jump to navigation

Teman Obama Januari 21, 2009

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

119986358301 

“Gila, ternyata aku pernah satu sekolah dengan Barack Obama!”

Beramai-ramai mereka menyerbu kelas yang pernah ditempati Obama, mengusap-usap dan menciumi dinding, kursi, meja, apa saja yang ada di dalam kelas itu. “Bangga banget bisa ketemu bekas kursi dan debu Obama!” teriaknya histeris, sambil berlinang air mata.

Dulu perilaku mereka masih normal. Mereka tumbuh dan berkembang seperti anak-anak pada umumnya. Selesai sekolah, melanjutkan kuliah, bekerja, menikah dan punya anak. Tidak ada yang luar biasa. Tapi semua kenormalan ini berubah menjadi histeria ketika mereka tahu bahwa teman SD-nya 40 tahun lalu, bisa menjadi presiden Amerika Serikat ke-44. Sebuah negara yang sangat mungkin belum pernah mereka kunjungi seumur hidupnya.

Barry, panggilan akrab Obama waktu SD, memang pernah sekolah di Jakarta. Ia bersekolah di SD Katolik Fransiskus Asisi dan SD Negeri 01 Besuki di Jakarta. Di Asisi, Obama bersekolah dari 1968 hingga 1970 awal. Selanjutnya ia pindah ke Sekolah Dasar 01 Besuki, Menteng saat kelas III dan akhir kelas IV. Dia kemudian melanjutkan pendidikan dasarnya di Hawaii, Amerika Serikat. Dulu SD 01 itu bernama Carpentier Alting Stichting Nassau School. Kini SDN Menteng 01, Jalan Besuki. Artinya, Barry tidak tuntas menyelesaikan pendidikannya,

Dari berbagai cerita yang beredar, Obama hadir sebagai anak yang unik, tinggi gemuk dengan rambut keriting. Ketidakmampuannya berbahasa Indonesia dengan lancar dan gayanya berlari menjadi objek olok-olok. ‘Bebek sawah’, ‘orang Afrika’, adalah sebagian julukan yang dikenakan kepada Obama yang dikisahkan kembali dengan nada bangga.

Sebagai anak baru, Barry sadar diri. Ia tanggapi ledekan-ledekan itu dengan keriangan, tanpa dendam. Hanya saja, Barry akan membalas ketika keisengan teman-temannya sudah diambang batas kesabarannya. Suatu ketika Barry diijaili. Ia segera berlari masuk ke rumah dan kembali keluar dengan membawa buaya, ada yang menyebutnya biawak, salah satu hewan piaraan Barry. Tentu saja mereka kabur.

Beruntunglah Obama yang dididik dalam lingkungan keluarga Lolo Soetoro yang pluralis dan demokratis. Ia terbiasa melihat perbedaan. Sehingga ia tidak peduli dengan pencantuman kedua agama Islam dan Kristen di dalam buku catatan sekolahnya. Ia cukup tertawa ketika ada teman perempuannya yang berkata badannya bau. Ia tetap tumbuh stabil dan normal, tetap lincah dan iseng. Saat kuliah, ia pernah menjajal mariyuana, ganja, dan alkohol. Namun prestasi akademik tetap baik dan keterlibatannya di masyarakat tidak terhenti.

Menjelang pemilu presiden Amerika Serikat, teman-teman Obama di SD 01 Menteng membuat “Obama Fans Club”. Mereka sendiri mengakui, pertemanan Obama tidak pernah memberikan sebuah pengaruh yang positif dan signifikan bagi hidup mereka. Kecuali pembentukan “Obama Fans Club” tadi. Jangan tanya apa dan bagaimana kontribusi mereka terhadap hubungan Amerika-Indonesia selama 40 tahun ini.

Tentu, akhirnya, kita bisa menilai motif tindakan norak yang ‘soka kenal sok dekat’ mereka tiada lain adalah demi mendapatkan keuntungan material, mulai dari yang paling rendah: berfoto bareng dengan Presiden Obama; hingga tingkatan yang lebih tinggi: bisa diundang dalam inagurasi di Washington DC Amerika Serikat (artinya: tiket pesawat gratis Amerika-Indonesia PP), dan syukur-syukur bisa berlanjut pada kerjasama bisnis.

Untung Obama jadi presiden. Seandainya Obama menjadi pembunuh berantai maka perilaku alumni SD 01 Menteng itu tentu tidak seheboh sekarang. Persis alumni SDN 2 Jatiwates Jombang yang bersikap normal saja ketika Very Idam Heryansyah pernah sekolah disana. Juga akan mustahil akan ada guru yang terkesan dengan jawaban Obama saat ditanya cita-citanya: “Saya akan menjadi presiden”. Seandainya Obama menjadi Presiden Gang Tukang Jagal (President of GTJ), yang kerjaannya merampok dan membunuh orang lain. Apakah masih ada yang mengaku kenal?

Yang lebih penting lagi, Obama belum tentu ingat, apalagi terkesan, dengan masa kecilnya di Indonesia. Bukan tidak mungkin, Obama justru trauma dengan perlakuan buruk teman-temannya yang mencemoohnya. Seandainya Obama memang terkesan, tentu sudah terbina jalinan komunikasi yang intens antara alumni SD 01 Menteng dan Obama. Kini, tanpa proses sosial yang alamiah, tiba-tiba mereka berteriak, “Jika yang lain memiliki teman yang jadi menteri, kami memiliki teman yang jadi presiden negara adikuasa,” pada acara Jakarta’s Inaugural Celebration Barack Obama, Selasa (20/1) di Hotel JW Marriot, Jakarta.

Mereka semua mengaku berteman dengan Obama. Mengklaim bahwa pertemanan singkat dengan Obama di masa kecil demikian mengesankan. Benarkah, apakah mereka juga bergaul seperti Obama yang dekat dengan orang-orang yang kalah dan terpuruk dan kemudian membangkitkan motivasi mereka, intens bicara tentang pluralitas dan aksi sosial?

Beberapa waktu lalu, Hillary Clinton (Menlu kabinet Obama) secara tegas menekankan pentingnya hubungan dengan Indonesia dalam mengatasi krisis global ini. Hillary memberikan penilaian yang tepat. Indonesia adalah pasar dan produsen yang luar biasa. Apabila negeri ini diurus dengan baik, tentu dengan nasionalisme yang tinggi, maka Indonesia akan sangat diperhitungkan dengan penuh rasa hormat oleh dunia internasional. Itulah pesan implisit dari Hillary.

Tapi, nun jauh dari Washington DC, sekelompok orang beramai-ramai mereka menyerbu kelas yang pernah ditempati Obama, mengusap-usap dan menciumi dinding, kursi, meja, apa saja yang ada di dalam kelas itu. “Gila, ternyata aku pernah satu sekolah dengan Barack Obama!” teriaknya histeris, sambil berlinang air mata. Benar-benar tipikal negeri buidak. [Andito]

Komentar»

1. kolangkaling - Januari 23, 2009

Pesta di SDN 01 Menteng menghabiskan biaya hampir Rp100 juta, di tengah-tengah penderitaan warga Jakarta yang baru panen banjir.
Terlihat jelas, orang-orang yang datang pada selamatan Barry pun tidak berasal dari kelas mapan. Mereka datang untuk masuk dalam dunia selebritas sesaat, sekaligus perbaikan gizi.
Seandainya mereka menyumbangkan biaya tsb untuk panti asuhan atau korban banjir, tentu mereka benar2 mengikuti jejak Barry yg berjiwa sosial.
Sayangnya, tidak semua teman Barry itu benar2 mengenal Barry…

2. Arif Giyanto - Januari 23, 2009

Wahai manusia sedunia, aku pernah di-training Bang Andito lho?!! (Histeris) Hehe….

3. Mohammad Reza - Januari 24, 2009

kecewa tuch orang ma Obama gara2 statementnya… hehehe

4. azerila - Januari 25, 2009

Waktu itu di radio ada cerita dari perancang rambut (??) Maia Soetoro yg tinggal di Amrik sana, dia bilang Obama masih bisa bahasa Indonesia dgn lancar!!

Silakan ke Amerika untuk membuktikannya🙄

5. insancita - Januari 29, 2009

anggota hmi ada yang namanya obama enggak…

6. Bambang Sriwijonarko - Februari 13, 2009

Ada gak foto saya disana ya..???

7. fari - Maret 18, 2009

hy

sya ingin
ktmu obama


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: