jump to navigation

Istri Maret 4, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

2257.jpg 

Apakah ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan ataukah sebuah status sosial belaka? Artinya, apabila ia disebut sebagai sebuah pekerjaan, maka pelakunya berhak mendapatkan upah, fasilitas dan tunjangan sebagaimana profesi formal yang lain. 

Apabila ia sekadar status belaka, maka keberadaan dan kehadirannya bisa jadi hanyalah subordinat atau aksesori dari sebuah struktur sosial di mana pria adalah koordinatnya. Dalam posisi kedua ini, kehadiran ibu rumah tangga hanyalah efek dari belas kasihan pria yang berlaku sebagai suami atau kepala rumah tangga.

Konsekuensi dari kedua pilahan ini cukup besar. Ibu rumah tangga bukanlah sebuah profesi asal jadi. Tapi ia adalah efek lain dari sebuah janji dalam ikatan pernikahan. Yang namanya janji, berarti sebuah kontrak sosial. Kontrak, ada hak dan kewajiban yang disadari penuh oleh kedua belah, pihak pria dan wanita, tentang apa saja yang boleh dan tidak mereka lakukan dalam kehidupan rumah tangga mereka nanti. Kontrak yang benar tentu adalah sebuah rencana matang. Ada komitmen, tanggung jawab, dan pengorbanan.

Karena ibu rumah tangga adalah efek lanjut dari posisi seorang istri, maka hak dan kewajiban ibu rumah tangga hakikatnya tidak berbeda jauh dengan hak dan kewajiban seorang istri. Dan kewajiban seorang istri hanya satu: melayani kebutuhan seks suami. Selebihnya harus dikompromikan lagi.

Mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik anak, juga segala macam urusan membersihkan rumah, memasak, dan lain-lain adalah bukan tugas seorang istri. Sebagai catatan, melayani hubungan seksual pun tidak serta merta melainkan harus sesuai kesiapan fisik dan psikologis sang istri. Apabila istri sedang menstruasi atau sedang bad mood, maka suami tidak berhak dengan alasan apa pun untuk memaksa istrinya menerima spermanya.

Istri berhak menuntut upah atas segala hal yang ia lakukan selain aktivitas seksual. Karena apa yang ia lakukan di dalam rumah adalah sebuah hambatan untuk aktivitas di luar rumah. Ia bisa meminta gaji sebagai seorang baby sitter kalau harus mengurus dan merawat anak, juga sebagai satpam kalau harus nongkrongin rumah dan menunggu suami pulang, juga koki harus menyiapkan breakfast, lunch, dan dinner, juga pekerjaan lain.

Di negara-negara yang emansipasi wanitanya sudah tinggi, keharusan untuk melahirkan anak adalah sebuah problem besar karena hal itu bisa menghambar karir dan aktivitas sosial lain. Untuk punya anak tidak harus mengandung dan melahirkan tapi bisa dengan jalan adopsi anak.

Di Indonesia, posisi pria adalah wakil Tuhan di dunia. Dialah yang memerintah alam ini termasuk wanita sebagai perkakasnya. Sehingga ketika pria itu berlaku sebagai suami atau kepala rumah tangga, bisa dibayangkan apa yang ia lakukan terhadap istrinya. Yang pasti, pria sudah mengkondisikan janji pernikahan mereka bukanlah sebuah kontrak sosial, melainkan bagian lain dari teologi, yang hanya mengenal perintah dan ketaatan. Suami bertugas memerintah dan istri bertugas menaati dan menjalankan perintah. Order is order.

Dengan demikian, kejadian di rumah adalah sebuah neraka dalam bentuk aslinya. Tugas suami membuang sperma ke dalam vagina. Tugas istri adalah memelihara sperma yang terbaik untuk dilahirkan sebagai anak yang sehat, baik, saleh dan cerdas sambil mengerjakan tugas-tugas rumah tangga sehari-hari.

Dengan kondisi seperti itu, bisakah istri meminta upahnya sebagai pekerja? Jangan berpikir muluk. Dikasih rumah, makan dan pakaian adalah bentuk penghargaan tertinggi. Masalah sakit hati karena pelecehan seksual dan psikis, itu adalah risiko dan satu paket dalam “pernikahan ilahiah”  seperti ini.

Suami yang manusia (catatan: suami yang kerjanya hanya menguasai dan menjajah pada dasarnya adalah hewan) tentu sadar bahwa pernikahan bukan sebuah kemenangan pria di atas wanita. Ia adalah sebuah kompromi seumur hidup. Keberadaannya sebagai pria sangat terbantu dengan kehadiran seorang wanita di rumahnya.

Memuliakan istri tentu bukan sebuah amal baik, tapi kemestian kemanusiaan dan hakikat kelaki-lakian. Suami mulia adalah ia yang menghargai dan menjunjung tinggi istrinya. Suami bejat adalah ia yang selalu melecehkan istrinya dengan sikap dan perkataan.

Kewajiban suami tidak selesai hanya dengan pemberian nafkah dan fasilitas material kepada istrinya. Karena tugas utama suami adalah memberikan perhargaan kepada istrinya sehingga ia mendapatkan ketenangan batin dan kerelaan karena ia merasakan hanya dirinyalah satu-satunya makhluk paling mulia dan berharga di mata suaminya.

Wahai ibu rumah tangga, tuntutlah upahmu! [andito] 

Komentar»

1. princess tautau - Maret 4, 2008

Dengan ini saya menuntut mercy new eyes 1 dan rumah tingkat yang ada kolam renangnya ! Yang laen sih bisa beli sendiri…, Jakarta 17 Agustus 2008

2. eka - Maret 20, 2008

menurut eka mah!!, istri yang baik itu bukan hanya melayani hasrat seks suami, tapi..ya harus “semuanya”, tapi dengan catatan suaminya hrs ngerti dong, jangan seenak udel memerintah…!, bila perlu harus ada ijab kobul dulu, makasih ya kang!!.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: