jump to navigation

Fitna April 4, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

wilders.jpg

 

Tayangan film “Fitna” di situs Youtube merobek kembali hubungan antar komunitas beragama yang seharusnya bisa berjalan dengan penuh saling pengertian. Masih banyak agenda kemanusiaan yang bisa dijadikan titik temu kerjasama antarumat beragama daripada menguliti agama lain dengan tatapan syak wasangka.

 

Ketika hubungan lintas budaya menjadi niscaya, harmoni masyarakat yang homogen akan terusik. Gejolak ekonomi menjadi momentum tersadarnya masyarakat, bahwa ada komunitas lain dengan etnik, bahasa, dan agama yang berbeda dengan mereka, tiba-tiba menempati daerah mereka dan mengambil periuk nasi mereka. Perlahan namun pasti, komunitas lain ini merebut pekerjaan-pekerjaan kasar yang menjadi hak pribumi hingga posisi strategis di pemerintahan. Tiba-tiba pajak yang mereka bayar juga tersedot untuk memberi “komunitas lain” ini makan.

Suasana kontras inilah yang membuat Geert Wilders geram. Ini tanahku, hardik anggota parlemen Belanda ini. Tapi sekarang aku menjadi asing di wilayahku sendiri. Siapa biang keroknya? Islam, teriaknya. Rezim fasisme dan totalitarianisme semacam Jerman, Italia dan Jepang keok pada 1945. Uni Soviet, simbol utama negara komunisme di Eropa, juga bubar tahun 1989. Sekarang apa lagi kalau bukan ideologi Islam?

Mendeteksi dan mengklasifikasi musuh paling mudah adalah melalui simbol etnis dan agama. Dengan membangkitkan sentimen etnis, Wilders sudah mengonsolidasi paranoid warga kulit putih terhadap semakin membesarnya populasi kaum kulit berwarna. Dengan membangkitkan sentimen agama, Wilders mendulang sukses atensi warga tentang masa depan ideologi dan budaya sekuler yang selama ini berjalan di Belanda.

Belanda sedang berebut pengaruh dengan sesama negara Uni Eropa. Dampaknya secara signifikan menimpa kesejahteraan dan posisi politik regional mereka. Dan warga pendatang adalah isu yang berkembang secara merata di semua negara-negara Eropa dan Amerika. Tim kesebelasan Prancis yang minim dihuni warga asli Prancis adalah contoh kecil yang cukup menyentak. Tak heran, orang Belanda asli meminta pertanggungjawaban partai politik besar di Den Haag tentang rasa aman dari arus imigran.

Sebagai pimpinan partai ultra kanan, PVV (Partij Voor de Vrijheid, Party for Freedom), Wilders konkretkan aura kemarahannya itu dalam, “Fitna”, film durasi 16 menit yang ditayangkan di situs internet Youtube. Dan tentu saja Perdana Menteri Belanda Jan Peter Balkenende menegaskan, “Pendapat Wilders bukanlah pendapat kabinet.”

Wilders menyaksikan perkembangan pesat komunitas Muslim di Belanda. Seratus tahun yang lalu, orang Islam di Belanda hanya 50 ribu. Sekarang hampir 100 ribu. Baginya, ini bukti empiris ekspansi Islam dan kehendak Islam politik untuk memusnahkan budaya barat.

Pencacian agama banyak bentuknya. Sebagian besar korbannya adalah agama-agama Abrahamik: Yahudi, Kristen dan Islam. Tapi lazimnya mengacu pada isu-isu sosial. Misalnya: agama Islam itu jorok, jumud, suka perang dan pembenci perempuan, kitab sucinya kejam, dan ajarannya parno karena banyak larangannya.

Agama Kristen juga tidak luput dari penyerangan tersebut. Misalnya, agama Kristen itu sentimentil, kitab sucinya porno abis, dan ajarannya slengean karena membolehkan segalanya mabok, judi, zina.

Sedangkan Yahudi itu dicaci sebagai bangsa yang dikutuk Tuhan menjadi monyet. Atau juga yang menyebabkan Yesus disalib. Umatnya terkenal licik, serakah dan pengadu domba.

Di Indonesia, pencacian agama sudah menjadi bagian dari ritus keseharian, justru dalam komunitas beragama. Entah dengan gaya bercanda atau memang dengan kekesalan karena melihat keganjilan ritualnya atau juga sebal dengan perilaku umatnya. Dalam iklim komunitas-komunitas agama yang doyan berantem saling merebut klaim kebenaran, agama “yang lain” terpatri dalam wujud monster.

Aku menyayangkan segala bentuk penghinaan terhadap segala bentuk agama dan keyakinan untuk alasan apa pun. Tapi yang dilakukan di Wilders bukan tidak mungkin juga telah kita lakukan dalam bentuk lain.

Orang boleh mengkritik Islam dan juga agama lain karena agama memang menyediakan diri untuk ditelaah dari beragam perspektif. Dengan basis pemahaman itulah aku tidak spontan memaki Wilders. Aku lihat, sesungguhnya banyak Wilders produk Indon di tengah-tengah kita. Yakni kalangan Islam yang suka membidahkan dan menyesatkan sesama Muslim-nya hanya karena perilaku ritualnya berbeda dengannya.

Maka, menurutku, “Fitna” hanyalah secuil tampilan Islam di domain publik. Ia sekadar menyuguhkan Islam versi wahabiyah/wahabisme yang puritan, materialis simbolis, rasis terhadap perempuan, dan anti spiritualisme. Dan itu benar!

Dalam film “Ayat-Ayat Cinta” ada adegan orang Islam yang memaki wartawan Amerika. Amerika telah menzalimi rakyat Palestina, Bosnia, Afghanistan, dan Irak. Karenanya, ia yang juga warga Amerika, dan kebetulan pasti non-Islam, halal darahnya. Aku ngeri dengan Islam seperti itu. Nah, “Fitna” juga muak dengan mereka.

Karena itu “Fitna” tidak memarahi Islam tradisional, yang kental dengan batiniyah dan mistisisme. Islam tradisional, yang menurutku mayoritas, berbeda jauh dengan Islam hardliner. Mereka mengajak orang menempuh jalur esoterisme. Sehingga banyaklah kalangan barat mengaji tasawuf tanpa merasa diri terancam. Bila sudah demikian, migrasi iman ke Islam, kalaulah terjadi, bukan lagi efek kekalahan politik ekonomi. Tapi murni kesadaran eksistensial.

Aku memang kesal dengan Wilders. Tapi aku sadar, kita bisa jadi lebih sadis dari Wilders. Secara tidak sadar. Kita tidak mengalkulasi berapa banyak perilaku kita yang menyesakkan dada kalangan non-Islam. Tapi mereka tidak bisa berbuat lain kecuali diam sambil mengeluas dada. Suara azan masjid telah memperpendek usia bayi, orang jompo, dan orang sakit; Isi khutbah yang melulu menyakitkan umat agama lain; Konvoi kendaraan bermotor majlis taklim di Jakarta membuat warga Jakarta semakin miskin karena tindakan pencinta Nabi Islam itu telah menghambat roda ekonomi. Banyak lagi contoh lain.

Ketika aku melewati kedutaan Belanda di jalan Rasuna Said, aku lihat demontrasi Front Pembela Islam yang memiriskan hati. Pelaku demonstran berteriak-teriak bahwa Islam itu damai dan kasih. Tapi kemudian mereka melempari kedubes Belanda dengan telur sambil berteriak-teriak.

Aku yang berada di seberang jalan hanya bisa mengelus dengkul. Ini sih jeruk makan jeruk. Seharusnya kedubes dikasih bunga. Atau kirimi lontong dan bakpau. Satpam-satpamnya dipijitin. Tunjukkan kepada mereka bahwa meskipun mereka menggeneralisir Islam sebagai barbar, mereka tetap diperlakukan dengan sopan. Setidaknya kita bisa memberi tahu, ada juga Islam dugem, Islam mistik, dan bisa juga… Islam salabim.

Aku setuju dengan pandangan Emha Ainun Nadjib. Katanya, dengan segala kejahilan dan kesekuleran mereka, darimana kita bisa menuntut mereka untuk melihat kita dengan muka manis? Yang Nabi Muhammad lakukan pasca diludahi dan ditimpuki penduduk Thaif adalah bukan mengerahkan massa gaya MMI, HTI atau FPI, melainkan mendoakan, “Tuhan, kasihi mereka karena sesungguhnya mereka tidak tahu…”

Anda ingin menunjukkan Islam yang damai dan kasih tapi masih memasang poster Abu Bakar Baasyir? Bukankah Baasyir lebih kejam daripada Wilders? [andito]

Komentar»

1. Gue nih... - April 4, 2008

Hmmm… Boleh juga…

2. ressay - April 4, 2008

satu kata untukmu bang, GILA…!!!!!

keren euy.

3. ahmadsamantho - April 4, 2008

Ia Bang Adit, jangan mau diprovokasi oleh paera ektrismis yang mengatasnamakan atau berasal dari komunitas agama manapun. lebih baik pake akal sehat dan nurani spiritual yang jernih dan bening.

Good, renungannya.

4. ISLAM TUH CINTA DAMAI, FITNA… « Inilah Jalanku - April 4, 2008

[…] mau gak mau, aku harus membuka lagi sekilas pembahasan mengenai Film FITNA yang sangat kontroversial bahkan mungkin lebih kontroversial dari Film Passion of The Christ, […]

5. realylife - April 4, 2008

semua kembali pada setiap individu
mari tebarkan rahmatan lil alamin
bukan
fitna untuk seluruh alam

6. cukupipul - April 6, 2008

tak ada yang perlu di kambing hitam kan…

mereka biarkan mereka…

berawal dari diri sendiri aja dulu dan kluarga…sudahkan kita membentuk kluarga sperti yang benar2 islam inginkan??

opini anda sipp…..

7. YUS EFENDI - April 11, 2008

Tulisan ini cukup mewakili penentangan kaum pemprotes fitna di seluruh penjuru negeri dan pemeluk islam….luar biasa bang.

8. Keberagamaan Sejati: Sebuah Renungan Atas Fenomena Film SCHISM « Inilah Jalanku - April 18, 2008

[…] film FITNA hilang dalam pembahasan para blogger dengan meninggalkan luka pada hati umat Islam, muncul lagi […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: