jump to navigation

Kesadaran Buruh September 5, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

“Consciousness is the basis of all life and the field of all possibilities. Its nature is to expand and unfold its full potential. The impulse to evolve is thus inherent in the very nature of life.”

[Kesadaran adalah basis dari segala kehidupan dan ladang dari seluruh kemungkinan. Hakikatnya memperluas dan melipatgandakan potensi penuhnya. Dengan demikian dorongan untuk berkembang melekat dalam hakikat kehidupan]

–Maharishi Mahesh Yogi

Buruh ingin berubah. Tapi perubahan tidak datang tiba-tiba. Ia butuh proses rasional, pematangan sistem dan momentum tindakan. Rasa ketertindasan tidak memestikan sebuah perlawanan. Apalagi ketika ketertindasan dipahami sebagai kewajaran. Dalam hal ini, buruh harus memiliki kesadaran sebelum membuat tindakan. Otomatis, pembongkaran paradigma buruh mensyaratkan pembukaan lapis-lapis kesadaran.

Kesadaran adalah suatu penempatan diri manusia sesuai dengan apa yang diyakininya. Pengungkapan kesadaran adalah refleksi, cikal bakal gagasan dan tindakan.

Dengan mengacu pada teori Ada-nya Jean-Paul Sartre, posisi kesadaran buruh tertindas masih dalam taraf ’Ada dalam dirinya’ (etre en soi). Buruh melek tapi tidak mampu menjabarkan dan mengolah Ada-nya ia. Buruh masih terhambat atau terjebak artikulasi dan pemaknaan diri. Seluruh eksistensinya tenggelam dalam diri keburuhannya. Otomatis, ia tidak mampu menyadarkan buruh lain. Bila buih-buih kesadaran ini tidak beralih pada kesadaran yang lebih tinggi, yakni ’Ada bagi dirinya’ (etre pour soi), pastilah kesadaran buruh itu palsu. Pseudo kesadaran.

Sedangkan etre pour soi mengacu pada kesadaran yang berjarak. Kesadaran kita akan sesuatu menyatakan adanya perbedaan antara kita dan sesuatu itu. Kita tidak sama dengan sesuatu yang kita sadari. Ada jarak antara kita dengan objek yang kita lihat. Karena kita sadar bahwa kita buruh, maka selalu ada perbedaan dan jarak antara diri kita yang abadi dengan diri buruh yang tersegmentasi dan tercitrakan oleh perusahaan.

Perusahaan ingin seluruh eksistensi kita larut dalam sistem dan dimensi pekerjaan. Sehingga tidak ada kemungkinan kita sadar akan diri kita dan membandingkan dengan eksistensi lain di luar sistem kerja yang lebih bebas. Bila akhirnya buruh protes, isinya tidak keluar dari koridor yang dibuat oleh perusahaan.

Kenyataannya, buruh tidak pernah persis dengan dirinya sendiri. Apalagi sebagaimana persepsi orang lain terhadapnya.

Penandaan pada jarak, distansi, adalah kehadiran buruh yang sadar untuk bergerak dan bebas memilih. Dengan ketiadaan patokan diri inilah buruh dimungkinkan untuk melampaui dirinya dan hubungan dengan benda-benda di luar dirinya sesuai dengan maksud dan tujuannya. Ia mampu menidak, menolak, bahkan membangkang. Dirinya masuk dalam lingkaran produksi namun jiwanya tidak terikat sama sekali dengan pekerjaannya. Konsep ini berbeda dengan pandangan Marx tentang keterikatan jiwa dan alat produksinya.

Sedangkan kesadaran ’Ada untuk yang lain’ (etre pour les autres) benar-benar membelalakkan mata buruh. Di sinilah ia melihat relasi-relasi antar manusia yang sebenar-benarnya tidak terpisah dengan dunia. Ada sistem global yang menaungi setiap tindak tanduk manusia. Kesadaran buruh tidak lagi tentang dan untuk dirinya, melainkan juga yang lain, sesama rekan buruh dan hegemoni wacana yang mengungkungi dunia perburuhan.

Kewaspadaan Tindakan

Kesadaran (consciousness) adalah pondasi tindakan. Medianya adalah kewaspadaan. Kesadaran muncul ketika subjek buruh berhadapan dengan realitas ruang/lingkungan dan dikontekstualisasi dengan ideologi awal buruh. Tindakan karena kesadaran mengandung wilayah reflektif, rasional, dan mengaca pada struktur yang sistemik. Seperti saat kita berada dalam sebuah ruangan. Kesadaran kita menentukan untuk waspada dari menyentuh listrik, menyenggol barang pecah belah, memegang brang pribadi, dll.

Sedangkan ketidaksadaran adalah ketidaksiapan. Buruh yang tidak sadar hanya melihat lingkungan dan kemudian disinkronkan dengan tindakannya semata. Tindakan semacam ini hanya reaktif, emosional, dan semrawut. Seperti orang yang tergagap-gagap setelah bermimpi buruk, pertanyaannya selalu: mengapa aku bermimpi? Apa salahku? Bagi orang yang tidak sadar, berada dalam sebuah ruangan tidak ada makna sedikitpun. Ia menjamah apa pun tanpa menyadari risikonya. Setelah jarinya terluka atau kesetrum, barulah ia tergagap-gagap. Ketergagapan, lambat bereaksi dan antisipasi, adalah sebuah ketidaksadaran.

Tingkatan kesadaran

Kesadaran jiwa

Struktur kesadaran itu bertingkat-tingkat. Pondasi paling dasar adalah kesadaran jiwa. Pada level ini, buruh menyadari bahwa semua realitas hakikatnya satu, tunggal. Pemahaman dan pengendapan refleksi kita yang berbeda-beda membuat realitas hadir dan termaknai secara beragam pula.

Dengan demikian, tidak ada realitas yang tidak dapat diubah. Kekuatan kehendak (tekad, determination) mampu mengubah segala sesuatu sesuai dengan maunya kita. Bagi buruh, tidak ada yang sakral di alam ini, kecuali realitas tunggal yang memang tidak ada perubahan sedikitpun di dalamnya. Selama buruh memiliki kemandirian jiwa, tidak ada satu pun yang layak ditakuti. Apalagi dengan solidaritas buruh.

Kesadaran ideologi

Kesadaran ini menghubungkan konsep tentang realitas dan keberadaan realitas itu sendiri dan bagaimana menyikapinya. Orang yang menjalaninya disebut realis. Kesadaran ideologi buruh ditandai oleh upayanya merangkai segala peristiwa yang melahirkan fragmentasi kelas-kelas sosial. Setelah mengambil kesimpulan atas berbagai sistem penindasan, terutama yang melekat dalam kelasnya, buruh mulai menebarkan kesadaran kelasnya ke segenap komunitas yang terdekat dengannya.

Sedangkan ketidaksadaran ideologis didasarkan pada pandangan bahwa syarat bertahan hidup kita adalah menguasai banyak ketrampilan agar bisa bekerja di perusahaan. Semakin baik kita bekerja, semakin meningkat kesejahteraan kita. Kita tidak mau tahu, dan tidak perlu tahu, apa-apa yang terjadi di sistem kerja kita. Setiap orang punya urusan masing-masing.

Kesadaran ruang

Di bawah kesadaran ideologi adalah adalah kesadaran ruang. Kesadaran ini berisi hasil persepsi dan daya khayal. Daya persepsi hanya berlandaskan pada objek material. Ketika kita berada di sebuah kamar, kita kuasai sepenuhnya kamar itu. Kita persepsi semua benda yang berada dalam jangkauan indera kita. Dalam persepsi, ruangan kamar hanyalah sebidang dinding persegi yang dipenuhi beberapa perabotan.

Selain itu, kita mampu berkhayal tentang apa dan bagaimana kita jadikan ruang itu. Daya khayal, imajinasi, mengandalkan keyakinan dan kemampuan tentang ruang dan realitas di balik realitas inderawi ini. Dalam daya khayal kita, kamar kita ubah menjadi kolam renang, kita masukkan gajah, dan kita lakukan segala hal yang tidak lazim.

Sedangkan ketidaksadaran ruang adalah saat tindakan kita dikondisikan ruang tersebut. Saat kita berada di ruangan pabrik, kita tersterilkan harus menjadi buruh yang baik, tidak boleh melakukan ini itu yang tidak ada hubungannya dengan fungsi pabrik itu. Padahal belum tentu kita tidak boleh melakukan sesuatu yang di luar teks peraturan formal. Kadang-kadang, perasaan takut melampaui objek sebenarnya.

Kesadaran ruang juga mengubah gen pasif ke aktif. Gen pasif adalah mentalitas negatif, miskin, bodoh, murah, dan pasrah. Sedangkan gen aktif adalah mentalitas positif, kaya, cerdas, mahal, dan aktif. Harus ada nilai lebih yang dibangun dalam diri kita sebelum kita melakukan perubahan di luar. Gen pasif adalah kondisi penerimaan mental atas stagnasi perubahan. Sedangkan gen aktif adalah kondisi keyakinan bahwa tidak ada yang tidak berubah di alam ini kecuali perubahan itu sendiri.

Buruh meyakini, setiap tindakan mempunyai motif dan tujuan berdasarkan aliran pemikiran tertentu. Namun tata laksana setiap tindakan bisa berubah mengikuti landasan materialnya. Ada prinsip yang dipegang dan ada metode yang fleksibel.

Buruh bisa membedakan dan menegaskan perbedaan wilayah abstrak dan konkret. Wilayah ketuhanan dan mistis tidak menjadi acuan gerak buruh karena itu masuk dalam wilayah abstrak. Problem perburuhan adalah problem sosial. Buruh tidak ditugaskan untuk meneliti niat seseorang atau perusahaan. Yang dilihat dan dinilai hanyalah tindakan konkretnya.

Kesadaran Sosial

Banyak buruh menganggap bahwa hubungannya dengan perusahaan adalah masalah pribadi, murni antara pencari kerja dan pemilik lapangan pekerjaan. Semua masalah diletakkan pada masalah psikologis. Sehingga, dalam kondisi apa pun, sulit membuat buruh bisa berdiri setara dengan pemilik modal.

Padahal, pemilik modal, buruh, dan produksi adalah sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisah begitu saja. Kondisi nyatanya adalah masalah sosial. Tidak ada proses produksi yang tidak melibatkan buruh. Sehingga peralihan kesadaran dari personal ke komunal, mengubah konteks psikis ke ranah sosial, adalah pembentukan dan penguatan sistem dalam diri buruh.

Kesadaran sosial meniscayakan kebutuhan untuk saling memperkuat jaringan komunitas. Kesadaran ini membantu menyebarkan distribusi pendapatan sehingga setiap komunitas mempunyai daya tahan yang sama. Dalam bahasa lain, komunikasi nyata antara kelompok yang mampu kepada yang tidak mampu adalah derma.

Derma membuat setiap penerima berdaya dan bisa melakukan aktivitas ekonomi. Derma juga sebuah pengakuan bawah sadar bahwa keuntungan dan kemakmuran yang mereka raih bukanlah murni usaha mereka sendiri. Derma bisa semacam pemberian royalti atas butiran keringat buruh.

Kesadaran Gender

Kesadaran sosial juga berhubungan dengan bagaimana memperlakukan perempuan buruh. Selama ini baru dipahami bahwa perempuan adalah sebuah organisme yang berbeda dengan jenis lainnya, yaitu laki-laki, yang mempunyai ciri pembeda pada aktivitas reproduksi, yaitu hamil dan melahirkan, yang bisa disebut sebagai perbedaan kodrati.

Kecuali masalah reproduksi, tidak ada perbedaan signifikan dalam dimensi intelektual, spiritual, dan emosional antara laki-laki dan perempuan. Pada wilayah abstrak ini, kemampuan jenis perempuan dan laki-laki adalah sama. Untuk pintar hanya mensyaratkan kerajinan dan ketekunan. Untuk menjadi spiritualis, hanya membutuhkan perenungan dan refleksi yang mendalam tentang kuasa dan kebesaran Tuhan. Untuk mempunyai emosi yang stabil hanya membutuhkan empati dan interaksi intens dengan lingkungan sekitar.

Dengan demikian, hubungan kedua insan wajib dilandasi komunikasi yang sejajar, egaliter dan transparan. Bahasa sosialnya kontrak sosial. Tidak ada tendensi superioritas dan inferioritas pada salah satunya. Semuanya murni pembagian kerja teknis. Hal ini penting dikatakan mengingat hingga kini masih ada praktik-praktik dengan bumbu teologis dan kultural yang menyudutkan dan mengorbankan perempuan.

Dalam hubungan industrial, kontrak sosial adalah kemestian dalam setiap komunikasi. Bahwa ’kerja’ tidak akan terjadi apabila tidak ada ganjaran/upah (berapa nominal yang akan diterima dalam suatu waktu tertentu) dan batasan kerja (berapa jam dan ngapain aja). Maka wilayah nrimo, pasrah dan ikhlas yang sering terjadi seperti dialog ”terserah bapak/ibu/perusahaan saja mau berapa menggaji saya” atau ”saya tidak menuntut upah. Saya cukup berterima kasih diterima kerja di sini”.

Dialog di atas bukan kontrak sosial karena menghilangkan basis material dan sosiologisnya. Dialog yang menekankan sisi abstrak/teologis dengan parameter keikhlasan merusak tatanan kemanusiaan. Ia memaksa orang untuk menerima wilayah privat yang sebenarnya adalah urusan pribadi dia dengan Tuhannya masing-masing.

Kita tidak bisa menjaga atau memfilter motivasi di balik hubungan kerja antara perempuan dan industri. Motif menafkahi keluarga (anak sekolah, membantu suami) dalam diri seorang perempuan buruh adalah privat. Industri yang ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya adalah juga wilayah privatnya. Kontrak sosial menjadi alat penindasan ketika wilayah-wilayah privat ini dikonfrontasikan sehingga hanya dimenangkan pemilik modal.

Maka menjadi penting memformat kesadaran setiap individu perempuan sebelum kontrak sosial dilakukan. Kesadaran bahwa dirinya adalah manusia bebas, bukan bagian dari kelas batu (yang hanya benda mati dan objek pasif), bukan dari kelas tumbuhan (benda hidup dan objek pasif), dan tidak juga dari hewan (benda hidup, subjek pasif/instingtif) sangat menentukan nilainya di mata industri. Semakin lemah konsep pengetahuannya, semakin rentan pula posisinya di hadapan pemilik modal.

Haid, melahirkan dan menyusui bukan sekadar persoalan privat, bukan pula wilayah yang bisa dinegosiasikan sehingga industri bisa berlepas tangan begitu saja. Ketiga hal itu adalah satu organisme yang menyeluruh dalam diri perempuan buruh, jauh sebelum kontrak kerja formal dilakukan.

Dengan kata lain, segala problem biologis khas perempuan buruh adalah tanggung jawab industri. Setiap darah yang keluar dalam tubuh perempuan adalah bagian dari proses industrial.

Kesadaran Budaya

Kesadaran konteks budaya, mengubah diri buruh yang masih bergelayut mental feodal ke mental egaliter. Saat rezim penguasa membatasi aktivitas pengorganisasian, buruh punya momentum perlawanan. Perasaan tertindas dan kesadaran jaringan membuat aktivis buruh punya militansi yang kuat. Namun setelah Orde Baru runtuh dan keterbukaan merebak di mana-mana, organisasi buruh tumbuh pesat bak cendawan di musim hujan. Tapi musuh bersama lenyap, pada saat yang sama jumlah anggota membludak dan program-program aksi tidak lagi punya greget.

Maka, problem alamiah organisasi gemuk pun muncul: konflik antarorganisasi, sengketa antarpengurus, dan disorientasi gerakan bisa membuat serikat buruh menjadi rezim kapitalis baru. Inti masalahnya terletak dari hierarki kelas yang masih menempel dalam alam bawah elit pengurus sehingga organisasi menjadi alat pengeruk dana yang efektif dari buruh anggota dan lembaga donor. Kesadaran konteks budaya ditandai dengan perubahan hierarki kelas menuju delegasi partisipatif. Tidak ada pengurus dan anggota, tidak ada elit dan alit: Kita semua adalah buruh, titik.

Kesadaran Ekonomi

Kesadaran konteks ekonomi adalah mengubah sikap dari miskin ke kaya. Dalam paradigma sosial yang konkret, perbedaan dua realitas meniscayakan kontradiksi-kontradiksi permanen yang menciptakan kelas penindas dan tertindas. Dalam hubungan industrial, kelas buruh dilemahkan vis-à-vis kelas korporat yang kuat. Permasalahan muncul karena sikap pasrah dan determinis yang tidak pada tempatnya. Sampai kapan pun pengemis tidak punya posisi tawar. Buruh yang sadar adalah mereka yang punya usaha keras, tidak percaya pada takdir-takdir material, dan berorientasi pada sikap pemberi.

Kemandirian bertindak tidak boleh dihambat oleh faktor-faktor material. Salah satu penghambat material yang paling nyata berkenaan dengan logistik. Dengan ancaman logistik pulalah perusahaan menahan kepentingan buruh. Logistik menjadi penting karena tidak semua komponen buruh punya ideologi yang kuat, daya juang tinggi menghadapi blokade dari perusahaan. Dan, memang, ada pula buruh yang bergerak murni dorongan logistik semata.

Dengan demikian, pengadaan logistik yang paling memungkinkan adalah unit usaha mandiri yang dikelola secara kolektif dalam bentuk koperasi. Sebagai sistem usaha logistik bersama, koperasi berguna sebagai sumber penghasilan di luar pekerjaan pokok (passive income). Artinya uang yang didapat dari hasil investasi tanpa perlu mengurangi aktivitas kita di serikat.

Tiada sistem dagang yang bisa mengalahkan sistem koperasi. Termasuk perusahaan sebesar apa pun. Musuh utama koperasi hanya satu: kehendak untuk mencari untung sendiri secara instan, sifat egois, ingin menguasai sendiri jalur distribusi dan produksi. Semua ini ada dalam mental pengurus koperasi.

Bila kita tidak punya modal yang cukup untuk memulai usaha, setidaknya manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mengasah pengetahuan dan ketrampilan diri. Kata Imam Hazairin, mengasah pengetahuan (knowledge) dan ketrampilan (skill) adalah sebuah kemestian karena suatu saat kita akan dihadapkan pada situasi di mana tidak ada yang lebih berharga kecuali pada apa yang bisa dikerjakan oleh kedua tangan kita. Knowledge is power.

Kesadaran Politik

Wilayah mana dalam kehidupan sosial kita yang lepas dari aktivitas politik? Tidak ada. Semua hal yang berhubungan dengan kontrak sosial adalah politik, terlepas dari apakah buruh tidak sadar atau tidak peduli dengan hal itu. Bila demikian, apakah yang bisa diharapkan leih jauh dengan posisi buruh yang personal di hadapan sistem regulasi, modal dan senjata yang berlimpah?

Sampai kapan pun, buruh tidak akan mampu melawan mereka. Gerakan protes yang buruh lakukan cuma mampir di telinga kiri perusahaan dan negara untuk selanjutnya keluar dari telinga kanan. Di beberapa perusahaan yang bebal lagi ndablek, pesan dan aspirasi buruh tidak pernah masuk ke telinga pengusaha. Proses komunikasi bukan lagi dialog, tapi seperti pengemis kepada majikan. Dengan kondisi yang mentok di sana dan terjepit di sini, tiada lagi harapan yang bisa dicapai kecuali melalui revolusi buruh.

Puncak Kesadaran Diri

“Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved.”

[Karakter tidak bisa berkembang dengan mudah dan cepat. Hanya melalui pengalaman ujian dan penderitaanlah jiwa bisa diperkuat, visi diperjelas, ambisi diilhami dan keberhasilan teraih]

–Helen Keller (1880-1968)

Dengan semua wilayah kesadaran yang harus dikuasai buruh agar bisa melakukan perubahan yang optimal, setidaknya bisa disimpulkan bahwa ada dua bidang besar yang menjadi perhatian buruh, yaitu bidang internal dan eksternal buruh.

Untuk wilayah internal, kesadaran melahirkan sebuah keyakinan. Satu-satunya cara untuk mengubah secara permanen dunia luar kita adalah mengubah dunia dalam kita. Kita tidak melihat dunia seperti yang seharusnya, kita hanya melihat dunia seperti yang kita mau lihat. Kita hanya akan melihat berdasarkan keyakinan, bukan kenyataan.

Hanya tindakan yang dilakukan sesuai dengan keyakinan yang mendominasi pikiran dan hati, akan membuahkan hasil. Keyakinan yang utuh, hasil dari proses reflektif yang panjang dan teruji di lapangan dasar, akan melahirkan sebuah karakter yang nantinya menjadi cermin bagi buruh lain.

Untuk wilayah eksternal, kesadaran sistem berhubungan dengan regulasi (sistem yang menaungi seluruh berjalannya proses produksi, aparat (orang yang berwenang menjaga keamanan aset dan ketertiban kerja), modal (kapital yang bergerak dan menjadi sumber pendanaan), objek (buruh yang menjalankan roda produksi dengan imbalan upah) dan logistik (barang konsumsi untuk komunitas buruh).

Seringkali kesadaran buruh hanya terhenti pada dua hal: kesadaran posisinya sebagai objek dan regulasi yang mengikat buruh. Seolah-olah yang membebani buruh hanyalah peraturan perburuhan, bukan pada bagaimana bergeraknya modal, beking aparat, dan daya tahan buruh menghadapi perlawanan. Dalam hal ini, kesadaran seperti ini masih dalam tahap ketidaksadaran.

Di alam ini tidak ada sesuatu yang tidak bisa diubah, termasuk sistem perburuhan. Selama kita bisa memandang perusahaan sebagai sebuah kumpulan manusia, maka perubahan bisa terjadi tanpa kekerasan. Jalur negosiasi, lobi dan rapat internal perusahaan wajib ditempuh. Karena konflik sering terjadi murni karena salah komunikasi sehingga menimbulkan miskomunikasi, persepsi keliru, tuduhan, dan tindakan kekerasan. Yakinkan sampai batas optimal bahwa perusahaan memang telah berbuat sewenang-wenang. Apabila segala mediasi berjalan buntu, barulah aksi yang lebih keras dilakukan.

Kini kita sedikit menyadari tentang siapa diri kita yang sesungguhnya. Dan kesadaran ini adalah awal dari tindakan yang lebih besar… []

Komentar»

1. himpunanmahasiswaislam - September 6, 2008

Pertamaxxxx !!!
Komentar dulu baru baca… Abis baca ntar komentar lagi…
yang pertama ini komennya dengan sedikit kesadaran…😀

2. blogict - September 6, 2008

sedih ya… aku juga capek jadi buruh….
harus jadi buruh yang sadar ya?…
ok… dicerna sdikit2…

3. Himpunan Mahasiswa Islam - September 6, 2008

kok komenku gak masuk ya….
Bang…. komentarku gak muncul euy….
Apa karena blog ini menerapkan diskriminasi terhadap buruh sepertiku…
Kumaha ieu teh… ?
Panjang bang tulisannya… Komplit banget kayaknya😀

4. Muda Bentara - September 7, 2008

ya, saya setuju …setiap perbuatan itu pastilah selalu berguna…walaupun itu cuma kesederhanann

5. yunik - September 8, 2008

curhat ahh…lebaran tahun ini saya HARUS ngantor (bukan karena pekerjaan saya yang mengharuskan, semata-mata karena ‘keadilan’ yang dipersepsikan spv saya, yang menurutnya pegawai kontrak dibawah 1 th belum berhak dapat libur, termasuk untuk solat ied dan kumpul sama keluarga). Begitulah nasib buruh rendah, yang harus dilawan adalah buruh juga. Buruh yang nggak pernah ngadain mekanisme rapat dalam mengambil keputusan, dan perasaan senioritasnya. Sementara merasionlisasikan keputusan resign kepada keluarga juga tidak kalah ruwet…lengkap sudah dillema keburuhan saya

6. Arif Giyanto - September 8, 2008

Itu kan sama aja, dulu kalo anak-anak demo Turunkan Rektor, trus dihadang sama satpam yang udah kita sangat kenal. “Mas dan Mba HMI mbok jangan gitu dong. Saya kan butuh kasih makan anak-istri saya,” pintanya.

Siapa yang ngga belingsatan dilontarin kalimat begitu. Betapa kita ngerasa salah besar atas semuanya.

Kesadaran buruh secara kolektif tentu sangat sulit. Tapi sangat mungkin disisihkan satu dua hingga 10 orang yang tak terlalu merinding bila digertak, “Niat kerja di sini, ngga?!! Kalo mau keluar, di luar sana udah banyak yang ngantri.”

Meski kita tahu, kalimat itu ngga enak didengar, tapi saat kita tahu, HRD juga buruh yang senasib–karena distribusi pekerjaan–maka semua kembali absurd.

Suatu saat, pasti ada uswah penting tentang berkumpulnya beberapa orang untuk kemudian ‘melatih diri’ tak sungkan tersenyum di depan kekacauan sistem kapital. Dan ada yang bilang, “Kapitalisme??! Ngga segitunya kaleeee.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: