jump to navigation

Buruh Bergerak: Kemestian Bukan Pilihan Desember 13, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

dsc00971

Trade Union Care Center (TUCC) mengadakan peluncuran dan bedah buku “Buruh Bergerak: Sebuah Konstruksi Ideologi” karya Andito di Café Solong Banda Aceh. Selama ini Andito, seorang aktivis MAULA (Masyarakat Universal Lintas Agama), giat di perkaderan mahasiswa dan buruh. Acara ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai elemen/kelas baik dari kalangan buruh, mahasiswa, aktivis NGO dan praktisi.

Launching dan bedah buku ini juga menghadirkan dua pembahas, Saifuddin Bantasyam, SH,M.Hum dan Thamren Ananda. Selain diskusi terbuka, acara tersebut juga dipantau oleh masyarakat banda Aceh melalui siaran langsung di Radio Antero.

Dasar penulisan buku tersebut, menurut Andito, adalah mengajak merefleksi bersama terhadap paradigma buruh. Judul “Buruh Bergerak” sengaja dipilih sebagai gambaran umum bahwa buruh adalah salah satu faktor penggerak pertumbuhan ekonomi perusahaan dan negara. Tanpa buruh maka juga tak ada yang namanya produk dan jasa.

Buku itu menggugat stereotip klise hubungan industrial antara pekerja dan pengusaha. Dalam benak masyarakat luas, korporasi adalah sebuah lembaga bisnis yang berusaha meraih keuntungan material sebanyak mungkin dengan menekan pengeluaran seminimal mungkin. Sedangkan pekerja, atau buruh, adalah bagian dari produksi yang menerima penindasan tersebut karena tidak punya pilihan lain untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Fenomena ini cukup menyadarkan bahwa nasib buruh ditentukan oleh dirinya sendiri. Buruh harus memperkuat nilai tambahnya sehingga layak diperhitungkan. Pemposisian ini penting. Gerakan kaum buruh berpengaruh pada kemajuan sebuah negara. Kehadiran buruh menentukan jumlah pengangguran dan penduduk miskin di suatu negara. Gerakan buruh juga mampu melumpuhkan roda ekonomi nasional.

Tapi, mengapa buruh selalu terikat dengan perusahaan? Sedemikian lengketnya hingga ada wanti-wanti, “Cintailah pekerjaanmu, tapi jangan perusahaanmu, karena kau tidak pernah tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu.” Jawabannya, menurut penulis, sederhana: karena buruh tidak punya ideologi.

Efek dominonya, gerakan buruh tidak solid dan kompak; Gerakan buruh mudah terpecah belah dan terfragmentasi dalam berbagai kepentingan instan dan jangka pendek; Buruh mengalami disorientasi aksi dan kerja. Mereka bingung mau ke mana dan mau apa; Buruh tidak pernah berpikir taktis dan strategis. Dengan nafas pendeknya, maka sulit bagi (pengurus/aktivis) buruh untuk melakukan perkaderan; Akibatnya, buruh mengalami split personality.

Buruh diposisikan sebagai ampas kapitalisme yang kalah. Mengapa akhirnya bila kita amati bagaimana buruh itu ingin survive, dia melulu memikirkan usaha mandiri secara individual, misalnya buka konter pulsa dan warung kelontong. Alam bawah sadarnya bercita-cita menjadi pengusaha.

Tapi mereka tidak sadar, kapitalisme adalah sistem yang hidup dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Artinya, siapapun orang, aliran ideologi dan golongannya, akan berlaku sebagai kapitalis ketika masuk dalam labirin kapitalisme.

Buku ini bertujuan memperkuat minda buruh dalam menatap dirinya dan hubungannya dengan industri tempatnya bekerja; menyadarkan pihak luar, terutama negara dan korporasi, bahwa buruh adalah aset yang luar biasa, karenanya janganlah diabaikan begitu saja. Pengabaian hak-hak mereka hanya akan memperburuk kesenjangan antara pekerja dan pengusaha dan ujung-ujungnya bisa menganggu proses produksi. Akhirnya, korporasi pula yang merugi.

Penulis menyatakan, membangkitkan buruh harus dibangkitkan kesadaran ideologisnya. Kesadaran ideologis akan memperbaiki kualitas pribadi buruh. Buruh yang punya nilai lebih dalam hal ideologi dan kemampuan berserikat dalam menghadapi dengan struktur kekuasaan yang lebih kuat.

Buku ini bukan sekadar teori, tapi ekstraksi pengalaman dan catatan perjuangan yang telah dan sedang dilakukan. Penulis meyakini, kapitalisme dilawan secara personal, bukan sistemik, sehingga perlawanan berlangsung sporadis dan hanya menghabiskan energi belaka.

Di sisi lain, penganut sosial demokrasi banyak yang hanya wirawiri di permukaan saja, seperti di media massa dan seremoni wacana di kampus, lembaga penelitian, dan seminar-seminar, yang jelas-jelas sudah menjadi areal main kapitalisme dalam penciptaan simbol.

Memang tidak salah, namun mengabaikan kenyataan bahwa basis dasar ideologi sosdem adalah penguatan masyarakat sipil –dan itu memprasyaratkan pembangunan basis ideologi dan memandirikan kelas pekerja— hanya menjadikan ideologi sosdem sekadar gincu wacana.

Saifuddin Bantasyam, dosen Fakultas Hukum Unsyiah yang juga pengamat sosial dan HAM, lebih banyak mengkritisi dari segi tampilan dan cara penulisan buku, termasuk mengusulkan perubahan judul menjadi “Buruh (Perlu) Bergerak” agar lebih provokatif.

Secara penulisan, menurut Saifuddin, buku tersebut punya ciri khas dan menarik karena juga menampilkan bagan d setiap akhir bab. Sehingga bagi mereka yang tidak membaca seluruh buku bisa melihat framework penulis. Saifuddin mengakui, belum pernah menemukan buku sosial seperti itu.

Menurut Saifuddin, persoalan buruh di Indonesia sebenarnya tidak lagi terbatas pada regulasi hukumnya melainkan juga pada struktur hukum yaitu mengenai kapasitas eksekutor dan pengawas dari kebijakan tersebut yang belum maksimal.

Sementara itu Thamren Ananda selaku aktivis pergerakan yang juga sekjend PRA (Partai Rakyat Aceh, salah satu partai lokal peserta Pemilu 2009) punya pendapat bahwa secara umum buku tersebut bagus dan menarik untuk dimiliki oleh setiap buruh. Selama ini gerakan buruh lebih didominasi oleh kepentingan ekonomis dibandingkan ideologis, sehingga gerakan buruh tidak efektif dan pragmatis.

Ketika ditanya apa konsep dan upaya dari PRA terhadap buruh Aceh hari ini, Thamren menjawab bahwa ke depan harus dibuat sebuah qanun yang mangatur tentang standarisasi pengupahan yang layak, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh.

Thamren mengingatkan bahwa masalah-masalah ideologi bukanlah hal yang tabu dan berat untuk dilaksanakan karena ia merupakan kesatuan gagasan atau ide yang diikuti dengan tindakan nyata.[Muhammad Arnif, Kadiv.Edukasi dan Advokasi TUCC]

Source: http://tucc-aceh.org/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=1

Komentar»

1. mangaper - Desember 13, 2008

saya baru nyadar posisi buruh sebegitu garang-nya. kalo gitu seharusnya dalam wilayah demokrasi ini kemauan kaum buruh harus menjadi kemauan kolektif yang mewakili seluruh rakyat ??!!!. kayaknya kaum kapitalis harus merasa gentar dengan ideologisasi kaum buruh ini. Ruarrbiasa, mau dong bukunya!!!, kirim ya mas!!He.

2. princess tautau - Desember 15, 2008

Selamat atas terbitnya buku Bapak, semoga dapat bermanfaat untuk mengisi urat syaraf di otak yang karat oleh materialisme semu…. congratz and viva adagio…

3. mohammad reza - Desember 15, 2008

selamat bang, udah terbit bukunya..
saya dapat buku gratis donk.. hehe

4. anwararis - Desember 16, 2008

Buruh oh buruh… Selalu saja menjadi objek pengusaha.
Semoga buku ini mampu memantik ideologi hakiki para buruh hingga mengobarkan semangat perlawanan terhadap setiap bentuk penindasan. Amien.
Selamat, dit! Dengan pemikiranmu ini, banyak masalah pelik bangsa ini bisa terselesaikan. Sekurang-kurangnya, aku yakin, kamu telah merdeka atau segeralah merdeka! Semakin banyak orang merdeka, semakin sedikit pengusaha atau juragan jahat. I hope so.
Bravo Andito.

5. Arif Giyanto - Desember 16, 2008

Selamat, Bang. Eko Prasetyo, seorang anti-Neolib dari Jogja juga barusan keluarin buku barunya, ‘Kaum Miskin Bersatu’. Mungkin bisa disinergikan.

Oia, Bang. Setelah kerja di Jakarta setahun ini, aku merasa ada yang kurang. Apalagi kalo bukan keterputusan hubunganku dengan realitas. Januari/Februari aku berencana berangkat ke Morotai, Maluku Selatan. Sebuah kabupaten baru. Aku mau berbuat banyak di sana. Mohon doanya.

Oia juga. Setahun ini, aku kerja sebagai Staf Pribadi-nya Jend (Purn) Wiranto, SH.

Thanks diskusinya selama ini.

6. bustam - Desember 18, 2008

mangaper – Desember 13, 2008 Ruarrbiasa, mau dong bukunya!!!, kirim ya mas!!He.
wah… mental indonesia ya ini kapan bisa maju

7. rimbayana - Desember 19, 2008

baru sedikit baca saya langsung tertarik banget, karena sebagai seorang pekerja seperti saya baru mengetahui tentang ideologi, mungkin bisa d buatkan lagi buku tentang buruh atau pekerja lagi yang sedang banyak ceritanya sekarang ini. terima kasih

8. sholeh - Desember 21, 2008

buruh adalah buruh..!!! kapitalis adalah kapitalis..!!! buruh bukan kapitalis…!!! cerahkan buruhkapitalis..!!!

9. sunan - Desember 27, 2008

aku mah pengen jadi pengusaha aja…ah…hidup pengusaha…hidup kapitalis.

10. ahalim4U - Desember 31, 2008

asosiasi buruh vs asosiasi pengusaha ; mana yang punya power lebih kuat, lalu siapa yang nanti akan berkolaborasi dengan aparat dan pemerintah setempat, jika pergerakan semua elemen bermuara pada penumpukan ‘kepemilikan modal ‘ untuk dirinya sendiri maka semua gerakan adalah utopia– karena semua akan menciptakan penjaranya sendiri,

1. Buruh sulit bergerak (ingat idiom “yang tak punya tak bisa memberi’) kecuali jika berkolaborasi dengan penguasa-aparat-pemerintah dengan ideologi yang sama. tanpa kolaborasi maka pergerakan buruh akan mudah dipatahkan,

2. Buruh percuma bergerak, jika tujuan akhirnya untuk mengalahkan menjadi pengusaha yang berkuasa, dan membuat kekuasaan baru dengan cara-cara penguasa sebelumnya.

11. idrusbinharun - Februari 22, 2012

hidup buruh!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: