jump to navigation

Ahlulkitab April 15, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

 

Setiap sistem keyakinan mempunyai pengalaman historis sendiri-sendiri yang belum tentu terdokumentasi dan ditransmisi dengan baik ke generasi selanjutnya atau ke wilayah publik.

Dalam struktur masyarakat feodal, hanya kelas mapan yang berkapital tebal sajalah yang memungkinkan melestarikan semua ajaran nenek moyangnya dalam bentuk teks. Kalangan jelata hanya bisa mewariskan budaya lisan.

Hegemoni teks dengan cara berpikir yang positivistik akhirnya menganulir secara serampangan berbagai kearifan ilahiah ini. Keyakinan-keyakinan yang dinilai tidak mendukung struktur yang dominan dinilai tidak peka zaman, kuno, dan jumud.

Penguasa teks ini kemudian melegalkan pondasi keyakinannya, dan, otomatis, menegatifkan segala hal yang berbeda dengannya. Dalam sejarah agama dunia, klan agama Abrahimik memenangi klaim ini. Yang sah hanya agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Mereka dikenal sebagai Ahlulkitab. Teks-teks suci mereka yang menampilkan eksistensi kelompok dan sistem lain diplintir dan dikondisikan berlaku hanya pada kalangan dekat agama struktur kuasa tersebut. Agama yang lain hanya figuran, bahkan pesakitan.

Mereka membagi agama langit dan agama bumi dengan karakter positif dan negatif yang sudah tergambar dalam pelabelan tersebut. Mudah ditebak, pengikut agama bumi termarjinalkan dan agama langit melangit bebas.

Untung saja Tuhan tidak terformat dalam pikiran sempit macam gitu. Dunia ini demikian luas dan telah menjadi ruang praktik kehidupan makhluk ribuan tahun lamanya. Apabila Tuhan hanya menampilkan tiga agama besar saja, banyak manusia akan menyebut Tuhan pilih kasih dan tidak berperikemanusiaan.

Dalam klaim salah satu agama besar disebutkan ada 124.000 nabi dan rasul di dunia ini. Nah, dalam kitab suci hanya dikenal puluhan nabi-rasul saja. Lalu, ke mana sisanya? Mereka menyebar ke antero jagad, memilih tugas hidup dalam iklim lokalnya masing-masing. Aku yakin, keterbatasan dokumentasi membuat mereka hanya dikenali oleh masyarakat modern sebagai filosof, bijak bestari, cerdik pandai, pinisepuh, ajengan, kyai, atau pendekar.  

Ternyata setiap keyakinan mempunyai teks, dan ada juga yang menjaganya, hanya saja tidak tersebar dengan baik, atau dikondisikan oleh lawan-lawannya untuk tidak tersebar. Tapi mereka berhasil berkembang menjadi agama kebudayaan. Di Indonesia, agama dan sistem keyakinan seperti ini bejibun.

Akhirnya, pembagian agama langit dan agama bumi adalah klasifikasi usang yang secara tidak langsung memarjinalkan kelompok keyakinan tertentu yang sudah bertransformasi dalam nilai-nilai kebudayaan setempat.

Karena kebenaran pada hakikatnya adalah datang dari Sang Hakikat, maka setiap sistem kebenaran -yang di dunia ini disebut sebagai agama dan/atau aliran kepercayaan- mempunyai posisi yang sama dan sejajar untuk meraih janji keselamatan. Bagiku, semua agama adalah Ahlulkitab. [andito]

Komentar»

1. rusle' - April 17, 2008

good writing, bro

2. esensi - April 30, 2008

Mantaff!

3. ihsan - Juni 26, 2009

andito anda benar2 sudah sejengkal lagi masu pintu neraka bersiap2 lah. kecuali anda bertobat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: