jump to navigation

Nasionalisme Religius di Indonesia Februari 16, 2009

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

 indon

Tentu kita masih ingat era 1997-an saat krisis moneter melanda Indonesia, nilai rupiah anjlok ratusan persen, puluhan bank terpuruk, rush di beberapa bank bonafid, PHK besar-besaran, juga kelangkaan pasokan beras di banyak daerah. Apa analisa yang kita baca di media massa? Chaos, kerusuhan sampai kemungkinan revolusi sosial. Karena contoh dekatnya ada, Bolivia rusuh saat tabungan nasionalnya berantakan.

Bagaimana Indonesia? Saat krisis terjadi, dunia usaha skala kecil menjamur. Kafe tenda bertebaran di mana-mana. Pelakunya mulai artis ibukota sampai oang-orang di pelosok-pelosok. Industri rumahan makin marak. Eksportir hasil pertanian, perkebunan, perhutanan dan kerajinan justru menangguk laba tak kepalang karena nilai dolar Amerika melonjak. Saat pengusaha Jakarta sibuk patgulipat mangkir bayar kredit, pengusaha kecil daerah asyik rehab rumah dan gonta-ganti kendaraan. Hal ini ‘membuktikan’, semakin besar ketergantungan dengan pinjaman luar negri, semakin terpuruklah dia. Semakin bebas dan mandiri unit usaha dan modalnya, semakin tak terasalah krisis tersebut.

Indonesia, dengan belasan ribu pulau dan ratusan bahasa dan dialeknya, memang unik. Sebelum kolonialisme Eropa, Indonesia, dikenal sebagai Nusantara (Pramoedya Ananta Toer salah satu tokoh yang ngotot mengalihnamakan Indonesia ini), dengan sengketa antar-suku dengan beragam motifnya. Tapi beragam sengketa itu tiadalah kekal. Hanya sesaat. Pada akhirnya mereka akur dan guyub kembali.

Beragam aliran keyakinan dan kepercayaan muncul dan saling berinteraksi. Awalnya ada gesekan karena reaksi alamiah terhadap ajaran baru. Tapi semuanya kemudian berakulturasi, saling mengisi dan berbagi harmonis. Apa yang menyatukan mereka sehingga dapat berhimpun? Mengapa orang Indonesia mempunyai daya tahan terhadap badai krisis tersebut?

Dari beragam kesimpulan, semuanya mengarah pada nilai-nilai kemasyarakatan yang bernama nasionalisme. Renan bilang, isme itu terbentuk dari perasaan senasib dan keinginan bersatu. Kalau kata Project Pop, dangdutlah pemersatunya. Perdebatan tentang nilai-nilai pemersatu ini sempat ramai dibicarakan antara Soekarno dan Natsir pada masa sebelum proklamasi Indonesia 1945. Dan kemudian anak-anak ideologisnya pun, antara nasionalisme dan pan-Islamisme juga melanjutkan polemik ini. Benarkah sedramatis itu?

 

Nasionalisme Sebagai Pemersatu

Muthahhari berbicara khusus tentang paham ini. Syahid ini memandang bahwa nasionalisme memiliki dua faktor yang berdialektika satu sama lain: pertama, faktor ras dan keturunan yang terkait dengan sejarah masa lalu. Faktor kedua, berhubungan dengan tradisi ideologis, religius, sosial dan kebudayaan yang terbentuk dan berkembang selama ini.

Setelah mengkaji secara kritis berbagai faktor yang disinyalir sebagai perekat nasionalisme, murid kinasih Imam Khomeini ini menyimpulkan bahwa faktor kedualah yang lebih menentukan. Muthahhari meyakini, setelah membuat kriteria pemisahannya, Islam mengajarkan pemeluknya bahwa semua perbedaan warna kulit, ras dan bahasa yang teramati di seluruh bangsa di dunia adalah kebetulan dan tidak memiliki realitas esensial.

Dua dasawarsa setelahnya, Hasyemi Rafsanjani, saat itu masih menjabat Presiden Republik Islam Iran, secara intens juga mengisi khotbah-khotbah Jumatnya dengan kajian keadilan sosial dalam perspektif nasionalisme. Dia mengatakan bahwa nasionalisme Barat terbentuk atas dasar kepongahan rasial yang kemudian mendapatkan legitimasi dari misi suci kekristenan.

Hal ini berbeda dengan lokus pembentuk persaudaraan Bangsa Timur yang ingin melakukan pembebasan tanpa syarat, merdeka satu merdeka semua. Artinya kemerdekaan sebuah masyarakat atau bangsa tentu tidak boleh berefek negatif dan merugikan masyarakat atau bangsa lain. Di sisi lain, semangat pembebasan, ternyata, hanya bisa didapat dalam tradisi agama-agama besar yang menitikberatkan pada semangat keseteraan semua manusia di hadapan Tuhan.

Maka tidak heran, isi khotbah Jumat Rafsanjani tersebut mempunyai dua tujuan. Yang pertama kepada masyarakat yang sudah terdidik secara intelektual dan spiritual. Dia menguatkan basis pemahaman mereka bahwa dalam sejarah dan nubuat telah dinyatakan bahwa segala bentuk perjuangan melawan penindasan sudah menjadi takdir baku setiap manusia yang ingin menghamba Tuhan.

Sedangkan untuk kalangan yang lebih awam Rafsanjani mengatakan bahwa kemuliaan dan keharuman sebuah bangsa ditentukan oleh perasaan nasionalisme untuk saling membebaskan diri dari segala macam bentuk praktik penindasan dan penghisapan. Rafsanjani berulang-ulang menyatakan bahwa Tuhan sangat mencintai pelaku amar makruf nahi munkar. Seandainya masih ada yang belum beriman kepada Tuhan, dia mengatakan, setidaknya belalah sesama bangsamu yang masih tertindas.

Dengan memerhatikan khotbah dan wejangan Imam Ali Khamene’i pun, kita bisa dapati betapa semangat membela diri terhadap segala intervensi asing dan membantu dengan segala upaya perjuangan rakyat Palestina dari cengkraman penjajah Zionis Israel mendapatkan legitimasi dari semangat keberagamaan. Setiap bicara tentang apa pun selalu terkait dengan pembelaan terhadap mustadhafin.

Sungguh menarik memerhatikan khotbah Sayyid Hasan Nashrullah, Sekjen Hizbullah Lebanon, pada 22 September 2006 saat merayakan kemenangan rakyat Lebanon atas serangan brutal tentara elit Israel selama 34 hari. Dia mengatakan bahwa keimanan kepada Tuhan adalah pondasi dari sebuah kemenangan. Tapi persatuan dan keberanian rakyat Lebanon Selatan mempertahankan setiap jengkal tanah Lebanon dari agresi Israel juga menjadi faktor material yang menentukan kemenangan tersebut.

Dari keempat tokoh tersebut dapat kita ketahui secara jelas bahwa ternyata nasionalisme dan agama tidak bertentangan. Mereka mempunyai semangat dan urusan yang sama tentang kemanusiaan, hanya saja agama mentransendensikan nilai-nilai universal sedangkan nasionalisme adalah pembumian nilai-nilai ideologis dalam konteks pluralitas historis-sosiologis dengan segenap karakter lokalnya.

 

Nasionalisme Indonesia

Dengan mengacu pada pandangan tersebut di atas dan juga fenomena kekinian yang terjadi di negara-negara Barat kita dapat memahami bahwa karakter nasionalisme Indonesia mempunyai kedekatan rasa dengan saudara-saudara kita di Iran dan Lebanon; mempunyai kekhasan dan kompleksitas yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara (berpenduduk) Islam di Timur Tengah yanag relatif homogen, dan berbeda jauh dengan nasionalisme Eropa.

Di Eropa, nasionalisme adalah efek dari Revolusi Industri. Revolusi Industri sendiri adalah efek dari modernisasi sistem monarki, yang merupakan efek dari modernisasi sistem feodal. Masyarakat yang terbentuk pun kemudian terlepas dari ikatan tanah dan leluhurnya di mana nilai-nilai transendennya adalah ruh dan jiwa dari setiap perilaku sosial dan kebudayaannya.

Akibat ketiadaan ideologi kultural, masyarakat melarutkan emosinya dalam ideologi kerja yang diwakili oleh setiap bidang profesinya. Alam industrialisasi hanya melahirkan kelas pekerja. Maka maraklah serikat pekerja, yang lambat-laun menggantikan ideologi-ideologi transenden mereka. Ketika negara yang mengatur sistem industri ini terganggu, akibatnya sudah terduga, revolusi sosiallah yang akan terjadi. Karakter masyarakat seperti ini tentu sekuler abis.

Hal berbeda dengan yang terjadi di Indonesia. Nasionalisme kita masih taraf primitif. Bukan sekadar itu, peradaban kita masih dipangku oleh feodalisme dan etnisitas. Setidaknya masih taraf transisi dari masyarakat feodal dan kerajaan menuju birokrasi modern, penegaraan. Sistem kemasyarakatan kita masih kuat terikat pada tanah dan nilai-nilai leluhurnya dan tempat nilai-nilai transendennya adalah ruh dan jiwa dari setiap perilaku sosial dan kebudayaannya.

Nah, saat proses interaksi antarkebudayaan ini berlangsung, kolonialisme Eropa masuk tanpa ada akulturasi dan kontrak sosial. Nasionalisme kita pun terjelma semacam siluman, muncul tiba-tiba. Kita melakukan proklamasi kemerdekaan pun kagetan.

Sampai sekarang, degup jantung ini masih terasa. Tak dinyanah kita telah mempunyai sebuah negara dalam mental feodal yang masih tercengkram di kepala. Itulah mengapa Soekarno selalu berteriak revolusi belum selesai. Tapi tentu ini tidak dipahami oleh kalangan modernis yang masih terbelenggu pada wilayah privat. Geneologi korupsi yang menjadi lingkaran setan di negri kita bisa juga ditarik pada wilayah ini.

Akibatnya, larutan emosi massa masih terperangkap pada bias-bias mistisisme dan konservatisme, kalaulah ini diperhadapkan dengan wilayah rasionalisme dan modernisme. Sehingga kelas pekerja kita tidak ideologis. Mereka tetap memilih partai yang mempunyai ikatan kultural/etnis dan mistikal yang sama, baik atas nama agama atau pun bukan.

Sehingga, ketika negara yang mengatur sistem pra-industri ini terganggu, akibatnya tidak serta merta kolaps. Kenyataan di lapangan membuktikan bahwa seluruh analisis rasional dan kalkulasi statistik buntu semua. Bahwa pada masa krisis, dunia hiburan dan gaya hidup mewah/konsumtif masih jadi minat umum. Meskipun terjadi perubahan di skala harga dan kualitas barang, sekadar penanda bahwa sedang terjadi krisis ekonomi.

 

Agama sebagai Akar Ideologi Bangsa

Karakter nasionalisme Indonesia yang khas ini tidak terlalu diperhatikan banyak kalangan. Terutama tentang nilai-nilai universal yang mengikat seluruh ide kemasyarakatan di tiap wilayah Indonesia. Mengkaji tentang bagaimana konsep iman dan keberimanan Indonesia merupakan tolak ukur keberhasilan memetakan bagaimana konstruksi dan aktualisasi nasionalisme Indonesia. Kelompok ‘minoritas’ yang dimarjinalkan oleh negara bisa memperoleh manfaat bagaimana strategi pewartaan dan sosialisasi dengan kelompok mayoritas.

Pemahaman akan nilai-nilai universal tiada dikenal kecuali berhubungan dengan ruang/waktu yang dikenal secara sosiologis sebagai agama-agama. Ajaran Tuhan, dalam simbol, ritus dan aktivitasnya di mana pun tiada bisa hadir dan diterima kecuali mempunyai basis/jejak di kultur setempat.

Perkembangan peradaban yang beragam membuat nilai-nilai transenden tersebut tidak tertransformasi secara utuh sebagaimana awalnya. Apalagi kalau di masyarakat tersebut belum ada budaya baca-tulis. Sehingga ajaran langit ini di masyarakat bumi lambat laun ‘berubah’ dan hanya dikenal sebagai peninggalan leluhur semata.

Ekstraksi nilai-nilai kultural di tiap komunitas masyarakat sebagai titik temu bagi kesepakatan dasar ide kemasyarakatan kemudian berkembang sebagai nasionalisme yang merupakan ideologi bangsa.

Di Indonesia, jejak nilai-nilai ekstraksi agama yang plural, juga aktualisasi batin/mistis/gnosis ajaran Tuhan diringkaskan oleh Soekarno sebagai Pancasila dengan lima pondasi khas: transenden (sila 1), humanisme (sila 2), ukhuwah (sila 3), kemerdekaan ekonomi dalam semangat gotong royong/komunalisme (sila 4), dan pluralisme/demokrasi (sila 5). Dengan melihat sekilas dapat dirasakan betapa semangat Tauhid mendasari kelima poin tersebut.

Tidak heran kiranya, founding fathers negeri ini menyatakan bahwa Pancasila adalah finalitas dari renungan mendalam bangsa tentang perintah Tuhan di bumi Indonesia. Karena membela bangsa (baca: kemanusiaan) adalah kewajiban beragama, maka membela Pancasila (ideologi yang mengusung kemanusiaan) adalah juga bagian dari jihad.

 

Nasib Umat Minoritas

Bagaimana Indonesia dewasa ini? Dari segala macam ketimpangan sosial: korupsi, pengrusakan lingkungan karena penggundulan hutan dan pengalihfungsian daerah resapan air, kekerasan domestik terhadap perempuan dan anak-anak, dan amoralitas dan kekerasan dalam tontonan TV. Dari beragam kasus tersebut tiada yang lebih mengkhawatirkan selain masalah agama.

Konflik dan kekerasan atas nama agama menjadi sesuatu yang biasa. Pada awalnya mungkin sekadar perebutan lahan usaha dengan beking kelompok etnis tertentu. Tapi belakangan berkembang semakin serius karena ikatan dan sentimen keagamaan lebih mengena untuk dijadikan dalih. Peristiwa perebutan lahan gereja di Jatimulya Bekasi oleh sebuah yayasan Islam atau pengusiran komunitas Muslim di Timtim (saat masih gabung di NKRI) atau intimidasi/pengusiran terhadap komunitas Ahmadiyah dan Syiah di beberapa daerah adalah sebuah cermin buruk negeri ini.

Tanpa terasa, ikatan kebangsaan dan solidaritas dan kesetiakawanan sosial sangat rapuh. Indonesia tersekat-sekat dalam kotak daerah desentralisasi menegaskan kesenjangan dan perbedaan itu. Semua karena apa? Adanya kedatangan agama baru dan penyikapan mereka terhadap segala praktik kepercayaan setempat. Polarisasi tersebut pada segala macam aliran kepercayaan/ideologi yang tidak sempat berdialog dengan kultur setempat. Kondisi evolusif masyarakat tidak siap mencerna segala kebaruan ini sehingga melihatnya sebagai ancaman bagi eksistensi mereka dan segala dimensi yang mengikatnya.

Ini tidak berarti masyarakat menolak segala macam nilai-nilai baru karena pada dasarnya kearifan lokal masyarakat setempat sudah cukup kondusif. Mereka memahami bahwa Kebenaran itu mutlak tapi pemahaman dan cara pendekatannya berbeda-beda (beragam). Tentu fenonema ini tidak sama dengan relativitas absolut.

Pada praktisnya, nilai kebenaran itu universal, tidak simbolis/partikular sehingga refleksi kebenaran pun adalah kesesuaian dengan hati nurani masing-masing. Selanjutnya, karena pengamat/subjek itu makhluk historis, maka simbol kebenaran pun terbatas pada waktu dan ruang tertentu. Contoh masuknya Katolik ke masyarakat Jawa sungguh menarik dicermati, justru saat Islam sebagai lembaga agama meninggalkan kultur tradisional masyarakatnya, mengubah pola pikir kemenyatuan mereka dengan alam yang khas esoteris menjadi sesuatu ritus yang sangat kering, tanpa makna.

Islam yang membumi, yang mengindonesia, berbeda jauh dengan Islam Arab. Dari semua aliran dalam Islam yang “tidak pernah bisa menerima bumi” dan akibatnya mereka pun “ditolak bumi” adalah Wahabisme. Hanya sayangnya, kejelian zionis memutarbalikkan kenyataan ini kepada isu lain bahwa Syiisme adalah pondasi terorisme. Kristen Indonesia berbeda jauh dengan Kristen Eropa. Kita bisa telusuri, segala macam praktik kekerasan atas nama agama terjadi karena ketiadaan unsur lokal dalam kredonya.

Banyak kalangan mengharapkan adanya kesadaran tentang kebhinnekaan di masyarakat kita. Banyak yang ingin kedamaian menjadi pemandangan keseharian kita. Banyak yang ingin keberadaan mereka dan komunitasnya diakui, setidaknya tidak diusik. Nah, di sinilah masalahnya. Adakah penerimaan tanpa sebuah kerelaan terlebih dahulu? Bagaimana mungkin rasa persaudaraan muncul tanpa didahului oleh empati?

Sebagai kelompok mayoritas, seyogyanya toleransi dan penghargaan kepada kelompok yang jumlahnya lebih sedikit melekat dalam diri setiap komponen kelompok tersebut karena merekalah yang memegang kendali kekuasaan dan pada sikap merekalah ditentukan keamanan jiwa, harta dan kehidupan sosial orang lain. Saat kesadaran untuk mengayomi yang minoritas tidak ada, maka sikap agitasi dan intimidasilah yang menjadi perilaku sehari-hari mereka. Perbuatan melawan hukum, menyepelekan segala lembaga kenegaraan dan pelanggaran segala konsensus dan etika kemasyarakatan kerap mereka tunjukkan. Pada kasus lain, negara kerapkali memainkan politik gelang karetnya, menggunakan kelompok minoritas sebagai samsak energi massa. Pada masa lalu, Orde Baru trampil menggunakan etnis Tionghoa dan komunitas agama/mazhab di luar rekomendasi negara sebagai objek penderita.

Sebaliknya, kelompok keagamaan yang relatif kecil secara kuantitas selazimnya tidak menampilkan diri sebagai “sesuatu yang lain” beragam simbol yang tidak membumi. Tidak perlu dikenal hanya untuk membuat resah masyarakat awam dan hanya untuk dikenali sesat. Indonesia demikian plural. Sehingga hanya yang benar-benar eksklusif dan tidak mau gaul sajalah yang akan tersingkir di masyarakat. Sebagian kalangan mengatakan bahwa simbolisasi adalah kemestian. Toh sekaligus sebagai alat uji benarkah masyarakat kita bercorak pluralis sebagaimana yang dipahami selama ini. Seandainya masyarakat menolak kehadiran simbol komunitas lain yang berbeda di lingkungannya, tentu ini adalah bukti bahwa masyarakat kita memang masih eksklusif.

Psikologi dan sikap masyarakat tidak bisa dikalkulasi secara kaku. Kalau mereka bereaksi keras pasti ada sesuatu yang salah dilakukan kelompok minoritas. Tapi diamnya mereka pun bukan berarti tanpa menerima. Penerimaan dan pembelaan lembaga lintas agama belum tentu bisa berbuat maksimal. Kesimpulannya, selama tidak ada proses pencerahan secara gradual dan sistematis, bukan sekadar seremoni basa-basi dan diliput media massa, persepsi negatif yang mayoritas kepada yang minoritas niscaya tidak akan berubah.[Andito]

 

Bekasi, Muharram 1428 H

Komentar»

1. Su jarwo - September 29, 2014

membongkar otak pencipta kitab qur’an injil


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: