jump to navigation

Kitab Suci Maret 5, 2009

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

 6a00e3932f6cd9883400e54f9acde28833-800wi

Oon: Darimana anda mengenal dan percaya Tuhan?

Santri: Dari kitab-Nya.

Oon: Mengapa?

Santri: Karena di dalam kitab-Nya itulah diterangkan bahwa Dia itu ada.

Oon: Berapa jumlah Tuhan?

Santri: Satu.

Oon: Darimana kau mengetahui dan mengklaim demikian?

Santri: Dari kitab-Nya.

Oon: Bagaimanakah konsep Tuhan dalam keyakinan anda?

Santri: Seperti yang digambarkan dengan jelas di dalam ayat-ayat-Nya. Tuhan itu punya mata, telinga, hidung, tangan, dan kaki tapi semuanya tidak seperti kepunyaan kita yang terbatas.

Oon: Jadi, bila mata manusia itu bulat, maka mata Tuhan bisa jadi segitiga sama kaki, atau bentuk lain selama tidak bulat?

Santri: Ya, mungkin saja. Hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti kita memang tidak bisa membayangkan-Nya.

Oon: Iya, aku sendiri sulit membayangkan mata Tuhan. Pernahkah dia belekan? Hm, berarti anda telah beriman sebelum beriman dong?

Santri: Maksudnya?

Oon: Sebenarnya anda sudah percaya Tuhan itu ada. Kemudian anda merujuk kepada sebuah kitab yang dikatakan orang-orang sebagai Kitab-Nya. Sehingga rujukan yang anda lakukan hanyalah menguatkan keyakinan anda sebelumnya, bukan memberikan informasi baru.

Santri: Tapi saya memang tidak mengenal Tuhan kecuali dari Kitab-Nya.

Oon: Mungkin maksud anda: tidak mengenal Tuhan secara kelembagaan atau simbolis sebagaimana yang ada di agama-agama formal. Hakikatnya anda sudah percaya ada sesuatu yang Mahakuasa di luar sistem alam ini, hanya saja anda tidak tahu bahwa Tuhan itu adalah sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab-Nya.

Santri: Apakah itu problem?

Oon: Tidak juga. Kalau iya, itu masalah anda. Tapi aku ingin mengingatkan saja, keyakinan anda tentang Tuhan dari Kitab-Nya adalah tindakan yang tergesa-gesa.

Santri: Maksudnya?

Oon: Apakah anda sudah membaca kitab “Anditoaja”?

Santri: Belum. Kitab apakah itu?

Oon: Itu kitab suci yang lebih komprehensif. Di sana disebutkan bahwa Tuhan sejati adalah Hantu.

Santri: Ah, omong kosong. Kitabmu pasti palsu! Kitab suciku mengatakan barang siapa yang tidak percaya dengan isi Kitab-Nya buatlah ayat-ayat tandingan, niscaya tidak akan bisa!

Jawab: Di dalam kitab suciku pun demikian. Di sana disebutkan bahwa ciri-ciri orang yang tidak beriman adalah yang suka membantah dengan berkata: “Ah, omong kosong. Kitabmu pasti palsu!”

 

Lembar dialog di atas pernah aku sebarkan kepada teman-teman aktivis masjid pada tahun 95-an. Karena saat itu aku baru belajar filsafat, maka cara aku menyebarkan lembar-lembar tersebut rada provokatif dan membuat gelisah pengurus masjid. Tapi beberapa responden menyambut positif. Ia mengakui, dialog-dialog tersebut tabu dilontarkan dalam pengajian yang dia ikuti bertahun-tahun. Katanya lagi, kita mungkin hapal banyak ayat, namun belum tentu bisa menjawab beberapa pertanyaan nakal.

Aku tidak peduli apa dan bagaimana konsepsi Tuhan dalam imaji orang-orang. Tapi yang menarik adalah kerancuan berpikir tentang apa yang mereka imani. Karena kerancuan itulah banyak ulama yang mewanti-wanti jamaahnya agar jangan baca buku ini dan itu, jangan bergaul dengan si anu, karena iman bisa goncang. Berarti, secara tidak langsung para ‘orang pintar’ itu, ulama adalah orang yang berilmu, menyadari betapa doktrin yang mereka tanamkan tidak punya pondasi berpikir yang kuat dan logika yang runut.

Karena itu, untuk keluar dari lingkaran kejumudan massal tersebut, mungkin kita perlu mengkaji kitab Anditoaja, sebuah kitab yang mengajak kita untuk berani menertawakan diri kita sendiri, sebagai sosok yang selalu berproses dalam keimanan. [andito]

Komentar»

1. asytar - Maret 11, 2009

jadi ingat buku-nya Hasan Abu Amar seri Tauhid

2. andito - Maret 11, 2009

Yup. Naskah dialog ini mmg nyontek dari buku ‘Tauhid’-nya Hassan Abu Ammar. Dialog2 yg ada dalam buku itu aku bagi dalam bbrp tema, spt: Quran, Rukun Iman/Islam, ciptaan dan bentuk Tuhan. Dan memang kehadirannya cukup menghebohkan kerna pertanyaan2 nakal yg dikemukakan Zaranggi membuat kelimpungan teman2 aktivis masjid.

Dalam bab pertama Nilai-nilai Dasar Perjuangan, kitab suci HMI, yg ditulis oleh Nurcholish Madjid pun masih memajang kepercayaan kepada Tuhan melalui kitab suci. Tentu byk pihak yg tidak menyadari kesalahan berpikir semacam ini.

Pada awalnya aku juga ga sanggup baca tuntas buku tsb krn isinya mmg diluar kebiasaan pengkajian2 agama. Beruntunglah ada orang2 hebat di Bandung saat itu, yg mengajarkan cara berpikir yg benar dan teologi Islam alternatif, yakni teologi yg menghargai rasionalitas tapi tidak lepas dari mistisisme. Pelajaran2 yg mereka berikan berhasil membongkar pemahaman2 keagamaaan primitifku. Beberapa poinnya aku jadikan materi training di komunitas mahasiswa, buruh dan lintas-agama.

Banyak yg ingin mengetahui lebih lanjut tentang konsep2 tsb, juga banyak pula yg ingin mempraktikkannya di tempat mereka. Namun, spt yg pernah aku katakan, nampaknya sulit menguasai hal2 tsb tanpa belajar logika, filsafat, dan ushuluddin kpd Hassan Abu Ammar, Husein Alkaf, Ahmad Subandi, Anwar Panjang, Dimitri Mahayana, Jalaluddin Rakhmat, Muhsin Labib, Musa Kazhim, Imam Hazairin, dll.

Dan sampai sekarang, aku juga belom juga paham banget, apalagi ngerti dgn apa yg diajarkan mereka.

3. Mohammad Reza - Maret 12, 2009

Harus belajar lagi nich…. Tuhan…. Maafkan kami, hamba-hambaMu yang masih sombong, merasa cukup dengan kedangkalan ilmu kami

4. Dudinov - Maret 14, 2009

Bang andito, klo konsep ketuhanan dan agama menurut jaringan islam liberal seperti apa siy?

5. arisprasetya - Maret 25, 2009

“Hassan Abu Ammar, Husein Alkaf, Ahmad Subandi, Anwar Panjang, Dimitri Mahayana, Jalaluddin Rakhmat, Muhsin Labib, Musa Kazhim, Imam Hazairin”

nama2 di atas, kelihatannya kok sangat familiar sekali ya, apalagi Imam Hazairin …🙂

salam dari jauh
@rs-;–

6. ajay - Maret 28, 2009

bang andito skarang dimana?
tolong kirimkan no telp mas imam

7. ihsan - Juni 26, 2009

allah itu pernah memperlihatkan dirinya pada satu kaum di jaman nabi2 terdahulu tapi apa yang terjadi. kaum itu seprti melihat halilintar yang sangat dahsyat. lalu kaum itu mati dan dihidupkan lagi oleh allah. maka jangan pernah sekalipun memikirkan bentuk2 allah. allah itu maha suci jg pernah menjelek2 kan allah kalau tidak mau dilaknat.

8. daywalker - Agustus 17, 2009

yooi san….! ko taw, biz ngopi bareng?

9. fachrul - Oktober 24, 2010

Aku mau beli kitab Anditoaja tp dijual d mn yahhh???

10. Andri Indrawan - Juni 12, 2011

waduh ni abang andito, bawa-bawa nama asatid… tapi nunjukin secara tersurat kalo belon bisa mengklaim sebagai santrinya yang jempolan …. gimana sich bang…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: