jump to navigation

Pekerjaan Lim Maret 16, 2009

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

worstjob

Tadi pagi ia datang ke kantorku. Wajahnya serius. “Ini untuk direkturku. Bacalah.” Katanya seraya menyerahkan sepucuk surat. Isinya pernyataan kepada pimpinan perusahaannya agar mengabulkan salah satu dari dua opsi: Menjadikannya karyawan outsource atau ia mengundurkan diri.

“Puji Tuhan bila kantorku masih berkenan memberiku order editan. Tapi bila ternyata tidak ada, ya tidak apa-apa. Mungkin inilah jalan yang Tuhan berikan dan mesti kulewati.”

Nama aslinya Alim, artinya orang yang berilmu, semacam pandito dalam bahasa Jawa. Namun papanya memotong huruf pertama sehingga namanya cuma Lim. Mamanya pernah bercerita, biarlah proses hidup yang akan mengeksiskan huruf awal itu sehingga namanya lengkap menjadi Alim. Namun karirnya sebagai karyawan selama ini membuatnya merasa tidak alim alias bodoh. “Aku telat sadar. Aku telah salah investasi waktu, tenaga, dan pikiran, yaitu: bekerja pada perusahaan yang tidak pernah menghargai hasil kerja dan masa bakti karyawannya. Namun kesadaran saat ini tetaplah momentum terbaikku,” ujarnya.

Karyawan

Aku kenal Lim tujuh tahun yang lalu. Tepatnya November 2001. Saat itu ia baru hijrah dari Bandung ke Jakarta untuk bekerja di sebuah LSM sosial keagamaan dari Timur Tengah. Di sana ia bertanggung jawab atas divisi penerbitan non-buku, yaitu jurnal dan majalah. Pekerjaan kewartawanan atau jurnalistik ini mengakhiri masa nganggurnya selama dua tahun.

Gaji awalnya Rp 1,4 juta (Nov 2001). Cukup standar pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan bulanan yang memang masih murah. Pada awalnya ia betah dan enjoy saja. Apalagi Pak Bos, begitu ia memanggil direkturnya, sering menasehatinya untuk hidup sederhana dan bekerja sungguh-sungguh. Hanya di sinilah, petuahnya, kita bisa memperoleh pahala dan keberkahan hidup. Bandingkanlah dengan tempat lain jika tidak percaya.

Pak Bos kerap menceritakan dirinya sendiri yang kerap tidak pulang hingga larut malam karena sibuk bekerja. Oya, jarak pintu rumah dan pintu kantornya hanya 20 meter di lahan dan atap yang sama. Jadi, Pak Bos adalah satu-satunya orang di kantor yang mampu pulang paling lambat dan masuk kerja paling cepat. Luar biasa.

Sistem Kerja (Atas Nama) Akhirat

Dalam sebuah situs, Lim menemukan karakter menarik seorang karyawan: 1) Wake up, eat a good breakfast, and go to work; 2) Work hard and smart for eight or nine hours; 3) Go home; 4) Read the comics, watch a funny movie, dig in the dirt, play with your kids, etc; 5) Eat well and sleep well. Terus dengan nada ngejek, ia katakan, “This is called recreating. Doing steps 1, 3, 4, and 5 enable step 2.” Komentar Lim, posisinya memang seperti itu, tapi sesungguhnya lebih parah lagi.

Waktu terus berjalan. Bobroknya pengelolaan negeri ini membuat ekonomi berantakan. Harga-harga merangkak naik dengan pasti. Gaji pejabat dan parlemen juga naik dengan gembira. Namun ganjang-ganjing tersebut tidak dirasakan oleh kantor Lim. Gaji Lim dan rekan-rekannya hanya konstan naik 10% atau 100 ribuan setiap tahun, tergantung mana nominal yang lebih kecil. Awalnya memang masih cukup. Namun tingkat inflasi yang melonjak seperti deret ukur membuat gajinya yang seperti deret hitung keteteran. Apalagi dengan kondisi sekarang di mana kebutuhan hidup rata-rata 3 kali lipat dibanding tahun 2001.

Menyikapi fenomena ini, Pak Bos menjelaskan dengan bijak, tidak naiknya gaji mengikuti inflasi adalah sistem terbaik di kantornya. Bila mulai tidak mencukupi kebutuhan bulanan, anggaplah cobaan Tuhan. Hendaknya kita senantiasa bersyukur sambil terus bekerja dengan giat. Tak lupa ia mengingatkan agar jangan mencari penghasilan tambahan di luar karena hanya membuat pikiran tidak fokus pada pekerjaan kantor. Pak Bos yakin bahwa mempunyai pekerjaan lebih dari satu adalah pelanggaran dan menyepelekan pekerjaan perusahaan. Lho, perusahaan? Bukankah LSM?

Tempat kerja Lim memang unik. Status resminya memang LSM, artinya lembaga non-profit. Namun Pak Bos selalu menyebutnya ‘kantor’, maksudnya perusahaan. Konsekuensinya, ia mewajibkan kehadiran penuh karyawan-karyawannya. Ia tidak segan memotong gaji dari total bruto bulanan bagi mereka yang terlambat atau tidak masuk kerja dengan alasan apa pun.

Jadi, sebenarnya sistem penggajian kantor Lim tidak mengenal gaji bulanan, selayaknya perusahaan yang sekuler dan non-Islam, yang memperkerjakan karyawan tetap. Yang berlaku di kantor adalah gaji tiap jam yang dibayarkan di akhir bulan sehingga seolah-olah gaji bulanan. Dengan demikian, tidak ada sedikitpun perbedaan antara karyawan yang telah lumutan karena bekerja lebih lima tahun dengan karyawan baru yang bekerja satu bulan. Semuanya tidak menerima uang bonus, gaji ke-13, cuti bulanan, pensiun, apalagi fasilitas kantor. Beruntung, tahun 2003 gajinya sudah Rp 2 juta.

Pengabaian Nilai Tambah

Kondisi Lim paling unik dari karyawan lainnya. Pak Bos menekankan target terbit jurnal dan majalah yang spesifik. Pada saat yang sama, ia mewajibkan Lim masuk seperti staf redaksi lainnya yang tidak dikenai jadwal terbit yang ketat. Sekali lagi, sistem ini mustahil terdapat di negara-negara barat. Artinya, dalam suatu kondisi Lim bisa saja tidak menerima gaji seperak pun namun produk tetap dihasilkan karena dikerjakan seluruhnya di rumah. Sedangkan karyawan lain tidak dikenakan target seketat Lim.

Pada saat yang sama, klaim Lim, kualitas dan standar kerjanya setara dengan dua orang. Seluruh tugas keredaksian dilakukannya sendiri, mulai dari rancang tema, isi, mencari dan menghubungi narasumber, mengedit, proof, hingga pembayaran honor penulis dan penerjemah. Demi hasil akhir, ia kerap menginap di kantor atau begadang bersama partner desainer sampul dan setter isi.

Lim mencontohkan. Saat ia diminta menangani buku-buku umum dan jurnal, majalah dikerjakan oleh dua orang. Karena menggalang aksi protes karyawan, ia dimutasi untuk menghidupkan sebuah divisi pendidikan, sebuah divisi baru, sendirian. Namun karena divisi penerbitan butuh kelangsungan jurnal sebagai imej eksternal dan majalah sebagai imej internal, ia dikembalikan ke posisi semula. Merasa tidak cukup, Pak Bos memberinya tugas tambahan untuk hubungan antar lembaga, yang selayaknya diurus oleh staf tersendiri. Tidak sampai seminggu, divisi pendidikan diisi oleh dua orang.

Dalam kondisi seperti itulah Lim wajib hadir dan menerbitkan jurnal dan majalah tepat waktu. Sedangkan sistem kerja jurnalistik pada umumnya hanya salah satu saja, orientasi kerja harian atau orientasi target/produk.

Kerja Material, Gaji Non-Material

Namun Pak Bos punya banyak amunisi teks keagamaan untuk mematahkan permohonan kenaikan gaji dan perbaikan sistem kerja. Katanya, kerja itu ibadah. Apalagi pekerjaan di lembaga ini. Janganlah kita lihat hasil atau harus dapat penghasilan berapa. Lakukan saja semua pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Yakinlah Tuhan akan memberi ganjaran dari sesuatu yang tidak disangka-sangka.

Kutipan ayat-ayat suci dan kisah hidup orang-orang saleh ini cukup menyentuh Lim. Untuk ke sekian kalinya Lim menyalahkan dirinya yang berpandangan materialistik dan hitung-hitungan. Meskipun beban pekerjaan membuatnya tidak bisa nyambi tambahan, ia tetap menanti kemungkinan adanya durian runtuh, rezeki yang datang tanpa disangka-sangka. Ia yakin Tuhan tidak ingkar janji. Di negara asalnya, Pak Bos terhitung pejabat tinggi sekaligus ulama. Masak sih dengan orang sekaliber itu Lim tidak percaya perkataannya? Wah, bisa-bisa kualat!

Lim cuma bertahan setahun lebih berkumpul bersama keluarganya. Tekanan hidup semakin menghimpit karena gaji yang ngepas. Ia memutuskan memulangkan seluruh keluarganya kepada mertuanya di salah satu kota di Jawa Barat. Di sana mertua Lim punya sawah dengan kualitas beras nomor wahid, jadi tidak perlu ada pos pembelian beras.

Demi menghemat biaya, ia menjenguk mereka dua minggu sekali. Ia sendiri tinggal bersama kedua orangtuanya di pinggiran kota Jakarta. Tiap hari ia memacu motornya 3 jam pulang pergi rumah-kantor. Selama ia bekerja, tidak satu pun kantor memberinya fasilitas transportasi semisal motor, atau fasilitas kerja, semisal laptop atau anggaran pulsa. Semuanya berasal dari usaha sendiri 100%.

Sebenarnya sudah banyak sobat yang mengingatkan kondisi ini. Anwar, sobat sejak kuliah, pernah berkata, “Kalau kau terus berada di lembaga ini tanpa ada perubahan sistem yang signifikan, maka nasibmu 20 tahun lagi sudah bisa kupastikan: kere bin miskin bin sengsara.”

Pengabdian atau Penjajahan?

Interviewer: “Why did you change your last job?” Man: “Because the company shifted and didn’t tell me where…” (Joke)

Kini lebih dari tujuh tahun Lim bekerja. Gaji yang ia terima sejak pertengahan 2005 (gaji Rp 2,5 juta/bulan) selalu defisit 2 juta hanya untuk sekadar hidup ngepas, tanpa biaya perumahan, asuransi, pendidikan, dan tunjangan standar karyawan di negara-negara beradab. Beruntunglah ada penawaran kartu kredit. Kartu yang semestinya berfungsi sebagai alat tukar cadangan dijadikannya sebagai ‘sumber keuangan’ baru. Hilir mudik menghadap bosnya untuk minta naik gaji tiada efeknya selain nasehat untuk semakin giat bekerja karena pengabdian kepada Tuhan.

Dengan pengabdian selama ini, ia belum punya rumah, meskipun sekadar tipe 21. “Seandainya sistem penggajian kantorku rada waras dan Pak Bos punya kebijakan tentang perumahan karyawan, niscaya aku bisa sisihkan gaji 500 ribu sebulan,” katanya sedikit geram. Ya, 7 tahun kerja X 12 bulan X 500 ribu = 42 juta = rumah tipe 21. Pasti bisa. Ia kemudian menyebutkan beberapa perusahaan milik orang Kristen atau sekuler yang sangat peduli dengan kesejahteraan karyawan-karyawannya.

Tapi takdir berbicara lain. Gajinya yang selalu defisit, meskipun seluruh anggota keluarga puasa Senin-Kamis plus puasa Nabi Daud, tetap tidak ada sisa gaji yang bisa disisihkan. Ah, mungkin saja kamu hidup boros, Lim? “Seandainya saja keluargaku makan daging seminggu sekali itu disebut boros, maka bagaimana dengan gaya hidup Pak Bos?” Lim bercerita, biaya makan Pak Bos dan sekeluarga selama sebulan senilai empat kali gaji Lim. Tagihan kartu kredit yang mencapai puluhan juta rupiah mulai tidak bisa dilunasinya dengan tertib waktu. Malah sekarang ponselnya akrab ditelepon oleh debt collector.

Tapi Pak Bos punya pikiran lain. Baginya, meningkatkan kinerja karyawan adalah dengan menambah fasilitas kerja di kantor sambil menebar teror psikologis. Alih-alih membahagiakan karyawan, Pak Bos senang melihat karyawannya hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Ia tidak sadar dan tidak percaya bahwa kesejahteraan karyawan dan rasa senang dalam diri mereka syarat awal produktivitas. Baginya karyawan itu barang, yang bisa diganti atau dibuang kapan pun ia mau, bukan aset yang mesti diperlihara atau ditingkatkan skill, knowledge, dan wealth-nya. Apabila karyawan itu tidak lagi dibutuhkan maka dengan entengnya ia persilakan mereka untuk pindah kerja.

Pak Bos cukup lihai memaksimalkan keringat karyawannya. Ia merasa bersalah apabila melihat supirnya sedikit melonjorkan kaki untuk mengurangi penat dan lelah. Selain tugas kantor resmi, ia punya tugas tambahan mengantar jemput keluarganya. Jam kerjanya molor tak keruan. Masuk kerja jam 7 pagi dan bisa kelar hingga jam 11 malam. Kejadian yang tidak sekali dua kali. Tidak heran, ia pernah menabrak tratoar karena tertidur saat mengemudi. Intensif? Tidak ada. Uang lembur? Sangat jauh dari yang semestinya.

Bos menyikapi setiap karyawannya secara personal sehingga antar karyawan tercipta hubungan yang tidak solid, bahkan mungkin saling curiga. Secara diam-diam Pak Bos suka memberi hadiah kepada orang-orang tertentu, yang bila dihadapkan dengan sistem kerja selama ini, adalah hak mutlak karyawannya. Mungkin ini bonus yang sengaja ditebar secara sporadis. Karyawan yang tidak jeli menyikapinya sebagai hutang budi, bukan hak, sehingga membuatnya tidak kritis dan menikmati eksploitasi ini. Tidak heran, secara alamiah terjadi saling jilat agar mendapat posisi khusus (baca: disayang dan diberi ‘bonus’). Jelas ini merusak mental dan harmoni kerja.

Yang paling hancur dengan sistem kerja semacam ini adalah mental karyawan. Jiwa bebas dan independen mereka menyusut drastis, nyaris tak berbekas. Tekanan reward (gaji yang kecil, tanpa bonus) dan punishment (porsi kerja, potong gaji, tanpa hirarki yang jelas) membuat mereka selalu merasa ketakutan dan diawasi tiap saat. Rekan kantor Lim yang sudah kaya sejak orok pun turut khawatir bila tidak bisa bekerja di tempat sekarang. Padahal bisnis, tabungan, deposito dan investasinya di luar sudah melebihi gajinya. Istrinya pun bekerja. Tapi masalahnya bukan gaji, melainkan mental.

Mengapa tidak dilaporkan ke disnaker? Pak Bos orang pintar, karena sering minum Tolak Angin. Sampai saat ini tidak ada satu pun kontrak kerja yang diteken antara Pak Bos dan karyawan. Sehingga tidak ada yang bisa dituntut dari Pak Bos tentang praktik ketenagakerjaan karena memang tidak ada kontrak kerja, apalagi serikat pekerja dan koperasi karyawan.

Mungkin itulah rahasia ia diturunkan di muka bumi ini. Sejak perusahaan tersebut berdiri, tidak serupiah pun perusahaan membayar pajak. Bila di negeri asalnya seluruh karyawan mendapatkan asuransi kesehatan, maka itu tidak diberlakukan di negeri kita. Namun ia akan memotong gaji setiap karyawannya meskipun menderita sakit dan ada surat dokter.

Salah Perasaan

Dulu Lim menduga praktik ini murni salah komunikasi dan perbedaan budaya saja, bukan kesalahan manajemen. Apalagi tongkrongan bosnya yang saleh ritual dan selalu senandungkan kisah-kisah sufistik. Namun ia mulai menyadari eksploitasi tersebut setelah mengetahui bahwa Pak Bos membeli sedan baru. Ia juga dapat bocoran bahwa Pak Bos dan keluarganya sering berakhir pekan di Ciater, menyewa tempat peristirahatan yang mustahil ditiru oleh karyawan yang rajin menabung selama setahun penuh. Anggaplah semua ini isu yang perlu diverifikasi datanya. Tapi yang pasti gaya hidupnya dan keluarganya tidak sesederhana yang dikhotbahkan selama ini. Setidaknya, Lim baru menyadari bahwa di dalam sistem yang salah (yang tidak menganggap karyawan sebagai aset), orang baik bisa mendadak zalim.

Ada lagi pemandangan yang semakin mengguncang rasa keadilan dan sense of crisis Lim. Pak Bos membuat sebuah kolam ikan besar persis di depan rumahnya. Ia juga baru membeli vila untuk tamu-tamunya di daerah Bogor. Sedangkan karyawan-karyawannya tetap hidup dalam kondisi paria. Tahun 2008 saja tidak ada kenaikan gaji, meskipun hanya Rp100 ribu. Usulan perubahan sistem, di mana gaji standar saja tapi bonus diperbesar, tidak digubris sama sekali.

Lim sudah tidak kuat melihat kenyataan-kenyataan ini. Tiba-tiba ia menyadari dirinya yang menua, fisiknya yang menurun drastis, dan kondisi hidupnya yang abnormal (sistem perusahaan menjauhkannya dari keluarga). Manajemen perusahaan sungguh berbeda jauh dengan ceramah-ceramah Pak Bos yang menekankan agar kita selalu membimbing keluarga di jalan Tuhan. Pak Bos telah berlaku ‘benar’ dengan posisinya sebagai kepala keluarga. Namun dalam kehidupan sosial, perilaku baiknya berubah zalim karena menumbalkan orang lain yang notabene bawahannya.

Aris, seorang karib, pernah berkata kepada Lim, “Aku mimpi kamu berorasi dikelilingi orang dewasa, pemuda, bahkan remaja. Mereka sungguh terhipnotis dengan retorikamu. Namun ada yang aneh dalam mimpiku. Aku lihat kau tidak memakai kacamata. Aku segera bertanya apa maknanya kepada kakakku. Ia menjawab: Ini adalah masa-masa terakhirmu. Sekali kau lewatkan, maka akan lewatlah selamanya.” Maksudnya jelas, Lim harus membuat lompatan besar agar hidupnya berubah. Bila tidak, ia akan menyesal seumur hidupnya. Persis ungkapan Tung Desem Waringin dalam Financial Revolution-nya.

Aris mengingatkan betapa potensi hidup dan prestasi kerja Lim selama ini habis tersedot oleh perusahaan tanpa imbalan dan ganjaran yang setimpal. Aris tahu, Lim cukup lama aktif di organisasi kemahasiswaan dan LSM (yang dimaksimalkan perusahaan dengan bidang Hubungan Antar Lembaga/Kehumasan) dan jurnalistik (yang dimaksimalkan perusahaan untuk mengurus jurnal dan majalah). Belum lama ini, Lim baru saja membuat sebuah buku tanpa kontribusi sedikitpun dari perusahaannya. Bahkan gajinya dipotong tanpa ampun selama ia menjadi mengisi training kaum muda di daerah-daerah.

Surat itu masih kupegang ketika Lim berkata lirih bahwa ia ingin ada sebuah hasil akhir yang sama-sama menguntungkan kedua pihak, dirinya dan perusahaannya (yang sudah sangat jelas mengelabanya). Permintaan Lim sebenarnya sangat sederhana. Dan itu adalah sistem kerja keredaksian jurnal dan majalah yang wajar di seluruh jagad. Dengan beban kerja setara dua orang, ia hanya ingin dikenakan kebebasan waktu kerja. Ia rela tidak dikenakan waktu lembur. Yang penting target tercapai.

Hal itu sudah ia buktikan. Tahun 2008 ia menghasilkan enam produk, 3 jurnal dan 3 majalah yang ia kerjakan sampai larut malam di rumah. Target 5 produk terlampaui. Meskipun selama itu pula gajinya dipotong karena selalu datang terlambat akibat lelah begadang pada malam sebelumnya. Lim berkata masih sangat toleran untuk rapat redaksi atau beberapa hari kerja formal dalam seminggu. Ia menegaskan bahwa ia telah memberikan nilai tambah dan keuntungan kepada kantor. Alih-alih berterima kasih dan memberi reward, perusahaannya menutup mata atas realitas tersebut.

Pada Agustus 2008, the JobsCentral membuat sebuah kuisioner: “Will you choose a high-paying job that you dislike over a low-paying one that you enjoy?” Hasilnya, dari 257 responden, 101 orang menyatakan “Ya” dan 156 orang bilang “Tidak”. Aku bertanya pada Lim, nampaknya uang itu menjadi motivator utama sikapnya. Lim menyatakan, “Tidak juga. Tapi lebih pada ketiadaan reward dan punishment yang jelas, semata-mata karena Pak Bos tidak menilai karyawan sebagai aset perusahaan.”

Lim yakin semua karyawan mengalami gangguan psikis seperti dirinya. Karenanya sejak dulu Lim ingin solidaritas antar karyawan membuahkan sesuatu yang konkret. Misalnya pendirian serikat pekerja atau koperasi karyawan. Tapi kedua hal ini masih mewah dalam imaji teman-temannya. Atau Lim tidak mampu mengomunikasikan kedua hal tersebut. Tapi Lim berharap setidaknya ada keberanian dari teman-temannya yang selalu mengeluh dan bicara keras di belakang Pak Bos, bahkan mungkin sudah mengajak rekan-rekannya untuk keluar ramai-ramai saja, namun terbukti paling betah di posisinya. Mungkin kursinya sudah jadi aset tersendiri..

Putus, Tus!

Lim masih memberi nilai positif pada kantornya. Betapa pun, tempat ini sudah pernah menolongnya, terutama saat ia nganggur. Namun seiring waktu berjalan, Lim butuh ruang aktualisasi dan pengabdian yang lebih luas, yang memang sejak awal tidak disediakan oleh kantornya dan mungkin tidak disadari oleh Pak Bos.

Sampai berita ini diturunkan, nasib Lim belum jelas. Pak Bos tidak mengabulkan atau menanggapi permohonan Lim. Dari info yang didapat, ia minta tanggapan beberapa orang dekatnya. Semuanya berkata Lim jangan dilepas. Lim masih sehat dan produktif. Peraslah ia hingga tinggal tulang dan kentut. Lagipula, keluarnya Lim bisa membuka aib kantor selama ini terkesan baik, sehat, dan saleh.

“Aku capek lahir batin. Pengabdianku sudah lebih dari cukup. Aku ingin hidup normal. Aku ingin bertemu anak-anakku setiap saat, melihat mereka tumbuh dan berkembang dengan sehat, ceria, dan sejahtera. Aku ingin mereka punya figur ayah yang utuh dan bisa berkata dengan bangga kepada setiap orang: Inilah ayahku!” Lim masih ingat peringatan Mario Teguh tentang perusahaan yang tidak mau menghargai prestasi/nilai tambah karyawannya.

Lim menambahkan, “Aku ingin anak-anakku bisa menjadi orang-orang merdeka, yang memerdekakan orang lain dan tidak menggunakan kemerdekaannya itu untuk memperbudak orang lain.” Nampak jelas Lim tidak ingin anak-anaknya menjadi orang baik seperti Pak Bos tapi zalim saat jadi pemimpin karena menerapkan sistem kerja yang salah.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya mengulang. Lim hanya ingin bebas waktu kerja atau ia mundur saja.

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya ingat sebuah pepatah: “Cintailah pekerjaanmu tapi jangan cintai perusahaanmu karena kau tidak tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu.” [andito]

Komentar»

1. princess tautau - Maret 17, 2009

blg sm si Lim itu, suruh cuti 3 hari, nyepi… nanti keluar jawabannya…

2. amuli - Maret 17, 2009

2. Ini memang persoalan yang harus segera diatasi. Karena, Lim dan kawan-kawan sekerjanya itu sedang berpacu dengan waktu. Terlambat dalam mengambil keputusan akan menghilangkan segala kesempatan.
Keputusan Lim untuk mengikuti seminar Financial Revolution semoga bisa pemantik guna mengubah hidupnya.
Coba saja, Lim melihat sekelilingnya. Sungguh menyakitkan! Kawan-kawan seusianya sudah memiliki rumah, mobil,… yang meski bekas, tetap punya kesan tersendiri. Apa itu duniawi? Jika ya, kenapa? Jika tidak, kenapa juga?
Si Bos rupanya juga sekuler rupanya sekuler-religius karena dia hanya mengeksploitasi “ayat-ayat spiritual”, tapi tidak menyeimbangkannya dengan “ayat-ayat material”.
Pengabdian kepada Tuhan tidak mesti harus mengorbankan keadilan dan profesionalisme penggajian. Sayang, Bos-nya Lim itu pake kacamata kuda untuk menelisik masalah kerja itu.
Ah, cap cay deh…

3. anwar aris - Maret 17, 2009

waduh… jadi remuk seluruh sendiku mensesap kisah Lim. Tak perlu saran apalagi nasehat, Lim harus segera bangkit. Bila perlu caci maki tuh Pak bos, kemudian tuntut ke pengadilan agar kejahatannya segera usai.
Bijak bila meneruskan kasus ini ke depnaker.

4. bob - Maret 18, 2009

sarankan pada Lim…Keluar saja,
tdk ada gunanya berkeluh kesah apalagi bila sampai pada tahapan membicarakan aib org. padahal persoalan ini simpel,,semua perasaan yg Lim rasakan akan berakhir bila dia mau bersikap dan tdk pengecut.
Jgn2 Lim ini tdk siap menghadapi konsekwensi atau resiko dari sikapnya. kalau itu maka jawabannya nikmati saja dan tdk usah menggerutu…melulu..

percayalah kalo Lim bibit yg bagus maka anda akan tumbuh dimanapun disemai..dan bila tdk maka hal sebaliknya akan yg terjadi..
berani menerima tantangan? atau tetap setia menjadi manusia nyiyir pengerutu…salam utk LIm

5. yunik - Maret 27, 2009

Lim….just resign right now!
nggak nyangka waktu memutuskan resign setelah dipaksa masuk lebaran hari pertama taun 2008, temen2 didepatemenku juga terhitung 5 orang termasuk mantan bos ku mbak kadep resign bulan Feb kemaren. hehehe….
Ketidakadilan adalah budaya kerja yang paling merusak!
btw jadi copywriter aja sob…enjoying your life, write everything you like…end get the dollar…

6. anwar aris - Maret 28, 2009

@Bob: Bahkan Tuhan pun menyebut hamba yang tak mau berkeluh-kesah kepadaNya sebagai orang yang sombong!
Sudahlah, jangan salahkan orang yang terzalimi semacam Lim. Lim bukan mengumbar aib orang lain. Tapi berbagi kisah. Kisah Lim adalah tragedi kemanusian yang dicipta orang yang selau “mengatasnamakan” Tuhan. Taruhlah Lim “menggerutu”, itu tidak salah, apalagi kamu sebut Lim membicarakan aib orang lain: ini watak budak yang melanggengkan perbudakan.
Semacam penjajah Belanda dan Jepang, apakah salah bila kita katakan bahwa mereka menghisap darah bangsa Indonesia. Saya yakin, Tuhan akan memberi saya pahala berkali-lipat jika saya memahamkan kepada generasi yang lahir sebagai bangsa Indonesia bahwa Belanda dan Jepang adalah penjajah yang membuat bangsa Indonesia sengsara hingga saat ini.
Tak perlu ajari Lim tentang cara membedakan mental “pengecut” dan “jawara”, karena dengan berbagi kisah yang seperti itu, berarti dia telah bermental pejuang dan siap menerima segala konsekwensinya.
Jika Anda sandangkan predikat “manusia nyinyir penggerutu” kepada Lim, maka saya pastikan Anda adalah satu di antara berjuta orang yang pro penjajah.

7. bob - Maret 30, 2009

kasihan sekali anda anwar…
menyarankan Lim utk bersikap anda artikan sebagai org yg pro penjajahan…cara berfikir yg aneh ….

Persoalan Lim jelas,..kalau dia merasa ini salah satu bentuk perbudakan maka solusinya LAWAN..sukur2 menang kalo tidak KELUAR….

Ngak usah panjang2 cerita ke belanda segala…
Kalo “perjuangan” yg anda bilang itu sebagai pelajaran pada generasi berikutnya.. Nggak ada gunanya..selama LIM masih..mengharapkan Gaji bulanan dari Majikannya yg kata anda dan LIM dzalim.

jgn2 generasi…dibelakang LIM bukannya mengambil pelajaran tapi malah mentertawakan karena tdk berani bersikap…
lebih repot..lagi seperti anda anwar..mencarikan “candu” pahala agar tetap bertahan…

8. anwar aris - Maret 30, 2009

@bob: 🙂
muatan saran Anda kepada Lim berlakukan untuk Anda. BErikut saya kasih tahu lagi apa yg Anda tulis yang lebih tepat disebut caci:

1. “…tdk ada gunanya berkeluh kesah apalagi bila sampai pada tahapan membicarakan aib org….” (Anda anggap keluh kesah tak berguna. Lebih-lebih Anda sebut “membicarakan aib orang”! Bahkan para nabi pun berkeluh kesah.)

2. “Jgn2 Lim ini tdk siap menghadapi konsekwensi atau resiko dari sikapnya. kalau itu maka jawabannya nikmati saja dan tdk usah menggerutu…melulu…”
(Anda hukumi Lim sebagai orang yang “tidak siap” dengan sebelumnya berlindung dalam kata ‘jangan-jangan’. Lim Anda hakimi sebagai orang lemah. Tulisan Lim bertenaga dan mencabar setiap pembaca waras. Anda hakimi Lim sebagai orang yang selalu menggerutu. Sebaiknya Anda sandangkan itu ke diri Anda sendiri, bukan Lim.🙂

Lalu Anda Akhiri dengan kalimat:
3. “….atau tetap setia menjadi manusia nyiyir pengerutu…” (Telah berkali-kali Anda hakimi Lim.🙂

Selamat ya Bob, betapa banyak orang sepertimu.

@ Bob: Coba lihat lagi muatan komenku yang pertama (itupun kalo Anda mau).

9. yunik - Maret 30, 2009

Kata ust Mario Teguh, anda yang pilih bos itu, bukan sebaliknya…. Karena pada saat interview anda dapat menolak…Jadi harus anda yang memutuskan keluar! Dan semoga anda dapat memilih bos lain yang ‘baik2’

10. anwar aris - Maret 31, 2009

Jadi ingat Iklan Layanan Masyarakat tentang pencegahan HIV/AIDS: “GUNAKANLAH KONDOM UNTUK MEMPROTEKSI DIRI DARI SIPILIS DAN HIV/AIDS”. Tiada upaya menyumbat HIV/AIDS dari sumbernya, padahal sudah jelas virus ganas ini dicipta sekelompok orang biadab. Malah secara tak sadar masyarakat termakan iklan layanan yang meniscaya membiarkan HIV/AIDS terus berkembang.
Demikian pula virus berupa sistem kerja yang dicipta “cukong-cukong” atau lazim disebut “bos-bos”, Mario Teguh bilang seperti itu, sebagai solusi bagi buruh, senada dengan pepatah: Keluar dari cengkeraman Sipilis, untuk menjatuhkan diri ke kubangan HIV/AIDS (Nauzubillahimindzalik).

11. Roy rangkuti - April 2, 2009

Bob vs Anwar… seru! Ayo Bob, lanjutkan… kok malah diem…

Oya Bob, kalo bisa tulis nama asli anda, seperti Anwar (pake foto segala lagi)… biar anda tidak disangka pengecut…!

12. RUSDI - April 3, 2009

Disini ditindas
Disana ditindas
Dimana-mana buruh ditindas.
oo ee oo ( 2x )

Ayo lawan kawan-kawan
Ayo lawan kawan-kawan
kita pasti menang.

Ini masalah personal atau masalah kolektif ditempat lim bekerja, kalau masalahnya hanya masalah personal yang berkaitan dengan konpensasi kerja ( rekan kita tidak merasakannya ), jangan pernah ragu untuk ambil langkah seribu untuk ganti profesi. Cuma kalau ini adalah masalah yang dihadapi seluruh pekerja, maka tiada kata lain untuk lawan dan lawan bersama-sama.

Bagamana cara ngelawannya ?
Konsolidasikan seluruh pekerja yang ada, buat serikat pekerja. Lim bimbang dan lemah karena ngelawannnya sendiri, dan kita pahami secara sosiologis buruh memang lemah dihadapan majikan dan kaki tangannya.

Kita juga lemah karena kita merasa majikan kuat, sehingga tidak akan ada kesetaraan yang membuat kita takut untuk berdialog. tapi kalau kita merasa bahwa kita adalah setara dan jika mereka nggak mau dialog, maka mau nggak mau dibutuhkan tekanan-tekanan agar majikan mau mendengarkan keluhan kita.

Negoisasi yang dilakukan dengan kolektivitas serta didukung dengan ancaman mogok yang reel serta ancaman melaporkan ke disnaker mengenai pelanggaran UU ketenagkerjaan serta manipulasi pembayaran pajak adalah senjata yang sangat ampuh.

Dan satu lagi cara yang paling ampuh agar Lim bisa menaikan salary, yakni demo didepan kedubes lembaga Lim berasal. dan minta agar lembaga Lim bekerja harus mematuhi hukum yang berlaku di negara ini.

Pertanyaannya, mau nggak Lim ngelawan ?
kalau buruh-buruh yang cuma ramatan sd dan smp aja berani, apalagi Lim ?.

tapi kalau Lim nggak berani, terus berharap dapat tempat enak di tempat lain, itu kayaknya mimpi di siang bolong, karena tipe majikan di semua tempat nggak jauh beda.

saya yakin, lim memang dihadirkan Tuhan di tempat zhalim tersebut untuk melakukan perubahan, kenapa harus lim yang merubah, bisa jadi perubahan di tempat tersebut memnag tidak mudah, shingga dibutuhkan orang sekualitas Lim.

13. haunan - April 11, 2009

smg mas lim dapat melalui seluruh proses perjalanannya dengan kuat.. amin..
sabda manusia suci.. ‘manusia berharga tersedia bagi masa2 yang sulit..’
tetap semangat mas lim🙂

14. Mohammad Reza - April 16, 2009

asik-asik ngelawan aja…

15. nasir - Desember 6, 2009

oh mas lim .mungkin aku jga senasib dengan mas lim, aku jga hari ini kerja di suatu lembaga swasta bahaa inggris kata kan lah les gitu, aku seorang pengajar, aku mulai berkerja disana sejak aku masih semester 3, pertama mang aku belajar bahasa inggris di sana dan akkhirnya di minta tuk tinggal di tempat tu sambil mengantikan guru yang berhalangan masuk, dan finally aku jadi guru benaran, sampai sekarang aku juga masih kerja disana, mang aku di fasilitas dengan rumah alhadlliah gaji nya juga 2.5 juta,tp persoalan nya sekarang aku kepingin jadi pegawai negeri dengan ikut tes tp beliau bos tau dan menawarkan kepada ku ikut tes akan di pecat,sungguh zalim juga tu.hingga aku gak ikut tes karena aku pikir tes belum tentu lulus tapi kerja ini dah jelas, tp ya kek gitu selalu hidupnya, mungkin tuk sekarang aku ikuti aja kemauan bos sambil aku persiapkan diri ku bisa mandiri sendiri gak terikat dengan bos.takk ada peubahan kalo kita kerja ma orang lain ,kecuali kita buka sendiri baik kecil maupu besar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: