jump to navigation

Hade April 21, 2008

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

Hade menang! [Astaghfirullah, atau Alhamdulillah?]

Semua prediksi mewah dan konstelasi elite berantakan ketika Ahmad Heryawan-Dede Yusuf menang dalam pilkada Jabar 13 April 2008. Perolehan 39% yang mereka peroleh melibas 35% suara AMAN (Agum Gumelar-Ahmad Numan) dan 26% DAI (Danny Setiawan-Iwan Sulanjana) dari total suara sah. Tentulah pasangan AMAN akan mencoba sedikit menggoyang keputusan KPU Jabar dengan alasan kecurangan dan kesalahan ini itu. Siapa tahu bisa berhasil mengubah posisi mereka dari 35% menjadi 53%.

Suka tidak suka, apa pun model ketiak kita, perjuangan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) perlu diacungi jempol. Kerja ideologis, di mana ideologi/ajaran transenden sebagai pondasi sebuah gerakan, ternyata bisa memenangi kerja kapital, ketika sebuah tindakan hanya dinilai pada materi dan tujuan-tujuan instan.

Mereka terbiasa dengan pola bawah tanah, rekrutmen kader dengan sistem sel, dan selalu punya nafas panjang untuk perkaderan. Tradisi swadaya dalam membangun atau mengerjakan sesuatu membuat setiap wilayah mereka mempunyai kekuatan sosial politik signifikan dan membongkar mitos sentralisasi kapital dan politik ala partai elite.

Sedangkan partai-partai resmi terbiasa hidup dengan klaim kosong. Jualan mereka adalah isu-isu primordial dengan gaya feodal. Mereka terbiasa dengan pola asuh birokratis, mobilisasi massa tanpa indoktrinasi, dan tidak pernah mau memikirkan sedikitpun tentang perkaderan partai. Sentralisasi kapital dan politik sengaja dibangun dengan sistematis untuk membangun dependensi dan memperkuat mitos personal atas nama partai.

Dalam sebuah wawancara di televisi, Kiki Syahnakri mengklaim bahwa kemenangan Hade adalah berkat kekecewaan terhadap perilaku kekuasaan sekarang. Karenanya mereka membutuhkan pemimpin yang kuat dan mengerti betul keluah kesah rakyat. Ujung-ujungnya, siapa lagi pemimpin yang membawa hati nurani rakyat selain… Wiranto?

Ada pengamat lain beropini bahwa Hade memenangi pilkada karena adanya perpindahan gerbong di kubu Dai dan Aman. Maksudnya, seandainya tidak ada penggembosan di kubu Dai/Aman, maka pantat Danny Setiawan masih menempel erat di kursi Jabar 1, atau Kang Agum lah the winner. Itulah paradigma elitis dan feodal, tidak paham kerja ideologis dan tidak sadar bahwa kekuatan lobi struktural dan uang ternyata bukan segala-galanya. Penilaian Fadjroel Rachman bahwa kemenangan Hade adalah representasi dari gerakan kaum muda pun tidaklah terlalu tepat karena sebuah tindakan tetap butuh landasan indoktrinasi. Aku tidak percaya bahwa Hade dipilih karena usianya lebih muda kandidat lain.

Itulah dasar utama mengapa partai-partai besar emoh dengan calon independen. Itulah mengapa mereka membuat UU Politik yang membolehkan anggota partai sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Bayangkanlah ketika kesadaran politik warga semakin meningkat dan mereka mempunyai pekerjaan yang tidak bergantung sepenuhnya pada negara, maka partai-partai besar itu akan gembos dan menjadi rumah hantu.

Aku dapat informasi valid, bahwa DPW PAN dan DPW Muhammadiyah banyak yang hengkang ke kubu DAI karena uang Danny yang sangat banyak. Setidaknya pengurus PAN Ciamis dan Bandung mengeluh Dede Yusuf pelitnya Amitabh Bachan alias mana tahan. Kesimpulannya, yang banyak kerja dalam pilkada ini adalah kubu PKS dan sekian persen penggemar Dede Yusuf dan anggota Muhammadiyah kultural.

Aku banyak tidak setuju dengan doktrin PKS yang jumud (contoh kecil: kajian filsafat Islam masih barang langka di komunitas PKS). Tapi biar bagaimana pun, mereka punya sistem perkaderan yang luar biasa. Dalam diskusi buku “Aktivisme Islam” di Paramadina 24 April 2008, Ihsan Ali Fauzi pun mengakui sistem warisan Hasan Al-Banna ini.

Aku sangat berharap adanya komunitas pluralis dan humanis yang juga bisa membangun sistem indoktrinasi dengan sistem sel seperti ini. Perlu diketahui, sistem sel adalah sebuah perilaku organisasi yang rasional ketika sebuah komunitas membutuhkan kelanggengan ajaran dan sekuriti internal.

Apabila anda alergi terhadap segala bentuk aspirasi negara agama, maka singsingkanlah lengan baju dan celana anda, ambil cangkul, dan marilah kita menanam jagung di kebun kita. Maksudnya, apabila anda demikian peduli terhadap iklim pluralis atau betah dengan Indonesia Raya ini tapi tidak mau membasis, maka tunggulah 5-15 tahun ini ketika kelompok-kelompok pengajian sudah mengurung anda dan mereka memimpin RI-1. Masak tumis pakai kedondong, ya membasis dong. [andito]

Komentar»

1. ressay - April 21, 2008

Sebuah Pecutan…!!!

2. Singal - April 21, 2008

Kita sudah bosan mendengar janji-janji orang lama, semua omongkosong.

3. Ahmad samantho - April 22, 2008

Huebat euy analisis politik Antum, emang bener, PKS menang karena pola indoktrinasi dan rekrument sistem sel ala PKI (menurut Yudhi Latief). Tapi to, untuk gerakan Islam Madani-Pluralis Moderat, ya gak bisa pakai sistem indoktrinasi dogmatis ala PKS. Buat mereka mungkin yang layak adalah gerekan ideologis kerakyatan berbasis filsafat rasional dan kulural-spiritual, sebagaimana yang didakwahkan Ali Shariati. Gak usah minder dengan PKS, kalau kader-kader AB di Indonesia mau setia dengan warisan suci Imam Khomeini dan Aktifisme gerakan ideologis Islami ala Syariati, dengan beberapa modifikasi dan adaptasi kultural khas Indonesia (sebagaimana yang dilakukan Wali Songo), maka insya-Allah, kaum mustadafin akan menang, tapi bukan sekedar kekuasaan untuk kekuasaan, tapi kekuasaan untuk kemanusiaan dan kesejahteraan seluruh alam (Rahmatan lil ‘alamin).

Kalau kesetiaan kader dan gerakan politik dibangun di atas landasan indoktrinasi saja apalagi dengan basis yang tak logis, tak rasional, tak punya basis falsafah ideologi yang fundamental, maka itu tak akan bertahan lama, buktinya Ikhwanul Muslimin gagal di Mesir dan di beberapa negeri.

Ketika slogan dan moto Keadilan dan Kesejahteraan serta Anti KKN, dan label Islami hanya menjadi lipservice dan hanya berlaku untuk interen partai, maka publik akhirnya akan tahu kebohongan rezim ala Mu’awiyah. Saya cukup tahu dan cukup punya pengalaman bertahun-tahun bersentuhkan dan bergaul dengan model kader politik seperti itu sejak pra reformasi (1980-an), reformasi, sampai sekarang. Akhlak/perilaku-lah yang akan menjadi cerminan ketulusan atau ketidaktulusan serta kejujuran dan keteladanan kepemimpinan seseorang atau suatu kelompok.

4. Muhammad Ali - April 22, 2008

“Suka tidak suka, apa pun model ketiak kita” nah… ini nih dia kreativitas bahasa penulisan yang paling gua suka. jadi nggak capaek-capek bahas politik tentang “perjuangan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dan mengacungi jempol mereka. karana secara tidak langsung kita harus berani jujur kerja ideologis pergerakan religius seperti hal-hal terkait transendental yang ditapikkan oleh sratasi narasi positifisme ternyata mampu memnghantam politik praktis para kaum pungsionalaisme materialistik.

5. bayu imantoro - April 27, 2008

Sudah sunnatulloh al haq akan bersinar, dan kebathilan pasti akan lumpuh…

Dikampus saya juga sudah nyaris wafat itu anak-anak pengusung marxis, sosialis, dan paham-paham kiri. Ideologinya udah ga laku.
Apalagi paham liberal, pruralisme, termasuk ala Jaringan Islam Liberal tinggal tunggu waktu aja kehancuran paham mereka itu. Bertentangan dengan fitrah dan bashiroh manusia.

Segala sesuatu yang tidak bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah Rosulillah pasti akan binasa, karena Allah sendiri yang akan membinasakannya.
Perjuangan aktifis yang memperjuangkan al haq pasti akan PEDE abiz karena keyakinan kepada pertolongan Allah swt pada hamba Nya yang berjihad menegakkan syariat Allah dimuka bumi ini.
Allahu akbar.

Wallahu ta’ala a’lam.

6. Pandji - Mei 9, 2008

“Aku sangat berharap adanya komunitas pluralis dan humanis yang juga bisa membangun sistem indoktrinasi dengan sistem sel seperti ini. Perlu diketahui, sistem sel adalah sebuah perilaku organisasi yang rasional ketika sebuah komunitas membutuhkan kelanggengan ajaran dan sekuriti internal.”

apa tidak bertolak belakang ? komunitas pluralis dan humanis harus menemukan modelnya sendiri, jelas tak mungkin mengharap model seperti pks untuk komunitas pluralis dan humanis , karena model itu seperti itu hanya akan melahirkan kejumudan dll, dll

7. anditoaja - Mei 12, 2008

Inti masalah yg ingin kuungkap adalah bahwa komunitas ideologis, apapun nama dan alirannya, MUSTAHIL terbentuk tanpa sebuah kaderisasi dan pembasisan. Dan dalam suatu organisasi selalu ada lingkaran dalam-luar sejauh mana internalisasi nilai organisasi tersebut.

Dalam hal ini, kelompok pluralis-humanis bersikap cuek dan laissez-faire karena mereka mengira bahwa ideologi yg mereka peroleh tentu juga dialami oleh orang-orang lain. Padahal tidak semua orang bisa mengaktualkan diri semudah mereka. Boleh dikata, mereka memperlakukan diri semacam massa mengambang.

8. nany - Juli 4, 2008

ayo bangkitlah kaum pluralis!!! hancurkan kaum berjenggot yg sok jadi TUHAN!!

9. WORLEWOR - Juli 31, 2008

Hancurkan ego dihati kita yg menyimpan bibit perpecahan, didik ruhani kita lebih dewasa jangan ikut”an seperti kelakuan para penganut “Jenggoters” alias pasukan BKCK JBKK (Baju Kepanjangan Celana Kependekan Jenggot Berantakan Kumis Klimis)

10. rata - Januari 31, 2009

ayo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: