jump to navigation

Nestapa Buruh Agustus 27, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback


Beda Bos dengan Karyawan

Bila bos tetap pada pendapatnya,
itu berarti beliau konsisten.
Bila karyawan tetap pada pendapatnya,
itu berarti dia keras kepala!

Bila bos berubah-ubah pendapat,
itu berarti beliau fleksibel.
Bila kayawan berubah-ubah pendapat,
itu berarti dia plin-plan!

Karyawan, bisa juga disebut pekerja, berasal dari kata dasar ‘karya’ atau ’kerja’. Tempat kerjanya di pabrik atau kantor. Rezim Orde Baru menggunakan kata ini sebagai pengganti ’buruh’ yang sejak 1965 ditabukan di Indonesia karena dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia. Mungkin pula mereka trauma dengan gerakan buruh yang cenderung sulit dikontrol.

Karenanya, rezim memberikan makna negatif terhadap buruh. Sering dikatakan, buruh itu pekerja kasar; Sebagian besar pekerja tidak terdidik; Buruh hanya tahu bahasa kekerasan; Buruh doyan demonstrasi, mogok, dan boikot; Buruh anti kemapanan karena mereka tidak mapan; Buruh berhaluan kiri, mengimpikan dunia tanpa kelas; Perjuangan kelas slogan komunisme; Setiap komunis pasti ateis dan anti Pancasila; Maka aktivis buruh adalah ateis dan anti Pancasila.

Rezim ingin para pekerja lebih mementingkan ‘karya’ dan ’kerja’ daripada kegiatan ’politik’. Bukan kebetulan, nama partai terbesar pada masa itu ’Golongan’ orang-orang yang ber-‘Karya’. Istilah ’Karyawan’ jelas bertujuan untuk memandulkan mental aktivis buruh dan membatasi ruang gerak mereka.

Sering dikatakan, karyawan adalah pegawai kerah putih di kantor. Sedangkan buruh adalah pegawai kerah biru di pabrik. Istilah buruh terdengar menggigit, ideologis, dan solid. Istilah karyawan lebih terdengar intelek, kalem, penurut, dan borjuis.

Padahal hakikatnya sama saja. Keduanya sama-sama dihisap dan diperas pengusaha. Hanya sedikit berbeda dalam teknik pemanjaan dan pemberian fasilitas. Tak heran, manajemen sering bersikap keras terhadap buruh. Meskipun ia juga buruh.

Jadi, manakah sebutan yang lebih kita sukai: karyawan, pekerja, atau buruh?

Sebaiknya kita gunakan nama buruh agar tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain.

Kita adalah buruh.

Lalu, mengapa kita menjadi buruh? Mengapa kita diperah sedemikian rupa oleh perusahaan? Mengapa kita mau diperlakukan seperti robot, pergi pagi pulang malam, banting tulang untuk memperkaya orang lain (baca: bos kita)? Mengapa kita tidak mampu berdiam di rumah saja, menjalankan bisnis dari rumah?

Karena kita tidak memiliki apa-apa. Seluruh alat produksi dikuasai perusahaan.

Lalu, apakah yang (masih) dimiliki buruh?

Buruh tidak punya peranan penting. Ia subordinat peusahaan. Ia ada karena dibutuhkan dan tiada ketika tak dibutuhkan lagi. Buruh dianggap mesin, bukan aset yang mesti dipelihara dan dikembangkan oleh perusahaan. Meskipun kemajuan mereka pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan lebih besar lagi.

Krisis Pendapatan

Perusahaan menangguk untung berlipat ganda dengan memperkerjakan buruh. Ia hanya membayar gaji berdasarkan kemampuan buruh berproduksi. Dengan bermacam alasan, tidak ada gaji yang benar-benar mencukupi kebutuhan hidup buruh setiap bulannya. Di tengah resesi global saat ini, buruh rendahan selalu bernasib apes.

Sulit menemukan gaji buruh yang cepat melonjak. Gaji buruh ibarat orang yang berjalan di perbukitan terjal. Sedangkan harga kebutuhan pokok seperti orang berlari. Mungkin ada masa penghasilan mereka mencukupi kebutuhan dan gaya hidup mereka. Namun ada masa, dan ini lebih sering terjadi, gaji tidak mencukupi segala pengeluaran bulanan.

Lihatlah kondisi Betawi, ibukota Nusantara. Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp972.604 per bulan pada 1 November 2007. Jumlah ini naik 8% dari UMP 2007 sebesar Rp900.560. Pada saat yang sama, UMP 2008 itu masih di bawah nilai survei kebutuhan hidup layak Betawi 2007 sebesar Rp1.055.275. Apalagi setelah pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata 28,7% pada tanggal 24 Mei 2008.

Sekarang padankan dengan biaya hidup sederhana di ibukota. Tarif angkutan dalam kota untuk jarak terdekat Rp2.500. Makan sederhana dengan menu nasi + sayur + tempe goreng + krupuk di warteg Rp5.000.

Bayangkan, berapa sisa yang mereka bawa untuk keluarga di rumah, orangtua di kampung, atau adik-adik mereka yang masih sekolah? Bayangkan pendidikan dan nutrisi macam apa yang mereka berikan kepada anak-anak mereka?

Oke, buruh harus giat mencari tambahan. Kapan dan berapa banyak waktu yang harus mereka sisihkan? Waktu produktif mereka habis di pabrik dan kantor. Mereka pulang ke rumah dengan tenaga sisa. Lalu, dengan cara bagaimana mereka menaikkan pernghasilan? Usaha sampingan tanpa tenaga banyak butuh modal besar.

Gaji yang rendah tidak sinkron dengan harga kebutuhan yang mencekik. Buruh tidak punya kreativitas. Motivasi untuk bekerja sirna. Pikirannya penuh dengan problem dapur, pendidikan dan kesehatan sehari-hari. Mau makmur belum tentu karena gaji tidak mencukupi. Mau susah, ya sudah pasti. Akibatnya mental buruh rusak. Buruh bekerja seperti pegawai negeri, datang ke kantor sekadar memenuhi kewajiban agar gajinya tidak dipotong.

Bagaimana halnya perusahaan? Pendapatan mereka laksana pesawat terbang. Kapitalnya demikian cepat berkembang, bunga berbunga. Kenaikan BBM mereka siasati dengan menaikkan harga jual produk. Bila masih berat, mereka sudah siap memecat buruh atau memindahkan pabrik ke luar negeri.

Silakan Pindah Kerja

Bila manajemen tidak membutuhkan lagi, buruh dipersilakan pindah kerja ke tempat lain. Manajemen berkilah, ”Kami hanya mampu menggaji Anda sebesar itu. Bila sudah tidak sepakat, silakan keluar dan cari pekerjaan lain yang menurut Anda lebih bagus dan menarik.”

Bila aktivitas buruh dinilai mengganggu stabilitas perusahaan karena suka memprovokasi rekan buruh lain untuk berani protes. Manajemen akan memakai segala macam otoritasnya untuk membuat buruh itu tidak betah, dan akhirnya mengundurkan diri. Sehingga perusahaan tidak perlu membayar pesangon.

Nyatanya, tidak semua buruh berani pindah kerja. Karena pekerjaan sungguh sulit dicari. Buruh menyadari, bekerja di tempat ini sebuah keberuntungan. Lebih sulit lagi membuat pekerjaan sendiri, karena butuh modal, SDM dan sebagainya. Apalagi sekarang banyak tenaga kerja cadangan dengan keahlian di atas rata-rata namun bersedia dibayar lebih murah.

Semakin besar tekanan perusahaan, buruh semakin takut. Mereka ingin protes tapi butuh pula solusi riil atas krisis ekonominya. Buruh sadar, protes mereka memunculkan dua kemungkinan berita: baik dan buruk. Berita baik: tuntutan buruh dipenuhi. Akibatnya: buruh lebih sejahtera. Berita buruk: Tuntutan buruh ditolak mentah-mentah. Akibatnya: Nasib buruh semakin di ujung tanduk, potensi dipecat lebih besar.

Di luar sana tidak mudah mencari rezeki. Sedangkan anak istri lapar saat ini. Mereka tidak bisa dikenyangkan oleh kata-kata idealis, ”Tenang bu. Yang penting kita merdeka, tidak ditindas!”

Buruh tidak ingin dipecat karena penghasilannya hanya dari perusahaan tersebut. Bersedia menerima gaji yang rendah tanpa jaminan kepegawaian adalah komprominya.

Memilih Miskin

Buruh mendamba kemakmuran dan kesejahteraan. Apa daya penghasilan tidak mencukupi. Sistem perusahaan yang menindas menumpulkan daya cipta buruh. Keringnya kreasi adalah awal dari kemiskinan material.

Kemiskinan sejati adalah kemiskinan mental. Namun mungkin saja berawal dari kemiskinan material. Sampai-sampai Aristoteles berkata, kemiskinan adalah orangtua dari revolusi dan kriminalitas. Tuhan pun bisa hilang ketika tidak ada lagi yang dimakan. Kata Euripedes, kemiskinan akan mendorong manusia menjadi pengikut iblis.

Dengan melihat kondisi buruh di atas, kita memilah-milah beberapa alasan atau penyebab kemiskinan mereka, yakni:

Pertama, alasan lingkungan. Mengapa mereka menjadi buruh? Karena tanah di daerah mereka tidak subur, iklimnya kurang cocok untuk bertani karena air yang langka. Akibatnya orang tidak fokus bekerja yang seharusnya karena sibuk mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan lahan. Akhirnya mereka memutuskan hijrah ke kota. Hasilnya, tetap miskin.

Kedua, alasan individual, atau patologis. Buruh miskin karena lebih senang menjadi buruh, dengan gaji minim tapi pasti.

Ketiga, alasan keluarga. Buruh yang miskin sebenarnya sudah tidak betah dengan lingkungan kerja. Mereka ingin pindah kerja. Tapi orangtua dan istri melarang karena ragu dengan kepastian nasib mereka di masa datang. Buruh itu mungkin punya tabungan untuk biaya mengadu nasib di daerah lain. Namun keluarga besar lebih senang buruh itu selalu berkumpul dengan mereka. “Mangan ora mangan ngumpul.” Tidak masalah kita miskin, yang penting kita hidup bersama. Ungkapan ”Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan” dimaknai sebagai ”Tolong-menolonglah kamu dalam kemiskinan”.

Keempat, penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari. Buruh hidup dengan dunia dan komunitas buruh. Hidup pas-pasan, gali lobang tutup lobang, adalah keseharian yang tidak lagi dirasakan sebagai penderitaan, melainkan seni hidup. Untuk itulah mereka biasa berhimpun.

Buruh bergaul dengan sesamanya yang miskin, bergaul dengan pola pikir dan bahasa orang miskin. Maka mental yang terbentuk pun mental miskin. Kesimpulannya, buruh pasti miskin.

Keberadaan buruh yang lebih makmur bukan menjadi motivator tapi sasaran tudingan dan kecurigaan. “Dia kaya karena pesugihan, jadi babi ngepet, ke dukun atau semadi di gunung anu.”

Kelima, alasan agensi. Buruh berkata, gaji mereka sebenarnya cukup untuk membayar kredit rumah, kendaraan pribadi, menyekolahkan anak-anak. Namun karena perang antar negara atau etnik di daerah mereka membuat harga melambung tinggi tapi gaji tetap. Atau peraturan pemerintah yang menaikkan pajak secara semena-mena.

Keenam, penyebab struktural. Di dunia ini, kita tidak tinggal sendiri. Negara kita terhubung dengan komunitas dan negara lain. Kebijakan dan praktik ekonomi sebuah negara berdampak secara signifikan kepada negara lain. Buruh di Nusantara ini sebenarnya hidup layak. Buruh miskin mendadak karena ekonomi global yang tidak adil.

Sebab-sebab kemiskinan tersebut di atas dirasakan oleh buruh. Dari semua penyebab itu, perusahaan/korporasi multinasional (Multinational Coorporation) memegang peran paling penting penyebab kemiskinan global. Dalam sejarahnya, MNC pertama di dunia adalah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/ Persekutuan Dagang Hindia Timur), berdiri pada 20 Maret 1602. VOC inilah yang berhasil menjajah Nusantara selama 350 tahun dengan damai. Mereka memiliki sebutan populer Kompeni atau Kumpeni.

Salah sendiri

Apabila gaji kita cukup dengan kemampuan dan harapan, mengapa kita tidak melawan?

Kita punya tanggungan. Kalau kita dipecat, bukan hanya diri kita yang menderita, tapi juga anak dan istri kita. Bahkan mungkin pula saudara-saudara kita yang lain yang ‘menitipkan’ masa depan pendidikan anak mereka kepada kita.

Mengapa tidak menjalin kekuatan bersama rekan-rekan senasib?

Selain ketakutan yang sama akan PHK, mereka pun punya masalah-masalah sendiri yang mungkin lebih kompleks. Rekan-rekan lain pegawai swasta, bukan pegawai negeri. Mereka hanya buruh kontrak. ’Nyawa’ mereka disambung tiap dua tahun, dan akan diperpanjang lagi sesuai kebutuhan perusahaan dengan status tetap sebagai buruh kontrak. Dan itu sudah kesepakatan antara korporasi dan calon buruh sejak awal.

Berbeda dengan kondisi eksekutif muda, yang mapan sejak lahir. Dengan gaji puluhan kali lipat dari UMP, mereka giat membangun usaha, mulai dari konsultan, trading, tambang, hingga properti. Mereka sanggup bersenang-senang di restoran paling mewah tiap malam yang harganya beberapa kali UMP buruh, bertamasya ke daerah setiap minggu, atau ke luar negeri tiap bulan.

Dunia kerja dan lingkungan pergaulan mereka yang berbeda membuatnya sulit memahami jalan pikiran buruh yang bergaji pas-pasan. Mengapa mereka selalu berteriak-teriak menuntut ini itu? Bukankah dengan bekerja tekun dan sabar akan menghasilkan produk yang maksimal, juga disayang Tuhan?

Mereka sering heran, atas dasarnya mereka harus peduli terhadap nasib buruh? Tidak ada kewajiban sedikitpun! Mereka sudah menjalankan perintah agama, selalu sembahyang, membayar zakat dan menderma tiap saat.

Bagi mereka, buruh tertindas bukan dikarenakan orang lain, melainkan buruh itu sendiri. ”Itulah buah dari pendidikan dan skill minim yang mereka miliki” demikian dikatakan. Dunia kerja adalah dunia bisnis. Perusahaan bukan lembaga sosial. Kita tidak mampu menyenangkan semua orang dengan mengorbankan laba dan masa depan perusahaan. Apalagi bila keributan ini disebabkan segelintir buruh. Manajemen mudah mengganti buruh yang mbalelo. Tumpukan lamaran pekerjaan sudah menumpuk di meja manajer HRD saban hari.

Sekarang buruh bekerja rata-rata 40 jam perminggu. Sabtu dan Minggu libur. Pada masa lalu, jam kerja (working hours) di atas 48 jam per minggu. Kondisi sekarang sudah lebih baik. Kurang apa lagi? Mengapa kita tidak menerima nasib ini dengan ikhlas?

Atau, jangan-jangan, kita berceloteh seperti ini karena kedengkian terhadap kalangan mapan? Karena kita tidak mampu menjawab tuntutan zaman? [andito]

Komentar»

1. morning coffee - Agustus 28, 2008

saya juga buruh yang nangani buruh gambar (wartawan), manajemen perusahaan memang tidak membuka ruang dialog pada kompleksnya permasalahan individu buruh (walaupun terkadang masalahnya seragam mis : gaji) saya digaji untuk menampung, dan membesarkan hati mereka untuk berani berutang lagi pada tetangganya. Kontrol pada pekerjaan saya pun tidak kalah ketat, kekuasaan yang diyakini buruh, dipereteli untuk menjamin perusahaan tidak pernah akan bergantung pada buruh.

2. Arif Giyanto - Agustus 28, 2008

Kalo aku, Bang. Tren itu ya perkara kuantitas juga. Semakin banyak orang yang memilih untuk tunduk pada state dan kapital besar maka mereka (dua kekuatan itu) akan semakin kuat. Anggap saja karena aku belum menikah, hingga mungkin belum semiris orang tua yang telah memiliki keluarga (harmonis mungkin). Sebut saja karena aku ngga pernah nangkring di korporasi besar, semisal Microsoft atau staf ahli menteri, hingga aku belum bisa menjajal empuknya kursi jabatan itu. Atau mungkin, aku terlalu bersemangat.

Sedikit yang bisa aku yakini dan lakukan adalah mengumpulkan sedikit orang untuk membuat koloni ideologis ini tak kekurangan, lantas berpikir masa depan kemiskinan, dan… buruh.

Dan… berusaha keras tak mengulangi akumulasi modal itu dalam manajemen koloni. Mungkin, itu tafsirku atas ‘hidup yang lebih baik’.

3. bebet - November 26, 2008

hidup mahasiswa! hidp buruh! hdup rakyat!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: