jump to navigation

Bunuh Diri Kelas Buruh September 11, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback


All history has been a history of class struggles between dominated classes at various stages of social development

[seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas antara kelas-kelas tertindas pada berbagai tingkatan perkembangan sosialnya]

–Friedrich Engels (1820-1895)

Menjadi ’manusia’ adalah pilihan hidup yang paling sulit. Ia bukan pelengkap komunitas. Di dalam sosok tersebut terkandung pelbagai komplektitas seluruh kehidupan. Tidak heran, manusia disebut jagad cilik (mikrokosmos). Kebaikan dan keburukan alam semesta tercermin dalam perilaku manusia. Bila ia menyadari tugas kehidupannya, maka citra alam akan baik. Tetapi bila manusia menyelewengkannya, citra alam akan buruk. Kesadaran individual seperti ini mengarahkan manusia kepada kesadaran sosial. Kesadaran sosial menuntunnya pada kesadaran struktur, yakni pada kelas apa ia akan bersikap dan bertindak.

Tindakan sosial manusia ditentukan oleh pekerjaannya, komplemen dengan fungsinya sebagai makhluk hidup; butuh makan agar hidup; bekerja untuk dapat makan; dan mencari kebebasan finansial untuk mencapai makna hidup (life meaningful).

Semakin sulit dan spesifik sebuah pekerjaan, atau kewenangan publik yang bisa diraihnya, semakin tinggi pula nilainya di mata masyarakat. Jenis pekerjaan dan jabatan seseorang menentukan pendapatan yang bisa diperolehnya, juga menunjang status sosial dan komunitas pergaulannya. Pada masa lalu, lingkungan eksklusif hanya milik kerajaan/negara. Kini, semuanya dalam genggaman borjuis/kapitalis.

Dari Diri ke Kelas

Karena manusia tidak lepas dari pekerjaannya, manusia tidak dapat lepas dari kelas sosialnya. Lenin mendefinisikan kelas sebagai kedudukan atau posisi seseorang atau kelompok dalam hubungan produksi yang ada tanpa mempertimbangkan kekayaan. Cara pandang seorang insinyur berbeda dengan pengemudi becak yang tidak pernah mencicipi bangku kuliah. Mungkin saja pengemudi becak itu pernah sekolah. Tapi lingkungan sosialnya tetap membedakannya dengan kelas sang insinyur.

George Orwell menggambarkan kondisi tersebut dengan baik dalam “Down and Out in Paris and London” (1933). Ia meninggalkan statusnya sebagai kelas menengah-borjuis-berpendidikan namun miskin, dan menerjuni pengalaman hidup sebagai paria masyarakat Eropa sebagai gelandangan dan pencuci piring. Hasilnya, tetap saja kelas sosialnya mengikat eksistensinya sebagai individu.

Alam ini adalah akumulasi pertarungan seluruh kelas-kelas. Kelas-kelas sosial bertumbukan satu sama lain, mencari supremasi dan dominasi. Dengan mengombinasikan teori Charles Darwin, keberadaan sebuah kelas mensyaratkan seleksi alam. Kelas yang tidak mampu berjuang akan punah, digantikan oleh kelas yang lebih kuat. Sejarah panjang manusia hanya menorehkan kejayaan kelas borjuis yang kapitalistik, atas kelas buruh proletariat. Dengan demikian, kelas buruh harus merebut kekuasaan dan dominasi kelas kapitalis.

Lenin menolak kemandirian kelas buruh dan kemampuannya memperbarui diri. Baginya, buruh adalah pribadi yang belum selesai. Masalah mendasar buruh terletak pada intelektualitasnya. Kesadaran sosialis buruh tidak dapat muncul secara tiba-tiba. Serikat buruh yang menaungi mereka pun tidak otomatis mengubah mereka sebagai gerakan progresif. Serikat buruh hanyalah sekolah buruh, tahap awal menuju vanguard party (partai pelopor). Penyadaran dan tahapan kesadaran revolusioner hanya mampu dilakukan oleh kelas intelektual (outsider) yang berbeda dengan kaum buruh. Sedangkan Kautsky memandang serikat buruh dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui keterlibatannya dalam serikat buruh dan kekuatan melalui solidaritas serikat buruh, bukan melalui orang luar (baca; kaum intelektual).

Bagaimanapun, kita melihat benang merah keberadaan kelas sosial yang permanen, tidak dapat hilang atau dihancurkan, akan terus mengharu biru sejarah peradaban manusia. Karenanya, dominasi kelas borjuis/kapitalis harus digulingkan atau direbut oleh kelas buruh/proletar/sosialis melalui perjuangan revolusioner maupun cara-cara demokrasi.

Reproduksi Kelas

Benarkah kelas sosial itu permanen dan tidak berubah? Benarkah setiap individu yang terintegrasi dalam suatu kelas niscaya mewarisi watak dasar kelas itu yang pasti berbeda sama sekali dengan entitas kelas lain?

Keberadaan sebuah kelas dapat diibaratkan dengan jenjang pendidikan. Buruh adalah murid Sekolah Dasar (SD), sedangkan kelas borjuis duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kedua sekolah tersebut memiliki jenjang. Siswa SD ada 6 tingkatan, dari kelas 1 hingga 6. Siswa SMP ada 3 tingkatan. Siswa SD tidak bisa duduk di kelas 3 tanpa melalui kelas 1 dan 2. Kelas 5 dan 6 pun tidak bisa dimasuki begitu saja tanpa melalui kelas 3 dan 4. Setelah selesai kelas 6, barulah siswa SD dapat melanjutkan pendidikan ke SMP. Menjadi siswa SMP adalah harapan siswa SD.

Dalam dunia pekerjaan kita pun ada hirarkinya. Seorang office boy tidak otomatis menjabat kepala departemen bila tidak pernah meraih staf ini dan itu. Jabatan manajer tidak bisa diduduki oleh orang yang tidak menguasai bidangnya. Perbedaan tersebut tercermin pula dalam menentukan calon menantu. Istilah budaya kita: bibit, bobot, bebet. Tidak mungkin direktur keuangan bermantukan satpam perusahaan. Kalaupun ada, itu hanya ada di sinetron.

Siswa SD mengharap masuk SMP, dunia baru yang lebih luas dan berkuasa. Hanya siswa SMP yang berkemampuan memerintah siswa SD. Dalam bahasa lain, SMP adalah dunia kapitalis, yang menguasai SD, kelas buruh. Buruh mengharap mapan dan berubah menjadi borjuis. Mereka sudah cukup lama di struktur bawah. Saatnya mereka memimpin dan memiliki perusahaan. Setidaknya mereka bisa meraih posisi nyaman dengan gaji dan fasilitas cukup.

Pencairan Kelas

Secara kasat mata, realitas yang kita cerap menampilkan dualitas, punya dua nilai yang berlawanan. Ada siang dan malam, panjang dan pendek, panas dan dingin, laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, penindas dan terindas, negara dan masyarakat, borjuis dan proletar, dan sebagainya.

Sebagian besar kalangan melihat realitas-realitas tersebut eksis dan kekal, tidak berubah sepanjang masa. Karenanya mereka mendikotomikan setiap realitas yang berbeda sebagai lawan yang mesti ditaklukkan. Dalam dunia fauna, pemegang supremasi adalah hewan karnivora dengan fisik lebih kuat. Sedangkan hegemoni dunia manusia dikuasai oleh laki-laki, kapital besar, dan senjata canggih. Dunia laki-laki cendrung mensubordinasi perempuan, sipil harus di bawah supremasi militer, yunior tunduk pada senior.

Sementara yang lain punya perspektif berbeda. Mereka melihat perbedaan tidak berarti salah satu pihak benar dan yang lainnya salah/sesat. Kedua hal yang berbeda bersimbiosis mutualis. Keberadaan perempuan dan laki-laki tidak saling menegasikan atau meniadakan, melainkan saling melengkapi.

Setelah direnungkan lebih mendalam, kita temukan bahwa dualitas adalah bahasa klasifikasi manusia dalam ’membaca’ hubungan dua atau lebih realitas yang sejenis. Bukan keniscayaan realitas itu sendiri.

Mari kita buktikan. Ambillah sebuah kertas jenis A4, berukuran 21 x 29 cm. Kita sebut ukuran 21 cm lebar dan 29 cm panjang. Apakah realitas ’lebar’ itu ada? Ya, ada. Kita klaim bisa menandai dan memegangnya, yaitu sisi 21 cm.

Kini sisi kertas 29 cm kita bagi dua menjadi 14,5 cm. Bandingkan kembali. Apakah 21 cm itu masih ’lebar’? Tidak. Sisi 21 cm tidak lagi lebar tapi panjang. Sedangkan sisi kertas 14,5 cm, hasil pembagian sisi 29 cm tadi, berubah panjang.

Hakikatnya, ’lebar’ nama lain dari ’kurang panjang’. Konsep ’lebar’ itu relatif dan yang real adalah ’panjang’. Segala sesuatu yang berukuran biasa disebut panjang. Sesuatu bisa berubah ’lebih dari apa’ atau ’kurang/ketiadaan dari apa’ tergantung pada pembandingnya. Jadi?

Apakah 100’c itu panas? Tergantung. Bila dibandingkan dengan suhu 75’ c, maka suhu 100’ c panas. Namun bila dibandingkan dengan suhu 500’ c, maka suhu 100’ c dingin. Ketiadaan panas kita sebut dingin.

Sesuatu dikatakan gelap karena kurang/ketiadaan cahaya, disebut tumpul karena kurang tajam/ketiadaan ketajaman, dibilang buruk karena kurang baik/ketiadaan kebaikan.

Kesimpulannya, hakikat realitas di alam ini satu atau tunggal, hanya saja bergradasi.

Gradasi Kelas

Kita klasifikasi realitas untuk memudahkan pemahaman sosial. Tanpa klasifikasi, kita mudah terjatuh pada penilaian generalisasi yang melankolis, memberi hukuman sosial berdasarkan perasaan sentimentil, bukan pilihan rasional. Nilai tetap suatu realitas ada secara rasional, tidak bersandar pada pemahaman awam atau menurut kebiasaan. Tidak ada gradasi nilai pada masalah sosial. Membunuh itu jahat, mencuri itu buruk, mengambil hak orang lain itu zalim, adalah nilai yang pasti. Bahwa membunuh karena membela diri atau mencuri karena terpaksa adalah bahasan tersendiri.

Apakah kaya dan miskin itu nyata? Kaya adalah kepemilikan suatu barang berharga yang tidak terpakai karena di luar kebutuhan. Kita punya 2 pulpen, tapi yang terpakai sehari-hari hanya 1 saja. Maka kita bisa disebut kaya, karena berlebih 1 pulpen. Sedangkan miskin adalah tidak dimilikinya suatu barang berharga padahal sangat dibutuhkan. Kita harus mandi. Tapi rumah kita tidak ada air sejak awal. Maka kita miskin air. Patokan kaya dan miskin ditentukan pada kebutuhan barang keseharian, bukan barang sebagai gaya hidup.

Demikian pula dengan kelas borjuis dan proletar. Borjuis tidak mesti jahat, dan kelas proletar tidak mesti baik. Banyak kaum borjuis yang baik, yang tidak mengakumulasi kapital untuk kepentingan diri sendiri. Begitu pula banyak proletar yang miskin karena malas dan tidak cerdas menggunakan hartanya. Kita sering mendengar kisah tuan tanah dan pemilik pabrik yang kaya raya, namun masa tua sengsara karena harta habis untuk foya-foya, salah investasi, dan lain-lain.

Mengapa semuanya tidak kita lawan? Membasmi proletar penindas memang bagus. Namun melawan borjuis penindas hukumnya lebih wajib. Karena merekalah penindasan terjadi di semua lapisan sosial.

Kita melawan kaum kapitalis, yang mewakili perusahaan multinasional, bukan karena disparitas kekayaan yang sangat jomplang dengan kelas proletar, terutama buruh, melainkan praktik penindasan dan penghisapan mereka di negara-negara selatan.

Mungkin ada yang berkata, bukankah perusahaan kapitalis juga mendanai banyak kegiatan kemanusiaan? Apa yang mereka sumbangkan, misalnya dana penelitian penyakit menular, bantuan alam, atau beasiswa tidaklah sebanding dan signifikan dengan eksploitasi alam dan masyarakat yang mereka lakukan di negara-negara miskin.

Upaya filantrop kapitalis hanyalah secuil dari laba yang mereka peroleh. Tiga orang terkaya di dunia saat ini menguasai aset yang nilainya setara dengan milik 600 juta orang di 48 negara termiskin. Seperlima penduduk di negeri-negeri paling kaya menguasai 86% produk domestik bruto dunia, 82% pasar ekspor dunia, dan 68% penanaman modal langsung. Seandainya mereka menyumbang sebagian besar hartanya, tetap saja tidak mengentaskan kemiskinan karena sistem kapitalis masih berjalan bebas.

Kita bisa lihat bagaimana kekayaan seorang Bill Gates, pendiri Microsoft menghasilkan US$250 setiap detiknya, sama dengan US$20 juta sehari, sama dengan US$7,8 milyar setahun. Seandainya ia menyumbangkan US$15 kepada semua orang di dunia, ia tetap dapat menyisakan US$5 juta sebagai uang sakunya. Praktik filantropi kaum kapitalis hanya bagus untuk pangsa media massa, tapi tetap saja buruk bagi masyarakat dunia. Alih-alih penyantun dunia, merekalah penyebab kemiskinan dunia.

Bisa kita simpulkan, pembagian kelas sosial lebih komprehensif bila dipilah antara kelas tertindas dan kelas penindas. Dan kita melawan kapitalisme karena efek kerusakan yang mereka hasilkan lebih sistematis, luas dan masanya panjang daripada kelas sosial lainnya. Penindasan yang terjadi di lapis-lapis sosial lain adalah efek samping dari praktik kapitalisme.

Pengubah Kelas

Ledakan sel kelas menengah merebak setelah pemerintahan kolonial menjalankan politik etis di negara-negara berkembang. Sebagian dari anak negeri yang cerdas mengecap pendidikan di luar negeri melalui jalur beasiswa. Kelas terdidik tidak lagi milik negara-negara tertentu. Mereka hadir mendukung keberadaan borjuis-borjuis baru. Kualifikasinya sudah layak jual ke perusahaan-perusahaan multinasional. Dalam hal ini, koneksi politik atau organisasi terkenal tidak signifikan untuk sekadar berpenghasilan besar. Bisa diduga, loyalitas mereka terhadap perusahaan terbilang rendah. Bila ada tawaran lain yang lebih menarik, ia segera hengkang. Jika memungkinkan, ia membangun korporasi sendiri.

Sedangkan mereka yang skillnya nanggung, tidak punya kapital yang cukup untuk sebuah bisnis mandiri, dan juga tidak punya koneksi luas, berdaya tawar rendah. Mereka harus rela bekerja kepada orang lain selama mungkin. Agar nasibnya tidak semakin terpuruk, ia membangun relasi dengan buruh-buruh lain yang senasib, memunculkan solidaritas dan akhirnya membentuk Serikat Buruh. Sistem baru ini diharapkan membentengi mereka saat bermasalah dengan korporasi.

Sehingga tindakan seseorang distimulus oleh situasi sosialnya. Ada realitas sosial yang berbeda antara buruh eksekutif dengan buruh biasa. Semuanya punya potensi yang sama untuk berubah. Namun perbedaan tindakan bergantung pada sejauh mana setiap buruh berani mengambil takdir sosial barunya.

Jelaslah kelas sosial dan orang-orang di dalamnya mengalami perubahan dari masa ke masa. Pada masa lalu, kelas sosial rendah bercirikan masyarakat tak terdidik. Kini, kelas itu didiami oleh masyarakat terdidik. Memang, pendidikan secara umum tidak lagi jadi faktor penentu keberhasilan seseorang. Namun pendidikan yang melek terhadap kebutuhan kapitalisme tetap mengundang kemakmuran tersendiri bagi pelakunya. Pada tahap inilah lompatan-lompatan kelas terjadi. Orang-orang tertindas tidak mesti mewariskan penindasan kepada anak-cucunya selama mereka mampu memaksimalkan pendidikan bagi keturunannya.

Makanya setiap orang sukses selalu cerita tentang bagaimana awal karirnya yang terpuruk, menderita, kesulitan, prihatin. Pengusaha-pengusaha besar selalu bangga tentang bagaimana ia menyiasati hidup dengan segala keterbatasannya dan berhasil mewariskan kerajaan bisnisnya kepada anak-anaknya.

Ini isyarat bahwa tidak ada kelas yang permanen dalam diri seseorang. Suatu waktu, ia di posisi kelas tertentu. Di lain waktu, ia di kelas lain. Setiap orang, dengan tekad dan usaha yang sungguh-sungguh bisa mengubah takdir sosialnya. Begitu pun, praktik kelas lain bisa mengubah kelasnya. Ekspansi bisnis kapitalis besar sering memakan borjuis-borjuis kecil dan menjatuhkannya ke kelas paria.

Mengingkari Kelas Kapitalisme?

Sebagaimana yang kita ketahui, setiap manusia pasti memilih. Dan masuk kelas buruh, sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya, adalah sebuah pilihan rasional. Tuhan tidak turut campur pada kondisi ini. Bukanlah sebuah apologia ketika ada seseorang yang beralasan bahwa ia menerima/melamar sebuah pekerjaan karena ’terpaksa’ atau, ’daripada nganggur’. Kesadaran untuk masuk sistem, sangat menentukan bagaimana dirinya menentukan kelasnya.

Mengingkari keberadaan kapitalisme sama saja dengan menolak eksistensi buruh. Kapitalisme butuh kapital agar ia mengada. Kapitalis butuh putaran ekonomi agar korporasinya bergerak. Korporasi butuh buruh yang menjalankan roda produksinya. Tanpa buruh, tiada korporasi, tiada laba, tiada kapitalisme.

Demikianlah buruh tidak betah dengan posisinya. Harapannya, dirinya bisa sejajar atau menjadi mitra korporasi sehingga tiada penindasan yang dialaminya. Buruh bergerak ketika kebutuhan pokok tidak tercukupi oleh penghasilan bulanan sehingga ia teralienasi dari produksinya sendiri.

Namun alienasi bukanlah sesuatu yang berada di luar minda buruh. Alih-alih menyingkirkannya, alienasi adalah bagian dari jatidiri buruh itu sendiri. Gerakan buruh untuk perbaikan nasib tidak memusuhi alienasi, malah menggunakannya sebagai daya tawar.

Dalam perspektif inilah kita bisa memahami mengapa seorang profesional muda di sebuah bank asing di Jakarta bisa bergaji Rp21 juta perbulan pada tahun 2002, UMP saat itu Rp600 ribu, tidak ikut-ikutan demo menentang UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Karena ia sudah memiliki kapital. Baginya pekerjaannya adalah aktualisasi.

Berbeda halnya dengan seekor lumba-lumba. Hewan ini tidak digaji. Upahnya hanya ikan. Bila kita mendesak buruh profesional yang mapan demo bersama buruh bergaji pas-pasan, secara tidak langsung kita menyamakannya dengan lumba-lumba, hanya bergerak karena tuntutan makanan, bukan aktualisasi.

Pelajar SMP tidak harus memerhatikan pelajar SD, apalagi menuruti kemauannya. Sebagai kapitalis, buruh tidak terlalu penting untuk diperhatikan. SD mengikuti SMP, buruh mengikuti kapitalis. Suatu saat, ini hanya masalah waktu dan kesabaran, anak-anak SD setelah memiliki modal juga akan besikap sebagai seorang kapitalis. Dulu, yang dianggap biang kerok kesengsaraan buruh adalah kapitalisme. Namun setelah dikaji lebih jauh, buruh adalah bagian dari kapitalisme. Penyibakan hubungan mesra buruh dan kapitalisme memang menyesakkan dada.

Kapitalisme mengendap jauh di alam bawah sadar kita. Meskipun kita ini buruh rendahan. Kita mengakui kapitalisme menghisap warga dunia. Pada saat yang sama praktik kapitalistik kita lakukan sepanjang hari.

Kita menuntut gaji besar dengan tunjangan ini itu. Tapi tatkala kita mau naik becak atau membeli sayuran di pasar tradisional, kita tawar harga serendah mungkin hingga kita yakin pedagang tidak memperoleh laba kecuali biaya operasional. Bahkan tak jarang kita hukumi pedagang kecil itu dengan kalimat, ”Masih untung saya beli dagangan Anda.” Praktik kapitalis juga nampak di jalan-jalan. Lapak pedagang makanan dan pakaian menyerobot daerah pejalan kaki. Bis kota yang berhenti seenaknya. Pedagang makanan yang mencampur makanan dengan bahan kimia berbahaya. Mereka menuntut permakluman kita tentang usaha mereka ’mencari nafkah’.

Kelas Permanen dan Insidental

Sebenarnya, masalah mendasar dalam perburuhan: apakah kelas sosial itu permanen? Ketika kelas buruh dikatakan permanen, maka kelas kapitalis pun permanen, karena keduanya bersimbiosis. Seorang kapitalis bisa jatuh dan hancur. Namun sistem kapitalisme tetap berdiri megah. Bukankah buruh juga ingin sejahtera dan memiliki passive income?

Organisasi buruh melakukan demonstrasi karena pemerintah yang abai dan tidak acuh terhadap warganya, korporasi yang rakus dan pelit terhadap buruhnya, dan manajemen yang tidak sensitif. Bila semua ini dilakukan, bisa dipastikan gerakan buruh tidak akan semeriah saat ‘penindasan’ menjadi ritual keseharian sebuah perusahaan. Pada titik inilah gerakan buruh digembosi, tidak lagi faktual, dan hanya bermain di wilayah utopia narsis.

Berbeda halnya ketika kita katakan bahwa kelas itu tidak permanen. Sesuatu yang seakan-akan permanen pada wilayah sosiologis itu semu. Yang ada hanya pseudo kelas. Sedangkan sesuatu yang sosiologis itu bukan kemestian, melainkan negosiasi. Negotiable. Pemaknaan tentang kelas-kelas di SD dan SMP, yang pada kajian sebelumnya sempat dikatakan sebagai hal yang niscaya, berubah. Kelas 1-6 di SD dan kelas 1-3 di SMP bukanlah kemestian.

Tingkatan 1-6 atau 1-3 cuma klasifikasi. Yang membuat kelas 1 SD dan kelas 2 SD berbeda hanya di jenjang kurikulum, murni masalah administrasi, sekadar kebijakan biasa, dan bisa berubah kapan saja. Sedangkan yang prinsip adalah sistem sekolah. Apakah yang namanya kelas 1 harus sampai kelas 6? Tidak mesti, tergantung sekolahnya. Memang sebagian besar sekolah dasar menjenjangkan 6 tahun di sekolah dasar. Tapi SD sekarang tidak hanya kelas 6, ada kelas super yang memakai akselerasi, ada kelas di luar, ada pula homeschooling. Murid cukup ikuti ujian kesetaraan.

Jadi, yang permanen adalah sekolah, bukan kelas. Kelas bisa dibubarkan atau dirampingkan. Untuk hal sepele saja, kelas bisa diliburkan karena banjir atau pemilu daerah. Tapi sekolah tetap berdiri. Sekolah itu yang membentuk struktur pemikiran dari kelas 1 sampai 6, sekolah yang membuat kelas itu ada dan bernilai. Strata dan tingkatan pada kelas 1-6 SD, 1-3 SMP, hingga 1-3 SMA ditentukan sekolah. Sekolah yang membuat struktur itu ada atau tiada, fungsional atau stagnan. Sekolah adalah sumber sedangkan kelas-kelas adalah efeknya. Dengan kata lain, sekolah adalah ideologi dan kelas adalah anak-anak ideologisnya.

Menjayakan Kelas Kapitalis

Dengan pemahaman ini, kita bisa memahami jalan pikiran pemilik perusahaan. Karena pemilik tidak ingin kekuasaannya atas aset perusahaan dirampas oleh bawahannya, atau juga karena ingin selalu memperbesar laba, maka dibuatlah hierarki dalm setiap proses produksi, sehingga buruh satu dengan yang lain tersekat-sekat. Perbedaan dalam perhitungan standar gaji pokok, tunjangan jabatan dan fasilitas, dan akhirnya melahirkan gaya hidup yang juga berbeda, cukup jitu memandulkan soliditas sesama buruh.

Dalam proses negosiasi, buruh tidak berhubungan langsung dengan pemilik saham, melainkan ditangani oleh manajer, yang notabene juga buruh, cuma lebih mapan dari kebanyakan buruh yang ada. Hasilnya pihak manajemen yang membela perusahaan. Bukan karena kondisi objektif, melainkan karena ia sudah di posisi status quo, yang mapan dengan kondisi yang sudah ada selama ini. Jika ada perubahan, sangat mungkin ia dan jajarannya turut terlempar.

Kelas bukanlah wilayah sosial yang permanen. Ia adalah media untuk internalisasi ideologi di bawah sekolah sebagai sumber ideologinya. Buruh itu bukan sekadar berbeda dengan komoditi, tapi buruh juga punya ciri utama, bahwa posisinya sebagai buruh bukanlah pilihan bebas, melainkan pilihan terbatas.

Kita bekerja berdasarkan kebutuhan kita sendiri. Tidak ada dominasi dalam hal ini. Pertanyaannya: adakah orang yang mau bekerja untuk orang lain? Tidak ada. Kenapa? Karena tidak ada rasa kepemilikan. Kita bisa ketahui bahwa etos kerja di negara-negara sosialis lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara kapitalis atau sistem lain yang mana negara tidak mendominasi segala hal. Di Indonesia, kinerja Pegawai Negeri Sipil pun rendah daripada karena tidak ada motivasi pemilikan privat sebagai hasil usaha. Kerja serius atau melamun di kantor tidak akan mengurangi gaji mereka. Berbeda halnya dengan swasta yang setiap individunya dibebankan oleh target-target bisnis.

Kesimpulannya, manusia bekerja untuk pemenuhan dirinya. Tapi kita tidak mempunyai lahan untuk dikerjakan, tidak punya modal untuk dikembangkan, maka buruh adalah pilihan terakhir pekerjaan. Sambil berharap suatu saat bisa mandiri. Ketika kita diberikan dua tawaran: bekerja sendiri atau bekerja kepada orang lain, pasti bekerja sendiri adalah pilihan utama. Ketika ia sadar bahwa dirinya terpaksa sebagai buruh, maka keterpaksaan ini bukan sesuatu yang permanen, karena tidak terjadi alamiah.

Sehingga, kedudukan kelas bukanlah masalah sosial, cuma administrasi. Yang permanen adalah pola pikir. Bisa jadi yang kapitalis adalah office boy, bukan staf lain yang lebih tinggi jabatannya.

Yang permanen adalah sekolah ideologi, bukan kelas sebagai struktur sosial bentukan. Konsekuensinya, di kelas yang ada tidak menjadi terpisah antara elit dengan massa. Karena ia ada di mana-mana. Kita bergabung denganmu bukan karena kita anggota serikat buruh, tapi adalah karena kesatuan ide. Ketika kita bicara kelas itu tidak permanen, maka proses intelektual dalam kelas bukan dari mana kita sadar sebagai buruh, tapi kita sadar adanya penindasan pada kaum buruh. Sebaliknya, bila kesadaran kelas tidak terjadi, maka buruh itu adalah kapitalis itu sendiri.

Meniadakan Kelas Buruh

Film ‘The Life of David Gale’ besutan Alan Parker, dibintangi Kevin Spacey dan Kate Winslet, mengisahkan tentang perjuangan Deathwatch, sebuah organisasi anti hukuman mati. Salah satu dialog menarik antara Constance Harraway dan David Gale adalah tentang kerelaan berkorban demi penghapusan hukuman mati. Harraway bunuh diri dengan cara memborgol kedua tangannya ke belakang, menelan kuncinya, dan menutup kepalanya dengan plastik. Sungguh ekstrim. Tapi demikianlah bagaimana ketika ideologi sudah bekerja. Apa yang kita kaji di sini tidak sampai membunuh diri sendiri. Kita tidak melenyapkan diri kita, melainkan membongkar alam bawah sadar kita.

Syarat membangun kesadaran kelas buruh justru adalah saat kita mampu ‘meniadakan’ kelas ini. Buruh tercipta bukan karena kehendak bebas manusia, namun hasil dari kondisi keterpaksaan. Tidak ada yang perlu dibanggakan dengan hal ini. Kita harus berubah dan membongkar sekat-sekat sosial ini.

Berbeda halnya ketika kita merasa puas dengan ke-buruh-an kita, artinya kita merasa bersyukur dan ada kesan tidak ingin kondisi ini berubah. Sikap ini sama saja dengan pro kepada status quo. Kita menjadi lebih kapitalis daripada pelaku kapitalis itu sendiri, karena yang mematenkan kapitalis itu kita yang sama sekali tidak pernah menikmati hasil kapitalisme.

Kesempurnaan kapitalisme dipatenkan buruhnya sendiri.

Lalu, bagaimana karakter buruh yang sesungguhnya? Ketika buruh tidak menganggap diri sebagai kelas yang terpisah dari masyarakat lain. Kita memilih melawan melalui struktur buruh karena pilihan yang terbatas. Pilihan yang terbatas akibat sistem yang menindas.

Kapitalisme muncul karena adanya korporasi. Korporasi ada karena ada proses produksi yang dilakukan oleh buruh dengan imbalan upah. Korporasi bisa menarik laba dan laba itu bisa bergerak kemana-mana karena modal sudah menjadi alat isap tersendiri. Kapitalisme pasti penghisapan, tidak peduli dengan niat baik.

Kita harus membongkar kelas buruh dalam lapisan sosial ini agar kita lebih bebas dalam melihat bagaimana sebuah industri itu bekerja. Sebaliknya, saat kelas buruh dinilai sebagai sesuatu yang permanen, pilihan kita pun terbatas. Perjuangan buruh selalu diiringi hantu skorsing, penundaan naik gaji dan promosi jabatan, atau malah dipecat. Perjuangan menyempit hanya menimpa orang-orang yang senasib dengan titik temu pada kesamaan gaji dan tipe perusahaan.

Mungkin ada aktivis buruh protes. Mereka mungkin mengatakan, bukankah perjuangan buruh berlandaskan “Satu Untuk Semua, Semua Untuk Satu”? Dengan pembongkaran kelas buruh, maka tidak akan ada solidaritas buruh dan itu akan memandulkan atau malah menghilangkan perjuangan itu sendiri.

Kita jawab, slogan itu metode perjuangan, bukan prinsip. Ia bisa berganti kapan pun dengan bentuk bagaimana pun. Realitasnya, “Satu untuk semua” adalah “satu untuk gaji yang sama”, untuk struktur yang sama-sama tertindas. Buruh itu bukan sekadar orang yang bergaji 3-5 juta rupiah. Yang bergaji 30-50 juta sebulan pun buruh selama ia masih bekerja untuk orang lain.

Hantu Buruh Feodal

Keberhasilan berinteraksi dengan kelompok lain dalam membangun suatu perubahan sosial tidak ditentukan pada ego etnis atau kelompok atau golongan. ia ditentukan pada seberapa besar kesadaran kelas itu muncul di setiap lini. Kesadaran kelas bukan karena perwujudan kelas itu, melainkan karena kelas itu harus dileburkan, harus hancur. Itulah yang dinamai bunuh diri kelas. Gerakan yang muncul karena senioritas dan superioritas adalah gerakan feodalisme.

Bagaimana mungkin revolusi sosial terjadi bila alam bawah sadar aktivisnya masih menuntut penghormatan? Seandainya revolusi itu terjadi, pemenang sebenarnya segelintir elit saja. Dan apakah ada jaminan mereka akan memperbaiki nasib buruh yang lebih rendah? Tidak ada jaminan sama sekali. Tidak ada kontrak sosial apapun yang mengikat.

Apakah mungkin anggota SP atau seniornya mau menjadi anggota biasa dan dihancurkan oleh buruh lain yang kita anggap strukturnya lebih rendah? Mustahil. Juga mustahil dipercaya bila pendapatan aktivis yang lebih tinggi belasan kali dari sebelumnya setelah perubahan sosial bisa menjaga ritme militansinya. Kecuali bisa sikap itu bagian dari dagangan politik. Buruh yang di bawah hanya tahu demonstrasi, tapi buta tentang berapa nominal transaksi di tingkatan elit. Organisasi itu delegasi tugas. Ketika organisasi menjadi elitis, kelas yang berkuasa tidak akan mau mengubah strukturnya kecuali hanya untuk mobilisasi massa buruh.

Konfrontasi kelas buruh terhadap kelas kapitalis seperti masuk dalam lumpur hisap. Semakin kita berontak dan melawan, semakin kuat cengkraman kapitalis karena hakikat kelas buruh mengekor pada kelas kapitalis.

Kapitalisme yang kita kenal selama ini hanya berkenaan pada ranah ekonomi dengan teori nilai lebihnya. Pada saat yang sama, kapitalisme hadir dalam bentuk relasi sosial bernama feodalisme. Yakni ketika hubungan antarmanusia yang dilebihkan satu dengan lain, ketika darah, struktur sosial, komunitas, atau suatu keterampilan dianggap lebih tinggi ketimbang yang lain.

Feodalisme masih ada dalam alam bawah sadar kita. Kita hanya mau bergerak ketika kita dihormati. Itulah yang membuat banyak organisasi buruh atau kelompok apapun gampang dipecah-belah, karena dihembuskan isu kepemilikan sehingga setiap orang ingin aman.

Sosok Odah dalam ’OB (Office Boy)’ di televisi adalah contoh konkret lingkaran setan feodalisme dalam ranah sosial terendah. Kita berteriak gaji kita rendah, tapi kita juga memberikan penawaran yang sangat menyakitkan saat transaksi di pasar tradisional. Perlakuan kita kepada pekerja rumah tangga (PRT) pun tidak kalah buasnya. Apakah kita telah menyiapkan pesangon atau dana pensiun untuk PRT yang telah mengabdi betahun-tahun?

Proses penghisapan tidak hanya terjadi di level atas.

Akhirnya, perjuangan berujung pada dua pilihan utama; pengekalan eksistensi, atau penihilan eksistensi (annihilation). Leburkan diri kita dalam realitas tertinggi Yang Mahasempurna dengan cara meleburkan diri dalam lautan massa. Semakin kita menjaga jarak dengan massa, sampai kapan pun tidak akan pernah jadi gerakan massa. Jangan cari perbedaan di dalam massa karena tidak akan konstruktif. Dalam teori komunikasi, dialog terbangun dengan mencari persamaan-persamaan dan seberapa besar pencerahan yang bisa kita peroleh. Istilahnya, 1000 teman itu terlalu sedikit dan 1 musuh itu terlalu banyak.

Sebaliknya, bila kita selalu mencari perbedaan, yang ada hanyalah konflik. Biasanya konflik muncul karena terjebak masalah teknis. Sesungguhnya, bila di antara sesama kelas tertindas telah terjalin satu jiwa, satu perjuangan, satu ideologi, niscaya akan menjadi mitra kerja dan jaringan meskipun mungkin berlatar belakang berbeda di antara berbagai kelompok yang ada. Setiap individu itu unik. Setiap kelompok punya ciri khas pembeda. Tapi kita tidak akan bisa berdialog ketika kita memaksa orang untuk memahami diri kita. Maka titik temunya adalah seberapa besar nilai-nilai universal yang kita sepakati, yang mesti bermuara pada nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Penolakan atas penindasan kapitalisme mungkin berawal dari pengalaman personal yang kemudian menstimulus perubahan nasib diri dan komunitasnya. Ini bukan masalah perasaan tertindas atau tidak. Karena sangat mungkin ada yang mengalami, ada pula yang tidak; ada yang menderita, ada pula yang ‘nyaman’.

Nilai-nilai universal itu ternyata bukan rasa ketertindasan, tapi persetujuan bahwa ada pola penindasan dalam sistem korporasi atau hubungan industrial. Individu cuma alat, hanya tukang. Siapa pun orangnya, apa pun jabatannya, bisa dipindah kapan pun. Namun seseorang yang berada dalam suatu kelas bisa berubah pola pikirnya. Jadi ada pola pikir yang bisa ditentukan oleh kelas, tapi bisa juga struktur mengubah cara pandang yang lain.

Bunuh Diri Organik

Kita melemahkan diri sendiri tatkala kita memposisikan diri sebagai buruh. Karena nama buruh sudah lemah. Di atas buruh ada manajemen. Ada jenjang dan hierarki kekuasaan dalam kapitalisme yang dimainkan oleh pengusaha sehingga kita tidak bisa langsung menohok mereka. Kita hanya bertemu dengan manajer tingkat menengah yang hakikatnya senasib dengan kita, hanya besaran gaji dan tunjangan saja yang sedikit berbeda. Korporasi bukan hanya bisa menskorsing atau memecat, tapi bahkan sanggup memindahkan perusahaannya ke tempat lain yang mempunyai cadangan tenaga kerja melimpah. Hengkangnya pabrik elektronika Sony dan sepatu Nike dari Nusantara adalah sedikit contoh.

Dengan mencermati posisi buruh vis-à-vis perusahaan, kita bisa mencurigai bahwa jangan-jangan kelas buruh itu sendiri fatamorgana, sebagaimana keberadaan kelas yang lain. Karena setiap orang bisa berposisi lebih di satu kelas. Ada buruh yang punya usaha sampingan lain. Ada pula pengusaha yang hanya mengandalkan satu usaha saja. Dengan demikian, buruh adalah rekayasa alam bawah sadar. Kita harus keluar dari jaring itu agar tidak tergiring dalam permainan korporasi.

Mampukah kita keluar dari lingkaran dualitas buruh dan majikan? Bisa. Yakinlah bahwa kelas buruh hanyalah ada dalam minda pengusaha belaka. Alih-alih pemersatu, kelas-kelas sosial saling menyekat dan membatasi satu sama lain.

Di hadapan masyarakat, semua kelas itu lebur. Tinggalkan saja orang-orang yang tidak peduli. Kita wajib meyakini bahwa kelas yang tertindas itu bukan cuma buruh, sehingga pembelaan tidak hanya berasal dari solidaritas organisasi buruh saja.

Apa yang dikatakan Engels tentang perjuangan kelas pada kutipan awal bab ini, ”Seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas antara kelas-kelas tertindas pada berbagai tingkatan perkembangan sosialnya”, sesungguhnya mengacu pada kualitas tindakan manusia, bukan penetapan dan kemestian keberadaan kelas itu sendiri. Yang bergerak adalah kelas tertindas di berbagai tingkatan sosial, bukan hanya pada tingkat tertentu.

Sehingga gerakan buruh adalah gerakan pribadi-pribadi buruh yang tercerahkan. Daya dorong yang ia buat bukan dari kelas buruh lagi. Ia adalah pribadi yang mempunyai kekuatan dan kesadaran gerakan yang lebih besar dari gerakan buruh yang dibangunnya selama ini. Merekalah yang dinamakan intelektual organik.

Tidak seharusnya kita terbelenggu di satu wilayah sosial. Perjuangan semesta melawan kapitalisme, simbol penindas terbesar sejagad, bukan saja dilakukan oleh satu kelas tertentu saja. Undang-undang ketenagakerjaan bukan urusan buruh semata. Mahasiswa, ulama, insinyur, dan kelompok masyarakat lain perlu menggugatnya karena mereka akan terkena imbasnya pula. Bukankah orangtua para mahasiswa adalah kaum buruh? Bukankah jemaat pengajian/kebaktian adalah kaum buruh? Tanpa kerelaan melepas jubah kelas sosial kita, tidak akan ada sebuah perlawanan kelas tertindas. Syarat perubahan sosial adalah perlawanan sosial. Perlawanan sosial hanya bisa dipahami dengan BUNUH DIRI KELAS.[]

Komentar»

1. Arif Giyanto - September 12, 2008

Aku pernah berpikir, orang yang sengaja mendepositokan Rp1 miliar yang ia punya, itu jahat. Pasalnya, uang yang tidak ‘diapa-apain’ itu mending digunakan untuk membiayai kesempatan kerja.

Tapi, ada yang bilang, “Lho?? Kita kan sekarang berhadapan dengan Microsoft, Coca-Cola, Bakrie yang kapitalnya triliunan. Jadi kita harus punya aset sebesar-besarnya.”

Nah, kadang aku berpikir, kesimpulan kita tentang ‘bertarung’ hanya sebatas sebesar apa kita punya uang.

Jadi, aku tetap yakin, 1 miliar tak bergerak itu… Jahat!!

2. yunik - September 27, 2008

resign adalah keputusan ideologis!
YAKUSA

3. onyon - November 14, 2008

Bunuh diri kelas dan membaur bersama lautan massa. Edan…, ini intinya “rendah hati”. dan emang ini jalan tercepat untuk “manunggal”. Melepas jubah sosial dan mengadakan perlawanan kelas tertindas. ini objektifikasi warna jiwa yang rendah hati. hehe.., ini bukan sih intinya? ini kan juga ideologi ? jangan-jangan kita sedang membuka sekolah baru? dengan kelas baru dan tahun ajaran baru? aaahhh.., test masuknya susah banget..

Salam..Bang..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: