jump to navigation

Mistikus Maret 3, 2008

Posted by anditoaja in Agama.
trackback

13ghosts.jpg 

Aku curiga, pengalaman mistik bukan berkah melainkan hijab melihat realitas sosial yang memang wajib kita urus karena kondisi kita sebagai makhluk material dan sosiologis. 

Beberapa waktu lalu aku kedatangan tamu. Ia teman waktu kuliah dulu, biasa ziarah ke tempat-tempat waliyullah di tanah Jawa. Ia datang bersama temannya satu daerahnya di Jombang. Sebut saja Syaikh X. Kata temanku, ia ini bisa melihat makhluk gaib, bisa melihat dan membedakan mana jin, malaikat, orang-orang yang sudah mati, lengkap dengan ciri-ciri detailnya.

Mulanya aku masih respek pada sosoknya [siapa sih yang tidak senang ketemu dengan orang baik?], hingga kemudian Si Syaikh X ini berkata ingin dipertemukan dengan pengusaha atau pejabat yang aku kenal. Aku langsung ilfil, terasa ada yg ngeganjel. C’est faux. Mengaku sudah sering tamasya ke negeri gaib, tapi masih bertanya tentang nomor kontak pejabat? Memangnya malaikat butuh proyek?

Tiba-tiba perutku mules. Aku pamit diri. Tiba-tiba aku lebih ingin hadiri acara yang sudah aku coret dalam benak. Aku merasakan acara itu jauh lebih bagus daripada ngobrol dengan tipikal orang seperti ini. Aku bukan menilainya sbg orang jahat dan karenanya layak dihindari. Tapi model omongan seperti ini memang bikin mules. Aku gak biasa aja.

Aku sangat percaya dengan alam-alam seperti ini. Aku juga tidak menafikan adanya orang-orang yang biasa jalan-jalan ke daerah itu. Tapi aku menilainya hal itu sebagai masalah pribadi. Opiniku secara personal, tentu aku kagum dan menghargai orang-orang yang berpengalaman seperti itu. Tapi sebagai makhluk sosial, aku merasakan hal itu tidak menambah atau mengurangi realitas sosial apa pun.

Memangnya apa sih yang bisa berubah kalau kita bisa lihat ini-itu, bisa ke alam-alam malakut? Terus kenapa? Apa yang kamu spiritualis itu bisa ubah untuk dunia? Kita sudah cape negeri segede bagong ini dijajah sama kantor dagang VOC. Setelah kita lepas dari feodalisme bernama Orde Baru, masih pula kita ditontoni pertunjukan mistik?

Kemarin aku juga kena semprot oleh seseorang. Ia ngomel panjang karena aku tidak memberikan respon yang positif atas pengalaman spiritualnya yang katanya, “Sangat nyata dan dalam kondisi sadar”. Aku heran, kalaulah ia benar seorang mistikus, tentu ia tidak akan hirau dan komplain dengan komentarku. Lagipula, bukankah kalau anda sharing sesuatu, anda otomatis membuka diri untuk dikomentari?

Kalau anda mistikus miskin, saya rasa tugas anda di dunia adalah memperluas dan mempertajam lifeskill guna menjadi alat mencari penghidupan. Kalau anda bisa menghidupi diri sendiri tanpa belas kasih orang lain, bisa memberdayakan keluarga yang menjadi tanggungan anda, dan syukur-syukur anda bisa perkuat ekonomi orang/masyarakat lain, anda sudah layak jadi mistikus sejati.  

Kalau anda punya mistikus kaya, makanlah sesedikit mungkin dan serahkan sebagian besar kekayaan anda untuk menolong sesama yang miskin dan dimiskinkan. Setidaknya kekayaan anda bisa sedikit mencuci dosa sosial leluhur anda yang pasti pernah menikmati kesuksesan dan kejayaan Orde Baru.

Sungguh, aku curiga, pengalaman mistik bukan berkah, melainkan sekadar khayalan dan obsesi pribadi. [andito]  

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: