jump to navigation

la toilette April 17, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

“Sejahat-jahatnya orang adalah ia yang mengambil keuntungan material dari penderitaan orang lain” (Sarip, tukang koran).

Tidak ada yang gratis di dunia ini, terutama di Indonesia. Selalu ada tarif atas apa pun yang anda keluarkan atau terima. Konsekuensinya, apabila anda miskin, anda tidak berhak melakukan apa pun di dunia ini.

Untuk minum air putih mineral dua tegukan, anda harus bayar Rp100,-. Harga air kemasan Aqua gelas isi 200ml = Rp500,-. Berarti Rp100,- tiap 40ml, setara dengan dua kali tegukan. Anda keluar uang untuk mendapatkan air. Tapi anda juga keluar uang untuk mengeluarkan air Aqua itu dalam bentuk air kencing/pipis/piss.

Fenomena “lumrah” di alam global ini akan menyesakkan dada ketika anda seorang seniman. Sebagaimana kita ketahui, seniman = orang yang berdarah seni dan bergaul intens dengan seni. Berarti air seni anda banyak, alias suka kencing atau beseran.

Air kencing itu mengandung amoniak. Amoniak mengandung unsur nitrogen, sama dengan yang terdapat pada pupuk urea. Jadi nitrogennya itu yang menyuburkan tanaman. Jadi, apa ada hubungan antara seniman (artis) dengan tukang kebun (gardener)? Maaf, joke dikit.

Mungkin, itulah rahasia mengapa seniman anti kemapanan. Karena salah satu makna kemapanan adalah mampu bayar tarif toilet di mall. Sebagian mall kelas menengah bawah menerapkan tarif Rp500 hingga Rp1000 sekali masuk. Dengan demikian, orang miskin atau seniman dihimbau tidak pergi ke shopping center. Kecuali dalam keadaan kepepet: daripada pipis di celana?

Akhirnya penting pula mengetahui tempat-tempat yang membuat anda perlu keluar uang. Ada beberapa tempat gratis pipis yang dikategorikan elit: Jakarta Convention Center, Mall Taman Anggrek, Plaza Senayan, Pondok Indah Mall, Citos (Cilandak Town Square) dan sejenisnya. Pipis di toilet hotel, restaurant, perkantoran, atau rumah teman pasti gratis.

Ada toilet gratis kelas menengah: ITC Roxy, ITC Mangga Dua, (tampaknya semua ITC gratis ya?), Mall Ambassador, Airport, Pasar Kain Tanah Abang, Toko Buku Gramedia, Toko Buku Gunung Agung, semua tempat ibadat dan lembaga pemerintahan. Terakhir, toilet alam yang jelas-jelas gratis: di bawah pohon, di sudut tembok, pantai, dan swimming pool. Untuk pipis di dua tempat terakhir ini, anda butuh sedikit nekat + taktik sehingga anda tetap tampil dengan wajah pede.

Sedangkan toilet bayar: Blok M Plaza, Atrium Mall, Mall Metropolitan. Yang juga bayar dengan kondisi sangat buruk: stasiun kereta api, terminal biskota, transit biskota, pelabuhan, dan sejenisnya. Itulah beberapa tempat yang aku ingat.

Mengapa perkencingan layak dibahas? Bukan masalah besar kecil tarifnya. Tapi, kencing dan berak adalah hak asasi manusia. Tidak boleh dieksploitasi dengan alasan apa pun. Orang-orang tidak akan mati apabila tidak makan atau minum 1 hari penuh. Tapi menahan diri tidak pipis seharian sangat berbahaya bagi ginjal.

Pemerintah hendaknya sadar, wilayah publik harus bermanfaat bagi masyarakat seluas mungkin. Dalam izin pembangunan sebuah shopping center pasti tertuang ketentuan untuk menyediakan ruang sosial keagamaan, yaitu tempat pipis dan ibadat.

Pendapatan bisnis toilet memang sangat menguntungkan. Modalnya hanya air, kertas tisu (bila diperlukan), dan cairan pembersih. Pengelola toilet hanya membayar gaji petugas jaga (yang merangkap pembersih toilet) dan retribusi. Dulu tarif toilet cuma Rp100, lalu naik jadi Rp200, kemudian Rp500. Dan sekarang di beberapa tempat Rp1000.

Aku pernah berdialog dengan seorang pengusaha toilet. Untuk satu outlet yang ramai, ia bisa mendapatkan keuntungan bersih Rp700 ribuan, setelah dipotong ini itu. Bayangkan bila dikalikan sebulan. Makanya sogokan ke pengelola pasar cukup besar untuk menguasai toilet sebuah pasar.

Manusiawikah bisnis toilet ini?

Dalam etika bisnis Cina, pantang memanfaatkan penderitaan orang lain. Di kalangan pengedar narkoba saja ada aturan tidak tertulis, dilarang menjual barang kepada pengguna yang sudah sekarat.

Suatu saat, anda harus membayar sewa ruang ibadat (salat, kebaktian) di mall. Karena ada 3 hal yang kita gunakan: 1] tempat sembahyang itu menyita ruang profit menjadi sosial; 2] anda bebas beristirahat dan selonjorkan kaki; dan 3] anda menggunakan banyak air yang volumenya pasti lebih banyak daripada anda kencing atau berak.

Mas Sarip benar, kejahatan terbesar adalah saat kau mengambil keuntungan material dari penderitaan orang lain. Dan bisnis toilet adalah bisnis paling zalim karena ia memanfaatkan ketidakberdayaan orang untuk menahan pipis. Piss, man! [andito]

Komentar»

1. Muhammad Ali - April 22, 2008

Jika Sarip yang miskin “situkang koran” mengatakan orang terjahat adalah ia yang mengambil keuntungan material dari penderitaan orang lain. maka hal itu adalah hal yang tak dapat dungkiri, karena “bagi kaum miskin” kewajiban sedekah & pertolongan orang yang membutuhkan telah diganti dengan perampokan.
Yang lebih gila lagi ternaya menurut lele bagio “si pemulung sampah” bahwa kemerdekaan akan rasa aman dan nyaman hingga subsitansi masyarakat. hanya ada untuk elit, bukan untuk masyarakat kecil terlebih masyarakat kusam dan dekil.

makanya lee….. jangan miskin..!!
beda nasif penilayan etika pada orang kaya dengan orang miskin!!
dipasar, bisanya jika juragan ikan/ punggawa lagi kentut dikeramaian orang-orang menayakan. “kenapa Pa Haji, Sakit Perutya ??. atau memuji-mujinya karna dianggap mau bercanda dengan anak buah.
bedahalnya jika yang kentut itu orang miskin dan terlebih bodoh, maka yang muncul hanya lah cacian dan usiran “PERGI SANA, NGGAK TAU DIRI, NGAK ADA ETIKA, BODOH..!!”.

apa ada aturan negara yang hukum yang lebih keras dibandingkan dengan kekahatan biasa yang menjadi bagian dari deviasi sosioal yang secarah pitrah akan terjadi saat masyarakat tersebut terjepit dan kelaparan??
secara sederhana jika kita mengakaji sistem konsiderasi kepenting para penguasa, maka ketegasan hukum seperti halnya KUHP yang ada lebih memuat hukuman puluhan tahun hingga hukuman mati sungguh arahnya hannya dekat dan melekat kepada masyarakat bodoh dan miskin.

untuk menjaga kewibawaan negara, maka negara menganggap harus ada acaman sanksi yang keras untuk diterapakan bagi suatu kejahatan, dan sanksi keras yang paling mudan dalam pembentukan & pelaksanaannya ialah harus diarahkan kepada masyarakat bodoh dan miskin karena ada dualasan yang dipahami:
1) untuk tergambarkan hukum bereaksi sigap dan tegas, maka harus diketahui kejahatan terbesar dalam kuantitatif. dan kriminalitas terbesar dalam kuantitatif adala berada pada masyarakat bodoh & miskin tersebut (karna selain pola hidupnya yang rentan kelaparan hingga kekerasan, secara kuntitatif keberadaannya dinegara ini juga tidak dapat dipungkiri lebih banyak).
2) masyarakat yang bodoh bagi aparatur pasti tidak bisa melawan saat ditindas (yang sarjana aja bannyak nggak sanggup ngelawan apalagi yang bodoh).
3)masyarakat yang miskin pasti ngak sanggup sewa pengacara. dan jika siterdakwa terkaitnya kasus pidana puluhantaun keatas tapi taksanggub bayar maka pemerintah menunjuk pengacara geratis (yang namanya geratis ya diberatkan bukan diringgankan, ya diperberat) ” toh bagi pengacara merekakan juga miskin dan bodoh mana tau kalo ditelantarin, yang pentingkan diberi senangat. hee..”

jika pada etika bisnis Cina dikatakan kalangan pengedar narkoba saja ada aturan tidak tertulis hingga dilarang menjual barang kepada pengguna yang sudah sekarat karana pantang memanfaatkan penderitaan orang lain. mak aharus diakui kultur yang ada dinegara ini cukup unik dengan simboliknya. hakim dikenal dengan hubungi aku jika ingin menang, dan polisi lebih putar otak melihat situasi. kallo udah gitu mau apa??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: