jump to navigation

Realitas dan Kesadaranku April 22, 2009

Posted by anditoaja in Uncategorized.
trackback

consciousness 

Socrates: Karena setiap persepsi berkaitan secara khusus dengan keberadaanku, maka persepsiku adalah benar bagiku dan, seperti kata Protagoras, aku adalah hakim segala sesuatu yang memang milikku, yang ada sebagaimana adanya, dan segala sesuatu yang bukan milikku, yang tidak ada sebagaimana adanya (Plato, “Theaetetus”, 160c)

 

Aku adalah aku. Aku adalah bukan selainku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sama dengan selainku. Inilah prinsip identitas yang kumiliki sejak aku mengada.

Aku mengada. Karenanya aku mengetahui dan menyadari keberadaanku. Aku adalah pemilik keberadaanku seutuhnya. Aku adalah subjek yang sadar dengan kedirianku. Aku real, maka aku realistis. Kesadaranku ini lepas dari sebab-sebab material dan kondisi psikologisku. Kesadaran atas realitas inilah yang mengantarkanku untuk menyadari adanya realitas selainku, yang aku sebut sebagai objek.

Awalnya kesadaran tentang diriku sendiri lebih superior daripada selainku/ objek/ realitas lain, sebagaimana juga ada batasan dari selainku untuk memahamiku. Aku tidak terpengaruh dengan nilai dan bentuk apa pun yang terjadi dan dikenakan kepada sebuah gelas yang ada di hadapanku. Aku otonom dan independen dengan segala sistem di luarku yang menilai gelas itu. Dan bagaimana pun gelas tersebut tidak akan bisa memahami diriku sebagaimana aku memahami diriku sendiri. Gelas pun hanya sadar dengan ke-gelas-annya dan otonom dalam memahami dirinya sendiri.

Namun peningkatan pengetahuan dan kesadaranku tentang selainku meningkatkan perluasan kesadaranku sehingga aku tidak lagi terkungkung oleh wilayah materialku belaka. Perbedaan tingkatan kesadaran ini disebabkan oleh dimensi, ruang, waktu, konstruksi sosial-budaya dan tranformasi informasi tentangnya.

Aku bisa saja menghilangkan eksistensi gelas di hadapanku dengan berkata, “Gelas itu tidak ada”, atau aku menghalangi inderaku darinya atau perasaanku menihilkannya. Dengan peralihan pikiran (baca: tidak perhatian), keberadaan gelas yang tertangkap oleh inderaku bisa saja menjadi tak bermakna. Namun, realitas gelas tidak berhubungan dengan permainan bahasa, indera, atau psikis semacam di atas.

Gelas yang kuanggap benda mati padat, dalam dirinya sendiri, hakikatnya adalah sebuah benda ‘hidup’ sebagai aku menyadari ‘kehidupan’ diriku. Sebagaimana aku, ia juga bergerak dalam ruang dan waktunya. Hanya saja konsepsi dualis dalam mindaku mengabsolutkan gerak dalam perpsektif (perpindahan) ruang. Hakikatnya gelas itu pun bergerak dalam perspektif (perbedaan) waktu, seandainya aku memaknai gerak sebagai perubahan sesuatu dari potensial menuju aktual. Aku dan gelas senantiasa beraktualiasasi dalam konteks kita masing-masing.

Sehingga, intensitas kesadaran yang optimum menyadariku bahwa pengetahuanku tentang ke-aku-anku dimungkinkan setara, senilai dan identik dengan kesadaranku terhadap selainku/objek lain sebagaimana ia menyadari ke-ia-annya. Kesadaranku adalah kesadaran gelas. Hakikatku dan gelas adalah satu. Misalnya, interaksiku dengan gelas itu bisa jadi lebih intens dibandingkan dengan orang lain di sebelahku bila gelas itu berasal dari soulmate-ku. Tiap melihat gelas itu hatiku merindu hingga materialku turut berubah, misalnya jadi tersenyum atau menangis.

Saat aku mengenakan baju seragam sebuah institusi yang menakutkan, maka keberanianku meningkat tajam. Sudah tidak terukur lagi bahwa kekuatan fisikku tidak seperti yang kutampilkan dan yang orang lain prediksikan. Saat aku mengikuti alur lagu hiphop, maka diriku larut menyatu dengan aliran suara musik itu. Namun semuanya sontak berhenti ketika seragam itu ternyata tidak berpengaruh bagi orang lain dan musik hiphop itu berubah jadi instrumentalia film horor.

Dalam hal ini peleburan realitas akan memasuki babak baru. Apakah peleburan aku dan gelas karena unsur materialnya ataukah yang lain? Bila peleburan tersebut sintesa material antara aku dan gelas, niscaya memunculkan split personality dalam diriku karena jiwaku berpindah dari ragaku ke raga gelas. Jiwaku pun tetap labil, karena perubahan material gelas akan berpengaruh secara signifikan dengan kesadaran dan kemelekatanku. Aku bertindak seolah-olah sebagai gelas padahal diriku yang asli berjasad manusia. Bagiku ini mustahil. Sintesa hanya terjadi pada jiwa ke-aku-an ke ranah ke-gelas-an. Namun secara otonom aku tetap aku dan gelas tetap gelas.

Karena kesadaran adalah inheren dengan realitas, dan segala sesuatu menyadari dirinya masing-masing maka hakikat realitas adalah hadir manunggal. Hakikat kesadaranku dengan selainku adalah tunggal. Realitas nampak plural karena indera hanya menjangkau aktualisasinya. Apabila kita meluaskannya, maka fenomena yang dialami gelas mampu kita rasakan pula meskipun di antara kita tidak ada sentuhan material. Jika kita punya ikatan emosi yang kuat dengan orang yang kita cintai, maka apa yang kecintaan kita rasakan akan kita rasakan pula.

Sehingga bila kita hanya memperhatikan pluralitas realitas maka realitas tunggal itu pun gaib. Namun apabila kita memfokuskan diri kepada realitas tunggal tersebut maka pluralitas pun lenyap. Seperti kita perhatikan huruf maka tinta hilang. Sebaliknya, apabila kita memfokuskan kepada tinta, maka huruf pun lenyap dalam pandangan mata. Setiap realitas yang menumpukan kesadaran eksistensi kepada dirinya semata, maka tiadalah realitas lain di dunia ini yang ia lihat. Fokus pada ke-apa-an suatu realitas menjebak kita pada kesadaran material yang semu. Fokus pada ke-ada-an segala realitas membakar kita pada ketidaksadaran abadi. Seperti laron yang masuk ke api lilin.[andito]

 

Komentar»

1. joko sukisno - April 22, 2009

Kesadaran makin jlimet aja…tambah pusing…tidak menyegarkan….
Bagaimana menghentihan kesadaran itu sendiri akan menyegarkan kesadaran tanpa harus aktif kesadaran otaknya tapi gak pernah mleset dan tidak pernah salah karena hidup itu sendiri yg menuntun, bukan kesadaran hasil proses jiwa kejiwaan psikologi, melainkan kerja gaibnya, atau nyawa, atau isi badan yg sebenarnya, yg menggerakkan atau bos nya, pergerakan hidup.
Mungkin sepertinya aneh, tapi inilah adanya. Kasunyatan. Spiritual. Bukan kenyataan.
Kenyataan adalah kesadaran ragawi. Kasunyatan adalah kerjanya gaib atau nyawa.
Seseorang yg makarti, yg dijadikan bos, bukan dibalik otak alias ragawinya yg selalu memimpin proses perjalanan hidup, urip atau sang guru sejatinya, yg jadi penuntun jalannya hidup..
Itulah laku spiritual.

2. pandi merdeka - Mei 2, 2009

wohohoho… kenapa harus bangun jika bisa terus bermimpi😉

3. Aldi - Mei 19, 2009

Tulisan ini bentuk peng-Aku-an atau pengakuan ? hehe..

Rusdi Sulaiman - Oktober 6, 2009

Kedua-duanya Bung Aldi! Ya, peng-Aku-an, ya pengakuan. Andito semacam me-wahdahtulwujud (manunggal wujud)- ini berati peng-Aku-an- dan me-katsratimahiyah (menjamak keapaan)- ini berarti pengakuan.

4. Ibeng - Desember 28, 2009

Lumayan buat sekedar berimajinasi.
ya,tetep aja kalo perut lagi keroncongan.yang ada imajinasì makanan. bukan ke-aku-an.
karena aku-pun belum mampu menahan lapar berbulan-bulan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: