jump to navigation

Umat yang Kalah Desember 28, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

reflection 

 

 

 

Seperti biasanya, setelah bangun dari tidur, ada jeda sesaat untuk rekondisi kesadaran kita sambil meregangkan badan. Usai membelalakkan mata, kita tersadar bahwa keberadaan ranjang, kamar, rumah, lingkungan, sistem sosial, bahkan tubuh kita telah menyelimuti dan mengatur kesadaran primordial kita sedemikian hingga tanpa kita ketahui dan kritisi muasalnya.

Fenomena yang kita lihat, rasakan dan terima ini tidak berasal dan dari kontrol kita. Kalaulah kita ‘mengontrolnya’ itu pun adalah di kejadian kemudiannya, sebatas menyesuaikan dengan kondisi yang ada sebelumnya. Lambat laun kita juga sadari, fenomena ini membawa kita pada ‘takdir’ selanjutnya bahwa kehidupan, agama dan komunitas agama kita telah selalu (di)kalah(kan) oleh sesuatu selainnya. Ya, agama, umat Tuhan, dan segala kemanusiaan yang kita miliki kalah oleh sistem ideologi lain.

Lalu ada sebagian pencinta agama yang maju di hadapan sistem dunia yang tidak adil. Mereka marah menyaksikan agama dan Tuhan mereka dikalahkan oleh sesuatu yang seharusnya tidak menang. Ratusan ayat suci mengatakan betapa agama mereka kokoh, bahwa mereka akan dimenangkan dan segala urusan mereka dibereskan. Kalaulah sekarang tidak menang, di akhirat telah menanti azab yang pedih bagi mereka yang merampas dan menistakan agama Tuhan.

Ekspresi ketidakpuasan yang tidak tersalurkan di jalur ‘resmi dan konstitusional’ lalu terserak di jalanan. Sistem bobrok dan busuk tidak dapat menampung kebenaran sistem ilahiah, teriak mereka. Ekspresi marah dan tindak kekerasan memang beda-beda tipis. Lalu, (si)apakah yang dapat disalahkan bila kemurkaan menghentak dan bertubi-tubi ke segenap tatanan yang telah baku ini?

Ketidakmampuan menjawab zaman yang dimenangkan oleh musuh Tuhan, keresahan akan takdir Tuhan yang tidak sesuai dengan terawang sesepuh dan janji Kitab Suci dan perjuangan melawan waktu telah menarik sebagian hati ‘tentara Tuhan’ untuk menampilkan simbol yang ekspresif, yang selalunya menimbulkan sesak dan kerut dahi bagi nama dan warna lain.

Sekarang kita memasuki tahun baru Hijrah. Nampaknya seremoni harapan dan semangat terkalahkan oleh kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian. Kasus kekerasan atas nama agama yang menimpa banyak kelompok (keagamaan) marjinal seperti segan menyurut. Apakah tahun baru akan menjadi tahun ancaman di tengah hingar-bingar semangat kebangkitan umat beragama? Tapi umat siapa dan yang mana?

Fenomena umat beragama yang ribut di atas hanyalah indikasi sederhana betapa semrawut harmoni umat intra dan ekstra agama di negeri kita. Tahun baru tidak memunculkan sedikitpun asa. Tapi ia bermutu sebagai monentum memperbarui janji dan komitmen kita untuk memperbaiki nasib umat dan bangsa ini. Meskipun keragaman karakter dan kapasitas tiap orang meniscayakan keragaman kewajiban dan tindakannya.

Tapi siapakah yang patut disalahkan? Jangan-jangan bukan masalah beragama atau tidaknya seseorang, melainkan keberagamaan itu sendiri, ketika ia tidak bisa mengaktual dalam segala aktivitas alam, melainkan terkungkung dalam sekat-sekat agama itu sendiri? Begitu juga, dengan yang anti atas segala apa pun yang berbau agama? Dan sejak kapan paksaan, atas dalih apa pun, membawa kedamaian? Bukankah nilai-nilai kemanusiaan dengan basis pada kesadaran Realitas Tak Terbatas yang memang tidak perlu dibincangkan, adalah penghormatan atas diri primordial dan kesadaran kita? Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 Hijriyah. [andito]

Komentar»

1. Mohammad Reza - Desember 30, 2008

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1430 H Bang..
Sukses selalu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: