jump to navigation

Caleg Februari 12, 2009

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

kpu-minta-parpol-benahi-berkas-caleg

 

Aku baru saja mendapat kiriman spam http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1429232 yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Isinya tentang foto-foto spanduk dan baliho caleg yang gayanya bermacam-macam. Tertawaku spontan terhenti, berganti rasa waswas, setelah menyadari bahwa merekalah yang akan mengawal jalannya pemerintahan kita. Inilah buah dari perubahan sistem penetapan calon anggota legislatif.

Rasa kebersamaan rakyat Indonesia mungkin baru resmi dirasakan setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan gugatan uji materi atas pasal 214 huruf a, b, c, d, dan e UU No 10/2008 tentang Pemilu 2009 (23/12/2008) karena dinilai bertentangan dengan pasal 28 d ayat 1 UUD 1945. Sehingga penetapan caleg tidak lagi memakai sistem nomor urut melainkan suara terbanyak.

Tentu yang sorak sorai bergembira adalah mereka yang punya kedekatan dengan akar rumput yang sosoknya dikenal luas di masyarakat, alias populis. Juga mereka yang mempunyai simpul massa. Ini sekaligus pembuktian klaim bahwa mereka memang dekat dengan masyarakat. Dan bukankah partai sebagai representasi rakyat memang wajib dekat dengan rakyat?

Sekarang temanku, yang jadi caleg muda sebuah partai, mulai pede. Ia sudah lama berjuang untuk komunitas pedagang pasar tradisional, buruh pabrik dan guru honorer di wilayahnya. Selama ini keringatnya hasil mengadvokasi kelompok marjinal tersebut menguap dalam klaim seniornya di partai tersebut. Kini, dengan keputusan MK tersebut, posisinya sejajar semua dedengkot partai. Saingannya hanya artis film yang diplot masuk nomor kecil.

Namun seorang artis pun perlu waspada. Keterkenalan tidak menjamin keterpilihannya. Dalam beberapa kasus pilkada, artis ngetop yang menjadi wakil bupati/walikota/gubernur kalah dengan calon lain. Rano Karno, Saiful Jamil, Marissa Haque, Primus Yustisio, Helmi Yahya adalah segelintir artis nasional yang kalah bertempur di daerahnya masing-masing. Mungkin rakyat sudah merasa cukup terhibur dengan melihat tampangnya bersliweran di televisi. Namun mereka cukup cerdas untuk tidak menjadikan ‘penghibur’ tersebut menjadi pemimpinnya. Rakyat takut, dunianya menjadi petaka karena nasibnya jadi mainan artis.

Yang jelas-jelas gigit jari kakinya adalah caleg yang sudah kepalang betah ber-‘politik jenggot’, kuat karena dekat dengan struktur pusat. Mereka rela mengeluarkan uang milyaran rupiah hanya untuk nangkring di nomor urut kecil. Dengan kondisi yang terbalik seperti ini, mereka harus berkeringat mendekati basis dan mengucurkan uang (lagi) untuk melumasi gerak tim suksesnya. Karena realitasnya, banyaknya spanduk dan baliho segede gajah tidak memestikan rakyat memilihnya. Selama ia tidak mempunyai simpul massa dan jaringan di daerah-daerah maka kecil kemungkinan ia akan mendulang kemenangan.

Bagaimana dengan anggota parlemen incumbent?

Temanku yang lain, anggota parlemen pusat, berkata sambil mengutip data Lingkaran Survei Indonesia (LSI) bahwa seorang incumbent relatif bisa bekerja lebih tenang ketimbang rekannya yang belum terpilih pada pemilu yang lalu. Kemungkinan incumbent terpilih kembali lebih dari 60 persen dan sisanya kalah. Menurutnya, rakyat akan memberikan reward dengan memilih kembali incumbent yang sukses menjalankan amanatnya.

Setidaknya ada dua kelebihan seorang incumbent dibanding caleg baru: jaringan dan tim sukses yang telah terbentuk lima tahun silam dan ekspektasi dana yang memancing banyak kalangan untuk mendekat. Dengan belajar dari pemilu masa lalu dan sistem yang telah dikuasainya, tidak sulit bagi incumbent mencari investor kampanyenya.

Tapi hasil survei ini tidak mencerminkan realitas lapangan mendatang. Yang disurvei hanya calon pemimpin daerah yang nominatornya bisa dihitung dengan jari. Sedangkan pertempuran caleg jauh lebih ketat dan unpredictable.

Konstituen awam yang sudah punya ketertarikan pada sebuah partai, belum tentu hatinya tenang. Karena peserta Pemilihan Umum 2009 ada 36 parpol nasional (16 parpol lama dan 18 parpol baru yang lolos verifikasi faktual) dan 6 parpol lokal di Nanggroe Aceh Darussalam. Bayangkan apa yang ada di benak konstituen ketika melihat sedikitnya 180 nama, 5 caleg di 36 partai? Tidak mendadak rabun saja sudah bagus.

Temanku yang menjadi tim sukses seorang caleg DPR-RI daerah pemilihan di Jawa Barat bercerita betapa di internal partainya saling sikut dan potong untuk merebut basis pemilih. Artinya, caleg yang uangnya ‘tidak bernomor seri’ pun belum tentu menguasai massa.

Hingga kini aku sulit menikmati semua konstelasi pemilu yang sedang berlangsung ini. Sama sekali tidak menarik. Apa yang bisa diharap dari artis yang apolitik, pengusaha yang tidak kenal rakyat, incumbent feodal yang tidak membasis dan mantan aktivis yang mengelit?

Aku melihat sekali lagi kiriman spam http://www.kaskus.us/showthread.php?t=1429232. Kali ini aku mengurut dada. Biar bagaimana pun, ada perbaikan sistem politik yang cukup siginifikan. Betapa pun panggung politik masih dipenuhi oleh aktor-aktor berjubah badut, tetap saja kita wajib menaruh harap, seiring dengan pendidikan politik tanpa henti, bahwa suatu saat rakyatlah, pemilik dan penguasa negeri ini yang sebenarnya. Aku hanya teringat kata-kata Ali bin Abi Thalib, “Hai anak Adam, ingat dan waspadalah bila Tuhan terus-menerus melimpahkan nikmat, sementara engkau terus-menerus mengerjakan maksiat terhadap-Nya.” [Andito]


Jakarta, 30 Desember 2008

Komentar»

1. dudinov - Februari 13, 2009

caleg muda adalah sekumpulan aktivis fresh graduate yg belum punya pekerjaan mapan.

2. Mohammad Reza - Februari 13, 2009

Gak ada yang beres emang. Kayaknya, kondisi politik Indonesia tahun 2014 bisa benar2 chaos

3. Ridwansyah - Februari 26, 2009

Memang seharusnya yang muda berkualitas, tapi lebih baik daripada selalu disuguhkan yang itu-itu saja.

Gmana kbrnya bang, kapan ke Pontianak lagi saya Ridwansyah mantan ketua umum HMI Cabang Pontianak sekarang dipercayakan jadi Ketua Umum Badko HMI Kalimantan Barat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: