jump to navigation

Muhammad April 7, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

Bagaimanakah posisi Nabi Muhammad saw di hadapan kita?

Rasulullah itu seperti matahari. Energinya menyedot segala sesuatu di sekitarnya. Karena kadar penerima cahaya yang beragam, maka penyaksian dan penerimaan mereka tentang Rasulullah pun berbeda.

Tidak heran bila ada umat yang melihatnya hanya sebagai seorang pemimpin suku, atau manajer perusahaan, atau presiden. Tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai penggembala ternak belaka atau teman biasa. Dan semua itu tersimpul dari beragam dialog antara mereka dengan Rasulullah.

Ada yang bersuara keras saat bercakap dengan beliau, ada yang bersikap biasa sebagaimana layaknya seorang kawan akrab. Dan ada juga yang merendahkan nada bicaranya karena demikian takzimnya kepada sosok sempurna ini. Ini semua refleksi dari keimanan kepadanya.

Tapi tetap saja sebagian besar orang membawa egonya masing-masing saat menghadap Rasulullah. Ego itu tetap dikenakannya ketika transformasi pengetahuan berlangsung. Sehingga, seberapa lama pun hubungan itu berlangsung, kemuliaan Rasulullah dan kemahaluasan ilmunya tenggelam dalam ego umatnya.

Uniknya, Rasulullah pun menerima dan menghadapi mereka dengan alam pikiran mereka masing-masing, dengan suatu kondisi yang mengakibatkan setiap dari mereka merasa dirinyalah orang terdekat di sisinya.

Barangkali itulah insan kamil sesungguhnya. Sosok Muhammad amat tak bisa dipahami secara utuh. Partikularitas manusia dalam memandang ayah Fathimah ini menjadikan konsep insan kamil pun parsial.

Seorang manajer ulung, misalnya, akan mengesahkan kepiawaiannya dalam mengelola perusahaannya dengan memandang kekamilan Muhammad sebagai pedagang. Tapi bisa juga ia lalai bahwa kepintaran beliau dalam berbisnis juga satu paket dengan kenyataan bahwa hingga akhir hayatnya Rasulullah tidak pernah makan sampai kenyang dengan hidangan yang biasa beliau makan sekali pun, yaitu roti dari gandum kering. Pernah terjadi, tidak ada kayu bakar yang menyala di rumahnya selama dua bulan. Artinya, bagi orang seperti itu, mengikuti teladan bisnis ala Nabi tidak serta merta berdampak pada sikap hidup hemat dan sederhana yang justru menjadi standar dan pilihan hidup Nabi.

Seorang mistikus juga mungkin akan bersikap yang sama. Kesiapan spiritualnya akan memposisikan Muhammad semata-mata sebagai guru tasawuf. Membuat Muhammad hadir dalam sosok yang damai diterima semua kalangan tanpa konflik. Padahal dalam realitas diguratkan bahwa orang yang paling dimusuhi oleh kaum kafir dan jahil adalah Muhammad bin Abdullah. Dalam banyak peristiwa peperangan, tubuhnya akrab dengan debu, luka dan memar. Di sisi lain, beliau juga tidak mengumbar pengalaman-pengalaman spiritual tertentu ke publik sejauh maslahatnya amat sedikit.

Muthahhari, dalam rangkaian ceramahnya tentang insan kamil menyatakan, persepsi pembaca/pengamat tentang sosok insan kamil bisa membawa pada parsialitas kesempurnaannya. Keseluruhan pandangan tentang Muhammad hanyalah sejauh apa yang bisa ”dipahami” oleh kita dengan segala kedaifannya. Barangkali hanya insan kamil yang mengetahui kekamilan seseorang.

Menerima Muhammad sebagai teladan sejati seyogyanya berkonsekuensi pada menerima segala akibat dan reaksi terhadapnya. Ikut Muhammad tidak menjamin melulu tertawa dan sentosa. Tapi Muhammad mewanti-wanti, apabila ingin bersamanya, siapkanlah jubah kefakiran. Banyak pembesar menafsirkan itu simbol fakir rohani. Tapi Muhammad juga mempraktikkan teks kefakiran itu dalam matra material dan kasat mata. Beliau pemegang pajak umat, tapi juga memilih hidup dalam kesederhanaan yang dalam kacamata modern sekarang sebagai ”miskin”.

Maka kecintaan membuahkan kerelaan. Kalau memang cinta Muhammad sudah merasuk dalam kalbu, maka segala kepahitan dan kegetiran hidup dalam menegakkan syiar Islam adalah bak wangi surga di dunia. Dalam bahasa seorang arif, lebih baik kita banyak menangis di dunia untuk tertawa di akhirat, daripada tertawa di dunia dan menangis di akhirat. Dan lebih buruk lagi, menangis di dunia dan juga di akhirat.

Bagaimanakah posisi Rasulullah Muhammad saw di hadapan kita? Apakah sebagai objek yang mengikuti Rasulullah, dengan berefek ia harus menanggalkan segala gaya hidup yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, meskipun dia mampu. Ataukah kita mengkondisikan agar beliau sesuai dengan karakter dan gaya hidup kita? [andito]

Komentar»

1. norie - April 8, 2008

Setidak-tidaknya sosok Muhammad SAW di mata saya adalah seorang Nabi utusan Allah. Muhammad SAW adalah orang yang harus dimodel ketakwaannya kepada Allah SWT.

2. adang - April 9, 2008

ada kearifan yang sempurna yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, cahaya safaat memang diperoleh hanya dengan kecintaan yang totaliter akan dirinya. kecintaan buta yg diatasnamakan wujud dari penghianatan akan kecintaan terhadap dirinya, naka sudah barang tentu pengakuan akan kerelaan dirinya tanpa ditambah dengan penghormatan terhadap buah kasih sayangnya adalah wujud dari penghianatan terhadap cita-cita kenabiannya.
sejarah yang membuktikan bahwa sudut pandang kecintaan yang bisa dimanipulasi, merupakan kenyataan pahit akan disparitas refleksi kecintaan terhadap dirinya….

makasih bang lumayan ikut berpuisi nich he….

sukses terus dengan tulisannya….

3. Muhammad Ali - April 22, 2008

Muhammad adalah muhammad kita adalah kita, mungkin banyak jalan menuju tuhan, tapi satu jalan yang diarahakan tuhan kepada kita untuk mencapai sapaat tuahan yakni berkhidmad diatara ssama manusi

bagai mana mungkin kita mengakui mencintai tuhan jika terhadap sesama ciptaannya kita tidakmampu membuktikannya

salam kenal pada mas andito

4. Pandji - Februari 18, 2009

berusaha tidak jadi munafik, walah susah sekali. setiap saat bersholawat, tapi nggak ngerti yang di sholawatin. ,.,,,,,,,,,,,,,,,

ramai-ramai menghadiri majelis rasululah tapi ndak pakai helm, emang sih ndak ada hadits perintah pakai helm. sudah ndak pakai helm menutup jalan pula dengan berkonvoi. hmmmmmmhhhh
sunnah rasul juga mungkin ya ……..

ya allah ya rasul berilah hambamu ini pencerahan untuk memahami fenomena orang-orang yang berteriak atas nama-MU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: