jump to navigation

Ahmad Helmi Ali Ridho: Dari Ngaji Harakah ke Kajian Esoteris April 24, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

Tampilannya kalem dengan kumis tipis setia menghias di atas bibirnya. Murah senyum dan nada bicaranya lembut. Gayanya cool dan ramah khas anak Betawi. Meski tampilannya suka memakai baju koko sudah mencirikan diri sebagai ustaz, tapi orang-orang mungkin tidak menyangka bahwa ia pernah menjadi juru dakwah kondang di lingkungan gerakan Islam (harakah Islamiyah) yang mengusung ajaran-ajaran Hasan al-Banna, tokoh utama Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Ia aktif berdakwah sejak 80 hingga 95-an, dimulai dengan membina pelajar, kemudian mahasiswa hingga profesional muda. Secara perseorangan, perlahan namun pasti, bibit-bibit aktivis itu ia semai, dihimpun dalam sebuah lingkaran kecil (halaqah) dengan sistem rekrutmen yang ketat, selektif dan terorganisir rapi. Kini, bibit-bibit aktivis dakwah itu telah berubah menjadi pohon raksasa, sebuah partai dakwah yang disegani partai dan komunitas lain.

Itulah kegiatan masa lalu Ustaz Helmi, panggilan akrab dari Ahmad Helmi Ali Ridho. “Ibu memberi saya nama Ahmad Helmi, sedangkan ayah menambahi Ali Ridho. Kemudian saya gabung menjadi Ahmad Helmi Ali Ridho. Itulah nama asli saya.”

Era 80-an adalah masa kelam bagi umat Islam di Indonesia. Saat itu Suharto menjaga irama stabilitas sosial politik dengan memasang kabinet dan lembaga birokrasi dari kalangan yang anti/tidak ramah terhadap Islam. Segala simbol-simbol keislaman adalah barang terlarang di ranah publik. “Susah cari tempat untuk acara pengajian atau daurah,” kenangnya. Maksudnya adalah mengkaji akidah dan ideologi Islam, bukan sekadar belajar ritus. Akhirnya, halaqah dilakukan di tempat-tempat umum tapi tidak mencurigakan seperti di kebun binatang, taman, lapangan, hingga kebun raya.

Akhir 80-an, posisi kelas menengah Muslim menguat dan membesar bak cendawan di musim banjir. Suharto mulai melonggarkan karet gelangnya dan memberi ruang lebih luas kepada kelompok-kelompok Islam. Kegiatan di mesjid kampus semakin beragam. Militer tidak lagi mengejar aktivis Muslim moderat, melainkan fokus pada gerakan kiri dan kanan ekstrim yang ingin mengubah ideologi negara dengan cara kekerasan. “Kondisi ini tercipta karena masuknya pemikiran Islam dan menguatnya jenderal santri dalam tubuh militer.” Jelasnya.

Perubahan kebijakan intelijen ini berdampak positif bagi aktivitas dakwah Helmi. Ia sudah bisa masuk ke tempat kost mahasiswa. Dengan memakai whiteboard, tiap grup pengajian hanya terdiri dari 5-10 orang untuk memudahkan internalisasi sekaligus pengawasan. Biar bagaimanapun, “Kita memang wajib waspada terhadap segala bentuk inflitrasi yang bisa melemahkan gerakan dakwah Islam.”

Dilahirkan dari keluarga Betawi, Helmi tumbuh sebagai anak yang relijius. “Setiap anak Betawi pasti bisa ngaji. Paginya mereka sekolah formal, sore hingga malam mereka biasanya nyantri di langgar (mushalla). Orangtua saya secara tradisional sangat relijius. Karenanya, saya disekolahkan di sekolah agama dan pesantren.”

Lazimnya tradisi pemikiran Islam di Indonesia, ayahnya kental menganut Teologi Asy’ariyah. Ia sering mengajak diskusi tentang doktrin yang diyakini dan dijalaninya pada Helmi. Namun sebagian besar keyakinan ayahnya tidak menarik perhatian Helmi meskipun ia selalu menaruh sikap hormat dan tidak pernah membantah omongan-omongan ayahnya.

Meretas dakwah dari PII ke Al-Ikhwan

Penolakannya terhadap doktrin Asy’ariyah yang deterministik mungkin dipengaruhi secara alamiah oleh karakter aktivisnya yang cenderung kritis dan progresif. Alasannya, “Meskipun waktu itu saya masih kecil, tetap saja rumit memahami konsep teologi ini karena banyak yang kontradiksi dengan realitas dan rasionalitas kita.”

Masa remajanya dicurahkan untuk aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) yang berpusat di Menteng Raya, sebuah organisasi binaan tokoh-tokoh Masyumi. Di PII, Helmi masuk struktur sampai tingkat pengurus Daerah Jakarta Selatan bidang Dakwah.

Helmi punya alasan mengapa dia berdakwah. Landasannya ayat al-Quran, “Wa man ahsanu qawlan min man da’a ilallaahi wa ‘amila shalihan wa qala innani minal-muslimin.” (Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan ia beramal saleh dan ia berkata: “Aku sungguh termasuk orang yang berserah diri”).

Di tengah kegiatan dakwahnya di PII, Helmi bertemu dengan aktivis-aktivis yang mengusung Ideologi Ikhwanul Muslimin, sering disebut “Al-Ikhwan”. Akhirnya, ia turut terlibat merintis organisasi dakwah underground ini yang sekarang sudah menjadi partai politik cukup diperhitungkan dan ditakuti karena sistem pengaderannya yang solid.

Dari berbagai suka-duka selama di medan dakwah, pengalaman paling berkesan adalah saat ia membina pemuda-pemuda aktivis Islam hingga menjodohkan dan membuat mereka berumah-tangga. “Di usia 25 tahunan saya sudah punya ‘menantu’ dari binaan-binaan saya yang saya jodohkan.” Katanya dengan senyum simpul.

Kedekatannya dengan gerakan Al-Ikhwan terkondisikan dengan perubahan pemikiran yang ia dapatkan dari kegemarannya membaca buku. “Kesadaran agama saya muncul karena saya hobi membaca. Meskipun saya ngendon di Pesantren NU, tapi saya sudah terpengaruh oleh pemikiran Hamka yang dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah. Saya punya koleksi buku-buku Hamka. ‘Tasawuf Modern’-nya luar biasa.” Kenangnya.

Masih di pesantren, Helmi melahap habis buku Ma’alim fi ath-Thariq karya Sayyid Quthb dalam tiga hari. Buku itu langsung mengubah perilakunya sejalan dengan pemikiran tokoh besar Al-Ikhwan yang syahid di tiang gantungan rezim Gamal Abdul Nasser. Helmi meyakini, segala yang tidak berhukum pada al-Quran adalah Jahiliyah, maka harus diperangi dengan berbagai cara dan kemampuan. Sejak itu, ia mengoleksi buku-buku Hasan al-Banna, Sa’id Hawwa, Abul A’la Maududi, Maryam Jamilah, Mohammad Asad, Fathi Yakan, Muhammad Quthb, Hamidah Quthb, Ali Juraishah, dan lain-lain yang notabene adalah tokoh-tokoh sentral Al-Ikhwan.

Tentu saja perubahan pemikirannya yang menjadi radikal ini tidak akur dengan gaya pesantren tradisional yang cenderung status quo terhadap segala bentuk kebijakan pemerintah. Ia juga acap berbenturan pendapat dengan guru-gurunya di pesantren dalam soal-soal keislaman.

Misalnya tentang jihad. Ia sepandangan dengan Sayyid Quthb tentang surat al-Anfal ayat 72 sebagai salah satu ayat disyariatkannya jihad, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi…”

Sayyid Quthb menggambarkan Islam sebagai agama yang aktif menyebarkan nilai-nilai Islam ke seluruh alam tanpa memandang batas warna kulit dan geografis. Bila dakwah lisan tidak dirintangi, maka jihad dengan lisan itulah yang dilakukan. Namun, jihad fisik dapat dilaksanakan bila dakwah Islam dirintangi. Metode dakwah akhirnya menjadi panduan penting untuk menghilangkan tekanan dan rintangan dakwah dengan segala kekuatan yang ada.

Dengan demikian, jihad fisik tidak bisa lepas dari jihad lisan. Konsep jihad yang benar niscaya selalu membawa kemaslahatan untuk masyarakat banyak, bukan sebagai konsep yang menakutkan pribadi manusia, apalagi bertindak kasar dan bengis sebagaimana yang digambarkan kalangan Barat. Pemahaman Sayyid Quthb terhadap jihad inilah yang tertanam dalam konsepsi Helmi, pria kelahiran Jakarta 7 Oktober 1965 ini.

Metode mengikat ukhuwah

Setiap gerakan-gerakan ideologis, entah yang berlabel agama maupun tidak, selalu mempunyai pola untuk ‘memagar’ konstituennya agar tidak keluar dari jamaah. Secara rutin, Helmi menempa kelompok pengajian binaannya dengan segala macam dogma dan metode. Sehingga ikatan persaudaraan (ukhuwah) terjalin erat. Semua anggota saling mengikat satu sama lain. “Dalam tradisi kita, ukhuwah itu adalah tindakan, bukan wacana. Bukan saudara bagi mereka yang tidak peduli terhadap nasib sesama saudara Muslimnya.”

Persaudaraan dibina melalui seringnya pengajian bersama (taklim). Dalam waktu tertentu mereka melakukan perjalanan bersama (rihlah). Terus menginap bersama (mabit). “Ujian pertemanan yang terakhir adalah saat kita punya hubungan keuangan dengan sesama anggota grup. Biasanya, banyak orang yang tidak bermasalah untuk sekadar kajian dan jalan bareng, tapi sontak berubah saat muncul masalah keuangan.”

Ikatan inilah yang menjadi pondasi kokoh sehingga setiap kader pengajian Helmi tidak mau keluar dan mencari tempat kajian lain. “Mungkin saja ada di antara mereka yang sedang mengalami pergolakan pemikiran karena suatu buku atau diskusi yang sedang dia simak. Tapi lagi-lagi mereka bertanya balik pada diri sendiri, tempat di luar belum tentu menjanjikan. Kita bisa semakin pusing. Sedangkan di sini, betapa pun banyak kekurangan, adalah keluarga kita sendiri. Banyak saudara yang siap membantu kita di ladang dakwah.” Demikian Helmi memberi resep.

Membaca, “dosa terbesar” anggota harakah

Tapi dasar memang buku adalah jendela dunia, membuat kita lebih bisa luas berefleksi tentang realitas diri dan lingkungan. Buku membuat kita berubah wujud pada setiap lembar yang kita buka. Buku membongkar sekat-sekat eksklusivitas diri, membuat diri kita bisa berdialog secara ramah dengan selain kita.

Helmi melakukan “kesalahan terbesar” yang bisa merusak tatanan organisasi. Dia suka membaca. Baca apa saja. Dan apa saja itu berarti segala hal yang mencerahkan tapi juga bisa mengganggu dan menggoyang arus utama organisasi karena sifatnya yang kritis dan main hantam segala kejumudan pikiran.

“Kita memang dianjurkan membaca buku. Tapi buku yang dianjurkan murabbi, bukan pilihan sendiri, apalagi yang fikrahnya berbeda dengan kita.” Ujar aktivis yang pernah kuliah di LPBA Ibnu Sa’ud di Salemba (sekarang namanya LIPIA, berkantor di Buncit Raya), Averroes (waktu itu kampusnya di Buncit Raya), dan juga di IAIN Jakarta.

Keterbukaan dan pencerahan dari buku itulah yang kemudian menyadarkannya bahwa dunia tempat ia aktif berdakwah mengecil dan menyempit. “Ibarat gelas yang ukurannya sudah tetap. Organisasi juag demikian, punya nilai-nilai tersendiri. Sedangkan kita dahaga dengan berbagai ilmu. Air ilmu itu bisa tumpah sia-sia bila ditampung oleh gelas kecil. Pada saat yang sama, bila tetap dipaksakan, gelas itu bisa pecah.” Demikian tamsilnya tentang organisasi lamanya dan kecenderungan pemikiran baru yang diterimanya.

Pilihan akhirnya adalah seberapa besar kita siap dan mau berubah untuk mencari hakikat. Karena risikonya tidak senyaman mendengar lagu-lagu new age atau gregorian. Kritik, cercaan hingga pengasingan adalah satu paket dalam perubahan wacana. “Bahasa harakah-nya, saya ini adalah orang yang futhur, jatuh di medan dakwah. Bahasa lembutnya: sudah sesat dan menyesatkan, hahaha. Makanya, setelah perubahan pemikiran saya terdeteksi, grup pengajian saya langsung mereka amankan. Semua kontak saya dengan mereka dihapus. Dengan demikian, ‘kesesatan’ saya tidak menjadi epidemi.”

Pasca berkubang dengan pemikiran Hamka, Hasan al-Banna, dan Sayyid Quthb, Helmi tancap gas melahap buku-buku esoteris. “Sudah cukuplah dengan ekstorisme. Bukan tidak penting, hanya saya membutuhkan kajian yang lebih mendalam dan universal.”

Jejak evolusi pemikirannya terekam dengan baik dari berbagai buku yang dibacanya, seperti karya Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, Ali Syariati, Deepak Chopra, Anthoni De Mello, Bhante Henepola Gunaratana, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, Martin Lings, Fritjof Schuon, H. Dornes Tuanku Mudo. Mengapa? “Saya rasakan mereka berbicara dan menulis dengan daya spiritualitas yang tidak hanya menyentuh rasio tapi juga ruhani dan bahasa mereka mencerahkan.”

Damai sebagai orang biasa

Bagi mereka yang sudah terbiasa aktif wirawiri di dunia dakwah dan gerakan Islam, tidak ketemu umat sama seperti tidak fitness bertahun-tahun. Tapi Helmi melihatnya dari sudut lain. “Saya menjadi punya waktu memikirkan jiwa ini. Belasan tahun urusi umat tapi tidak pernah muhasabah ke relung batin yang paling dalam rasanya, kok naif ya?” Tutur sosok yang sedang terkagum-kagum dan terpengaruh oleh Ibnu Arabi dan Imam Khomeini.

Selain itu, menjadi orang biasa juga membuatnya jadi lincah mencari pengajian-pengajian tasawuf yang menurutnya adalah jantung semua agama. “Sekarang saya agak hati-hati berdakwah. Saya perhatikan ayat-ayat yang sering saya pakai pada masa lalu yang menyuruh menyeru kepada Allah bukan pada diri atau kelompok saya saja.”

Buku-buku yang berpengaruh berat pada dirinya adalah Ma’alim fi ath-Thariq (Sayyid Quthb) dan Arba’ina Haditsa (Imam Khomeini). Dan kini, ia sedang tenggelam dalam kajian kitab Fusush al-Hikam karya Muhyiddin Ibnu Arabi. Kajian rutin ini diadakan tiap Rabu malam di Yayasan Paramadina (depan RS Pondok Indah) dengan pembimbing Muhammad Baqir.

Meskipun aktivitas sebagai dai ditanggalkan untuk sementara waktu, hobi mengajarnya tetap terpelihara karena ia salurkan dalam mengajar bahasa Arab. Metode itu dinamainya ASL (Arabic Super Learning). “Metodenya saya disain bagi orang-orang sibuk, sehingga mereka dapat berbahasa Arab dengan semudah mungkin tanpa disibukkan oleh pekerjaan rumah maupun hafalan. Dan alhamdulillah, banyak yang menikmati keefektifannya.” Sekarang ia mengajar di Islamic Cultural Center, Paramadina, Mesjid Raya Cinere, Kantor Yayasan Madania di Wijaya Center dan beberapa tempat lainnya.

Mengajar dan belajar dikondisikannya sedemikian rupa sehingga tidak ada salah satu yang dikorbankan. “Saya ubah terlebih dahulu cara pandang saya tentang waktu. Saya memilih konsep ‘berapa jam’ sehari bukan mematok waktu ‘jam berapa’ setiap hari. Dengan konsep ‘berapa jam,’ saya merasa lebih leluasa untuk mengatur waktu kegiatan apa saja.”

Helmi termasuk integralis, yang berprinsip bahwa tidak ada irisan-irisan dalam kehidupan ini. Baginya, irisan-irisan akan membatasi peran hidup manusia di dunia. “Dalam bahasa Arab, ada istilah ‘syâghil’ dan ‘masyghul.’ Syâghil berarti orang yang menyibukkan diri, sedangkan masyghûl adalah orang yang dibuat sibuk oleh faktor luar atau pihak luar. Saya lebih cenderung syâghil.”

Buku dan metode ASL (Arabic Super Learning) dibuat dalam minda bahwa tidak boleh ada waktu yang sia-sia. Meskipun sebenarnya banyak tersedia buku bahasa Arab dari dalam dan luar negeri yang bisa dipakai untuk acuan mengajar. Alhamdulillah, buku ASL itu sudah Helmi presentasikan di Malaysia dan di Philipina dengan sambutan yang sangat menggembirakan.

Belajar untuk Mencintai

Hidup dalam kesadaran universal, kesadaran kreatif, adalah prinsip hidup yang terus dipegang oleh Bapak dari lima anak ini: Mohammad Izzat, Fathimah Dzat Izzah, Abubakar Ashiddique, Mohammad Hilman dan Maryam Hekima. “Saya hanya menjalani hidup. Saya selalu merasa disuruh berjalan hingga satu titik, yang merupakan pembukaan baru bagi fragmen kehidupan saya selanjutnya.” Karenanya, Helmi lurus saja mengkaji berbagai mazhab teologi dan pemikiran. “Sekarang saya mendapatkan ketenangan dalam Mazhab Ahlulbait.” Aliran ini mengacu kepada ajaran keluarga Nabi Muhammad saw. Dalam sejarahnya, mazhab ini lebih dikenal sebagai Syiah Ali (untuk membedakannya dengan Syiah Muawiyah) atau Mazhab Ja’fary (mengacu kepada imam keenam Ahlulbait).

Helmi menemukan bahwa Mazhab Ahlulbait adalah wajah kesempurnaan esoteris-eksoteris Islam. Dalam doktrin mistisisme Ahlulbait, kearifan seseorang ditandai dengan tingkat kepedulian terhadap kehidupan sosial, ilmu pengetahuan, dan bahkan ketatanegaraan, selain tentunya ritual-ritual Ahlulbait yang sangat dalam.

“Lihatlah, apakah ritual-ritual yang kita lakukan bernilai atau tidak dengan melihat apakah kesadaran spiritualitas kita semakin tumbuh atau tidak. Imam Khomeini ra adalah seorang arif, filosof, politikus, dan negarawan. Beliau sangat memerhatikan kesehatan dan suka berolahraga. Beliau juga sebagai warganegara yang baik di negeri tempat beliau bermukim.”

Pengembaraannya dengan mazhab keluarga Nabi saw ini dilakukan tanpa banyak gembar-gembor. “Saya tidak pernah mengajak keluarga besar saya ke Ahlulbait.” Lama-kelamaan, alih mazhab ini terendus oleh keluarga. Tetapi selalu ada efek kebaikan dalam setiap perbuatan baik.

Suatu ketika tatkala Helmi menyembunyikan keyakinannya, ada yang menelpon ibunya dan mengabarkan dengan penuh semangat bahwa anaknya sudah ikut ajaran Syiah yang sesat. Ibu dan kakaknya penasaran mengapa anak dan adik mereka dianggap sesat oleh seseorang. Tuduhannya, karena punya Quran-nya beda, suka mencaci-maki sahabat dan soal-soal klasik lainnya. Padahal ibu dan kakaknya melihat Helmi biasa-biasa saja.

Akhirnya, mereka minta waktu pada Helmi untuk klarifikasi apakah benar ia sudah ikut agama sesesat itu? Alhamdulillah, jawaban-jawaban Helmi memuaskan mereka. Tidak selesai di situ, ibu, kakak, adik dan ipar-iparnya yang berjumlah belasan orang ikut Helmi ke Bahtera Ahlulbait dan setia hingga saat ini.

Helmi pernah meminta bantuan kepada seorang ustaz Ahlulbait untuk membimbing keluarga besarnya tentang fikih, teologi, dan lain-lain. Kini, keluarga besarnya itu meminta ia sendiri yang membimbing mereka.

Masyarakat di mana Helmi tinggal tidak tahu apa mazhabnya. “Mereka hanya tahu saya guru bahasa Arab.” Katanya. Meskipun demikian, Helmi dan keluarganya selalu salat berjamaah Magrib dan Isya, juga turut salat Jumat di mesjid dekat rumah dengan mengikuti cara-cara mereka. Bahkan Helmi terkadang diminta berkhotbah Jumat di mesjid-mesjid mereka. “Saya pikir orang awam hanya bisa membaca perilaku dan gak sempat baca buku.” Dengan kata lain, masyarakat akan baik kepada kita penganut Mazhab Ahlulbait selama kita mau membaur dan berpartisipasi dengan setiap kegiatan kemasyarakatan.

Helmi yakin, hakikatnya tidak ada orang yang menolak ajaran Ahlulbait. Karena ajaran Ahlulbait merupakan ajaran kesempurnaan, ajaran fitrah. Menolaknya berarti menolak fitrah mereka sendiri. “Musuh kita itu bukan agama atau mazhab lain. Tapi musuh kita yang sebenar-benarnya adalah kebodohan, kemiskinan, penyelewengan harta umum, penindas hak-hak kaum tertindas (mustadh’afin), dan para perusak perdamaian, persatuan dan persaudaraan.” tegasnya.

Kenyataannya, yang mereka tolak memang adalah Ahlulbait dalam bentuk yang mereka persepsikan. Celakanya, persepsi buruk mereka akibat dari sikap dan perilaku ketidakhati-hatian mereka yang mengaku pengikut Ahlulbait. “Dari sinilah saya pahami mengapa Imam Ja’far Shadiq as menasihati pengikutnya dengan kata-kata, ‘Kunu lana zayna wala takunu ‘alayna syaina.’ Jadilah kalian penghias-penghias kami dan jangan mencoreng wajah kami.”

Helmi berpandangan, masyarakat Indonesia ‘lebih menerima’ esoterisme daripada ekstorisme. Menurutnya, Islam masuk dan menyebar di Bumi Nusantara melalui para wali. Nah, sebutan wali identik dengan dunia esoterik. Ia mencontohkan gerakan Wahabi yang juga ada tapi tidak mengakar karena sangat eksoterik, sehingga selalu menimbulkan konflik. Kemudian ia menyitir sabda Rasulullah saw, “Afsyus salama baynakum,” tebarkanlah pesan damai di antara kalian. “Hanya jiwa yang damai yang dapat menyebarkan pesan damai. Dan jiwa yang damai inilah yang dibentuk oleh esoterisme Ahlulbait atau setiap agama apa pun.” katanya menutup perbincangan. [andito]

Komentar»

1. triyo - April 24, 2008

puji Tuhan, pengalamannya begitu mencerahkan. Mudah2an bisa jadi bahan bakar bagi para pencari kebenaran.

2. ressay - April 24, 2008

Jadi inget dengan Pak Aris. Beliau dulu, katanya, salah satu pendiri KAMMI Jogja. dan akhirnya sempat jadi pengurus PKS. sekarang sudah dikeluarkan dari PKS karena kevokalannya. Dan beliau itu syi’i.

sayang, sekarang beliau sudah bekerja di Bulan Sabit Merah, jadi jarang ketemu dengan beliau.

3. vendra22 - April 24, 2008

Semoga rahmat Allah Swt dan cahaya Rasulullah dan Ahlulbait ma’sumnya selalu meyertai mu.. saudara ku..

4. danalingga - April 24, 2008

esoteris yang membawa saya kepada pemahaman yang esensi dan universal.

5. bob - April 24, 2008

Assalamu’alaikum wr wb
mas helmy…ali ridho…
kita punya kesamaan beberapa
sama2 dari PII cuma saya dari utara
dan sekarang sama2 penganut ahlul bait..

masih suka main ke menteng raya ?…
jgn2 kita seankatan atau malah senior saya dulu.
yg jelas say di Bawah Medy Z latief …
saya tertarik tuh metode ASL nya pengen belajar…donk..

wassalam

6. Lanang - April 25, 2008

Salut dengan perjalannannya, klo saya sih orang NU yang lagi belajar beberapa madzhab diluar yang dibakukan NU :Syi’ah, Mu’tazilah, etc intinya masih membanding2kan. lagi terguncang gt lah .. hehehe
cuma yang pengen saya tanyakn kenapa ust helmi ini tak berkenan manerima teologi asy’ariyah karena alasan rasio, tapi dia bisa menerima kalangan ikhwan (paling tidak yang di INdonesia) yang teologinya setau saya adalah mengikuti ibnu taymiyah, yang dengan terang2an mempersonifikasikan Tuhan? atau paling tidak men-jism-kan Tuhan?

Di deket kalibata ada pengajian Ja’fary gt ga ya? guruku neng kampung dadi repot..

7. abdi - April 25, 2008

salam ustadz..

“orang yang tidak memiliki maka ia tidak memberi”. (Imam Ali AS)

orang yang tidak memiliki kebaikan maka ia tidak akan memberikan kebaikan..

orang yang tidak memiliki kedamaian maka ia tidak akan memberikan kedamaian..

orang yang tidak memiliki cahaya maka ia tidak akan memberi cahaya..

8. heri mulyo - April 25, 2008

nice article🙂

9. tumin - April 25, 2008

haiiiiiiiiiii
salam kenal aja buat yang punya blog ini aja

10. akmalhasan - April 25, 2008

Keseimbangan antara sisi eksoteris-esoteris memang ternyata diperlukan. Karena eksoteris lebih bersifat keluar diri sementara esoteris lebih ke relung jiwa. Atau dengan istilah lain mengupayakan penempatan diri di batas antara dua lautan, lautan jasadiyah dan lautan ukhrawiyah.

Salam…

11. realylife - April 25, 2008

kedamaian adalah toleransi dalam berkeyakinan
pegang teguh dan jalankan dengan sepenuh hati
itu saja opini saya

12. bayuimantoro - April 25, 2008

Ustadz ahmad helmi ali ridho, kayfa haluk?

ustadz helmi ini dulu pengajar bahasa arab metode ASL di masjid kompleks rumah saya di daerah cinere. Masjid cakra. Masih ingat ustadz?

Dulu (kira-kira 2 atau 3 tahun lalu) Ustadz Helmi ini masih bersama kafilah ikhwan tarbiyah, ketika saya pernah tanya apa beliau liqo, dengan ceria beliau jawab: Saya suka itu. (mksdnya suka dengan liqo).

Saya mengaji dan diskusi kepada beberapa aktifis dakwah lulusan LIPIA, anak NU, salafy, ikhwan (tarbiyah/PKS) dan sempat menanyakan perihal Syiah dan kesesatannya. Apa benar Syiah itu sesat?

Jawaban mereka adalah:

– Salafy: Semua syiah adalah sesat. Alasan/dalilnya bisa dicari di almanhaj.or.id atau dengarkan Radio Rodja, 756 AM.

– Ikhwani jebolan LIPIA: Dulu ada Syiah yang tidak sesat, tapi sekarang sudah (nyaris) tidak ada lagi. Dalilnya bisa dicari di al-ikhwan.net, atau tanya langsung mereka.

– Anak NU: Syiah yang tidak sesat masih ada, dalam komunitas kecil di Yaman. Tidak sampai tahap mengkafirkan Sahabat, tidak sampai men”dewa”kan Ali ra, mereka hanya kurang sependapat dengan kesepakatan Sahabat yang tidak mengangkat Ali ra sebagai Khalifah menggantikan Rasulullah saw saat itu.

Wallahu ta’ala alam.

13. Gandung - April 25, 2008

Salam kenal semuanya,
yang saya tahu, segala sesuatu ajaran dari Rasul dan ahlul baitnya itu selalu proporsional.

14. Pandji - April 30, 2008

Salam Ustad Helmi dan Ustad Andito

Pernah jadi muridnya ustad Helmi, tapi cuma sepotong hehehe, mudah-mudahan bisa konsisten lagi,

salam

15. Lya... - Mei 16, 2008

Ahlul bait??? bedanya dengan mazhab2 lainnya? Apa mazhab yang satu ini, yang konon “katanya” membawa kepada kebenaran…. benar2 bisa jadi sarana “pagar” untuk tetap berada dalam “track??!”

16. Oezie - Mei 22, 2008

Salam alaik
Saya pengen blajar bahasa arab… ada yang bisa kasih tau tentang ASLnya… Tolong kirim ke alamat email saya lebih jauh tentang ASL- nya
Terima kasih banyak
Wasalam

17. anditoaja - Mei 26, 2008

bagi rekans yang mau belajar sistem cepat bahasa arab, bisa hubungi Helmi di 021-32163575.

Helmi seorang pluralis, jadi pemahamannya dan sistem ASL-nya [mungkin] berguna utk temans Islam dan non-Islam.

18. m. subhi-ibrahim - Juli 22, 2008

Salam. wah, ustadz helmi sangat inspiratif…

19. chali - September 16, 2008

bagi mu agamamu dan bagi ku agamaku

20. saka - Oktober 2, 2008

kenapa gelasnya nggak gede pak, biar bisa nampung air banyak dan nggak tumpah. Sungguh sebuah perumpaan yang salah.

21. Achmad - November 28, 2008

Assalamu a’laikum Wr.Wb.

Salam kenal ustad, afwan nih jadi ustad dulu ceritanya liqo ya trus sekarang udah gak lagi, enakan mana ustad ikut liqo apa enggak sih?
boleh kan ana tau pendapat ustad….

22. Anto - Januari 28, 2009

Metodenya tu dibukukan ato cma lwat email?gmn cara ngedapatin bukuny?081393504031

23. andito - Februari 3, 2009

ASL sudah ada modulnya. Tapi bagi yg belum pernah ikutan kelasnya, menyaksikan sendiri bagaimana cara Helmi mengajar, nampaknya akan rumit mengajarkannya kpd orang lain. Ini tidak ada hubungan apakah yg bersangkutan jago tidaknya pengajar bahasa Arab.

Ada pengalaman nyata. Seorang yg jago bhs Arab memakai buku ASL sbg bahan ajar. Tp akhirnya murid2nya mundur 1 demi 1 krn secara alamiah orang ini memakai metode konvensional yg sangat kental grammar meskipun sdh memegang buku ASL. Karena sesungguhnya inti ASL adalah partisipasi aktif dari siswa.

Bagi rekan-rekan yg ingin mengetahui sistem ASL bisa menemui Helmi di Yayasan Paramadina setiap Rabu. Pada pukul 19-21 wib, ia ikut kelas Pengajian Kitab Fushush Al-Hikam bimbingan Muhammad Baqir, MA. CP: Pak Rahmat: 0811902581.

Saya sendiri sudah lama gak jumpa beliau lagi.

Ahmad - Mei 19, 2015

Dear Pak Andi.

Saya adalah murid Ustadz Helmi saat belajar agama dulu sekali. Ingin sekali saya menghubungi beliau, apakah Pak Andito punya nomor kontak beliau.

Atas informasi bapak saya sangat berterimakasih.

Ahmad Fauzi.

24. Salafiyyun - April 1, 2009

Wahai para pengikut yang ngakunya mengikuti ahlul bait.
Bukalah mata dan telinga, serta sucikan hati dengan melihat kembali sejarah. Apakah anda2 tau Abdullah bin Saba’?????
Mana ada mazhab bentukan Yahudi??????
yang ada adalah kebohongan dan kebohongan.
Semoga Allah Azza Wa Jalla membukan pintu rahmat dan mengembalikan akidah kalian pada jalan yang benar. Amin

25. naked mind - Januari 18, 2010

@salafiyyun; anda itu yg blm dibukakan rahmat, berdo’alah u/ diri anda sendiri, baru baca satu buku,br dpt 1 guru ud belagu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: