jump to navigation

Maju Mei 28, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

Pasca Kebangkitan Nasional 20 Mei dan kenaikan BBM 24 Mei, banyak orang bilang tentang harga diri bangsa yang sudah tergadai, lapuk, dan berlumut. Banyak ide dan opini tentang bagaimana dan dengan cara apa Indonesia bisa bangkit. Padahal, sejak era 80-an kita sudah akrab dengan [isu] keBANGKITan dan pemBANGUNan bangsa. Setidaknya kita kenal rocker Bangkit Sanjaya dan Bangun Sugito.

Kata Bung Karno, syarat kemajuan bangsa adalah character building dengan landasan berdikari. Itulah mengapa hingga tahun 60an pun revolusi dikatakan masih belum selesai. Tapi tidak semua punya nafas panjang untuk konfrontasi terbuka dengan negara-negara gede. Namun Bung Hatta menyela, revolusi yang permanen sama saja kediktatoran atas nama demokrasi. Kemajuan bangsa harus diawali dengan pembangunan. Titik beratnya pada koperasi dan penguasaan sumber daya alam dan bidang-bidang strategis oleh negara.

Konsep ini kemudian dimainkan oleh Pak Harto secara ambigu. Pembangunan daripada manusia Indonesia seutuhnya ditandai dengan masuknya modal asing. Tapi karena mereka cari makan di negeri kita, maka mesti bermitra dgn perusahaan lokal, yakni perusahaan-perusahaan yang sahamnya dimiliki anak-anaknya. Agar rakyat tidak terlalu merecoki, dibuatlah kebijakan subsidi dalam segala hal. Tentu, hasil dari politik subsidi ini adalah merebaknya kembali mentalitas inlander-pengemis-budak yang justru getol diharamkan oleh Bung Karno dengan ide marhaennya.

Kata Bung Rizal Mallarangeng, itulah sebab utama krisis ekonomi kita. Karenanya, untuk bisa Save Our Nation, kita mesti banyak melakukan deregulasi, konsisten dengan privatisasi dan memotong rantai birokrasi yang panjang. Negara harus berprilaku seperti perusahaan publik yang berorientasi profit. Bila negara terlalu banyak mengumpani masyarakat, bukan memberi alat pancingnya, maka masyarakat kita tidak akan mampu bersaing dengan tenaga kerja murah tapi berskill tinggi seperti China dan India. Itulah, menurut Tuan Jusuf Wanandi, mengapa pemerintah tidak perlu ikut campur urusan ketenagakerjaan. Serahkan saja masalah ini kepada bipartit, pengusaha dan buruh.

Terlepas dari pendapat-pendapat di atas, aku sudah yakin dengan kemajuan bangsa Indonesia. Sejak dulu bangsa kita adalah bangsa yang konsisten untuk terus maju. Segala biaya di negeri kita terkenal istiqomah maju terus pantang mundur, alias naik. Mulai dari biaya pendidikan, kesehatan, hingga BBM maju.

Kata saya, kemajuan bangsa ditandai dengan hotspot gratis di seluruh Jabotadebek. Hidup boleh susah, tapi internet tetap wajib. Prinsipku, lebih baik tidak makan steak 7 hari daripada 1 hari tidak buka internet. Ayo bung, maju terus! [andito]

Komentar»

1. dana - Mei 28, 2008

Kirain nggak usah makan, ternyata ada steaknya.😛

2. Reza Fattah - Mei 31, 2008

maju terus harga-harga di Indonesia!!!

3. rizan - Juli 25, 2009

mantep,yang penting tetap online……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: