jump to navigation

Training Revolusi Kesadaran Mei 8, 2008

Posted by anditoaja in Pendidikan.
trackback

Lihatlah tujuan tertinggi hidup manusia:

Meraih suatu keadaan di mana tak ada lagi yang terlihat, kecuali Tuhan

(Sa’di)

Dalam banyak hal, training (pelatihan), adalah sebuah bagian dari model pendidikan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk membuat peserta menguasai atau terlatih pada ilmu tertentu.

Sifat training adalah mengubah suatu pola kebiasaan menjadi pola yang berbeda dalam waktu yang singkat dalam hal pemahaman dan ketrampilan. Karenanya pengondisian (manajemen) forum ini demikian penting. Tujuannya adalah duplikasi sehingga peserta mempunyai budaya baru sebagaimana misi training tersebut. Menilai suatu training apakah manusiawi atau tidak bergantung pada apa visi penyelenggaraan acara tersebut dan bukan sekadar pada pola dan metode yang diberlakukan.

Kebanyakan training hanya mempunyai visi material seperti pada ketahanan fisik dan ketrampilan alat, sehingga yang terlahir adalah keseragaman gerak dan tingkah menuju ketaatan dan kesatuan korps. Seperti ospek atau latihan militer. Solidaritas grup ditandai dengan mencari oposisi biner, lawan-kawan, sehingga menongolkan slogan-slogan aneh, seperti: “Semua mahasiswa salah kecuali anggota himpunan, dan semua himpunan salah kecuali himpunan kita sendiri”, “Hanya ada dua peraturan: 1. Yang benar itu senior; 2. Bila senior salah, kembali ke poin satu”, “Dahulukan syahwat ketua!”

Tidak heran bila aktualiasasi kegiatan ini marak dengan kekerasan, baik fisik maupun psikis. Kesalahan yunior yang terbesar ada ia tercipta sebagai yunior, dan dosa itu hanya bisa dihapus dengan taat buta kepada senior. Sama sekali tidak ada iklim intelektualnya. Maka boleh dikatakan, training yang tujuannya adalah sekadar mendisiplinkan tubuh peserta sama seperti pelatihan agar anjing untuk dapat berjalan dengan dua kaki. Yang didisiplinkan adalah otot dan gerak instingtif, bukan pikiran.

Maka, training yang benar adalah yang memanusiakan manusia, yang mengedepankan intelektualitas, yang membuat manusia mempunyai pemahaman dan wawasan baru. Pada domain inilah sistem pencerahan ini diawali kata “Training”.

Sedangkan kata “Revolusi” mengacu pada pahaman bahwa segala sesuatu itu hakikatnya bergerak, berubah, menyempurna. Karena pergerakan itu peralihan dari potensialitas ke aktualitas, maka sesuatu pun hakikatnya adalah baru dan menjadi. Tidak ada sedikit pun jejak lama. Dalam konteks sosial, revolusi adalah perubahan radikal tentang segala pahaman dan perilaku yang selama ini sudah dianggap sebagai kodrat dan sewajarnya demikian.

Padanan Training dan Revolusi melahirkan sebuah konsep pendidikan non-kompromistis, yang radikal dan mendasar. Perubahan menuju apa?

Perubahan sekadar pada alat produksi tidak menjamin dan menjawab kesejahteraan dan kebahagiaan universal manusia. Inti pemaknaan atas segala nilai terletak pada Kesadaran (consciousness) yang hakikatnya adalah eksistensi itu sendiri.

Sehingga, Training Revolusi Kesadaran (TRK) adalah sebuah sistem pendidikan yang didasarkan pada kemampuan seorang insan mengontrol pikiran-tindakan-sikapnya dalam kerangka nilai-nilai universalnya dalam menyikapi realitas sosial-kebudayaannya. Ia lahir bukan untuk meniru orang lain karena manusia bukan binatang. Ia belajar untuk menjadi dirinya sendiri yang punya karakteristik unik dan merdeka dalam menentukan peran hidupnya.

Dengan melihat tujuan dan bagaimana pola pembentuknya, sistem TRK ini sangat sensitif terhadap tindak eksploitasi tubuh dan pikiran, atas nama apa pun. Tidak heran, musuh utama TRK adalah primordialisme, feodalisme, dan militerisme. Primordialisme adalah eksploitasi eksistensi atas nama ikatan darah, almamater, agama, dan golongan. Feodalisme adalah mistifikasi struktur sosial. Militerisme adalah eksploitasi tubuh.

Rangka bangun TRK adalah sistem pendidikan yang bertopang pada lima pilar: a) logika, b) filsafat, c) teologi pluralis, d) sosiologi, e) mistisisme/esoterisme, yang saling mengikat, disajikan dalam bentuk kajian, dengan tujuan-tujuan khas.

Logika adalah tentang cara berpikir benar yang menumpu seluruh landasan pengetahuan manusia. Ini adalah kajian rutin mingguan, minimal 6 bulan (16 kali permukaan), yang tidak bisa dijadikan paket sekali waktu, tidak bisa diikuti setengah-setengah atau sesukanya. Siapa pun yang tidak selesai menempuh tahap ini dipastikan gagal. Berdasarkan pengalaman di lapangan, banyak orang baik yang salah mengeluarkan kebijakan karena tidak bisa memahami realitas.

Kajian filsafat adalah tahap kedua, bicara tentang tema-tema inti semesta pemikiran manusia. Disajikan tanpa penyejarahan dan alfabetis sehingga setiap peserta terlibat dalam setiap wacana yang dihidangkan, juga tidak terjebak pada data/ensiklopedis.

Setelah kita mempunyai pondasi pikir dan kerangka umum yang utuh tentang pandangan dunia, kajian teologi pun adalah halte pemikiran selanjutnya. Teologi dalam sistem kajian ini tidak memihak pada form agama tertentu melainkan menelisik pada nilai-nilai universal agama. Alih-alih menjadi fundamentalis dan eksklusif, kajian teologi pluralis ini membuat dimensi kasih Tuhan dalam citra manusia bisa meluas ke segala unsur di alam ini. Ia bukan dogma, dan tidak berhenti pada agama atau mazhab tertentu.

Kajian sosiologi baru dipaparkan setelah peserta berhasil membumikan alam abstraksi (logika, filsafat) dan dialektika personalnya (teologi) dalam ranah kemasyarakatan (sosiologi). Wilayah ini adalah medan pembuktian segala teori radikal yang diterima sebelumnya. Segala klaim kebenaran dan keakuan personal diuji dalam ranah ini. Ketika tidak bisa mengaktual, bisa dipastikan bahwa nilai-nilai yang dipelajarinya dalam kajian logika, filsafat, dan teologi diperoleh dengan mimikri, taat buta. Kita tidak butuh orang pintar hafalan. Yang dibutuhkan di alam ini adalah manusia organik yang bisa mengaktualkan pengetahuannya dalam struktur kesadarannya.

Sedangkan mistisisme adalah proses perenungan kembali, recharge, dari segala aktivitas duniawi, pemaknaan ulang atas segala hal yang telah dikonsepsikan selama ini. Kajian ini akan membongkar segala klaim kebenaran yang berasal dari sisa-sisa peradaban primitif yang ditegakkan dengan kekuatan otot, bukan otak. Kajian esoterisme ini diletakkan di level terakhir mengingat rentannya klaim-klaim mistis. []


Komentar»

1. ahmadsamantho - Mei 8, 2008

Wah bagus tuh kurikulum Training Revolusi kesadaranya, masih diaplikasikan di HMI gak? Si Yasser (alumni SMU Plus Muthahhari Bdg) di Solo minta bahan dan referensinya.

2. senopatiarthur - Mei 8, 2008

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/training_revolusi_kesadaran

3. saparuli - Mei 8, 2008

menarik bang… Training Revolusi Kesadaran (TRK) adalah sebuah sistem pendidikan yang didasarkan pada kemampuan seorang insan mengontrol pikiran-tindakan-sikapnya dalam kerangka nilai-nilai universalnya dalam menyikapi realitas sosial-kebudayaannya. Ia lahir bukan untuk meniru orang lain karena manusia bukan binatang. Ia belajar untuk menjadi dirinya sendiri yang punya karakteristik unik dan merdeka dalam menentukan peran hidupnya. tetapi dari TRK tersebut bukannya kebanyakan malah mengikuti paham trainernya bang.hehehe. selain itu apakah TRK ini hanya berada dalam tataran teoritis saja dalam artian apakah tidak ada bentuk praktis yang terjun langsung ke masyarakat dan berguna bagi diri peserta TRK tersebut… but over all i agree with u…

4. anditoaja - Mei 12, 2008

Setiap nilai yg sudah bisa diartiklulasikan dalam argumentasi dan tindakan seseorang hakikatnya adalah dirinya sendiri. TRK, dan juga bacaan, bincang dengan tokoh, refleksi atas realitas dan forum-forum diskusi hanyalah pemicu. Keputusan tetap dipegang oleh pelaku. Dengan demikian, sistem TRK tidak merasa menyimpan budi atas perubahan pemikiran seseorang yg kebetulan mengikuti kajian-kajian di TRK.

Sebenarnya, masalah terbesar setiap lembaga atau tokoh yg konsern pada perkaderan adalah sejauh mana ia rela melepaskan “anak didiknya” untuk menjadi dirinya sendiri, meskipun mungkin lembaga/tokoh pendidik itu terlupakan. Dalam bahasa TRK, sikon ini disebut sebagai BUNUH DIRI KELAS.

Dan sistem TRK meyakini hanya dengan jalan inilah perubahan sosial yg sistemik bisa diaktualkan.

5. kumis naga - Mei 13, 2008

dear andito..

dit, lu salah ambil keputusan untuk nulis di web dengan nampilin nama lu langsung. lu jadi kebaca banyak orang. pokok fikiranmu jadi sangat mudah ditebak oleh lawan maupun kawan… jangan sampai kejebak kawan… lu sudah jauh bermain. apalagi lu pake nama maula yang sbenarnya lu ingin besarkan. saran gue kalau lu mau nampil jangan pake nama lu…

kumis naga

6. Perdi - Mei 15, 2008

mas anditoaja ini emang rapi dalam memandang sesuatu, sehingga bisa membuahkan pemikiran yang gress and orisinal. gmn kalo mas anditoaja ini nulis buku. tar saya beli dech bukunye, insya alloh…oy mas, kalo boleh ngasih ide gimn kalo nama TRK ni di ganti menjadi “Meneratas Jalan Kesorga”, [terlepas dari metodenya sprti apa mo sistem sel or sistem kandang burung],kyanya pst laku kers tuh, alnya sangat disayangkan sekarang banyak orang yang pengen banyak uang and masuk sorga, gmn mnrut mas??

7. saparuli - Mei 16, 2008

sepakat saya kang andito, jadi inget para pahlawan tanpa tanda jasa, berarti dalam hal ini para pahlawan tersebut banyak yang dibunuh yah kang???…hehehe.
Btw makasi kang, tulisan kang andito bagus2 semoga kg andito tetap menulis tulisan yang menyejukkan dan tetap membuat tulisan dengan olahan kata2 yang mudah dimengerti. tetapi jikalau kang andito menggunakan bhs langitan tolonglah kasih HINTnya kadang2 kita sebagai pemula tidak mengerti. hehehehe.
oya punten kang (mohon ijn) Blognya tak buat Side Link di blog saya yah?
-regards-

8. A_dHie - Juni 4, 2008

Yupz..Bang andito…saya dukung 100 % langkah TRK ini, pasalnya TRK ini cukup strategis untuk mendekontruksi (meminjam bahasa M.Arkoun) mindset kader yang dinilai sudah aus dan merapuh, dan saya lebih sepakat lagi kalo bang andito sudi mengirimkan ke email saya materi TRK + panduan bacaannya,,,
mudah-mudahan cahaya rahmat menyelimuti gerak langkah kita!!! so…jangan lupa kirim materinya yach bang…
Makasih,,,
Yakusa !!!

9. Andhy - Juli 5, 2008

Anda seharusnya jadi Menteri Pendidikan di Republik ini, agar generasi ke depan yg menghuni negara ini adlh generasi yg tidak amburadul lagi seperti sebagian besar generasi sekarang.
Syukron, Anda hebat.

10. peace - Juli 9, 2008

saha ieu?

11. pandji - Juli 31, 2008

materi TRK nya sudah di update ?

12. syaiful - Agustus 5, 2008

Bang, teruskan perjuangannya,
hmi kom usakti

13. Jamiels - Februari 4, 2009

Sangarrrrr…!!!!!
Bgs Bgt’z.
Salam dari HMI Sidoarjo, YAKUSA.

14. Mursam - Juli 29, 2009

pengen tahu lebi banyak tentang TRK, bagi-bagi dung bang, kami dari Cabang Pontianak, kayak perlu training semacam TRK, bang lau di undang ke Pontianak mau ya

15. Rizki Nurahim - November 7, 2011

makasih akang….

HMI Banjar Jawa Barat

16. haris asy'ari - Januari 11, 2012

semoga bisa di implementasikan

17. epulkatama - Agustus 5, 2013

keren,,, materi kajian TRK ini,,,

18. budi - Maret 26, 2014

peran quran dimana ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: