jump to navigation

Buruh Bergerak, Sebuah Pendahuluan Agustus 21, 2008

Posted by anditoaja in Buruh.
trackback

Knowing others is wisdom, knowing yourself is enlightenment.” (Mengenal orang lain adalah kebijaksanaan, mengenal diri sendiri adalah pencerahan), Lao Tzu (600-531 SM)

Sudah berapa lama kita bekerja?

Apakah kita puas dengan pekerjaan kita sekarang?

Apa saja yang telah kita dapatkan?

Seberapa besar pekerjaan kita memberi makna bagi diri, keluarga, dan lingkungan kita?

Ataukah, jangan-jangan, tidak ada makna lagi dalam pekerjaan kita?

Karena pekerjaan itu sendiri? Ataukah kita sedang disoerientasi?

Apakah kita menyadari siapakah diri kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini lazim diungkapkan oleh mereka yang merasakan kesenjangan antara penghasilan, kebutuhan hidup dan gaya hidup yang ingin dicapai. Status mereka umumnya karyawan perusahaan. Setiap saat mereka dihantui oleh kebutuhan yang terus meningkat sedangkan pendapatan mereka tidak mencukupi. Padahal usaha keras telah dilakukan. Prestasi dan komitmen pada perusahaan juga tidak mengecewakan.

Kondisi ini tidak dirasakan oleh mereka yang berpenghasilan besar. Mereka telah mencapai passive income. Kondisi di mana uang bekerja untuk mereka, bukan mereka yang sibuk mencari uang. Mereka bisa melakukan apa pun, di mana pun, kapan pun, dengan biaya berapa pun. Siapakah yang menjalankan sistem perusahaan orang-orang mapan ini? Karyawan perusahaan yang kebat kebit memikirkan masa depan.

Bagi karyawan, perubahan ekonomi makro berdampak pada nasib mereka. Bila terjadi krisis ekonomi, status kepegawaian mereka ikut runtuh. Gaji tidak lagi bernilai. Hidup mereka semakin berat.

Ketika subsidi BBM dicabut, dada karyawan langsung sesak. Sebelumnya, harga premium naik dari Rp2400 ke Rp4500 (87,5%) pada 1 Oktober 2005. Kini, harga premium pindah dari Rp4500 ke Rp6000 (33%) pada 24 Mei 2008. Bisa dibayangkan, bagaimana harga-harga kebutuhan pokok berlomba menyesuaikan diri.

Negeri kita Nusantara terkenal makmur dan sejahtera, ’gemah ripah loh jinawi’. Tapi harga-harga selalu naik dan tak mau turun kembali. Negeri yang dijuluki Zamrud Khatulistiwa punya hasil alam dan buminya melimpah ruah. Banyak bangsa meneteskan liur menyaksikan surga dunia ini. Di Nusantara, batu dan kayu bisa jadi tanaman. Maksudnya ubi dan singkong.

Sebuah penelitian mengatakan, Nusantara adalah Kota Atlantis sebagaimana yang pernah disinggung oleh Plato. Atlantis disebut-sebut adalah Sunda Land, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.

Itu kenyataan pada masanya. Kenyataan pada masa kini, negeri ini berhasil memampangkan dua pemandangan ekstrem: orang kaya yang semakin kaya dan orang kebanyakan yang semakin miskin dan dimiskinkan. Kedua kelas sosial ini seakan tidak saling ganggu.

Di negeri ini, kesenjangan sosial memang tampil menyolok, tapi tidak diteriakkan dengan kasar. Semua berjalan harmonis. Orang-orang kaya antri melongok desain apartemen yang dibangun di lokasi-lokasi strategis di ibukota. Orang-orang miskin juga sama, antri melongok di gardu pos penerimaan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Taman, jalur hijau dan lapangan bola beralih fungsi menjadi mal, apartemen, perkantoran elit, showroom mobil, kompleks perumahan elit dengan hiasan padang golf dan bangunan superblok (yang menyatukan hunian, tempat hiburan dan sentra bisnis). Semua ini berdiri gagah dengan view rumah-rumah kumuh dan air sungai yang bau menghitam.

Di jalan raya, sedan-sedan mewah mereka bersliweran dengan bebas, berpapasan mesra dengan kaum miskin kota yang bertebaran di perempatan-perempatan lampu merah.

Ibukota Nusantara semakin sesak. Semua maklum. Tiada lagi lahan terbuka yang gratis tempat orang merasakan kesejukan pepohonan dan menghirup udara segar. Tapi orang miskin tidak risau mencari tempat hiburan. Televisi sudah siap menayangkan hiburan alternatif, konser dangdut dan pencarian bakat sejak magrib hingga tengah malam.

Di negeri seperti itulah kita hidup, tinggal dan bekerja.

Kita karyawan. Mungkin kedua orangtua kita pegawai negeri. Tapi banyak di antara kita yang tidak mengikuti jejak mereka. Mungkin karena gaji yang kecil, meskipun diiming-imingi uang pensiun. Mungkin juga karena kita tidak mampu menyediakan uang pelicin.

Kita karyawan. Sebagian besar di antara kita telah berkeluarga, punya anak dan istri/suami. Untuk pendidikan anak kita, kecendrungan sekolah yang kita pilih adalah Sekolah Dasar Negeri. Biayanya murah. Sekolah dasar dengan mutu dan fasilitas lebih baik ada di tempat lain, milik swasta. Biayanya mahal.

Nasib kita sebagai karyawan berbeda dengan atasan kita sebagai pemilik perusahaan. Bos kita mudah menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah internasional atau sekolah plus. Kurikulum terintegrasi dengan kurikulum negara-negara maju. Pengajaran bilingual dan panduan bakat yang optimal. Tidak heran prestasi dan keahlian anak-anak mereka jauh lebih unggul dari anak-anak kebanyakan. Kemudian anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Setelah meraih gelar magister dan doktor, mereka pulang ke Nusantara dan langsung dilibatkan pada perusahaan orangtuanya.

Kita karyawan biasa. Anak-anak kita sekolah di sekolah dasar negeri. Bos kita menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik. Dua puluhan tahun kemudian, anak-anak kita bekerja di perusahaan anak-anak bos kita.

Apakah ini takdir atau pilihan? Kita tidak tahu. Kita hanya berupaya anak-anak kita tidak bernasib lebih buruk dari orangtuanya.

Kita warganegara yang baik. Setiap bulan gaji kita dipotong pajak secara otomatis. Barang-barang belanjaan istri/suami dan jajanan anak-anak pun terkena pajak. Hasil pajak itu digunakan untuk pembangunan infrastruktur di negeri ini, membayar gaji pegawai negeri dan disimpan di bank-bank pemerintah. Simpanan di bank itu diinvestasikan dalam bisnis patungan negara dan korporasi. Salah satu korporasi dikelola oleh bos kita.

Kita bangun pagi setiap hari agar tidak terlambat tiba di kantor. Kita ingin bersenda gurau dengan keluarga, tapi waktu tidak memungkinkan. Anak kita bisa terlambat sekolah.

Saat kita mandi, air yang kita gunakan, disedot dan difertilisasi dari negeri sendiri, kini dikelola oleh perusahaan asing. Dulu perusahaan air minum ini milik negara. Konon, alasan privatisasi adalah efisiensi. Tentu saja negara juga butuh uang cash. Dengan masuknya saham swasta, maka harga dan pelayanan akan lebih kompetitif.

Kita tidak tahu bagaimana cara berpikir dan hitung-hitungannya. Kenyataan yang kita alami, tarif air selalu merangkak naik. Kadang kenaikan tarif ini dilakukan semena-mena dan tanpa sosialisasi kepada masyarakat pelanggan.

Kita sarapan sambil menonton televisi. Di pagi ini, televisi sarat dengan berita-berita kekerasan, kriminalitas yang dilakukan oleh orang-orang miskin yang kepepet ekonomi. Ada darah, baju kumal, tampang kusut. Berbeda dengan tayangan korupsi. Pelakunya wangi, pakai jas dan dasi, dan senyum terhambur.

Dulu kita tidak bisa sarapan sambil melihat tayangan sadis. Mendengar cerita menjijikkan saja perut kita mual. Tapi televisi punya logika lain. Selama laku dijual, program apa pun akan mereka tayangkan. Alasan standarnya, selera pasar. Maka mereka tampilkan dengan enteng tayangan jorok, sadis dan membodohkan. Dan kini kita terbiasa menonton tayangan sadis saat sarapan dan makan siang.

Mengapa kita harus mau melakoni semua ini?

Kita tidak bisa tidur puas dan semaunya karena dibayangi jam kerja. Saat kita bangun tidur, anak kita sudah pergi ke sekolah. Saat kita tiba di rumah, anak kita sudah tidur lelap. Praktis, waktu eksklusif untuk keluarga hanya pada Sabtu dan Minggu. Kenyataan yang aneh. Kita tinggal satu rumah bersama keluarga namun tidak ada kesempatan dan waktu yang cukup untuk saling menebar kasih sayang bersama mereka.

Mengapa kita mau bekerja kepada orang lain? Karena kita tidak bisa bisnis.

Mengapa tidak bisa? Tidak punya modal. Mungkin juga tiada bakat wirausaha. Waktu produktif kita pun habis di kantor.

Mengapa kita bisa tidak punya modal? Karena gaji tidak bisa disisihkan untuk investasi.

Mengapa kita selalu miskin?

Itulah alasan mengapa kita di sini, saling berbagi kisah tentang hidup, pekerjaan, dan dunia kita. Kita semua merasakan suatu keanehan. Seperti ada belenggu penghisapan, ekspolitasi, penindasan di lingkaran kehidupan kita. Kita sudah beramal saleh dan menjalankan semua aturan agama. Tapi dada kita masih terasa sesak. Kita terhimpit dengan sistem ini. Tapi sistem apa, yang mana?

Kita tidak tahu… [andito]

Komentar»

1. yunik - Agustus 22, 2008

buset curhatnya panjang amat…lengkap semua kengerian neraka… jawabannya adalah MERDEKA! jadilah orang BEBAS! struktur sosial kita compang camping… BERONTAK! bikin struktur sendiri itu HALAL! lupakan negara! karena negara telah lama melupakan mu!

2. bazoekie - Agustus 23, 2008

wah mas. artikel yang mengena.
Pertanyaanku selama ini terwakili oleh semua ungkapan mas.
Satu pertanyaan; benarkah Loyalitas kita selama ini sebagai karyawan adalah omong kosong?…kita tak lebih sebagai angka dalam statistik perusahaan..Yang jelas karyawan bukan kaum pesimistis..tetapi sitem yang bikin angin pesimistis selalu menghantui mimpi karyawan.
Salam kenal mas.Aku link blog-nya ya.
thx.

3. Arif Giyanto HMI Sukoharjo - Agustus 23, 2008

Sepertinya, aku mulai kerasukan kembali diksi ‘proletar’ saat membacanya, Bang. Ada yang bilang, orang kita bukan miskin karena malas; tapi malas karena miskin. Lingkaran setan!! Semoga abang inget. Dulu, aku pernah bertanya ke abang, “Knapa pemikiran Cak Nur ngga dikembangkan lagi. Orang kita udah abis, sementara Cak Nur telah tiada.” Waktu itu abang bilang, “Ya. Ini saya lagi susun tulisan mirip NDP.”

Harapanku, praksis NDP semestinya bisa digadang-gadang anak-anak HMI menyelesaikan ‘keterjebakan’ hanya karena seperti tak ada pilihan lain. Belum lagi, banyak anak HMI yang mesti berhadapan, hanya karena Bosnya yang berbeda.

Atau memang, banyak dari kita yang semakin takut dunia, takut miskin, inferior… dan menakdirkan diri seumur hidup menjadi Buruh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: