jump to navigation

Buruh Terhegemoni September 1, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback


“…there’s a disconnect between public and private morality. What corporations and governments do (ruining people’s retirement funds, killing an enemy en masse) is unthinkable for the individual. Few societies have successfully bridged this gap. The only answer I can come up with is that only consciousness can prevail. When you find yourself having to make a difficult moral choice, your choice comes intuitively. One person automatically resorts to violence, another automatically resists violence. In the larger scheme this doesn’t mark the difference between good and bad. It marks the stages of evolution that consciousness has always gone through and will continue to.”

[…Ada keterputusan antara moralitas publik dan individu. Apa yang korporasi dan pemerintah lakukan (pembangkrutan dana pensiun masyarakat, pembunuhan massal) tak terpikirkan oleh individu. Segelintir masyarakat berhasil menjembatani kesenjangan ini. Satu-satunya jawaban yang bisa kuberikan hanyalah kesadaran yang merata. Ketika Anda dihadapkan pada sebuah pilihan moral yang sulit, pilihan Anda muncul secara intuitif: apakah memilih kekerasan ataukah melawan kekerasan. Dalam tataran yang lebih luas, hal ini tidak menandai perbedaan antara baik dan buruk. Ia menandai tahapan-tahapan evolusi bahwa kesadaran senantiasa menembus dan terus berlanjut.]

–Deepak Chopra, The Amorality of the Free Market


Kita, sebagai buruh, sadar bahwa nasib kita lebih dekat ke buntung daripada untung. Kita tidak punya masa depan yang jelas karena rekening kita nol. Gaji yang kita terima amblas dalam hitungan hari. Tengah bulan, kita antri kasbon ke bagian keuangan atau pinjam uang di koperasi. Buruh laksana pekerjaan determinan, sekadar mengisi waktu hingga ajal menjemput kita. Profesi ini memang tidak membanggakan.

Dengan semua kondisi ini, mengapa kita terus berdiam diri atas segala penindasan yang kita terima? Apalagi yang harus kita pertahankan? Sadarkah kita dengan kekuatan buruh? Apakah kita mengenal diri kita sendiri? Seberapa jauhkah?

Mari kita urai.

Pemahaman kita tentang realitas sosial, kenyataan keseharian, mendasari tindakan kita. Kita tidak bisa lepas dari realitas. Pengingkaran atas satu realitas menjebloskan kita ke dalam realitas yang lain.

Ketika kita menolak atau tidak menerima kondisi hidup miskin dan tertindas seperti sekarang ini, pada dasarnya kita mengingkari realitas kemiskinan kita. Solusinya, kita bekerja sekeras mungkin, menabung dan berinvestasi; merampok nasabah bank; berkhayal menang lotere; bersikap sentimentil dan dengki kepada setiap orang yang mapan; atau malah stres, putus asa, dan bunuh diri di tiang bendera.

Kita sadar, menyikapi suatu problem mensyaratkan alternatif realitas yang sejajar pula. Problem itu hadir untuk dihadapi dan diselesaikan, bukan didiamkan saja sambil berharap menguap atau disikapi secara emosional. Manusia yang hebat berani menghadapi problem realitasnya.

Bagaimanakah bertindak dan menyikapi realitas dengan cara yang benar?

Borjuis dan Proletar

Setiap orang berusaha memperoleh kehidupan yang cukup. Tapi tidak semua orang menanggapinya dengan benar. Segelintir orang menyiasatinya dengan menjalankan suatu bisnis, dan berhasil. Bukan sekadar cukup, malah ia menjadi makmur dan sejahtera. Perusahaan berkembang pesat dan diperkuat sistem. Kita kenal mereka sebagai kelas borjuis.

Kita mulai berhubungan dengan kelas borjuis ketika bekerja di perusahaan mereka. Sebelumnya, kita tak tahu apa itu jam kerja, peraturan kantor, pengupahan, serikat buruh. Diterima bekerja saja sudah syukur.

Ternyata dunia yang kita hadapi tidak sesederhana yang kita kira. Kenyataan berbicara lain. Selalu saja ada sekelompok manusia yang ingin menguasai manusia lain dan berupaya mempertahankan kekuasaannya selama mungkin. Mereka tidak membiarkan hak istimewa dan kapital mereka beralih kepada kelompok lain. Siapakah mereka? Kaum borjuis, pemilik perusahaan.

Tentu saja ada kelompok lain yang tertindas. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk hidup normal. Keringat mereka diperas demi kepentingan kelompok mapan. Kelompok tertindas ini disebut proletar. Kita, buruh, masuk dalam kelompok ini.

Pemilik perusahaan hanya tahu kewajiban produksi. Pelanggaran quota berakibat pada pemutusan kontrak kerjasama dengan perusahaan pemberi order. Pemilik menyerahkan sistem produksi kepada manajemen. Manajemen menginstruksi bawahannya yang kemudian mengawasi buruh di hierarki terbawah dengan ketat.

Peraturan perusahaan membuat buruh tidak punya waktu senggang. Manajemen menilai, waktu senggang buruh adalah pemborosan karena waktu senggang = tidak bekerja = tidak ada uang masuk ke kas perusahaan. Selama bekerja buruh dilarang mengerjakan segala aktivitas yang tidak terkait dengan perusahaan. Profit oriented membuat mata hati mereka tertutup. Buruh dibatasi untuk kencing, buang hajat, sembahyang, melahirkan, makan, dll. Terlalu lama di toilet dapat berimplikasi pada pemotongan honor.

Hegemoni bisa juga terjadi pada komunikasi. Di perusahaan, komunikasi adalah bahasa lain dari instruksi. Tidak ada obrolan dua arah yang sejajar. Semuanya monolog. Komunikasi yang macet secara lambat laun akan merusak dinamika kerja. Berikut adalah contoh bagaimana hegemoni masuk dalam komunikasi antarburuh.

Direktur di Kantin Gerhana

Berikut adalah sebuah cerita tentang bagaimana sebuah pesan dikomunikasikan secara hirarkis dalam sebuah perusahaan, dari Direktur hingga ke karyawan bawahan.

*Dari: Direktur – Kepada: General Manager. Pesan:

“Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari. Untuk menyambut dan melihat peristiwa langka ini, seluruh karyawan diminta untuk berkumpul di lapangan dengan berpakaian rapi. Saya akan menjelaskan fenomena alam ini kepada mereka. Bila hari hujan, dan kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, kita berkumpul di kantin saja.”

*Dari: General Manager – Kepada: Manager. Pesan:

“Sesuai dengan perintah Direktur, besok pada jam sembilan pagi akan ada gerhana matahari total. Bila hari hujan, kita tidak bisa berkumpul di lapangan untuk melihatnya dengan berpakaian rapi. Dengan demikian, peristiwa hilangnya matahari ini akan dijelaskan oleh Direktur di kantin. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”

*Dari: Manager – Kepada: Supervisor. Pesan:

“Sesuai dengan perintah Direktur, besok kita akan mengikuti peristiwa hilangnya matahari di kantin pada jam sembilan pagi dengan berpakaian rapi. Direktur akan menjelaskan apakah besok akan hujan atau tidak. Ini adalah kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”

*Dari: Supervisor – Kepada: Koordinator. Pesan:

“Jika besok turun hujan di kantin, kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari, Direktur, dengan berpakaian rapi, akan menghilang jam sembilan pagi.”

*Dari: Koordinator – Kepada: Semua Staff. Pesan:

“Besok pagi, pada jam sembilan, Direktur akan menghilang. Sayang sekali, kita tidak bisa lagi melihatnya setiap hari.”

*Dari: Staff kepada Staff. Pesan:

“Memang dia lebih baik pergi…”

Giliran Hegemoni

Sebuah teori mengatakan, titik puncak penghisapan adalah perlawanan kaum tertindas melawan kelas penindas. Binatang saja menggigit bila disakiti. Apalagi manusia.

Membangkitkan satu revolusi itu mudah. Menyulut kerusuhan sosial tidak sulit. Apalagi mengajak kaum tertindas yang sakit hati jiwa dan raga. Sebagian besar orang miskin yang kelaparan rela menyerbu toko makanan. Mereka hanya punya dua pilihan: makan atau mati. Mereka melawan kelompok borjuis dengan sepenuh hati, dengan segenap kebencian dan selaksa sumpah serapah.

Setelah semua ini terjadi, lalu apa?

Ketika kelas borjuis runtuh, berkuasalah kaum proletar yang menaikkan harkat dan martabat kaum tertindas. Kekuasaan milik rakyat dan akan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Begitulah slogan awalnya. Benarkah?

Perlu dipahami, perilaku seseorang adaptif dengan situasi dan kondisi. Kaum proletar berteriak anti kemapanan karena mereka belum mencicipi hidup mapan dengan kekuasaan dan harta berlimpah. Setelah mereka merebut singgasana kaum borjuis, perilaku mereka pun tidak ubahnya seperti kelas yang mereka runtuhkan itu. Jadilah pemerintahan diktator proletar. Kadangkala mereka memobilisasi dan mengatasnamakan masyarakat sebagai afirmasi. Revolusi tanpa batas membuat mereka menggunakan hukum semaunya dan mengenyampingkan hak-hak asasi manusia.

Artinya, perubahan kelas tidak menandakan berakhirnya ritus penindasan.

Nilai Hegemoni

Hegemoni ditandai oleh sakralisasi atau penambahan suatu nilai atas suatu realitas yang dilakukan oleh struktur atas, kelas yang mapan, kepada struktur rendah, kelas yang rapuh. Tujuannya, menaikkan posisi tawar sekaligus melemahkan perlawanan dan gugatan dari pihak struktur rendah.

Dengan suatu cara tertentu, penguasa mengkondisikan bahwa apa-apa yang mereka lakukan bernilai benar, kuat, wajar, dan tentu saja sakral. Penguasa dapat memaksimalkan rantai birokrasi yang panjang untuk mengendurkan perlawanan, sekaligus menyedot uang masyarakat. Mereka tidak peduli berapa inefisiensi biaya akibat birokrasi yang panjang, asalkan tercipta stabilitas politik. Untuk mereduksi perlawanan, pengusaha juga membangun sentra-sentra kegiatan dan komunitas, sehingga aspirasi dapat teredam dengan sendirinya. Selain itu, mereka juga memanfaatkan aparat untuk memberikan tekanan psikologis dan fisik kepada siapa pun yang mencoba beroposisi.

Proses hegemoni yang berlangsung secara terus-menerus menghasilkan tradisi hegemonik yang akan berjalan otomatis. Mekanisme pengawasan dijalankan oleh swadaya masyarakat sendiri. Setiap orang merasa punya kekuasaan. Itulah mengapa hansip penjaga acara resepsi di perkampungan berlagak seperti penguasa wilayah. Tidak sembarangan orang melewati jalan itu tanpa seizinnya.

Hegemoni Perusahaan

Hegemoni juga terjadi di dalam perusahaan. Sejak pertama kali masuk kerja, seorang buruh baru ditanamkan rasa hutang budi kepada perusahaan tersebut. Rasa syukur Buruh tidak akan menuntut hak-haknya yang wajar. Segala bentuk aturan dimaknai sebagai konsekuensi yang mesti diterima dan dijalani. Alasan lazimnya, ”Masih untung saya masih diterima bekerja di tempat ini.”

Dengan kondisi ’menang sebelum bertanding’, perusahaan lapang hati mengeksploitasi waktu-waktu produktif buruh. Manajemen memberi wejangan tentang indahnya bekerja yang tulus dan giat tanpa menuntut pamrih. Bekerja tanda ketaatan pada kontrak karya. Sedangkan ’pamrih’ (baca: gaji, tunjangan, bonus) murni kebaikan manajemen.

Sehingga tidak ada pelanggaran kecuali kesalahan buruh. Setiap saat buruh dituntut untuk produktif. Pada saat yang sama perusahaan tidak mau tahu bagaimana buruh mencapai prestasi tersebut. Manajemen menilai, menunjukkan kebaikan tanda kelemahan. Buruh tidak boleh dikasihani. Buruh memang dibayar untuk diperas dan dimaki. Mengeluh terhadap sistem kerja yang eksploitatif? Manajemen malah menambah dan memperberat aturan. Hukuman dianggap sebagai solusi, bukan dialog untuk mendapatkan saling pengertian.

Demi menghindar dari hukuman sekaligus menimba iba, individu buruh mendekati atasan secara pribadi. Dengan menjalin hubungan privat, diharapkan bukan saja jaminan pekerjaan, buruh malah memperoleh fasilitas dan hadiah.

Buruh yang menjilat cenderung mementingkan diri sendiri. Mereka juga tidak terlalu peduli dengan nasib rekan-rekan yang lain. Tentu saja manajemen sangat menanti kondisi ini. Dengan komunikasi fait-accompli, manajemen mudah mengadu domba antarburuh.

Pecah belah

Hidup perusahaan bergantung pada jalannya mesin dan ketaatan buruh. Bila roda mesin berhenti berputar, kerugian terbesar niscaya diderita perusahaan. Perusahaan menyadari betul efek yang akan terjadi jika buruh punya serikat dan ideologi yang solid. Mereka punya banyak sarana untuk memecah belah soliditas buruh. Mulai dari pendekatan persuasif, membujuk, menawarkan hadiah, uang, hingga jabatan kepada tokoh buruh, hingga kampanye busuk kepada antarburuh agar curiga-mencurigai.

Demi menghindari pergolakan yang merusak citra dan mengurangi laba perusahaan, pihak manajemen menyediakan ruang pelepas stres dengan membangun berbagai sarana kesenian, olahraga, hingga program rekreasi. Diharapkan muncul rasa sayang dan toleran yang tinggi terhadap perusahaan. Efeknya, para buruh kembali menunjukkan produktivitasnya.

Bila masih ada ketidakpuasan atau bentuk protes yang lain, manajemen melokalisir isu sebagai problem pribadi, bukan problem sosial. Ketika ada aksi demonstrasi menuntut perbaikan sistem, perusahaan menyiasati dengan cara lain. Alih-alih menolak mentah-mentah tuntutan buruh, pihak manajemen mendukung aksi tersebut dengan memberikan fasilitas dan bantuan keuangan agar demo tersebut kelihatan menarik dan tidak anarkis. Pada titik inilah perusahaan berhasil memandulkan gerakan buruh.

Tetesan Hegemoni

Bukankah serikat buruh di perusahaan menyuarakan aspirasi? Benar, selama pengurusnya aktif dan punya visi. Bila tidak, serikat hanyalah tempat kongkow segelintir elit buruh yang menghambur-hamburkan iuran anggota dengan tujuan yang tidak jelas.

Amatilah demonstrasi buruh. Kalangan awam melihatnya sebagai perlawanan kaum sosialis. Tapi alam bawah sadar pelaku demonstrasi mungkin berkata, demonstrasi tiada lain ekspresi kebingungan, semacam krisis identitas dari sekelompok buruh. Ia ikut demo karena tidak enak hati kepada rekan-rekannya, atau ingin masuk televisi, atau ingin keluar dari rutinitas kerja. Tentu, sesuai harapan kita semua, lebih banyak lagi buruh yang bergerak dengan tulus karena kesadaran ideologisnya.

Tindakan kita berbeda dengan penilaian orang kebanyakan. Orang-orang sekadar melihat ekspresi permukaan kita. Tapi penilai yang sejati ada pada nurani kita sendiri. Dengan perspektif ini, sebuah aksi demonstrasi tidak menghancurkan neoliberalisme atau praktik kapitalisme di korporasi, tapi justru sebuah upaya pencitraan dan pernghargaan atas praktik kapitalisme. Dengan istilah lain, gerakan buruh yang tidak peka sosial dikondisikan oleh perusahaan atau negara zalim untuk memperkuat mekanisme penindasannya.

Antonio Gramsci mengatakan, supremasi kelompok atau kelas sosial muncul dengan dua cara, yaitu: penindasan (coercion) dan kepemimpinan intelektual dan moral. Tipe kepemimpinan yang terakhir inilah yang merupakan hegemoni. Hegemoni bisa dijalankan oleh siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Praktik hegemoni tidak dimonopoli oleh satu kekuatan melainkan bergradasi dan menyebar ke struktur sosial lain.

Di hadapan penguasa, buruh objek hegemoni, Namun di hadapan keluarganya, buruh pelaku hegemoni. Di pasar, istri kita terhegemoni pedagang. Di jalan raya, pelaku hegemoni bisa supir bis, pedagang yang menghampar dagangan di tratoar, bahkan pengojek motor yang menerapkan tarif sesukanya. Namun kita ketahui bahwa pusat hegemoni dunia ada pada kapitalisme.

Bebas hegemoni

Menghilangkan hegemoni tidak bisa dengan mengemis belas kasihan atau melakukan sesuatu untuk memancing rasa iba. Tidak ada pelaku hegemoni yang sudi melepaskan kekangan hegemoninya. Apalagi bila ia telah banyak berinvestasi untuk meraih posisi sedemikian.

Membongkar segala hal yang mentradisi, mapan dan baku perlu sebuah keberanian serta dasar bagi suatu perubahan yang lebih besar. Apalagi ketika ia berhubungan dengan sistem dan struktur kekuasaan yang lebih luas.

Bagi buruh, membongkar sistem hegemoni mengacu pada sistem dan budaya perusahaan. Penindasan yang berlangsung terus menerus membuat buruh menjadi imun pada perubahan. Mental buruh rusak. Mereka semakin takut menjauh dari perusahaan. Mereka lebih mendamba disakiti daripada lepas sama sekali dari perusahaan.

Tali penindasan akan mengendur bila buruh membongkar segala sakralitas budaya yang tidak mempunyai argumentasi kuat antara perusahaan dengan dirinya. Pembongkaran ini diawali dengan menaikkan terlebih dahulu posisi tawar buruh dalam hal pengetahuan dan ketrampilannya. Dengan memperkuat nilai tambah, barulah buruh mampu berhadapan secara terhormat vis-a-vis superstruktur, dalam hal ini korporasi dan negara.

Buruh harus membongkar mental mindernya. Perusahaan biasanya menunjukkan kepongahannya dengan memamerkan segala kemewahan duniawi untuk membuat minder negosiator buruh. Dengan membongkar mental materialistiknya, buruh tidak silau dengan segala fasilitas dan gaya hidup yang ditawarkan (baca: disogok) oleh perusahaan.

Karenanya, buruh menguatkan solidaritas untuk memutus rantai hegemoni itu bersama-sama. Serikat buruh menampilkan diri sebagai kelas yang layak diperhitungkan sehingga manajemen tidak memandang kita dengan sebelah mata.

Itulah yang kita dambakan. Tapi, apakah semua renungan ini benar? Mungkinkah kita terhegemoni oleh struktur elit dalam lapisan buruh sendiri? Atau, kitakah pelaku hegemoni selama ini? [andito]

Komentar»

1. yunik - September 5, 2008

saya jadi inget tulisan Noam Chomski tentang siapa yang membuat mainstream di perusahaan media seperti kantor saya, dengan stuktur dan genetika perusahaan yang hegemonik seperti diatas, nyaris tidak mungkin berita/produk keluar dari mainstream Bakrie…bisa dibayangkan bagaimana kehidupan berdemokrasi di negara kita ini? jangankan penyadaran dari media, yang ada kebohongan besar… tapi coba kita cari celahnya, mungkin media seperti blogger ini (yang walaupun bukan tandingannya) bisa sedikit menerangi…

2. Arif Giyanto - September 8, 2008

Aku punya kisah nyata. Dulu, sewaktu Abang menyatakan berhenti bicara di LK II, tepatnya saat LK II HMI Malang, dengan kalimat berikut, “Ini konsekuensi perkaderan. Besok-besok, saya hanya akan mengisi LK III. Saatnya kawan-kawan yang lain untuk menggantikan saya.”

Seorang kader HMI Sukoharjo yang ada di dalam ruangan sebagai peserta merasakan ketajaman kalimat itu. Sejak pulang, ia benar-benar buktikan bahwa rasionalisme+mistisisme Islam=hakikat Islam=penguatan masyarakat sipil=wasiat Cak Nur.

Beberapa tahun kemudian, seorang kader Sukoharjo juga hadir di LK II Malang. Kali ini Ir. Moeljo Koerniawan hadir menjelaskan masyarakat madani dengan sedikit beda. Ia bercerita tentang cluster-cluster pertanian di Malang Raya bikinannya. Yang menarik, tak ada akumulasi modal di satu tangan. Ia bikin itu jadi modal bersama. Semoga ia bukan pelaku hegemoni baru. Ia berpesan, “Saya lakukan ini 14 tahun. Memang lama. Tapi, saya harap kader HMI bisa melakukannya.”

Kader HMI Sukoharjo I dan II itu satu komisariat. Kini, setelah dua tesis itu dielaborasi, mereka bertekad untuk berbuat sederhana, tapi menurutku penting. Mereka bertani, beternak, dan berkebun dengan standar, yang bukan kapitalistis. Salah satunya bilang, “Indonesia yang lebih baik itu ada. Semoga kita berhasil.”

Kaya dan miskin memang akan selalu ada. Menurutku, problem kita bukan pada hakikat status yang ternyata berpotensi sama (aku menyebutnya nihilis). Aku setuju cara mereka bertahan. Sederhana saja, ini ikhtiar menghilangkan ketakutan setiap orang atas kekuatan modal besar. Karena mungkin saja ini syirik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: