jump to navigation

Bukalah Agustus 26, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback


TIBA-tiba saja hidupku menjadi sangat menjemukan, tidak menggairahkan. Semua terasa hambar, kering, kosong, nirmakna. Rutinitas kujalani apa adanya, tanpa arah dan tujuan. Dengan pasangan hidup yang didapat sekadarnya, komunikasi berlangsung dengan suasana yang hambar, tidak ada gairah, dengan hati sudah dipenuhi emosi yang meledak-ledak, ketegangan, kejengkelan, kemuakan yang menyimpan himpunan kata penuh amarah dan caci maki.

Diriku lemah, mudah patah. Aku ingin berubah, tapi tak tahu harus bagaimana dan dari mana. Dengan umur yang menua, pekerjaan yang statis dan sekumpulan jadwal kehidupan yang itu-itu saja, apa yang bisa kulakukan? Di mata istriku, mungkin aku cuma macan ompong yang ringkih, tidak bisa mengambil keputusan.

Aku tidak bisa tegas. Semua problem kuheningkan, berharap ia larut dengan sendirinya, menguap tanpa bekas. Dan saat bertemu istriku kembali, seolah tidak ada insiden sebelumnya. Biarlah waktu yang menentukan, apakah akan mengambil masalahku, atau menyita umurku. Aku tahu sikapku salah.

Tapi bidadari datang di senja itu, mantan pacarku di SMA. Ia memang cantik, dan kini semakin cantik dan dewasa. Gayanya masih cuek dan lucu tapi tetap sopan dan terkesan mahal. Ia datang ke rumahku di sore itu memenuhi permohonanku. Aku mau curhat kepadanya. Kebetulan ia juga ingin bertemu mamaku. Iya, mamaku selalu menanyakannya. Bahkan istriku sendiri sering dipanggil dengan nama mantanku itu, “Ade”, sebut saja demikian.

Ia menyimak semua keluh kesahku tanpa berucap dibutir huruf pun. Di penghujung cerita, ia tiba-tiba tertawa renyah, suara cempreng tapi seksi. Dengan senyum yang menggemaskan itu, ia berkata, “Maaf, aku tidak bisa bantu apa-apa. Semua kunci ada di tanganmu dan pintu-pintu itu ada di hadapanmu. Kamu tinggal membukanya. Kesulitan terbesar bukan karena susah membuka, melainkan keinginan, sekali lagi, keinginan untuk membuka.”

Ade melanjutkan, “Kesulitan bukan ada karena memang ada, melainkan karena kita dramatisir. Kita sendirilah yang membuat masalah yang sebenarnya remeh itu membesar dan akhirnya mengangkangi dan mengeksploitasi kita.

“Engkau terlalu lama berpikir dan menimbang. Padahal tuntutan hidupmu sekarang adalah bertindak. Tugasmu kini hanya melakukan dan menjalaninya. Bukalah salah satu pintu itu, kau akan temukan sebuah manifestasi lain. Mungkin memang tidak seindah bayangan idealmu. Tapi ia tetap lebih baik dari kondisimu kini, lebih baik berkali-kali lipat. Kau hanya mematung. Kunci sudah ada di tanganmu. Bukalah!”

Suasana hening. Aku diam dengan pikiran kosong. Aku memang pemegang kunci. Tapi sejak awal aku memang tidak bisa. Aku tidak berani membuka pintu-pintu solusi. Harus ada orang lain yang menyadarkanku.

Tiba-tiba berkata, “Rud, ada beberapa usulan yang bisa kusampaikan. Tapi aku tidak tahu apakah kamu mau menjalankannya.”

Pertama, Masukilah lingkungan baru

Selama ini problem hidup berawal dan membesar dari suatu kondisi lingkungan. Sekarang cobalah lingkungan baru dari apa yang selama ini kita jalani keseharian. Kalau anda tipe yang serius dan tidak suka hitung-hitungan, rasakanlah suasana nongkrong di kafe-kafe. Bukalah laptop dan jelajahlah dunia maya dengan suasana yang cozy. Makanlah pasta atau steak yang membuat lidah anda menari sambil menikmati suasana dan pengunjung kafe.

Dengan menyimak keoptimisan dan kegembiraan di kafe, akan ada attraction ke pembuluh darah anda. Sebaliknya, kalau anda sudah terbiasa dan bosan dengan suasana ramai seperti itu, cobalah mendatangi rumah sakit atau daerah kumuh. Resapilah aroma kesakitan dan penderitaan hidup yang mereka alami. Rasakanlah betapa Tuhan teryata sangat sayang kepada kita.

Beberapa teman mengambil pilihan lain dengan cara selingkuh. Ini bukan keputusan bijak. Tapi aku tidak mencegah bila anda mencobanya. Aku punya banyak teman yang terlibat affair dengan teman chatting. Dari sekadar curhat biasa, menembus ke masalah pribadi, rumah tangga. Sehingga gelombang yang masih kecil dalam keluarga bukan lagi prioritas untuk dipecahkan, melainkan aksesori dan pembenaran dari hubungan gelap ini.

Selalu ada sensasi dalam sebuah hubungan rahasia, apa pun itu. Adrenalin yang menaik, tuntutan untuk berpikir cepat dan bagaimana merekayasa kebohongan menjadi sesuatu yang wajar. Pernah nonton “Unfaithful” yang dimainkan Diane Lane dan Richard Gere? Itu film bagus tentang pesona affair.

Namun, bagaimana pun kejadian dan alasannya, selalu butuh kontrol dan kesadaran. Sampai kapan ini berlangsung? Okelah anda menemukan soulmate baru. Tapi jangan zalimi pria/wanita yang sudah mendampingi hidup kita selama ini. Tumpahkanlah terlebih dahulu seluruh cinta kasih kita sepenuhnya kepada pasangan sah kita. Jadikan selingkuhan kita sebagai motivator untuk lebih mengeratkan kembali tali kasih rumah tangga yang sempat putus.

Kedua, Ubahlah keseharian kita

Wajah yang kusam dan sikap yang malas-malasan karena arena rutinitas sudah kita kuasai. Sekarang ubahlah penampilan anda. Pergilah ke salon, berilah sentuhan modern style pada rambut anda. Ubahlah pakaian anda yang selalu monoton dan tidak ada gairah pakailah baju-baju yang lebih sportif dengan warna-warna berani. Bacalah buku-buku ringan yang stimulus kita untuk mudah tertawa agar di kemudian hari kita mudah menertawakan hidup.

Bila anda sudah menjalani hal tersebut sepanjang hidup, pakailah pakaian yang membuat anda tampil biasa. Pakailah baju-baju murah. Kalau anda biasa naik mobil setiap saat, luangkanlah waktu untuk naik busway atau biskota. Rasakanlah aroma keringat orang-orang yang bergerak gesit karena ingin bertahan hidup dan mengejar hidup yang lebih baik.

Ketiga, hadirkan inner beauty pasangan kita

Kenakanlah kacamata positive thinking terhadapnya. Selama ini kita selalu melihat istri kita dengan pasangan bosan, hambar, tanpa gairah. Sekarang pandanglah ia dengan sungguh-sungguh. Pahamilah bahwa keberadaan kalian selama bertahun-tahun belum memungkinkannya untuk mengaktualisasikan kebajikan-kebajikannya.

Okelah setiap hari selalu ada yang payah dan buruk dalam sikapnya. Tapi tahanlah sesaat untuk mencercanya, karena itu bukan solusi dan hanya mematikan sisi kemanusiaan dan merendahkan harga dirinya. Ingat, anda perlu menyadari bahwa anda bukan laki-laki terbaik.

Keempat, ringankanlah komunikasi kita.

Sebagian besar konflik keluarga dikarenakan miskomunikasi. Setiap percakapan menjadi kaku, dramatis, dan klimaks. Bertegur sapa bukan karena dari ekspresi sayang dan perhatian, melainkan karena kebetulan berpapasan atau menanyakan suatu barang. Ceritakanlah hal-hal ringan, kejadian keseharian di tempat kerja atau di jalan raya, atau acara televisi. Berikanlah ruang agar ia bisa menanggapi balik.

Kelima, ajaklah pasangan ke suasana romantis dan santai

Memang anda selalu bertemu dan pergi ke mana-mana berdua. Tapi siapkanlah waktu khusus, utarakanlah kepada istri bahwa anda ingin mengajak jalan-jalan khusus. Ingatkanlah pada kejadian-kejadian yang pada saat pacaran dilakukan tapi tidak pernah diulang setelah menikah.

Keenam, galilah semua pengakuan.

Beberkanlah semua pandangan baik-buruk kita kepada pasangan masing-masing. Pahamkanlah bahwa problem rumah tangga hanya bisa diselesaikan oleh kedua belah pihak, tidak hanya satu pihak saja. Rumah tangga bisa berjalan belasan atau puluhan tahun, tapi bisa jadi keduanya tidak ada unsur chemistry. Semakin lama menikah, semakin kuat ego setiap individu. Sungguh tidak nyaman hidup dengan perasaan kesal dan negedumel tiap saat. Namun, sebelum acara blak-blakan ini dimulai, hendaknya sudah ada pikiran positif tentang diri pasangan dan kehendak untuk kembali harmonis dengannya.

Ketujuh, keputusan bersama.

Komunikasi yang baik tidak mesti menghasilkan keputusan yang menyenangkan. Bisa jadi keputusan yang terbaik anda dan pasangan adalah perceraian. Di sini perceraian bukan buruk, justru baik demi memutus rantai problem yang lebih besar. Intinya adalah keputusan bersama dengan kelapangan hati semua pihak. Tapi bisa juga anda tidak bercerai. Keputusan untuk berubah bersama membuka ruang refleksi dan evaluasi yang lebih luas untuk kalian.

Kedelapan, konsisten.

Apa pun keputusan yang kita hasilkan menuntut pelaksanaan yang konsisten. Pelanggaran setiap komitmen melahirkan pelanggaran-pelanggaran lanjutan. Efeknya, tidak ada lagi kewibawaan pada setiap pasangan masing-masing.

Laluilah langkah-langkah ini dengan perlahan. Langkah-langkah ini disusun berdasarkan psikologi komunikasi. Tidak boleh dilewati/dilompati karena akan membuat hubungan bisa lebih buruk. Bila ada kemacetan dalam salah satu stepnya, mundurlah ke poin sebelumnya dan lakukanlah kembali di poin tersebut hingga anda yakin bahwa anda bisa melangkah ke depan.

Nasib tidak ditentukan oleh Tuhan secara mutlak melainkan juga disempurnakan oleh pikiran, sikap, dan perbuatan kita. Tuhan hanya memberikan rumusan dan pedoman. Terserah kita mau memakai alternatif yang mana.

Kualitas atas nasib dan kondisi hidup kita ditentukan oleh pikiran kita sendiri. Semakin besar perjalanan hidup ini kita bisa maknai, semakin tinggi kualitas hidup yang bisa kita hasilkan. Sebaliknya, semakin kecil perjalanan hidup ini kita bisa maknai, semakin kecil kualitas hidup yang bisa kita hasilkan.

Anda adalah apa yang anda pikirkan. Dan Tuhan hanya mengangguk saja dengan segala kemauan kita.

Bila kita selalu negative thinking dengan lingkungan di sekitar kita, maka hati kita akan dipenuhi oleh perasaan suntuk, stres, curiga, dengki, irihati, sombong. Anda akan sulit keluar rumah dengan tenang. Baru saja anda mengunci pintu, kepala anda sudah dihantui oleh berbagai hayalan: jangan-jangan nanti ada maling masuk rumahku, jangan-jangan nanti di jalan aku ditabrak mobil, jangan-jangan nanti di luar ada tsunami, gempa bumi, banjir bandang, dan sebagainya.

Tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses. Jalani saja. “Life has meaning only in the struggle. Triumph or defeat is in the hands of the Gods. So let us celebrate the struggle!” kata Swami Sivananda (1887-1963), seorang master Yoga dari India dan pendiri The Divine Life Society. Tugas anda hanya berjuang menuju hidup yang lebih baik. Masalah kemenangan dan kekalahan, serahkan saja kepada Tuhan. Tugas anda hanya berjuang… []

Dari pengalaman nyata.

Komentar»

1. Arif Giyanto - Agustus 26, 2008

Seorang kawan mengebiriku. Dia bilang, “Perempuan itu seperti boneka. Ia bisa diajak bicara, dipeluk-peluk, dibelai-belain… dan dia tak perlu marah.”

Kawanku yang lain menghardik, “Perempuan itu tak sulit. Perempuan itu ya saat kamu mau temani dia belanja dan jemput dia di waktu yang tepat.”

Aku meledak dan bertanya, “Manakah yang lebih layak: perempuanku pembantuku atau pembantuku perempuanku?”

Pfuhh!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: