jump to navigation

Impian Buruh Semesta Januari 13, 2009

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

construction-worker-high-steel-ballet-2

Your life is an island separated from all other islands and continents. Regardless of how many boats you send to other shores or how many ships arrive upon your shores, you yourself are an island separated by its own pains, secluded in its happiness

[Kau adalah pulau yang terpisah dari pulau-pulau dan daratan-daratan lain. Tidak peduli berapa banyak perahu yang kau kirimkan ke pantai-pantai, atau berapa banyak kapal yang tiba di pantai-pantaimu, engkau sendiri adalah pulau yang dipisahkan oleh deritanya sendiri, terpencil dalam kebahagiaannya sendiri].

–Kahlil Gibran (18831931)


AKHIRNYA kita punya impian tentang dunia tanpa penindasan. Dunia tempat semua orang berdialog dan bekerja dengan bebas dan merdeka tanpa rasa takut. Dunia yang tercipta karena kesepakatan semua pihak. Di Nusantara kultur ini kita kenal dengan istilah ‘gotong royong’.

Dunia yang adil dan sejahtera mensyaratkan kesetaraan semua pihak di mata hukum. Tidak ada pihak yang lebih mendominasi dari pihak lain. Tidak ada pribadi yang lepas dari tanggung jawab kemasyarakatan. Itulah kemerdekaan yang kita perjuangkan.

Kemerdekaan adalah awal dari kebebasan. Kebebasan melahirkan kreativitas dan produktivitas. Setiap orang bisa dan berhak mengaktualisasi diri. Namun kebebasan kita tidak mengusik ruang pribadi orang lain. Mereka juga tidak diperkenankan mengusik ruang privat kita, yang menampung segala jiwa, harta, benda, dan segala kecakapan kita.

Keluwesan hati dan sikap toleran kepada orang lain membuat kita mudah menghormati diri sendiri dan orang lain. Penghargaaan atas keunikan setiap warga dan budayanya masing-masing meniscayakan penghormatan terhadap hak asasi manusia dan menjunjung tinggi pluralisme. Keyakinan atas kemajemukan tiap anak bangsa adalah pondasi dari kehidupan demokrasi.

Sistem demokrasi liberal menampung segenap aspirasi plural dan memungkinkan semua warga mendapatkan haknya secara merata. Akses ekonomi, sosial dan politik warga tidak dikekang. Penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan mustahil terwujud bila kehendak pribadi atau golongan mendominasi kehendak orang atau kelompok. Demikianlah negara dibangun bersama-sama di atas semua kepentingan golongan. Inilah yang dimaksud oleh Friedrich Ebert, “Tanpa demokrasi tidak akan ada kebebasan… Melindungi dan menegakkan demokrasi adalah tugas bagi mereka yang mendambakan kebebasan.”

Negara demokrasi membutuhkan rangka bangunan masyarakat sipil yang kuat agar negara tidak jatuh ke tangan totalitarianisme dan otoritarianisme. Masyarakat juga mewaspadai kemungkinan adanya perselingkuhan penguasa dan pengusaha dalam sistem oligarki. Karenanya, masyarakat sipil membutuhkan elemen-elemen masyarakat yang punya kesadaran mengorganisir diri. Organisasi atau serikat adalah ajang pendidikan dan latihan politik bagi setiap warga. Kesadaran berpolitik adalah modal analisa yang efektif untuk mengawasi jalannya pemerintahan dan melakukan transparansi kebijakan publik baik dari luar maupun dari dalam parlemen.

Mekanisme pengawasan sosial yang dilakukan oleh masyarakat sipil akan meminimalisir penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan. Dengan demikian, media massa yang bebas dan independen diperlukan sebagai salah satu media aspirasi warga dan pelaporan kinerja pemerintah selain sebagai komunikasi politik di antara keduanya.

Dunia yang damai seperti itu hanya tercipta bila segenap warganya punya kecukupan pangan dan sandang. Dengan kebebasan yang telah dijamin oleh undang-undang, masyarakat dimungkinkan mengatur sendiri kegiatan ekonominya tanpa perlu bergantung pada instruksi pemerintah. Persaingan ini akan mendorong partisipasi dan kreativitas masyarakat dan memicu produktivitas unggulan yang berdaya saing tinggi.

Meskipun yang dijalankan adalah sistem ekonomi pasar, tidak dengan sendirinya persaingan individu dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan pemerintah. Negara memang memberikan ruang bebas bagi setiap pelaku usaha. Tapi negara turut memperhatikan secara aktif sumber-sumber produksi yang memberi jaminan dan kemaslahatan bagi warga. Dengan demikian terjadi persaingan yang sehat antara korporasi global di satu sisi dengan negara yang membawahi koperasi warga di sisi lain.

Pada dasarnya negara meletakkan tindakan ekonomi berdasarkan keadaan pasar. Pajak progresif yang diterapkan pemerintah memungkinkan adanya keseimbangan daya saing dan mempercepat pertumbuhan di antara warga.

Itulah mimpi kita tentang negeri ini.

Tapi mimpi itu tidak akan teraktualisasi tanpa kebersamaan elemen-elemen masyarakat. Salah satunya partisipasi aktif kelas pekerja, kelas buruh.

Panggung politik negeri kita masih dihiasi oleh aktor-aktor borjuis, dari kaum intelektual tukang, birokrat korup dan hingga pengusaha karbitan. Tidak akan ada perubahan berarti dari mereka. Mereka membuat negeri kita bangkrut. Mereka pula yang membuat kelas buruh selalu terkucil dan tertindas. Pada saat yang sama, kelas buruh, penentu jalannya roda industri, masih berjarak dengan lapisan kelas sosial lainnya.

Kita tidak bisa memaksa mereka mengasihani kita, apalagi menyerahkan kekuasaannya kepada kita secara gratis. Nasib buruh hanya bisa diubah oleh kelas buruh sendiri. Kita harus menunjukkan kualitas buruh. Buruh tidak hanya bergerak karena masalah seputar gaji dan hubungan industrial. Tidak sekadar itu.

Buruh bergerak karena landasan kemanusiaan. Buruh membela setiap kaum yang tertindas dari lapis manapun. Karena buruh adalah makhluk intelek, maka cara-cara anarkis adalah bukan tipologi gerakan buruh.

Kita, kaum buruh, percaya bahwa setiap manusia punya nurani kemanusiaan yang sama. Gerakan buruh adalah gerakan kembali ke nurani kemanusiaan dengan cara-cara demokratis. Fokus kita adalah bagaimana seluruh kebijakan publik sesuai dengan aspirasi kaum buruh dan masyarakat proletar lainnya. Tapi tidak salah pula kita memikirkan bagaimana menggeser politisi borjuis dengan politisi yang peduli buruh.

Mengembangkan diri

Keinginan pribadi kadang tidak atau belum sesuai dengan kehendak orang banyak karena tingkatan pemahaman yang berbeda-beda. Pada saat yang sama, buruh sadar, melawan kapitalisme tidak bisa dilakukan secara manual dan individual. Karena itulah buruh hendaknya membekali diri dengan pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill). Buruh wajib punya nilai lebih dalam kualitas internal dan kuantitas personal secara sosial.

Peningkatan kualitas internal buruh berhubungan dengan pengetahuan berbasis spiritual, logika dan filsafat. Dengan Pandangan Dunia (Weltanschauung, World View) yang utuh dengan pisau analisa mendalam dengan basis nilai-nilai transendensi, buruh tidak akan mudah goyah dihadang oleh berbagai rintangan material.

Kualitas eksternal berkaitan dengan kemampuan dasar: bahasa asing (terutama bahasa Inggris) dan matematika. Bahasa diperlukan untuk perluasan jaringan buruh (network). Matematika diperlukan untuk mengatur alur logika gerakan buruh.

Penguasaan kedua hal tersebut di atas bersifat mutlak.

Penguasaan lain yang tak kurang pentingnya adalah internet, keprigelan (lifeskill) seperti mengemudi, menjahit, memasak, pertukangan atau yang lain. Semua ini diperlukan guna mengantisipasi kondisi terburuk bahwa buruh harus bekerja dengan kedua tangannya secara mandiri. Dengan demikian, buruh adalah orang yang dapat diandalkan (reliabel) dan dapat dipercaya (kredibel) serta menjunjung tinggi komitmen.

Sedangkan peningkatan kuantitas diri secara sosial didapat dengan cara bergabung dengan serikat, memperluas jaringan pertemanan, mencari peluang usaha mandiri, dan membuat komunitas. Semua usaha ini dilakukan setelah ada perubahan cara pandang, yaitu memandang dunia ini lebih realistis.

Sebagai bagian dari massa, buruh wajib menerapkan gaya hidup sederhana, yang fungsional. Mungkin saja kita mampu membeli berbagai barang mewah. Tapi hidup sederhana adalah pilihan, bukan alternatif. Sisa belanja atau laba usaha tidak dihabiskan untuk menikmati pesona duniawi tapi digunakan untuk pemberdayaan kaum miskin dan tertindas. Itulah hakikat dari derma. Itulah syarat awal sebuah persaudaraan buruh. Mereka yang bergaji besar tidak terobsesi untuk pamer dan yang bergaji kecil tidak iri hati.

Buruh sukses

Hidup ini adalah lingkaran keanehan. Kita tidak bisa memprediksi hasilnya karena banyaknya komponen alam yang terlibat. Tapi kita sadar, tidak ada kejadian yang kebetulan. Mungkin saja banyak kesalahan yang kita perbuat. Tapi selalu ada yang bisa kita jadikan pelajaran. Misalnya sewaktu kita seharusnya menang, kita kalah. Yang penting adalah keinginan untuk tidak pernah menyerah. Mega keraguan tidaklah punya kekuatan menahan sebuah gunung kesungguhan. Jika ternyata tujuan tidak bisa teraih, jangan salahkan tujuannya, salahkanlah langkah-langkah tindakannya. Itulah pentingnya rekayasa dan evaluasi hidup.

Karena kita adalah apa yang kita pilih. Bila kita merasa miskin, maka miskinlah kita. Bila kita bisa, maka kita pun bisa. Pikiran kita adalah generator kesalahan dan juga generator keberhasilan (Our mind is the generator of failure and also the generator of success). Kata Tuhan, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku”.

Di dalam kegagalan buruh, kadang ada pesan Ilahi. Mungkin Tuhan ingin membuat diri kita lebih kuat dengan ujian-ujian kesabaran dan penderitaan. Mungkin Tuhan ingin membersihkan lumut dan lumpur dosa dari diri kita. Mungkin Tuhan senang mendengar kita merintih, menangis dalam kidung suci dan doa. Karena tangisan bukan tanda kelemahan, bukan pula tanda kekalahan. Tapi sekadar jeda untuk refleksi dan menghimpun kekuatan yang lebih dahsyat.

Kegagalan perjuangan buruh adalah sukses yang tertunda. Karena kemenangan itu mungkin bukan untuk kita rasakan saat ini. Tapi Tuhan simpan untuk anak cucu kita, biar mereka tidak jadi buruh nista.

Sebaliknya, buruh menyadari bahwa kesuksesannya adalah hasil dari berpikir, visualisasi, perencanaan, dan tindakan di momentum yang tepat. Kesuksesan itu termanifestasi dalam kejadian-kejadian kecil sehari-hari, tidak hanya dalam mengerjakan ambisi-ambisi besar. Memenuhi pikiran dengan kehendak dan motivasi membuat segalanya terjadi.

Buruh Melayani

Semua pondasi kemuliaan itu sudah ada dalam diri kita. Kita adalah citra Tuhan. Karena Dia Mahamulia, maka manifestasi kemuliaannya hadir pula dalam diri kita.

Lalu, apakah yang akan kita bangun dengan pondasi-pondasi itu? Untuk apakah semua pondasi kemuliaan tersebut? Jawabannya cuma satu: Melayani kemanusiaan.

Apakah yang kita telah kerjakan untuk membantu orang lain?

Kata Robert Frager, ketika kita melayani seorang hamba Tuhan, maka kita melayani Tuhan. Tentu saja, tidak semua dari kita pantas disebut sebagai hamba Tuhan. Tetapi prinsip yang umum yang bisa diterapkan adalah bahwa ketika kau melayani ciptaan, maka kau melayani Sang Pencipta. Tujuan yang tulus memberikan makna pada pelayanan kita.

Setelah segala perubahan ini telah kita penuhi, apalagi yang bisa menghalangi gerakan kaum buruh? Tidak ada kekuatan mana pun yang sanggup menandinginya. Menurut hitungan kasar, jumlah buruh di Indonesia adalah sepertiga dari tenaga kerja. Tambahkanlah dengan istri/suami dan dua anak mereka, jumlahkanlah. Bayangkanlah ketika kesadaran ideologis merasuk dalam seluruh sulbi mereka. Buruh punya serikat, sistem perkaderan, basis logistik, dan komunitas ideologis. Bayangkanlah apa yang akan terjadi di Indonesia bila mereka bersatu!

Mimpi itu jadi kenyataan karena yang diimpikan itu ada. Semakin jelas dan konkret impian itu, maka semakin jelas pula bagaimana strategi dan langkah untuk meraihnya.

Dan mimpi kita ini nyata dan dekat. Dekat sekali… [Andito]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: