hasil yang akan mereka nikmati apabila mereka berkesadaran ideologis.

Bukan Sekadar Pertemanan

”The first step in the evolution of ethics is a sense of solidarity with other human beings.” (Albert Schweitzer)

Solidaritas di antara pekerja menengah mesti disokong penuh. Namun gerakan tidak boleh berhenti di sana. Karena nilai-nilai perkawanan, sebaik apa pun ia, tidak akan membawa perubahan sistemik yang lebih luas, apalagi melintas batas-batas kelas sosial. Mungkin di antara mereka tidak menganggap penting sebuah serikat pekerja ideologis. Akan tetapi, apalah artinya hidup bila tidak menggaet pada nilai-nilai universal dan transendental, ketika hidup lebih punya makna (life meaningful). Dan itu hanya tercapai dengan membuat sistem industrial yang berkeadilan, menyebarkan kesejahteraan yang mereka miliki untuk memberdayakan knowledge, skill, attitude, dan belief lingkungan mereka. [dit/leads]

Komentar»

1. Andri Kusmayadi - Juni 5, 2009

Tulisan yang mencerahkan nih dari Mas Andito. Terus terang saya yang pernah aktif di serikat pekerja selama sekitar 6 tahun sangat tertarik dengan tulisan ini. Meskipun sekarang saya sudah tidak aktif di serikat pekerja, karena memang sudah keluar dari perusahaan itu. Akan tetapi, saya masih belum jelas yang dimaksud dengan sp ideologis itu seperti apa? Trus kalau permasalahannya tadi bahwa pekerja itu mendapatkan kenyamanan semu, apakah yang bisa diberikan sp ideologis itu terhadap pekerja yang mengalami kenyamanan semu tadi?

2. usang - November 1, 2009

benar sekali tulisan abang, itu memang realitas dan kita harus berbuat apa? ada orang beralasan untuk kondisinya yang seperti itu, katanya kalo dalam ilmu kungfu ada teknik melawan dengan menggunakan energi lawan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: