jump to navigation

Perempuan dan Perburuhan April 8, 2008

Posted by anditoaja in Perempuan.
trackback

Apa itu perempuan?

Sebuah organisme yang berbeda dengan jenis lainnya, yaitu laki-laki, yang mempunyai ciri pembeda pada aktivitas reproduksi, yaitu hamil dan melahirkan, yang bisa disebut sebagai perbedaan kodrati.

Kecuali masalah reproduksi, tidak ada perbedaan signifikan dalam dimensi intelektual, spiritual, dan emosional antara laki-laki dan perempuan. Pada wilayah abstrak ini, kemampuan jenis perempuan dan laki-laki adalah sama. Untuk pintar hanya mensyaratkan kerajinan dan ketekunan. Untuk menjadi spiritualis, hanya membutuhkan perenungan dan refleksi yang mendalam tentang kuasa dan kebesaran Tuhan. Untuk mempunyai emosi yang stabil hanya membutuhkan empati dan interaksi intens dengan lingkungan sekitar.

Dengan demikian, filsafat perempuan, apabila kedua kata tersebut digabungkan, adalah sebuah konstruksi pemikiran yang mendalam dan sistematis tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam wilayah sosiologi bahwa setiap hubungan antara dua insan tersebut wajib dilandasi komunikasi yang sejajar, egaliter dan transparan. Bahasa sosialnya disebut kontrak sosial. Filsafat perempuan tidak menguliti secara rinci wilayah spiritual, emosional dan intelektual karena hakikatnya sejajar dengan laki-laki. Lagipula hal ini adalah relasi privat antara dirinya dengan Tuhan.

Di sisi Tuhan, laki-laki dan perempuan adalah sama. Yang membedakannya adalah faktor keimanan dan ketakwaannya. Selain itu, semua hal adalah wilayah yang bisa dinegosiasikan. Termasuk di dalamnya ruang kerja domestik dan publik. Tidak ada tendensi superioritas dan inferioritas pada salah satunya. Semuanya murni pembagian kerja teknis.

Laki-laki yang karena suatu hal mengurus anak di rumah tidak berarti harga dirinya terampas dengan istrinya, yang karena suatu hal, bisa jadi punya pendapatan lebih besar. Pada konteks ini, ’kepemimpinan’ bermakna negosiasi, aspirasi, dan penerimaan kedua belah pihak.

Fokus kajian filsafat perempuan yang fungsional adalah pada pokok relasi laki-laki dan perempuan pada ranah publik, yaitu komunikasi sejajar yang berlanjut pada kontrak sosial. Hal ini semakin penting tatkala kita lihat dalam praktiknya bahwa relasi ini telah bias karena bumbu teologis dan kultural sehingga hanya menyudutkan dan mengorbankan perempuan.

Kontrak sosial dalam interaksi biologis laki-laki dan perempuan adalah hubungan seksual (coitus). Landasan utamanya adalah saling suka dan menikmati. Ketidaksukaan salah satu pihak akan berakibat pada pelecehan dan perkosaan. Kenyataannya, tidak sedikit perempuan yang belum berani mengungkapkan bahwa dirinya belum puas (orgasme], atau komplain hal lain dalam hubungan seperti ini.

Wilayah sosiologis dilarikan dalam dimensi abstrak privat perempuan bahwa memang sudah kewajiban mereka untuk melayani pasangan. Dalam literatur klasik agama bahkan disebutkan, perempuan wajib melayani suami meski ia sedang di atas punggung unta.

Hambatan komunikasi sehingga perempuan tidak bisa mengartikulasikan keadaannya secara eksplisit dan terbuka dengan alasan2 yang privat dan sentimentil adalah praktik penindasan dan manipulasi kesadaran. Ini bukan kontrak sosial.

Budaya timur mengokohkan dominasi pria ini sehingga kontrak sosial dalam relasi 2 insan ini menjadi tabu ketika diungkap terbuka. Contohnya, betapapun perempuan itu cinta suaminya, sangat jarang diantara mereka yang berani mengungkapkan bahwa hubungan seksual yang terjadi selama ini hanyalah memenuhi kebutuhan orgasme laki-laki, bukan perempuan.

Kenyataannya, perempuan hanya wajib hamil dan melahirkan. efek lain dari hubungan itu membutuhkan kontrak sosial baru. Menyusui, melayani hubungan seksual, mendidik anak, mengganti popok bayi dan lain2 adalah tugas baru perempuan, bukan kewajiban. Perempuan berhak menuntut upah atas kerja tambahan ini.

Hanya saja, sistem patriarki membelenggu alam kesadaran perempuan sehingga kontrak ini dinilai sebagai ’paket jadi’ yang wajib diterima. Kalau sudah hamil dan melahirkan ya wajib pula menyusui 2 tahun dan mendidiknya.

Praktik ini mendapatkan pembenaran teologis sehingga kontrak sosial tidak terwujud secara semestinya. Perempuan yang tadinya hanya berfungsi sebagai teman curhat laki-laki di dalam rumah, secara perlahan namun pasti, mendapatkan profesi tambahan sebagai pekerja (pembantu/babu/jongos) yang beres2 rumah, baby sitter yang menjaga anak, binatu mencuci pakaian, koki yang menyiapkan makanan, hingga pelayan seksual.

Dalam hubungan industrial, kontrak sosial adalah kemestian dalam setiap komunikasi. Bahwa ’kerja’ tidak akan terjadi apabila tidak ada ganjaran/upah (berapa nominal yang akan diterima dalam suatu waktu tertentu) dan batasan kerja (berapa jam dan ngapain aja). Maka wilayah nrimo, pasrah dan ikhlas yang sering terjadi seperti dialog ”terserah bapak/ibu/perusahaan saja mau berapa menggaji saya” atau ”saya tidak menuntut upah. Saya sudah berterima kasih sudah bisa diterima kerja disini”.

Dialog di atas bukan kontrak sosial karena menghilangkan basis material dan sosiologisnya. Dialog yang menekankan sisi abstrak/teologis dengan parameter keikhlasan merusak tatanan kemanusiaan. Ia memaksa orang untuk menerima wilayah privat yang sebenarnya adalah urusan pribadi dia dengan Tuhannya masing2.

Kita tidak bisa menjaga atau memfilter motivasi di balik hubungan kerja antara perempuan dan industri. Motif menafkahi keluarga (anak sekolah, membantu suami) dalam diri seorang perempuan buruh adalah privat. Industri yang ingin mendapatkan keuntungan sebesar2nya adalah juga wilayah privatnya. Kontrak sosial menjadi alat penindasan ketika wilayah2 privat ini dikonfrontasikan sehingga hanya dimenangkan pemilik modal.

Maka menjadi penting memformat kesadaran setiap individu perempuan sebelum kontrak sosial dilakukan. Kesadaran bahwa dirinya adalah manusia bebas, bukan bagian dari kelas batu (yang hanya benda mati dan objek pasif), bukan dari kelas tumbuhan (benda hidup dan objek pasif), dan tidak juga dari hewan (benda hidup, subjek pasif/instingtif) sangat menentukan nilainya di mata industri. Semakin lemah konsep pengetahuannya, semakin rentan pula posisinya di hadapan pemilik modal.

Haid, melahirkan dan menyusui bukan sekadar persoalan privat, bukan pula wilayah yang bisa dinegosiasikan sehingga industri bisa berlepas tangan begitu saja. Ketiga hal itu adalah satu organisme yang menyeluruh dalam diri perempuan buruh, jauh sebelum kontrak kerja formal dilakukan.

Dengan kata lain, segala problem biologis khas perempuan buruh adalah tanggung jawab industri. Setiap darah yang keluar dalam tubuh perempuan adalah bagian dari proses industrial. [andito]

Pointer diskusi pada Training Perempuan Pekerja, Trade Union Care Center (TUCC), di Saree, NAD. Waktunya lupa.

Komentar»

1. sarahlya - April 11, 2008

Sayangnya, si perempuan2 seringkali menjadi ‘korban’ salah tafsir dari golongan fundamentalis. Tdk ada penghargaan, dan ( lagi ) hanya sebagai objek pelampiasan syahwat ( dalam bentuk apapun ). Dan, perempuan sepertinya ‘buta’ akan keberadaan hakikinya, bahwa mereka mempunyai hak asasi sebagi ‘manusia’. Sabar dan ikhlas-pun akhirnya hanya menjadi justifikasi dari ketidakberdayaan untuk ‘ memecah ‘, ‘ mendongkrak ‘ kultur kotor tentang keberadaan perempuan sebagai “makhluk”.

Sayangnya, keberadaan perempuan sebagai ‘MANUSIA’ disalahtafsirkan oleh golongan fundamentalis, yang seolah olah menganggap mereka hanyalah bagian dari ‘sampah’. ( Lagi ), perempuan dinilai sebagai objek pelepasan syahwat ( dalam bentuk apapun ). Dan, perempuan2 seolah2 ‘buta’ akan hak asasinya sebagai manusia.

Sabar dan ikhlas-pun, akhirnya hanya menjadi penghibur lara untuk ketidakberdayaan mereka ‘mendongkrak’ kultur kotor.

2. Irsan Husain - April 18, 2008

Maju terus andito….teruslah menulis, terus mengkritik, teruslah menggelitik tentunya yang lebih berani dan lugas.-Irsan Husain

3. Lanang - April 25, 2008

Yang menarik adalah seandainya superioritas laki-laki in hanya sebatas masalah budaya/kultur saya rasa tantangan untuk menyejajarkan perempuan dan laki-laki ini tidaklah begitu berat… dengan adanya penjelasan yang masuk akal, maka masyarakat pasti akan menerimanya, sekalipun tetap butuh waktu..
Hanya saja masalah ini menjadi sedemikian pelik ketika hal ini -“penindasan perempuan” – pelaksanaan praktik2nya seperti yang dijelaskan tadi dilandaskan pada landasan Teologis.. Yang kita tahu dimensi ini sangat riskan untuk di otak-atik (paling tidak bagi sebagian (besar?) orang. Menurut saya para pembela perempuan ini harus mampu menjelaskan pendapat mereka dengan argumen2 teologis juga.. jika tidak akan sangat susah diterima masyarakat kita. Inipun perlu perjuangan yang tidak gampang untuk bisa meruntuhkan tembok keyakinan yang sudah mapan. Kita lihat mereka yang di JIL sekalipun dengan “dekengan” bebrapa tokoh di NU, toh tidak gampang..
Yang lebih tidak gampang lagi ketika para perempuan ini -tentu saja tidak semua- , diam saja seolah ini adalah adalah karunia bagi mereka.. (atau jangan2 mereka menikmatinya?)

Salam.
Maaf jika saya salah..

4. Ibeng - Desember 28, 2009

Bukankah para wanita itu sendiri yang minta di manjakan.
mengingat toilet wanita lebih bagus dari pria, toilet umum.
dalam olahraga angkat besipun,wanita di manjakan,berat lebih ringat, tapi kelas sama dengan pria.
Para wanita yang berada di rumahpun,tidak kalah terhormatnya dengan wanita yang ikut demo di depan kantor DPR.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: