jump to navigation

Rasisme Maret 13, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

Gender (sex), etnik, dialek, adat, agama, hingga raga-jasmani manusia bukan sesuatu yang layak dijadikan bahan tertawaan. Humor-humor tersebut adalah pertanda masih kuatnya budaya primitif, feodal, patriarki, dan rasis di alam bawah sadar kita.  Sehingga orang yang tertawa mendengar humor-humor tersebut bukan orang yang sehat jiwa dan bahagia. Sebaliknya, ia adalah penderita sakit jiwa yang bersembunyi dalam sistem sosial yang sakit. 

Kelucuan biasanya dipadankan dengan sesuatu yang ganjil, aneh, unik, khas dan berbeda dengan prilaku kebanyakan masyarakat sekitar. Dan kelucuan itu menjadi sesuatu yang wajar dan lumrah ketika bisa ditertawakan oleh banyak orang. Masalahnya, objek tertawaan itu bukan berasal dari sebuah perilaku yang menyimpang melainkan sesuatu yang sudah kodrati, khas dalam diri seorang individu.  

Fisik 

Cacat fisik adalah objek candaan yang paling sering kita temukan. Ia adalah sebentuk alat pengocok perut yang paling mudah, instan, dan tidak perlu banyak mikir. Yang paling sering ditiru dalam lawakan di televisi adalah gaya bicara yang etnikal, latah, gagap, gagu atau cadel. Pelawak seperti Bolot yang mendramatisir ketulian dan Tompel (era 90-an) yang mengeksploitasi keunikan tubuh (dengan tompel buatannya) dan kegagapan bicaranya menjadi maskot bahwa kecacatan seseorang adalah kegembiraan, keberkahan, dan rezeki bagi orang lain. 

Orang yang jalannya pincang atau mata picek atau perut gendut atau kepala botak cenderung mengundang tawa spontan orang dewasa yang kemudian diikuti oleh anak-anak. Di era 90-an, ada pelawak pincang dari grup Jayakarta yang selalu jadi objek olok-olok temannya. Orang-orang yang cacat mental, idiot, gila juga objek lawakan asik. 

Kita juga tahu bahwa orang yang latah juga sangat menderita dan cape dengan kelatahannya. Masih untung bila ucapan latahnya adalah sesuatu yang baik. Tapi, kalau ucapan latahnya adalah sesuatu yang jorok dan kasar? Tentu mempermalukannya di hadapan orang-orang. Lawakan fisikal ini sempat terhenti beberapa saat ketika grup lawak Bagito memparodikan Gus Dur. Tapi kita tahu, itu terjadi karena Gus Dur jadi presiden. Setelah itu, lawakan parodi tubuh tetap berlanjut seperti biasa. 

Apa yang salah dengan tubuh kita sehingga layak dicemooh? Kita lahir dengan gen dan bawaan yang sudah jadi, satu paket. Rambut, mata, hidung, gigi, kulit, badan, sudah dari sananya begitu. Orangtua kita juga tidak bisa memprediksi bagaimana model bayinya.  

Kita tidak berhak menyamakan fisik seseorang dengan makhluk yang derajatnya lebih rendah, seperti, “Wajahmu seperti babi manyun,” atau “Tubuhmu seperti ijuk”. Tapi kita berhak dan layak menyamakan seseorang dengan binatang karena kesamaan prilakunya. Misalnya, “Perbuatannya seperti hewan buas.” 

Seharusnya kita yang terlahir normal (baca: seperti mayoritas manusia lain) harus banyak bersyukur karena dikaruniai bentuk tubuh yang tidak mengundang masalah pribadi dan sosial bagi kita. Malah seharusnya kita meratap bila kelengkapan fisik ini tidak bisa dioptimalkan untuk kemaslahatan orang banyak. Dengan melihat ketidaksempurnaan seseorang, seharusnya kita bisa merefleksikan diri bahwa Tuhan ternyata memberi beban kepadanya, bukan kita. Mustahil kita bisa tertawa melihat perilaku ganjil karena kecacatan seseorang.

Kalau anda percaya bahwa Tuhan hanya memberi cobaan kepada hambanya yang layak, maka kualitas orang yang cacat lebih tinggi daripada orang yang normal. Seharusnya mereka kita kasihi dan hormati.  

Orangtua 

Waktu kecil, aku sering heran mengapa teman-temanku kalau kita sedang berantem suka memanggilku “Suwignyo” atau “Zakiah”, nama kedua orangtuaku. Apa yang salah dengan nama itu? Nama orangtuaku memang Suwignyo dan Zakiah. Jika aku dipanggil sebagai anak mereka, wajar kan? Ternyata di beberapa daerah, setidaknya di era 80-an, memanggil dengan sebutan nama orangtua adalah tanda penghinaan. O, aku baru tahu. Jadi, ketika aku dipanggil, “Hei, Suwignyo!” itu adalah bentuk ejekan.

Aku tidak terbayang bagaimana perasaan anak-anak presiden atau artis ketika mendengar nama orangtuanya diteriakkan oleh orang lain…  

Suku 

Yang agak rumit adalah ketika suku tertentu menjadi bahan ejekan bagi suku yang lain. Ini bukan sekadar cemooh, melainkan refleksi sengketa etnis mereka ratusan tahun lalu. Jadi, kalah dalam persaingan usaha dan rebutan gadis bisa memicu perang kampung. Karena setiap kampung dihuni oleh suku-suku tertentu, maka perang kampung menjelma menjadi perang suku dan melebar ke setiap pelosok negeri. 

Orang Madura dimusuhi orang Betawi. Orang Betawi disepelekan sama orang Sunda. Orang Jawa ogah kawin dengan orang Sunda. Orang Jawa dimusuhi sama orang Bugis. Orang Bugis disebelin sama orang Madura. Terus sambung menyambung ke suku-suku lain.  

Para sesepuh adat terus menanamkan mental feodal tersebut dengan mengulang-ulang cerita tentang kejayaan dan heroisme sukunya di masa lalu. Orang-orang yang bangga dengan sukunya bisa berkilah, bahwa tidak salah dong kalau bangga dengan jatidiri sendiri. Memang tidak salah. Tapi kecendrungan untuk mengunggulkan sebuah suku biasanya membutuhkan suku lain sebagai tumbal atau kambing hitamnya. 

Awal 2001-an. Dalam sebuah chating room, aku pernah melihat salah seorang member memakai sebuah kepala yang terpenggal sebagai avatarnya. Aku langsung muak dan mual. Okelah bahwa ada konlfik berdarah antar suku di daerahnya dengan logika tindakan tertentu. Tapi memajang kepala orang sebagai hiasan dalam sebuah chating room adalah tindakan biadab. Apa pun alasannya.  

Agama 

Ternyata mental feodal bin primitif tidak hanya hinggap ke manusia umum, melainkan juga berimbas ke kalangan yang mengaku dekat dengan Tuhan. Kalau anda beragama A, sangat mungkin anda punya stok cerita keganjilan agama B, C, D, dan keyakinan lain. 

Humor atau parodi agama sama umurnya dengan riwayat konflik antaragama itu sendiri. Dengan merendahkan dan melecehkan agama dan kaum lain, maka muncul semangat militansi dan superioritas terhadap lembaga agamanya sendiri. Kalau emosi ini tertanam dalam benak setiap ‘tentara Tuhan’, mereka tidak akan ragu membunuh musuhnya sebanyak mungkin dengan keberanian maksimal. Yang benar hanya kita, yang lain adalah bidah, kafir dan terkutuk.  

Bila dicermati, kisah-kisah parodi agama tertentu hakikatnya menghina agama kita sendiri. Karena, meski bersimbol lain, Tuhan lebih menerima penyerahan diri umatnya, yang bisa jadi menganut agama yang kita hinakan tersebut.  Kalau ternyata semua agama tidak mempermasalahkan hal ini, bahwa menceritakan kisah parodi agama lain, saya sarankan anda murtad saja. Karena agama ternyata tampungan bagi orang-orang sakit jiwa.  

Makhluk lain

Objek tertawaan kepada makhluk selain manusia dicitrakan dengan bentuk kekerasan dan penyiksaan kepada binatang atau tanaman. Orang bisa gembira ketika berhasil menembak burung gereja dengan senapan angin, tertawa ketika bisa menyeret-nyeret dan memukuli anjing jalanan, atau menjerat kucing. Dalam zaman modern, bentuk penyiksaan itu diabadikan menjadi sangkar burung, kurungan anjing dan lain-lain. 

Masih banyak orang yang mengaku saleh ritual masih asik melihat pertunjukan biadab adu manusia (baca: olahraga tinju) dan adu hewan (sabung ayam, anjing, jangkrik, kambing, anjing, banteng). Ada perasaan digjaya ketika jago kita berhasil membuat roboh lawannya, teler, semaput, kejang-kejang, dan mati. 

Sejauh yang aku tahu, Majlis Ulama Indonesia dan majlis agama lain belum pernah mengeluarkan fatwa tentang keharaman dan kebiadaban adu makhluk hidup ini. Luar biasa. Orang yang mengaku dekat dengan Tuhan tapi berwajah dingin menyaksikan pembantaian atas nama olah raga dan tradisi.

Cara menguji apakah hiburan itu memang manusiawi atau bukan cukup refleksikan dengan diri kita. Apakah kita senang dan bangga ibu atau ayah kita beradu tinju dengan ibu-ibu atau bapak-bapak lain? Hadiahnya lumayan gede, termasuk bonus parkinson yang akan diberikan beberapa tahun kemudian. Kalau anda tidak bermasalah, aku ajukan diri sebagai promotor untuk ibu anda bertinju dengan preman pasar. Masih kurang jelas dan ekstrim? Hm, terbayang gak ya, rasul dan nabi anda beradu tinju dengan maniak sex? Hadiahnya kaos bertuliskan nama Tuhan.

Di Indonesia, pertunjukan seperti ini mungkin akan berakhir saat ketua MUI diadu tinju sampai mati dengan tokoh RMS… [andito] 

Komentar»

1. juliach - Maret 15, 2008

Jadi kesimpulan semua orang indonesia sakit jiwa semua?

Kalo iya, apa obatnya?

2. tanpabendera - Maret 18, 2008

Salam Damai…
Salam Perjuangan …

BLOG nya bagus, semoga bermanfaat buat kita semua …
jika berkenan kunjungi BLOG kami di :

http://tanpabendera.wordpress.com/

terima kasih atas waktu dan cinta anda …

3. Muhammad Ali - Maret 22, 2008

Salam kanda. Sebagai seorang mantan mahasiswa, membaca tulisan kanda yang mampu merefresentasikan reealitas, saya merasa tergidik karna tidak memiliki keberanian menulis seperti yang kanda terapkan. Saya seolah dihantam akan suatu nasehat yang mengatakan bertindak tanpa berpikir adalah kecerobohan dan berpikir tanpa bertindak adalah kesia-siaan. Tapi jika mengingat fatwa seperti yang pernah dilontarkan Saidina Ali “aib terbesar ialah dimana seseorang menghujat orang lain sementara aib ada pada dirinya” maka hal tersebut juga menjadi suatu pertimbangan dalam membangun ukhuwah serta menjaga langkah.
Saidina Ali berkata “Dua hal yang membuatku bersedih. Pertama, orang alim yang buruk tingkah lakunya. Kedua, orang bodoh yang rajin ibadahnya. Yang satu merusak orang dengan tingkah lakunya dan yang kedua menyesatkan orang dengan ibadahnya”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: