jump to navigation

Ludah Maret 18, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

Cuih!

Ada ludah di lantai toilet. Untuk ke sekian kalinya. Mengapa orang-orang doyan tinggalkan ludah sebelum meninggalkan toilet? Selesai pipis dan pup, maka meludahlah dia.

Air liur, air ludah, atau saliva adalah cairan bening yang dihasilkan dalam mulut manusia dan beberapa jenis hewan. Setiap hari, manusia mengeluarkan sekitar 700 ml air liur. Bisa dibayangkan apabila ludah segitu banyak menghias lantai toilet yang kita akan masuki. 

Ludah yang dibuang secara sembarangan oleh seseorang memang menjijikkan. Untuk lokasi, toilet, ada lagi yang lebih menjijikkan di kloset, yakni ketika sisa buang hajat tidak disiram. Hoek! Dan hal ini bukan cuma sekali dua kali bisa anda temukan di toilet. Padahal semua toilet di perkantoran memiliki flush yang akan menyiramkan air untuk menghanyutkan hajat kita. Letaknya disebelah kanan atau atas tabung air. Gunakanlah!

Ludah memang bagian dari tubuh kita. Sepasang kelenjar ludah yang terbesar terletak tepat di belakang sudut rahang, di depan telinga. Dua pasang kelenjar yang lebih kecil terletak lebih dalam di dasar mulut. Kelenjar ludah yang kecil-kecil tersebar di seluruh mulut. Mekanisme biologis ini ilmiah dan terkesan menarik. Tapi tetap saja tidak ada yang indah dalam ludah.

Untuk urusan kejijikan ini, negara juga bisa turut campur. Beberapa waktu lalu pemerintah Abu Dhabi, ibukota Uni Emirat Arab (UAE), telah memberlakukan denda 100 dirham bagi siapa saja yang meludah di jalan-jalan atau di tempat-tempat umum. Ini mengikuti kota-kota modern lain di dunia. Yang paling dekat dengan kita adalah Singapura. Beijing saja, yang penduduknya doyan membuat ‘tanda mata’ ini di mana saja sudah menerapkan larangan meludah sembarangan untuk menjaga citranya sebagai tuan rumah Olympic Games 2008.

Mungkin orang bisa berkilah demi menjaga kebiasan jorkinya ini. Mereka berkata, jika pengaliran ludah tidak mencukupi, mulut akan terasa kering. Ludah kita akan memberikan perlindungan alami terhadap pembusukan gigi, sehingga kekurangan ludah bisa menyebabkan terbentuknya kavitas (gigi karies). Tapi tetap saja ludahnya bukan cendera mata yang baik untuk kita, kan?

Dalam tradisi keagamaan tertentu, ludah orang yang [dianggap] saleh atau suci malah diburu karena diyakini membawa keberkatan. Iya, itu bagi yang percaya. Bagi yang tidak percaya, tetap saja membawa penyakit. Mungkin ini pengaruh dari sugesti. Aku percaya saja dengan ludah orang-orang suci. Tapi aku sangat tidak percaya bahwa ludah anda berkhasiat. Yang jelas pasti membawa ribuan bakteri berbahaya.

Tidak heran, meludah sembarangan, apalagi di depan orang, apalagi langsung ke wajahnya, bisa berdampak pada kematian. Ini urusannya bukan tentang penyakit, melainkan simbol penghinaan harga diri dari orang yang merasa diludahi.

Jangan dikira yang berhak meludah sesukanya hanyalah orang kaya. Tidak. Ludah itu ada dalam tubuh kita. Maka setiap orang bisa meludah kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Termasuk meludahi orang kaya atau orang yang kita pandang tinggi. Koki adalah orang yang punya kemampuan meluapkan amarah kepada majikan atau orang lain tanpa mereka sendiri merasa diludahi. Yaitu dengan cara meludahi, mungkin juga sekalian mengupili, makanan yang akan disajikan. Ingin meludahi gubernur atau presiden? Gampang. Cukup jadi kokinya saja.

Tapi ada ludah yang kita terima dengan senang hati. Yaitu saat kita berciuman dengan partner, pacar, atau suami/istri kita. Saat berciuman, ada transfer ribuan bakteri dari liurnya yang langsung kita serap ke mulut kita. Jumlahnya bisa jadi lebih banyak dari ludah yang ada di lantai toilet.

Sangat jarang ada orang yang mati karena berciuman. Kecuali kalau berciuman di tengah jalan tol. Mengapa mereka tetap hidup? Sebagian besar alasan karena cinta. Cintalah yang membuat ribuan bakteri dalam liur menjadi steril. Penjelasan ini merujuk ke penelitian Masaru Emoto tentang air. Setidaknya bakteri dalam ludah kita tidak sadar ketika ia migrasi ke mulut lain.

Kita tidak perlu meniru anjing atau kucing yang selalu membuat ‘tanda’ apabila ingin meninggalkan suatu tempat. Karena aku tidak mencintaimu maka ludahmu membawa petaka. Bila tidak, tentu aku sudah mencium ludahmu dalam bibirmu. Meskipun mungkin aku mencintaimu, kamu tetap wajib menyiram bekas ludahmu di toilet. Cuih! [andito]

Komentar»

1. Gue nih... - Maret 18, 2008

Sepertinya trauma banget dengan pengalaman melihat ludah di toilet ya mas…?
Sering-sering aja mencium bibir anak-anak kita, yang berarti mentransfer bakteri-bakteri kita yang akan menjadikan anak pada akhirnya kebal terhadap bakteri-bakteri tadi… CMIIW

2. juliach - Maret 18, 2008

Ketahuan kau pernah jadi koki di hotel di bali ya!!!!

3. vizon - Maret 22, 2008

gajah mati meninggalkan gading,
harimau mati meninggalkan belang,
manusia mati menginggalkan “ludah”….🙂

lam kenal…

4. still me, Reza - November 15, 2008

sekarang lagi pengen ngeludah nich bang, maaf ya..
cuih!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: