jump to navigation

Kereta Februari 24, 2009

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

penumpang-krl-panik-akibat-krl-jakarta-bogor-korslet

 

Jumat 20 Februari 2009, jam 16-an WIB.

Kereta Rangkaian Listrik baru saja tiba dari arah Jakarta. Di sore mendung itu aku tetap memaksa masuk ke gerbong keempat tak berlampu dan sudah dijejali penumpang. Aku harus tiba di Depok secepatnya. Mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, tas punggung aku sandang di dada. Hape juga sudah aku pindahkan dari saku celana ke dalam tas. Di dalam demikian pengap. Aku dorong sedikit-sedikit orang-orang yang di dalam agar aku bisa juga nyempil di antaranya. Untunglah tinggi badanku di atas rata-rata sehingga cukup menghirup udara di atas kepala penumpang.

Di dalam gerbong kereta semua tipe penumpang, lansia, pedagang buah, waria, hingga ibu yang kerepotan menggendong anaknya. Semuanya basah dengan keringat. Apalagi di Tanjung Barat hujan deras tiba-tiba mengguyur kuda besi ini. Jendela-jendela yang sejak awal sudah setengah tertutup ditutup sekalian. Maka sempurnalah kepengapan ini.

Ketika aku baru mulai bekerja di Tebet pada akhir 2001, aku sempat tinggal satu tahun di Bogor. Alasannya sederhana. Suhu Bandung itu dingin. Bila pindah ke Jakarta yang panas secara tiba-tiba pasti akan mengagetkan. Jalan tengahnya ya tinggal di Bogor yang lumayan sejuk. Selain itu, teman-temanku yang sudah hijrah lebih dahulu dari Bandung juga banyak yang tinggal di Bogor.

Dari Bogor ke Jakarta, aku selalu naik KRL yang baru tiba supaya dapat kursi kosong dan PW, posisi wuenak.

Kehidupan demokratis dipraktikkan di kereta listrik. Jangan harap ada pemandangan orangtua berdiri sedangkan anak muda duduk dengan cueknya. Ada juga sih anak muda yang tidak malu, duduk cuek di depan orangtua yang kepayahan. Tapi mereka biasanya berakting pura-pura tidur, atau sengaja melelapkan diri. Seperti aku. Karena harus bangun pagi dan perjalanan Bogor-Tebet memakan waktu satu jam, maka aku usahakan selalu tidur selama perjalanan. Setibanya di Stasiun Tebet, badan sudah segar dan serasa dimassage dan sauna.

Tidak ada penumpang yang merokok. Sehingga udara di dalam kereta dijamin lebih bersih daripada angkutan darat lainnya. Karena merokok di kereta di dalam kereta yang sesak hanya memancing kemarahan penumpang. Hal berbeda jika saya naik kereta ekonomi ke luar provinsi. Penumpang seenaknya mengepulkan asap beracunnya tanpa peduli dia telah membunuh pelan-pelan perokok pasif disebelahnya. Tidak salah bila aku katakan bahwa perokok adalah makhluk paling egois di dunia.

Kehidupan di kereta cukup mengasyikkan selain karenanya ongkosnya yang paling murah dari semua jenis angkutan umum. Apalagi bagi mereka yang lihai menghindar dari penjaga karcis, pulang pergi bisa gratis. Meskipun di kemudian hari baru aku sadari, tentu setelah aku juga berulangkali menjadi penumpang gratis.

Negara dirugikan akibat ulah penumpang kapitalis seperti itu. Karena harga karcis yang murah, juga karena hasil penjualan karcis digunakan untuk pemeliharaan alat transportasi massal paling berat itu. Tidak heran, penumpang KRL Jabotadebek pada tahun 2007 menembus angka 118 juta orang.

Yang pasti, secara umum di kereta tidak gesekan kelas sosial yang berarti. Semua manusia adalah sama di mata masinis. Boleh saja sih anda bersikap sok kaya. Tapi jangan menyesal bila anda menjadi pusat perhatian pencopet.

Banyak cerita di dalam kereta. Para penumpangnya yang secara kebetulan terkondisi selalu pulang pergi bersama banyak yang berinisiatif membuat grup kongkow. Para ‘aktivis gerbong’ ini biasanya punya gerbong favorit dan kursi sendiri. Setiap pagi biasanya mereka saling tukar cerita tentang kondisi keluarga atau rumah tangganya masing-masing. Setiap pulang kerja mereka juga tukar cerita tentang lingkungan kerjanya. Tidak heran, karena bertemu setiap hari, muncul rasa suka dan simpati yang menjadi alasan bagi beberapa orang untuk selingkuh.

Namanya juga kelas ekonomi, tentu banyak juga nestapanya naik KRL. Beberapa kali aku lihat kereta mogok karena listrik padam, penumpang (gelap) yang jatuh dari atap, pedagang klontong yang melihat lorong gerbong seperti lapangan bola, berjalan seenaknya. Tapi semuanya selalu menarik diingat.

KRL aku rasakan dari 2001-2002. Dan aku tidak pernah melihat ada masinis yang ugal-ugalan seperti supir biskota. Ya iyalah.

Dan di Jumat sore itu, di tahun 209, aku memaksa masuk gerbong yang penuh sesak dan tak berlampu. Setibanya di Stasiun Depok Baru, aku baru sadari ketiga ponselku, 1 CDMA dan 2 GSM, lenyap tanpa izin. Bagian kiri tas sobek sepanjang 10 cm. Retsleting terbuka seukuran dua telapak tangan orang dewasa. Padahal tas punggung itu aku sandang di dada. [andito]

Komentar»

1. Afifah Ahmad - Februari 25, 2009

ikut prihatin dengan kasus pencopetan ini.
saya juga punya opini kereta di sini:
http://bundahakim.wordpress.com/2008/11/25/apa-kabarmu-kereta-tua/

2. princess tautau - Maret 4, 2009

di krl, semua adalah lawan…komunitas kongkow justru memperkecil kemungkinan dicopet dan diselingkuhi… mw digebukin satu gerbong ap…ad2 aj…

3. agnes sekar - Maret 10, 2009

Selamat malam Adit saya menilai dari sisi memasyarakat, senang berada di tengah-tengah masyarakat yang beraneka ragam dari kalangan rendah sampai yang menengah, moment seperti itu biasanya aku pakai untuk sharing dengan orang yang ditemui, banyak hal yang dapat kita petik berada diantara mereka, kita baru sadar rupanya masih banyak orang yang memerlukan pertolongan dan uluran tangan kita. Saya pernah naik KA dari Bogor ke Jakarta, ditengah perjalanan saya ngobrol dengan jejaka separuh baya, rupanya dia setiap hari kerja naik kereta api, buruh angkut di pelabuhan upahnya 60 ribu sehari belum dipotong makan dan ongkosnya, saya trenyuh mendengarnya begitu bersahajanya dia hidup kemudian saya tawarkan untuk dia membawakan koper saya dengan alasan supaya saya dapat memberi uang sekedar tambahan untuk belanja anaknya yang 3 orang, setiba KA di Gambir ia membawakan tas saya kemudian saya berikan dia sejumlah uang, dan ia katakan terima kasih berulang-ulang sambil mencium tangan saya, saya dibuatnya terharu , tiba-tiba saya tergerak untuk memberikan jaket yang ada ditangan saya sebagai kenang-kenangan mumpung saya ketemu dia, karena saya pikir sulit bertemu dia lagi, Yah Kang Nanang di Situ Lebak Bogor, menginspirasi saya untuk peduli dengan masyarakat kecil yang penghasilannya tak menentu, Tuhan berkati Kang Nanang dalam hati sambil saya masuk kedalam taksi menuju hotel di JKT. Okay Adit tuangkan terus pengalamanmu semoga dengan demikian bisa menambah pengalaman baik untuk diri sendiri juga orang lain. Sukses untuk anda.

Regards, agnes sekar

4. konveksitas - November 30, 2014

Thanks for your personal marvelous posting! I seriously enjoyed reading it, you may be a great author.I will always
bookmark your blog and will come back at some point.
I want to encourage you to continue your great writing,
have a nice weekend!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: