jump to navigation

Buruh Borjuis September 1, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback


In bourgeois society capital is independent and has individuality, while the living person is dependent and has no individuality.

(Dalam masyarakat borjuis, modal itu mandiri dan punya kepribadian, sementara orang hidup bergantung dan tidak punya kepribadian)

–Karl Marx (18181883)

Siapakah musuh buruh yang sebenarnya?

Sejak bergabung dengan serikat buruh, kita didoktrin untuk memusuhi kapitalisme. Kapitalismelah pembuat kesenjangan yang parah antara buruh dengan alat produksinya. Kapitalisme penyebab orang kaya semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Ada selisih biaya dan keuntungan yang tidak wajar yang dinikmati oleh pemilik modal. Mereka mendapat laba berlipat ganda tanpa berkeringat setetes pun. Laba mendatanginya setiap saat, bahkan dalam kondisi tidur. Banyak motivator bisnis menekankan pentingnya meraih kondisi tersebut. Namanya passive income, saat di mana uang bekerja sendiri untuk tuannya.

Sedangkan buruh cuma tungku kapitalisme. Buruh tidak mampu membeli barang buatan mereka sendiri karena harganya lebih mahal dari gajinya satu bulan. Upahnya sendiri tidak sesuai dengan kerja kerasnya. Karena itulah kapitalisme harus dimusnahkan.

Demikianlah doktrin antikapitalisme dinyanyikan terus menerus oleh kelompok serikat buruh. Hingga pada satu titik mereka membenci segala perilaku orang-orang yang mapan. Dalam kacamatanya, setiap yang mapan pasti kapitalis; kekayaannya pasti hasil dari menindas.

Dengan pikiran sederhana, kita bisa katakan, seandainya kapitalisme memang sebuah ideologi yang kejam dan menghisap, maka ideologi ini dengan sendirinya akan mendapatkan banyak musuh dan akan dijauhi beramai-ramai. Banyaknya orang yang mengutuk menunjukkan betapa buasnya sistem tersebut. Sampai-sampai Ken Livingstone berkata,World wide capitalism kills more people everyday then Hitler did. And he was crazy.” (Kapitalisme dunia membunuh banyak orang setiap hari ketimbang yang Hitler perbuat. Dan dia itu gila).

Masalahnya, memusuhi sesuatu tanpa mengetahui dengan jelas apa dan bagaimana sesuatu itu sungguh berbahaya. Selain karena kita tidak mengetahui siapa yang kita hadapi sesungguhnya, kita juga sangat mungkin berpikir dan bertindak sebagaimana yang musuh jalankan. Ketidaktahuan kita tentang hakikat kapitalisme dapat menjebloskan kita pada lubang kapitalisme itu sendiri.

Di permukaan, seolah-olah kita memusuhi kapitalisme dengan penuh keyakinan dan kesungguhan hati. Segala teori dan simbol budayanya kita bantai. Namun, jangan-jangan, setelah sel-sel pikiran kita diurai satu persatu, kitalah pendukung kapitalisme yang sejati.

Lahir alamiah

Kapitalisme beroperasi dengan prinsip ekonomi, mencari laba sebanyak mungkin dengan usaha sesedikit mungkin. Bahkan bila perlu menggunakan tenaga dan modal orang lain. Dalam hal ini, kapitalisme terkait erat dengan konsep awal manusia dan pekerjaannya.

Bekerja merupakan aktualisasi manusia. Kita hanya tahu bahwa makhluk hidup itu harus bergerak dan bekerja untuk bertahan hidup. Dari bekerja kita mendapatkan upah, alat tukar untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok.

Kita sadar usia, kesehatan, dan kemampuan fisik terbatas. Kita tidak mungkin bekerja terus menerus. Belum lagi kejadian tak terduga yang membutuhkan biaya besar. Maka kita memutuskan menyisihkan sebagian pendapatan ke tabungan dan menginvestasikan sebagian yang lain.

Tidak ada manusia yang tidak ingin hidup sejahtera. Setidaknya berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan dan gaya hidupnya. Sebagaimana definisi kaya menurut Anthony Robbins, “Mengeluarkan lebih sedikit daripada yang diterima dan menginvestasikan selisihnya; lalu menginvestasikan kembali hasilnya untuk pertumbuhan bunga berbunga hingga mencapai jumlah yang massif; investasi yang massif inilah yang dapat menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai gaya hidup yang kita inginkan.”

Akumulasi Keringat dan Modal

Adakah pihak yang kita rugikan? Tidak ada.

Tidak ada?

Akumulasi dari modal massif kita jadikan perusahaan. Kita jalankan roda bisnis seefektif dan seefisien mungkin agar meraih laba. Efektif dari segi waktu dan efisien dari segi biaya produksi, termasuk gaji buruh. Gaji buruh tidak perlu besar, karena itu adalah pemborosan, kita sulit kompetitif. Lagipula dengan gaji yang minim pun mereka cukup produktif.

Kita orang yang praktis, hanya mengurus bisnis.

Sebagian besar anak buah kita buruh kontrak selama dua tahun. Bila kinerjanya baik, kontraknya diperpanjang setelah mereka diistirahatkan dahulu di rumah. Bila kinerjanya jelek, kontrak tidak diperpanjang, dan kita segera mencari tenaga kerja baru. Untuk jenis pekerjaan tertentu, kita memakai tenaga outsourcing. Alasan umumnya, kita ingin menghemat tempat usaha dan tidak ribet mengurusi masalah personal mereka.

Buruh tetap kita hanya beberapa tenaga administrasi. Kita tidak ingin dipusingkan dengan pesangon, pensiun, dan segala tetek bengeknya. Bagi kita, itu biaya di luar urusan bisnis. Bolehlah sekadar uang bonus, hadiah atau ucapan terima kasih.

Tentu perusahaan kita juga mengkopi pola marketing yang standar: fokus pada produk, membuat nilai tambah, mencari momentum yang tepat untuk menggelar dagangan, dan memperkuat brand.

Singkat cerita, perusahaan kita membesar.

Perusahaan kita mengakuisisi beberapa perusahaan sejenis yang bermodal cekak dan tidak pintar mengelola manajemen. Demi bersaing di tingkat global, kita kembangkan usaha dengan cara merger dengan perusahaan lain. Kita butuh tambahan modal dan manajemen yang solid untuk ekspansi. Banyak pihak yang tertarik dengan usaha kita, maka kita ciptakan pola waralaba (franchise).

Kondisi di atas bisa dimisalkan dengan humor berikut. Seorang pengusaha ditanya wartawan bagaimana kiat suksesnya, punya banyak perusahaan, rumah dan deposito jutaan dolar. Sang pengusaha menjawab ringan, “Rahasianya mudah. Anda beli barang seharga seribu rupiah. Anda jual 25 ribu rupiah. Sehari Anda berhasil menjual 2000 buah. Dalam setahun Anda akan untung Rp17 milyar. Dan Anda akan jadi orang kaya..” Wartawan: … [hanya bisa melongo].

Di tengah kesibukan bisnis, kita tetap tunaikan kewajiban agama. Kita sisihkan sedikit laba untuk membantu lembaga keagamaan dan menyantuni anak-anak yatim. Agama mengajarkan, Tuhan menyayangi hamba yang mengasuh anak yatim. Tuhan menerima doa anak-anak yatim. Terbukti rezeki kita moncer. Lagipula, menderma atas nama perusahaan bagus untuk pencitraan publik.

Dengan pengalaman ini, kita bisa meletakkan masalah sengketa eksistensi antara buruh dan korporasi, sosialisme dan kapitalisme, secara proporsional.

Jadi, apa yang salah dengan sistem ini?

Kapitalis Alamiah

Historically and politically, the petit-bourgeois is the key to the century. The bourgeois and proletariat classes have become abstractions: the petite-bourgeoisie, in contrast, is everywhere, you can see it everywhere, even in the areas of the bourgeois and the proletariat, what’s left of them.

[Secara historis dan politis, borjuis-kecil adalah kunci bagi abad tersebut. Kelas proletar dan borjuis telah menjadi kontras. Borjuis-kecil ada di mana-mana. Anda bisa melihatnya di mana-mana. Bahkan dalam area-area borjuis dan proletar, apa saja yang tersisa dari mereka]

Roland Barthes (19151980)

Menurut kita, para pengkritik kapitalisme tidak melihat dengan bijak bahwa kapitalisme adalah hirarki puncak ekonomi manusia dari sebuah simbiosis manusia pekerja dengan pemilik modal. Alih-alih musuh kapitalisme, buruh adalah kelas terendah dalam sistem produksi yang sedang berproses menuju kelas kapitalis baru. Tiada perbedaan yang signifikan antara pengusaha dan buruhnya. Keduanya sama-sama mendambakan kesejahteraan. Hanya saja pengusaha mencapainya lebih dulu. Beberapa waktu kemudian akan disusul oleh buruh. Bukankah ini cuma masalah waktu?

Kesejahteraan adalah tujuan semua jenis manusia. Orang yang paling sejahtera adalah mereka yang berjuang lebih keras, giat, tekun, dan fokus sehingga ada nilai tambah dalam hasil pekerjaannya dan bisa membuat faktor kali dalam produksinya.

Bandingkan dengan orang biasa yang merasa cukup dengan pekerjaannya. Ia bekerja seadanya sehingga memperoleh hasil yang juga sekadarnya. Bagi para petani subsisten, profit mengharuskan kerja tambahan, dan kerja tambahan berarti berkurangnya waktu untuk melakukan hal-hal lain, misalnya bersenang-senang dan bercengkrama dengan keluarga. Tapi itulah risiko yang harus dibayar: berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; hidup prihatin dahulu, hidup senang kemudian.

Dengan pertambahan jumlah penduduk dan sumber daya alam yang menipis, tentu orang-orang harus menyadari bahwa persaingan adalah hal yang wajar dan biasa. Tidak ada segala sesuatu yang bisa didapat gratis di alam ini. Kalaupun ada, itu tidak membuat istimewa bagi yang memperolehnya. Tidak ada pengetahuan dan kesadaran baru bagi yang menjalaninya.

Ada lagi sebuah cerita lucu yang perlu disampaikan di sini. Seorang presiden direktur sebuah perusahaan memanggil salah satu buruhnya.

“Andree,” ujarnya, “Kamu telah satu tahun bekerja di perusahaan ini. Kamu mulai dari bagian kurir pengiriman surat. Satu minggu kemudian kamu dipromosikan ke posisi sales, dan satu bulan kemudian dipromosikan menjadi manajer sales di kantor cabang. Lalu empat bulan kemudian kamu menduduki jabatan direktur marketing.”

Si bos diam sejenak, lalu berkata lagi, “Sekarang sudah waktunya saya pensiun. Saya ingin kamu mengambil alih posisi tertinggi di perusahaan ini. Apa yang akan kamu katakan dengan usulan saya ini?”

“Terima kasih.” jawab karyawan itu singkat.

“Cuma terima kasih?” tanya bos, “Apa cuma itu yang bisa kamu katakan?”

“Okay, okay. Terimakasih banyak atas kebaikan selama ini, Papa…”

Begitulah. Setiap orang harus menempuh berbagai ujian agar tumbuh sebagai seorang yang profesional dan mandiri. Ia harus mengelola perusahaan sehingga mampu bersaing di dunia usaha. Meskipun perusahaan itu adalah warisan orangtuanya.

Pengusaha harus efektif agar bisnisnya bisa bertahan. Konsekuensinya, mereka harus mencari lingkungan yang lebih produktif, lebih kompetitif, dan area yang lebih luas lagi untuk beroperasi. Budaya kita mengajarkan, manusia yang sebenar-benarnya adalah ia yang teruji hidup di perantauan.

Kita kaya raya di daerah sendiri, itu tidak istimewa. Bisa jadi karena kita kaya sejak masih di kandungan. Kita punya rumah sejak lahir. Itulah yang dimusuhi kapitalisme. Kekayaan yang diperoleh tanpa persaingan bukanlah kekayaan yang sejati. Lihatlah pengusaha-pengusaha siluman di masa Orde Baru. Mereka tumbuh meraksasa murni karena fasilitas, bukan dari usaha dan tetesan keringat. Semuanya berkat ilmu aji mumpung, koncoisme, kolusi, dan nepotisme. Praktik monopoli yang kita lakukan, sehingga kita bisa mematok harga yang irasional, bukanlah praktik ekonomi, tapi perampokan.

Apa yang terjadi setelah reformasi dan globalisasi bersliweran di depan mata? Konglomerat gigantis di era Orde Baru berjatuhan. Mereka tidak bisa bersaing dengan korporasi-korporasi lain yang bergerak lincah mendiversifikasi usaha dan mengontekstualisasi produk. Perlahan namun pasti, kiprah dan sosok mereka surut ke belakang. Mereka hanya jadi artefak Orde Baru tentang nasib pengusaha karbitan.

Kita, sebagai konsumen, bisa merasakan keuntungan akibat dibukanya keran globalisasi. Dulu hanya orang kaya saja yang mampu naik pesawat terbang. Kini semua orang bisa merasakannya karena harga tiket yang turun drastis. Dulu hanya kalangan berduit saja yang bisa punya handphone. Kini pedagang sayur keliling dan pengojek pun punya handphone.

Belaian Kasih

Dalam melakukan usaha ekonomi yang sehat, ada dua kata kunci yang sebenarnya juga menjadi syarat awal sebuah kehidupan menyeluruh: kemerdekaan dan kebebasan. Kemerdekaan adalah sebuah kondisi di mana setiap orang memiliki hak-hak dan mampu menggunakan hak-hak tersebut dengan memperkecil kemungkinan campur tangan orang lain. Sedangkan kebebasan adalah sebuah kondisi nilai kita di hadapan untuk orang lain, apakah ia memberikan sesuatu kepada kita dengan senang hati.

Sisi positif karakter individualisasi dalam diri kapitalisme adalah penciptaan lapangan pekerjaan, dinamisme, dan kesempatan bagi semua orang. Semua orang dibebaskan untuk memilih pekerjaan sesuai dengan kemauan dan kemampuannya. Tidak ada arahan dan larangan kita kepada suatu pekerjaan. Bila sukses, itu karena kejelian dan kegigihan kita. Bila gagal, itu karena kita kalah momentum, kurang modal, atau salah manajemen. Jadi, sukses dan gagal adalah urusan kita.

Persaingan yang bebas membuat setiap orang kreatif menciptakan terobosan-terobosan bisnis. Dan ini membuka siapa pun untuk uji nyali. Bila kita tidak berani menanggung risiko, cukuplah jadi buruh sebaik mungkin dengan memberikan nilai tambah sebesar mungkin kepada perusahaan.

Dalam mekanisme pasar yang terbuka tanpa intervensi negara, tidak ada sesuatu yang luput dalam proses ekonomi. Dengan menjadikan pasar sebagai pusat alokasi sumberdaya, manajemen mengalami peralihan dari sekadar fungsi penawaran ke permintaan dengan memasukkan kehidupan dan kebutuhan publik menjadi komoditas. Semua aspek kehidupan adalah sumber untuk laba korporasi.

Karena usaha ekonomi membutuhkan iklim yang baik berupa stabilitas politik, dengan sendirinya globalisasi ekonomi akan sejalan dengan proses globalisasi politik. Karena setiap orang mendambakan kesejahteraan dan passive income, dan politik hanyalah salah satu sarana mencapai hal tersebut, maka globalisasi ekonomi meninggalkan defisit demokrasi di antara keduanya: mengecilnya perbedaan ideologis dan menurunnya partisipasi demokratik.

Itulah yang sedang berlaku. Apakah kita berkeberatan dengan hal ini?

Dilihat dari sisi manapun, tidak ada kerugian dan kejahatan yang diperbuat perusahaan kita. Kita membayar pajak secara rutin sebagai bentuk balas budi karena diizinkan menjalankan usaha di negeri yang sedang berkembang ini.

Sepertinya tidak ada yang salah. Semua seakan-akan berjalan normal.

Bila kita setuju dengan konsep di atas, nyatalah bahwa buruh adalah borjuis kecil… [andito]

Komentar»

1. yunik - September 5, 2008

hehe kerajinan komen, jangan-jangan cuma bisa komen…abis komen dikantor = pembangkangan (kalau bukan subversif).

2. Arif Giyanto - September 8, 2008

Ada filosofi seferhana dari seorang kawan. Ia bilang, “Sing penting, kere ketemu kere ora padu (Yang penting, miskin ketemu miskin jangan musuhan).”

Terang saja banyak yang ketawa. Sebab, umumnya, kaum miskin sering tampak bodoh di depan modal hanya karena dianggap malas atau sedikit normatif, tak beruntung.

Seorang kawan yang lain menambahkan, “Si A itu katanya sekarang jadi staf ahli orang terkenal. Apa dia bisa kasih pekerjaan ke kawan-kawan lain yang pengangguran.”

Ada lagi, “Aku sebenernya ngga kuat hati liat Indonesia diacak-acak hutannya. Aku lihat itu tiap hari. Tapi, mau gimana lagi.” Kawanku yang ini bekerja di perusahaan asing penyedia alat berat di pertambangan.

Akhirnya ada jalan tengah. “Ya sudah. Asal kita tahu saja bahwa semua ini tidak benar. Kita akan berusaha memecahkannya, juga membuat komitmen untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.”

Jadi, yang sekarang buruh kaya atau borjuis kecil atau pejabat atau semua ‘profil menggiurkan kemanusiaan’ boleh saja berperilaku umum dengan hanya bisa membatin (selemah-lemah iman). Tapi suatu saat semua akan berubah.

Kawanku yang lain nyeletuk, “Kata Tan Malaka, revolusi tak terjadi hanya oleh satu-dua gagasan atau satu-dua tokoh. Bila ini tak terwujud, berarti memang publik tak menginginkannya.”

Kesimpulan sementara floor kali itu adalah, “Bila kita berkecukupan, dan ada seorang tetangga kita kelaparan, berarti kita tak beriman. Apalagi bila kita sangat kelebihan harta.”

3. andreas iswinarto - Oktober 13, 2008

Kebusukan Kapitalisme Neoliberal, semakin telanjang!

Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

Silah kunjung
Krisis Keuangan Global : Karl Marx di Aspal Jalan Dunia Datara
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: