jump to navigation

Amplop September 24, 2008

Posted by anditoaja in Politik.
trackback


“Amplop itu rezeki dari Tuhan. Maka ambillah ia dengan ikhlas meskipun kau tahu ia tanpa tanda terima. Meskipun kau tahu uang itu dari keringat rakyat. Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar.” (Surat Parlemen, ayat 1)

“Suamiku paling suka menerima undangan dari pemda karena setiap mau pulang selalu disalami amplop. Isinya duit minimal satu juta perak. Aku sempat bertanya, apakah itu korupsi. Katanya, ‘Ya nggaklah. Itu kebiasaan umum di daerah ini. Semua instansi juga begitu. Memang sih, tidak ada tanda terima dari siapa dan berapa. Tapi itulah tradisi pemerintahan di sini.” Demikian Kendedes menjelaskan rezeki suaminya yang datang bagai hujan lebat.

Suaminya hakim sebuah pengadilan negeri di Kalimantan Timur. Gajinya 3,5 juta. Sedangkan kebutuhan sebulan minimal 8 juta. Untuk menambal kekurangan, suaminya kerap mencari orderan perkara.

“Suamiku pintar ngomong. Kemarin ia ditawari mengganti Innova-nya dengan Alphard. Tapi ia tolak karena tidak enak dengan rekan-rekan kerjanya. Bila ia menangani perkara, terdakwa bisa memahami hukuman yang diterima. Selalu lebih ringan dari yang seharusnya, tapi rasional dan wajar. Karena itu imbalan suamiku terima biasanya juga lebih besar dibanding teman-temannya sesama hakim. Ini bukan pemerasan, lo. Tidak. Jatah hakim untuk suatu perkara, misalnya, biasanya sekitar 6 juta. Tapi karena suamiku bisa menjelaskan, maka ia bisa dapat 10 juta.”

Saat Syaukani HR masih memimpin Kabupaten Kutai Kartanegara, sang hakim sering menerima voucher menginap di hotel berbintang atau voucher belanja di Samarinda atau Balikpapan. Dalam setiap undangan acara pemkab, sang penguasa juga rajin menyelipkan amplop. Bila dicairkan nilainya bisa jutaan rupiah satu bulan. “Syaukani orang baik, suka bagi-bagi duit. Sayang ya dia ditangkap. Akhirnya suamiku gak dapat jatah lagi karena semua pejabat pemkab tiarap.” Demikian istilahnya untuk menunjukkan seretnya pemasukan “hadiah” paska Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap bupati paling baik sedunia ini.

“Awalnya aku waswas, apakah uang yang diterima suamiku itu halal. Tapi setelah berdialog dengan isitri-istri hakim lain tentang tradisi amplop ini, aku bisa tenang. Apalagi teman-teman mamaku yang jadi anggota DPR dari Muhammadiyah dan juga dari Partai Keadilan Sejahtera juga biasa menerima amplop dari instansi pemerintah. Mereka kan tahu hukum agama. Jadi, tidak mungkinlah ini disebut korupsi.” (Pantaslah, gesekan kaum borjuis dan proletar di partai dakwah tersebut relatif mengeras).

Kemudian Kendedes menceritakan modusnya semacam uang saku untuk Sujud Siradjudin (PAN), Azwar Chesputra (Partai Golkar), Syarfi Hutahuruk (Partai Golkar), dan Al-Amin Nur Nasution (PPP) senilai 100 juta dari Azirwan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan. Keempat anggota parlemen dari Komisi IV ini akan studi banding ke India. “Karena Al-Amin tahu bahwa negara kita sedang susah, maka mintalah ia uang saku kepada Azirwan,” jelas Kendedes.

Aku tidak tahu bagaimana implementasi pengaturan dana non-budgeter dalam UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Dan Badan Pemeriksa Keuangan Pusat (BPKP) telah memasukkan temuan dana non budgeter ke dalam kategori penyimpangan.

Dalam Pasal 16 Ayat (2) UU Perbendaharaan Negara menyebutkan larangan dana non budgeter dalam departemen atau instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Seluruh penerimaan departemen atau instansi pemerintah harus disetor sepenuhnya ke kas negara/daerah dan penerimaan tersebut tidak boleh digunakan langsung untuk membiayai pengeluaran departemen atau instansi pemerintah tersebut.

Sedangkan seluruh pengeluaran departemen atau instansi pemerintah, termasuk subsidi dan bantuan lainnya yang sesuai dengan program pemerintah pusat akan dibiayai oleh APBN/APBD dan penggunaannya dipertanggungjawabkan kepada Presiden/Gubernur/Bupati/Walikota (Pasal 3 ayat (4) UU Perbendaharaan Negara).

Dana non budgeter melanggar UU Perbendaharaan Negara. Namun ia belum tentu masuk kategori tindak pidana korupsi. Undang-undang yang dibuat pasca pemakaian dana non-budgeter Bulog 40 milyar oleh Akbar Tandjung tidak mudah dipraktikkan. Jejaring korupsi di negeri ini sudah menggurita hingga menembus langit surga. Buktinya penggunaan Yayasan Raudhatul Jannah pada kasus Akbar —lagi-lagi nama agama dan surga dijadikan tameng. Bukti lainnya, banyak aktivis partai agama dan mubaligh yang juga biasa menerima tradisi ini. Bukankah semua ini adalah ketentuan dari Allah Azza Wajalla?

Mendengar penuturan Kendedes yang baik hati itu, setiap rezeki dari suami selalu ia sisihkan untuk membantu saudara-saudaranya yang tidak mampu, aku termenung. Jangan-jangan aku sok moralis karena belum ketetesan rezeki dari Allah Subhanu wa Ta’ala ini?

“Amplop itu Tuhan turunkan sebagai tanda bagi orang-orang yang mau pragmatis…” (Surat Parlemen, ayat 2). [andito]

Tulisan di atas adalah kisah fakta.

Komentar»

1. Arif Giyanto - Oktober 4, 2008

Dulu, sewaktu masih di Fakultas Ekonomi UMS Solo, seorang dosenku pernah bilang, “Duit itu ya kertas yang ditandatangani dan ada stempelnya. Jadi, kalau kita, orang ekonomi, masih saja gila uang, berarti dia ngga ngerti ilmu ekonomi.”

Seorang kawan tertawa waktu ada kawan yang lain bercerita tentang pendapatannya yang telah puluhan juta. Dia bilang, “Trus kalo udah puluhan juta knapa?”

Aku simpulkan saja bahwa duit itu hanya sarana penjelas determinasi dedikasi seseorang. Dan ia telah memilih takdir itu. Mirip orang yang kelabakan dapet duit semiliar, soalnya tiap hari dia cuma pegang duit jutaan rupiah. Haha….

Oia, Bang. Minal aizin… taqabbalallahu….

2. yunik - Oktober 5, 2008

gambarnya bagus bang…betapapun canggihnya sistem uang yang dibangun perbankan…amplop tetap sistem paling menyenangkan, hehe apalagi isinya jadi dollar…mungkin lebaran tahun depan saya minta angpau dollar ahhh…
btw mohon maaf sama bang andito, keluarga, dan mas arif yang dibawah…

3. yunik - Oktober 5, 2008

loh, diatas deng…maaf…maaf


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: