jump to navigation

Buruh Organik Desember 31, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

khaldei-worker_1

“Only through the conscious action of the working masses in city and country can it be brought to life, only through the people’s highest intellectual maturity and inexhaustible idealism can it be brought safely through all storms and find its way to port.”
Rosa Luxemburg

Kesadaran Diri Awal Kesadaran Individu

Buruh yang melulu memikirkan dirinya sendiri tidak akan dipandang keberadaannya oleh orang lain. Buruh egois tidak butuh penilaian orang lain. Ia hanya butuh hak-haknya dihormati dan keamanan dirinya terjamin. Namun buruh semacam itu tidak sadar bahwa seluruh realitas di alam ini saling terkait. Alih-alih berpikir dan bertindak independen, buruh memerlukan keberadaan orang lain, baik disadari langsung maupun tidak.

Kita memang eksistensialis. Kita penentu pencitraan dan nilai kita. Kita pula penentu takdir kita sendiri. Tidak ada yang bisa mengatur kita tanpa persetujuan kita. Tidak ada ketundukan kepada siapa pun atas dasar apa pun selain kerelaan rasional kita. Tapi kita tidak mungkin belajar otodidak bila tidak ada orang yang menulis buku-buku pengetahuan; mustahil tinggal di suatu tempat tanpa izin dari masyarakat sekitar; mustahil hidup sejahtera tanpa bantuan atau bekerja sama dengan orang lain.

Untuk pandai berhitung dari 1 hingga 10 dan membaca huruf dari A ke Z, kita butuh bantuan seorang guru. Dulu, untuk cebok pun kita minta tolong orangtua. Sungguh naif sikap eksklusif tersebut. Dan setelah mati pun, ia masih saja menyusahkan. Mayatnya pun harus diurus agar tidak mengganggu [kesehatan] orang lain.

Setiap pemikiran kita dipenuhi kontribusi banyak hal. Sehingga kita tidak mudah narsis, arogan dan meremehkan orang lain. Selalu ada wilayah dalam batin kita untuk rendah hati dan berterima kasih kepada masyarakat. Kesadaran berinteraksi dengan selain diri kita akan memupuk kuriositas. Kita menyadari bahwa banyak orang yang lebih tahu dan berbuat daripada kita. Hanya saja kita belum menemukannya.

Kesadaran buruh akan keunggulan orang lain membuatnya tidak jengah membangun komunikasi dengan mereka. Selalu ada transformasi dan pencerahan dalam setiap obrolan dengan orang-orang baik. Selalu ada revisi dan klarifikasi dalam setiap klaim kebenaran kita.

Kesadaran eksistensi inilah yang menentukan posisi kita di mata perusahaan. Kita perlu mengubah cara pandang privat kita ke perspektif yang lebih luas. Perusahaan tidak akan menaruh hormat bila kita tidak menghormati diri kita sendiri. Penghormatan dan perhatian perusahaan akan membesar bila kita punya komunikasi intensif dengan sesama buruh. Dan kesadaran eksistensialis yang benar adalah awal kesadaran yang lain yang lebih luas, yakni kesadaran bermasyarakat.

Kesadaran Individu Awal Kesadaran Masyarakat

Apakah dengan sekadar berganti pandangan tentang konsepsi dri kita, masalah akan selesai? Belum. Tidak mudah mengenyahkan kultur feodal dalam diri kita. Diri kita bak dikuliti satu persatu, sangat menyakitkan, meskipun kulit baru itu adalah jiwa eksistensialis yang sarat independensi.

Proses peralihan kesadaran yang benar ditandai oleh satu hal: kerja sosial untuk masyarakat. Bila kita tidak pernah membaur dan berinteraksi di masyarakat, bisa dipastikan kita tidak pernah bekerja sama dengan mereka, dan dijamin bahwa kita tidak merasa bagian dari mereka. Kehadiran kita di tengah-tengah mereka sebatas menumpang hidup. Eksistensialis semacam ini egois, arogan, ngawur, dan palsu. Apalagi kita membangun masa depan kelas buruh? Nonsens!

Banyak buruh bersikap ala binatang. Mereka mengklaim, kemapanan yang mereka raih adalah hasil keringat mereka sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak ada hutang budi kepada orang lain, apalagi masyarakat yang mungkin ’lebih bodoh dan tidak seintelek’ dia. Benarkah? Inilah pernyataan sombong paling bodoh sedunia akhirat.

Kita merasa cukup berapologi: tidak ada orang yang terganggu dengan kehadiran kita. Kita tidak mencampuri rumah tangga orang lain. Kita pun lancar membayar retribusi dan sumbangan ini itu dan. Tapi hidup dan tinggal dalam satu komunitas bersama masyarakat tidak sesederhana itu.

Banyak nilai kemasyarakatan, sebuah kontrak sosial di tingkat lokal yang menelurkan seluruh nilai-nilai normatif universal setiap individu, yang mesti kita simak dan jalani. Setidaknya kita hormati. Bila tidak, kehadiran kita di lingkungan tersebut telah mengusik ketentraman orang lain. Sungguh menyusahkan! Ia tidak pernah merasa menjadi bagian dari masyarakat. Tapi masyarakat harus menjaga harta dan jiwanya. Ia telah mendapatkan ilmu pengetahuan, kemudahan hidup, dan bantuan dari orang lain. Tapi ia emoh membayar hutang budi ini secuil pun? Ini tidak adil.

Oke, mungkin ia tetap bersikeras bahwa tiada hutang budi. Jadi, kembalikanlah semua pengetahuan yang sejak orok ia peroleh. Jelas mustahil. Semua pengetahuan itu ia miliki hingga akhir hayat. Manusia seperti ini hanya mengaktualisasi diri hanya pada level individual, persis seperti aktualisasi binatang. Tidak mau berkonsekuensi.

Bermasyarakat adalah sebuah kemestian kemanusiaan bagi setiap individu yang ingin mengembangkan diri. Hanya di masyarakat sajalah setiap individu berfungsi. Karena di sana ada limpahan hak dan kewajiban. Individu yang tidak mau bermasyarakat adalah parasit, benalu, tiada guna, persis seperti hewan yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Kesadaran Masyarakat Awal Kesadaran Organisasi

Di dalam masyarakat, tergabung semua kualitas manusia dengan beragam tendensinya, mulai dari yang sangat peduli hingga acuh. Bahkan orang yang bingung dan tidak punya orientasi hidup pun ada. Tugas mereka yang telah mapan secara materiil spirituil adalah membantu sesama anggota masyarakat yang kekurangan. Sesama hewan saja saling mengasihi, apalagi sesama manusia. Tentu kualitas kasih manusia yang rasional lebih tinggi daripada hewan yang instingtif.

Menjaga kesinambungan nilai-nilai cinta kasih di antara sesama manusia tidak bisa diserahkan begitu saja kepada siapa saja. Banyak manusia yang belum mampu menyelesaikan problem eksistensi dan individualnya, baik secara mental maupun fisik seperti balita, jompo, penyandang cacat, orang sakit fisik dan mental.

Manusia yang cuma sadar dengan individunya tanpa aktualisasi, sama dengan tumbuhan. Tumbuhan itu hidup, tapi tumbuh dan berkembang di tempat, stagnan, pasrah, sekadar objek belaka. Aktualisasi yang tidak bermasyarakat adalah setara hewan. Ia berkumpul dengan sesamanya bukan untuk mencerdaskan dan mencerahkan masyarakat tapi untuk mendapatkan perlindungan. Karenanya kita mesti bermasyarakat tapi tetap memilih lingkungan yang baik, tidak sembarangan. Sebagaimana pula bermasyarakat tidak sembarangan memilih anggota-anggotanya.

Manusia yang sadar dengan masa depan kemanusiaannya secara alamiah mencari rekan-rekannya yang sepemikiran. Interaksi yang intensif di antara mereka memunculkan suatu program aksi bersama. Dengan merujuk pada heterogenitas pengetahuan dan kompetensi masing-masing individu, aktualisasi program dilakukan dengan pendelegasian tugas dan wewenang yang distrukturkan dalam bentuk hierarki manajemen. Orang-orang menyebutnya organisasi, sebuah solusi modern tentang bagaimana mengabulkan harapan banyak orang dengan karakteristik beragam.

Kesadaran Organisasi Awal Kesadaran Sistem Perkaderan

Ketika manusia bermasyarakat, kerja sosialnya sinambung dengan organisasi yang memediasi semua program kemasyarakatan. Karena suatu hal, tidak semua program dijalankan. Ada yang dipending, diubah, atau bahkan dibatalkan. Semua tergantung pada bagaimana bentuk organisasinya. Sejauh yang kita tahu, hanya ada dua bentuk organisasi, yakni organisasi massa dan organisasi kader.

A. Organisasi Massa (Ormas)

Organisasi massa (ormas) menitikberatkan kekuatannya pada massa, direkrut melalui mobilisasi. Sebagaimana karakter massa yang kompleks dan heterogen, perlu waktu banyak untuk mencerahkan mereka. Untuk memelihara loyalitas, organisasi melakukan manipulasi kesadaran, dengan cara: 1] Memelihara figur kharismatik; 2] Memelihara mitos gerbong besar; 3] Menarik memori massa pada kejayaan masa lalu.

Figur kharismatik biasanya berasal dari sejarah sebuah kejayaan. Ada tetirah yang menyambungkannya dengan sebuah narasi besar tentang wangsit langit, pulung, dan tanda-tanda alam. Memang rumit memposisikan figur ini sebagai sosok yang wajar dan rasional hadir dalam lintasan historis. Ia cenderung muncul tiba-tiba dan mengklaim semua perjuangan rakyat dalam genggaman kekuasaannya. Kehadirannya menghapus seluruh keringat, darah, dan airmata perjuangan kaum proletar.

Pembela sistem kefiguran semacam ini selalu mengaitkan dengan skenario Tuhan tentang sejarah umat manusia dan nasib alam semesta ini. Mereka mencontohkan keberadaan nabi dan orang-orang suci, menceritakan kabar-kabar gaib dan mendulang kesetiaan masyarakat.

Sistem ini rentan manipulasi sejarah dan pembodohan nalar. Tugas manusia di dunia adalah berbuat yang terbaik bagi kemanusiaan dengan segala kemampuan rasonalitasnya. Istilah Arabnya, ”Fastabiqul Khairat”, berlomba-lomba dalam kebaikan. Manusia tidak bertanggung jawab atas bagaimana skenario hidup ini nanti. Dia hanya wajib mengurusi apa-apa yang terlihat dalam realitas sosialnya dan selalu mengambil posisi di pihak kaum yang tertindas.

Tugas buruh bukan menilik kepada siapa nanti mereka mengikuti perintah. Karena pemberi perintah bisa saja berasal dari pemilik modal atau struktur kekuasaan yang bekerja sama dengan pemilik modal tersebut untuk melestarikan sistem penindasan. Dalam hal ini, sangat mungkin segala klaim langit/agama hanyalah jargon agar buruh tidak atau enggan melawan.

Figur kharismatik pada wilayah sosial bisa jadi adalah praktik nilai lebih yang dimainkan oleh kalangan pemodal besar. Dalam sistem ekonomi nilai lebih diusung kapitalisme dengan segala macam teori moral rasionalnya. Dalam sistem sosial dinamai feodalisme. Agama menyebutnya sebagai kesyirikan.

Namun seseorang yang intens dalam perkaderan massa dapat menjelma dari ’orang biasa’ menjadi figur kharismatik ketika publik mengakui peran aktif dan kontribusinya dalam pencerahan massa. Tingkah laku dan sosoknya tidak berbeda dengan kebanyakan warga biasa, yang membuat mereka merasa tidak berjarak dengan model pemimpin seperti itu. Perbuatan yang menyatu dengan rakyat inilah yang mendulang kepercayaan dan loyalitas kepada sosok tersebut.

Selain figur kharismatik, elit ormas getol menggaungkan Mitos gerbong besar untuk mengikat massa. Sering dikatakan, mereka yang bergabung dengan gerbong [politik] besar adalah sebuah ’pilihan cerdas’. Mereka yang tinggal di daerah pinggiran dan jauh dari pusat kekuasaan, beremblem dan mimikri perilaku elit adalah kebanggaan, meningkatkan kepercayaan diri, dan prestise di mata masyarakat yang tidak punya hubungan seperti mereka. Mendekati ormas diyakini memudahkan urusan. Sedangkan menjauh dari mereka akan menyulitkan urusan, apalagi saat berhadapan dengan birokrasi atau pihak keamanan. Penyakit kepribadian ini biasa menjangkiti mereka yang pernah lama berkuasa.

Dalam psikologi gerbong, orang takut untuk berbeda atau menyempal dari kelompok besar. Berpikir dan bertindak di luar mereka adalah makar yang tidak terampuni. Seremoni diskusi tentang sistem dan ideologi organisasi tidak diarahkan untuk kritik mendasar. Siapa yang paling dekat dengan pimpinan adalah yang paling setia. ”Injak di bawah dan jilat di atas” adalah pemandangan jamak. Ungkapan lazim mereka, ”Sesuai petunjuk bapak presiden.”

Pengalihan memori massa pada kejayaan masa lalu adalah metode ke sekian untuk mendapatkan loyalitas gratis. Dengan senantiasa mengulang-ulang bahwa ’mereka dulu’ pernah berbuat ini itu, massa ’disadarkan’ bahwa kondisi jelek mereka saat ini dikarenakan rezim mereka dikalahkan dan dizalimi oleh rezim yang berkuasa saat ini.

Mereka juga meyakinkan bahwa ada kesamaan antara figur populis di masa lalu dengan figur mereka saat ini. Apalagi bila ada kaitan geneologis. Dengan demikian, mereka bisa mengklaim bahwa ada ikatan ideologis dan geneologis yang masih terjaga antara mereka dengan rezim masa lalu.

Menggantungkan nasib dan perjalanan sebuah organisasi hanya kepada figur tertentu sungguh berbahaya. Ketika figur tersebut hilang/pindah/wafat, maka tidak ada lagi ikatan loyalitas di antara sesama anggota. Alasan umumnya, nilai ormas dan zaman telah berubah. Ormas yang tidak mampu menyiasati perubahan dan pencerahan alamiah warga akan ditinggalkan begitu saja.

Meskipun ormas mengesankan menampung banyak kaum intelektual dan kapitalis, sesungguhnya ia hanya memunculkan dua kelas: elit dan alit. Elit bertugas membuat indoktrinasi, mengatur jalannya roda organisasi, dan menentukan pengurus di semua hirarki organisasi. Mereka juga menentukan kapan sebuah aksi/revolusi dijalankan. Ketika revolusi sosial berhasil, yang memimpin perubahan tetaplah mereka, kelas elit.

Banyak organisasi yang tidak ingin diubah. Akibatnya, struktur menjauhi kader dan pengurus mapan di dalam struktur. Awalnya elit berjuang demi kemakmuran bersama. Setelah sistem berubah, ’perjuangan’pun usai. Hanya tinggal bagaimana merawat posisi eksklusif ini sebaik-baiknya.

Bagaimana dengan nasib massa sebagai objek mobilisasi, yang dibawa ke sana ke mari sebagai pencitraan ormas? Tidak ada hal baik yang mereka dapatkan kecuali sekadar perasaan ’seolah-olah’. Seolah-olah mereka dilibatkan dalam pemilu, padahal yang menangguk untung adalah mereka yang namanya nangkring di nomor urut kecil. Seolah-olah wakil mereka di parlemen benar-benar berjuang untuk massa, padahal tetap saja ada jurang antara massa dengan wakilnya. Alih-alih media perjuangan kaum proletar, organisasi adalah mesin uang elit.

Aksi tanpa kesadaran hanyalah manipulasi, permainan elit, baik atas nama agama ataupun bukan. Aksi massa yang heroik adalah sebuah komoditi jutaan rupiah bagi pengerah massanya dan daya tawar riil bagi elit organisasi. Inilah rahasia umum aktivitas perburuhan. Memang jarang terungkap karena jauhnya jarak antara massa buruh dengan elitnya.

B. Organisasi Kader

Kebutuhan untuk menjaga pengetahuan dan keahlian tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang. Tujuan bersama bisa tercapai hanya dengan kaderisasi. Organisasi kaderlah yang berkemampuan menjaga nilai dan ketrampilan tetap lestari hingga masa datang. Nilai-nilai dan ketrampilan tersebut dapat hilang bila transformasi tidak lagi dilaksanakan dan berhenti tanpa ada penerus.

Organisasi kader membuat perkaderan. Misi suci organisasi ini adalah pencerahan dan perkembangan intelektualitas anggota. Perubahan substansial yang mereka miliki adalah pola pikir. Nilai-nilai kejuangan yang dimiliki oleh pendiri dan ideolog awal dibumikan dalam bentuk kurikulum dan dijaga oleh sistem yang solid dan berjenjang.

Cukup rumit mengenyahkan organisasi semacam ini. Gerakan mereka tidak dilandasi oleh figur atau jargon tertentu melainkan oleh sistem nilai yang dibangun perlahan-lahan sesuai dengan tingkat perkaderan yang ditempuh oleh anggota-anggotanya. Akibatnya, hilangnya seorang tokoh kharismatik tidak akan memandekkan atau menghancurkan organisasi. Sistem cepat membenahi diri dengan memanfaatkan kader lain. Selain itu, penyebaran ideologi pada organisasi semacam ini tidak dibatasi pada satu atau dua wilayah.

Internalisasi ideologi organisasi kader menciptakan sistem yang fungsional. Tidak ada hierarki yang sakral yang tidak bisa dijabat oleh kader. Organisasi dipahami sebagai hierarki kesadaran seorang individu dalam memahami sistem perubahan. Setiap kader memahami, konsekuensi kader adalah melakukan perkaderan atau pencerahan. Bentuk paling utama adalah komunikasi/dialog. Tidak heran manusia dijuluki sebagai makhluk komunikan. Sedangkan isi sebuah dialog adalah transformasi pengetahuan, nilai atau ideologi.

Kualitas dialog manusia dengan individu, kemudian dialog individu dengan masyarakat, menyadarkan sebagian orang untuk mengorganisir diri. Dialog bukan sekadar transformasi ilmu, tapi juga perubahan konsepsi tentang hak dan kewajiban. Seiring dengan kesamaan ide, dialog tersebut adalah komitmen untuk saling berbagi wewenang yang kemudian melahirkan delegasi.

Bagi sebagian orang yang idealis, tugas manusia bukan hanya sebatas mengetahui hak dan kewajibannya. Kedua hal itu masih dihitung sebagai masalah personal. Tapi ketika bicara organisasi, yang dibicarakan adalah delegasi tugas dan hierarki. Delegasi dan hierarki ini temporer. Hierarki organisasi hanya ada di dalam ide, tidak ditemukan dalam realitasnya. Sangat mungkin hari ini kita menjabat staf departemen, minggu depan sekretaris, bulan depan ketua bidang, dan lain-lain. Bongkar pasang seperti itu lazim, karena hanya di alam mental kita. Hanya tugas dan tujuan bersamalah yang menyatukan kita.

Banyak pihak yang berpendapat, organisasi kader itu lamban, tidak tumbuh cepat seperti ormas. Organisasi kader hanya bergerak di wilayah kultural, tidak di struktural atau politik, cendrung sulit melakukan perubahan sosial. Ormas itu kerja instan, organisasi kader itu kerja berat. Seorang kader yang ’sudah jadi’ sering kali tidak bisa dinikmati oleh organisasi kader tempat ia menimba ilmu, tetapi keburu digarap ormas politis.

Sanggahan standar model di atas ini biasa dilontarkan oleh mereka yang getol di ormas atau dunia politik tapi emoh melakoni kerja-kerja sosial. Mereka hanya mau kerja instan dan/atau menilainya dengan kalkulasi kapital. Karena mereka materialis, mereka menggeneralisir bahwa semua orang berwatak seperti dia.

Banyak kalangan politis tidak mengetahui hakikat perkaderan massa. Massa ormas memang mudah dibentuk dan dimobilisir untuk tujuan instan, tapi tidak ada loyalitas dan militansi. Mereka bergerak bila ada iming-iming kapital atau janji material lainnya. Sang pemberi order pun menyadari, tiada jaminan ia akan dibela habis-habisan oleh anak buahnya sendiri. Di antara mereka, konflik biasa terjadi untuk masalah struktural atau jabatan politis lain.

Sedangkan organisasi kader mengikat kader dengan nilai-nilai universal. Kesetiaan kader pada organisasinya tidak diperoleh dari hamburan uang atau janji-janji material lainnya. Kesetiaan mereka terukur pada sejauh mana penanaman ideologi dan jenjang perkaderan yang mereka lalui. Bila ada konflik atau sengketa di antara mereka, setelah adu argumentasi, hasil akhir diserahkan kepada wewenang yang lebih tinggi dan ditaati dengan setia apa pun keputusannya.

Kesadaran Sistem Perkaderan Awal Kesadaran Massa

Inti dari pencerahan adalah kesadaran. Itulah hakikat organisasi. Organisasi yang tidak melahirkan kesadaran bagi setiap anggotanya pastilah organisasi jadi-jadian. Siapa yang membuat atau mengkondisikan seperti itu? Tentu korporasi, penguasa negara, atau segala sistem kekuasaan yang menginginkan adanya kesadaran buruh secara ideologis. Organisasi yang [di]mandul[kan] semacam itu hanya menggiring manusia pada manipulasi kesadaran.

Mana yang menjadi realitas kemanusiaan seorang buruh? Untuk melihat seberapa alamiah sebuah organisasi [kader], kita bisa menyelami kemanusiaan seorang buruh.

Hakikat buruh adalah manusia.

Karakter utama manusia adalah bekerja.

Ciri khas kerja adalah gerak.

Gerak itu tanda dinamika, aktualisasi, perubahan.

Manusia tidak bisa lepas dari gerak atau bekerja.

Jadi, nilai manusia adalah pekerjaannya itu sendiri.

Sehingga, segala hal yang menghambat dinamika kemanusiaan seseorang adalah praktik anti-kemanusiaan.

Karena manusia adalah makhluk empiris-sosiologis, maka gerakan dan pekerjaannya pun adalah sebuah tindakan sosiologis, terukur dan terasakan juga oleh manusia lain. Yang ada dan diakui adalah gerakan material, bukan konseptual an sich. Boleh saja gerakan tersebut berawal dari sebuah konseptualisasi, tapi ujungnya tetap harus sebuah gerakan yang kasat mata.

Tidak ada manusia yang mengingkari hal tersebut. Bahkan profesi utama nabi-nabi agama mana pun juga sosiologis, entah sebagai penggembala, petani, nelayan, tukang kayu, dan lain-lain. Karena status nabi bukan pekerjaan sosiologis. Masalah dia sebagai pesuruh Tuhan, itu adalah hubungan personalnya dengan Tuhan, bukan urusan kita dan memang kita tidak perlu urusi hal ini.

Kita tidak menerima dinamika konseptual, karena ianya adalah apologia atas ketidakberdayaan untuk melakukan tindakan nyata atas suatu problematika sosial. Dinamika yang sah, sebagaimana muasal definisinya, adalah dinamika material. Dinamika konseptual habis di meja diskusi, sekadar menghabiskan waktu dan biaya. Geraknya bak tari poco-poco, kesannya bergerak maju, padahal tetap di situ-situ saja. Cuma kamuflase, fatamorgana. Memang, tari poco-poco bikin keringat mengalir deras, tapi yang kita maksud adalah sebuah perubahan yang mendasar, bukan sekadar gerak namun di situ-situ saja yang hanya menstabilkan status quo.

Masalah utama seorang buruh adalah aktualisasi kemanusiaannya, pencerahan dalam segala pengetahuan, ketrampilan dan relasinya dengan alam dan manusia sekitarnya. Kurang dari empat syarat pencerahan tersebut, maka korporasi tidak berlaku manusiawi. Serikat pekerja yang diam dengan situasi itu pun cuma sekedar nama, atau malah kaki tangan dari korporasi.

Mungkin saja korporasi menyediakan sarana olahraga atau rekreasi secara berkala. Buruh tidak sekadar membutuhkan itu. Boleh dikata, segala macam fasilitas tersebut adalah salah satu upaya perusahaan untuk mengalihkan emosi massa ke wilayah olahraga, hiburan, seni, dsb. Perusahaan butuh tenaga kerja yang mampu menghasilkan keuntungan berlipat ganda. Penyediaan segala fasilitas itu bisa jadi bagian dari strategi perusahaan dalam mencari produktivitas dan laba setinggi mungkin. Bukan karena murni kebutuhan aktualisasi perusahaan. Perusahaan yang berpikir seperti ini hakikatnya mendudukkan buruh hanya sebagai binatang, yang jinak bila syarat materialnya dipenuhi dan kemudian mereka bebas melakukan penindasan dalam bentuk lain.

Kita dapat membuktikan apakah perusahaan memang telah berbuat baik kepada buruh atau justru melakukan rekayasa sistemik. Lihatlah pandangan buruh-buruh tentang segala fasilitas yang diberikan perusahaan. Tentu akan menghasilkan dua pandangan utama: yang merasa perusahaan telah berbuat banyak dan akhirnya menyimpan hutang budi. Padahal hubungan industrial tidak ada kaitan dengan hutang budi. Kita buruh bekerja untuk menghasilkan sebuah produk. Kita berhak digaji berdasarkan kesepakatan awal. Perusahaan memperkerjakan kita untuk memperkuat usahanya dan ada keuntungan yang dia raih.

Lalu, di manakah hutang budi itu? Di manakah nilai-nilai yang kita, buruh, merasa loyo bergerak menuntut perubahan?

Manusia bergerak dari potensial ke aktual yang menyempurnakan dirinya. Sedangkan tujuan kesempurnaan senantiasa disandingkan dengan sumber kesempurnaan yang sejati, yakni Sang [Maha] Realitas, dengan ‘R’ besar. ‘Realitas’ dengan ‘r’ kecil [baca: realitas-realitas] sudah kita bahas pada bagian awal buku ini. Aksi sosial punya makna ketika menjadi permanen. Maka aksi sosial yang benar, pasti menuju Realitas Yang Tak Terbatas.

Kesadaran Massa Awal Revolusi Sosial

Dinamika manusia adalah bukti konkret penciptaan kita lebih tinggi dari makhluk mana pun. Tentu, kita mesti menyayangi makhluk lain semisal hewan, tumbuhan, dan alam ini. Namun refleksi rasa sayang dalam bentuk mengemong atau membina, bukan kita yang di bawah mereka. Makna ini mesti menjadi alam bawah sadar kita sebelum kita bergerak di basis buruh. Selesaikan dulu problem eksistensi diri kita, barulah kita punya hak menilai dan mengutak-atik buruh lain. Bila kita masih ragu dengan konsepsi kita, kita hanya menularkan keragu-raguan. Bila kita membawa keyakinan yang utuh, kita pun akan menularkan keyakinan yang sama kepada mereka. Itulah syarat ideolog.

Tiada alternatif selain bergerak ketika kita menyadari kelas kita dan masih adanya praktik penindasan di sekeliling kita, terutama dalam hubungan industrial. Mengapa wilayah ini? Karena hubungan industrial adalah salah satu indikator keberhasilan pembangunan sebuah negeri. Bila tingkat pengangguran tinggi dan perlakuan terhadap tenaga kerja buruk, maka bisa dipastikan sistem seperti apakah negara itu. Selain itu, nasib seorang buruh akan berefek pada tingkat daya beli masyarakat secara umum, tingkat pendidikan masyarakat yang anaknya berorangtua buruh, dan efeknya adalah kemajuan bangsa secara menyeluruh.

Tugas buruh hanya bergerak. Jangan diingkari.

Siapa pun manusia yang hanya memilih diam, tidak melakukan sesuatu, maka dia memilih untuk ’puas’. Menurut psikologi, puas adalah definisi final, berhenti. Biologi menyebutnya statis. Dalam bahasa sosiologi statis itu sama maknanya dengan bunuh diri, karena telah memilih untuk berdiam diri. Padahal takdir setiap manusia bukan lahir untuk diam, tapi untuk berbuat: mengubah segala keburukan yang menimpa semua makhluk dan melestarikan segala kebaikan yang telah alam dan lingkungan sosial berikan. Tuhan hanya mencipta pohon. Kitalah yang mewujudkan rumah, meja, kursi, dan lain-lain. Kitalah penentu sesuatu itu bernilai atau tidak, terjadi atau tidak. Hewan dan tumbuhan tidak mampu mengolah realitas dan mensistemkannya.

Sekarang ini kita tidak sedang berbicara kepada manusia yang bermacam ragam dan profesi. Kita hanya menujukan obrolan ini kepada kelas kita sendiri, buruh. Kita tidak bicara kepada pelacur atau pemulung. Mengapa? Seseorang menjadi pelacur karena ketiadaan skill. Karena negara telah melanggengkan sistem administrasi yang diskriminatif bahwa seseorang bisa bekerja hanya jika mempunyai ini dan itu, harus menguasai ini dan itu. Mereka ingin bekerja, tapi tidak punya lahan. Sehingga satu-satunya yang bisa dia jual adalah tubuhnya. Atau ia memungut sampah lain ketika tubuhnya dirasa kurang menarik.

Sesungguhnya tiada satu pun manusia normal yang rela menjajakan kelaminnya untuk kepuasan orang-orang yang tidak dikenalnya. Ia sudah tidak berpikir tentang harga diri. Mengapa seluruh eksistensi dirinya dijual? Dia butuh makan untuk anak-anaknya. Ia ingin menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Agar mereka tidak ikut bodoh sebagaimana dirinya. Agar suatu saat, anak-anaknya yang beranjak pintar dan mapan mau sedikit mendoakan ibunya yang nista, agar Tuhan berkenan menerimanya di surga-Nya.

Menentang Revolusi Adalah Kafir

Pilihan buruh cuma satu, kita sadar sebagai manusia yang harus bergerak, atau kita memilih diam tanpa berbuat apa pun yang notabene adalah praktik kekafiran. BERGERAK atau KAFIR. Proses kekafiran akan terus melekat dalam diri kita karena seorang manusia tidak akan berubah sampai akhir hayatnya sebagai manusia. Kecuali kita buat perkaderan sebagai syarat pencerahan. Pencerahan membuat manusia sadar tentang kemanusiaannya.

Pilihan kaum buruh hanya bergerak atau kafir. Bergerak untuk memperbaiki kehidupannya. Bukan karena tuntutan hidup yang semakin meningkat. Tapi sebab melestarikan kemanusiaan dalam dunia industrial. Sebab relasi antara buruh dan korporasi adalah hubungan simbiosis mutualis, kesepakatan kedua pihak untuk keuntungan bersama.

Sedangkan bila buruh yang lebih memilih diam, dengan harapan ada perbaikan yang datang dengan sendirinya, berharap ada wahyu langit yang menyadarkan majikan agar berbuat baik, adalah sebuah tindakan makar atas kemanusiaan. Ia menganggap bahwa hakikat kemanusiaan adalah menerima segala sesuatu sebagaimana persis dilakukan oleh tumbuhan dan hewan. Tidak kepasrahan dan ketundukan kecuali penurunan derajat kemanusiaan. Berbeda halnya ketika kita berhadapan dengan Tuhan yang memestikan ketundukan dan kepasrahan kita karena memang tiada yang bisa mengungguli-Nya.

Bergerak adalah tanda kehidupan. Pelajaran biologi di sekolah dasar mengajarkan bahwa ciri makhluk hidup adalah bergerak. Artinya, bergerak tanda hidup, tidak bergerak tanda mati. Jadi menjalankan kehidupan adalah bukti rasa syukur kita kepada Tuhan, Realitas Ultim. Karena itu bentuk syukur kita kepada alam semesta ini adalah memberi mereka juga kehidupan. Karena kehidupan anda bergantung kepada kehidupan mereka.

Karena kehidupan tumbuhan, hewan, dan lingkungan yang harmonis inilah anda bisa memperpanjang kehidupan. Ketika anda tidak mempedulikan kehidupan mereka maka anda pun tidak akan memperoleh hidup yang lebih lama. Hidupilah alam agar kita beroleh kehidupan. Sayangilah manusia agar kita disayangi mereka juga.

Beragama atau menjadi warga yang baik itu tidaklah cukup. Butuh syarat yang lain. Sebab diamnya kita saja sudah menyusahkan orang. Kita berdiam di suatu tempat bukan tanpa masalah. Tanggung jawab sosial kita lebih dari apa yang kita bayangkan.

Kita melakukan kegiatan di organisasi perkaderan ini bukan untuk mendapatkan ganjaran baik, melainkan untuk menghapus dosa-dosa sosial kita. Misalnya kita menyetel TV dan ada acara yang membodohi pemirsa, kita cuma bisa mengumpat. Tindakan maksimal kita paling-paling cuma mematikan TV atau mengalihkan siaran. Ini tindakan personal, bukan sistemik. Sedangkan keberadaan TV itu karena sistem. Maka untuk menegaskan bahwa ini bukan aksi individual, maka harus ada kesadaran kelas di lingkungan kita yang terus melebar dan membesar.

Memperbarui Hidup

“Without free, self-respecting, and autonomous citizens there can be no free and independent nations. Without internal peace, that is, peace among citizens and between the citizens and the state, there can be no guarantee of external peace.”

(Tanpa kebebasan, penghargaan diri, dan warga yang otonom maka tidak akan ada kebebasan dan kemandirian bangsa. Tanpa kedamaian internal, yaitu, kedamaian di antara warga negara dan antara warga negara dengan negara, maka tidak akan ada jaminan kedamaian ekstenal)

–Vaclav Havel

Nilai kemanusiaan tertinggi terletak saat ia membasis, memperbarui hidup untuk manusia yang lain. Manusia sejati meleburkan diri dalam massa. Kita bersama mereka, berjuang untuk mereka, dan berkawan dengan orang-orang yang mencintai mereka. Lihatlah kehidupan manusia-manusia besar di sejarah kehidupan manusia. Tidak ada yang mengurung dalam kamar sambil memutar-mutar tasbih dan memaki-maki dunia. Dunia nyata ini bukan untuk dihindari, tapi disediakan oleh Tuhan sebagai panggung kehidupan kita, agar terlihat jelas siapa yang kerja sosialnya paling baik.

Jangan banyak harapkan bahwa kita akan dan harus dibantu oleh orang lain. Kerjakanlah apa yang bisa kita lakukan. Yang pasti selalu disadari bahwa kita tidak bisa kerja sendiri. Kita harus membangun basis perkaderan, membuat jaringan, memperkuat logistik. Tanpa perkaderan mustahil ada regenerasi nilai. Tanpa jaringan mustahil perjuangan bisa semesta dan meluas. Tanpa logistik mustahil kita bisa bertahan melawan segala sistem dan rezim yang menindas.

Tugas kita untuk memperbarui hidup semua manusia bukanlah suatu tugas suci yang eksklusif. Ianya adalah pencitraan ketika kita sendiri ingin hidup. Sebab hanya manusia hebat yang berani hidup. Manusia hidup rela menanggung derita, selalu punya harapan hingga tetes darah terakhir.[andito]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: