jump to navigation

Kesejajaran sebagai Pondasi Dialog Agama dan Peradaban Maret 3, 2008

Posted by anditoaja in Politik.
trackback

earth_and_humanity.jpg

Menandai akhir tahun 2003, dunia diwarnai oleh berbagai krisis kemanusiaan, baik antar komunitas umat beragama maupun antar negara yang dipersepsikan sebagai wakil dari sebuah peradaban. Ekspos media kemudian menyimpulkan bahwa relasi yang terbangun antar umat dan bangsa adalah konflik, tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik. Padahal dengan sedikit mencermati dan keberanian untuk membuka diri atas berbagai rancang bangun agama dan peradaban, bukan tidak mungkin antara agama dan peradaban dapat terjalin hubungan yang lebih konstruktif.

Setiap peradaban mempunyai pandangan dunia holistik, di mana dimensi metafisik, filosofis dan teologis termasuk di dalamnya. Nama lain agama dalam arti luas. Jadi, boleh disebut bahwa agama adalah jantung peradaban. Pondasi dialog peradaban yang benar akan tercipta bila ada keinginan bersama dari tiap-tiap agama untuk baku paham dan hormat demi kebenaran yang sama, bukan hanya pada tataran artifisial.

Inilah yang semestinya diperhatikan secara serius dalam dialog peradaban. Hal ini sejalan dengan teks suci: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuann dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya, orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat [49]:13).

Setiap peradaban besar juga menciptakan struktur sosial yang luar biasa. Satu sama lain tidak identik namun memiliki banyak kemiripan. Perbedaan identitas hanya pada pelaku dan ungkapan. Kemiripan seperti ini adalah tipikal seluruh peradaban tradisional. Sehingga, meyakini pentingnya kesatuan agama-agama transendental adalah kewajaran sedangkan ketidakyakinan terhadap ide ini menyiratkan bahwa kitab suci belum sungguh-sungguh dibaca.

Maka, peradaban modern (Barat) merupakan sisa peradaban agama dan bukan bersumber dari filsafat sekuler. Namun definisi peradaban ini sudah terkikis dalam benak banyak orang karena kemunduran agama di dunia modern, digantikan oleh globalisasi tanpa klaim agama. Kini, peradaban (Barat) benar-benar dikontrol oleh elit intelektual sekular yang jauh lebih sekular daripada keseluruhan populasi masyarakat umumnya yang cenderung dekat ikatan tradisi, dan itu adalah agama.

Akhirnya kita dipaksa menerima salah satu klaim warisan yang terburuk dan tertragis, bahwa seluruh dunia adalah peringkasan peradaban-peradaban menjadi peradaban Barat (Eropa-Amerika). Bahwa hanya terdapat satu peradaban dan seluruh peradaban yang lainnya adalah blok-blok bangunan yang merupakan bagian dari satu peradaban. Dominasi politik dan militer yang mendunia membuat Barat secara umum tidak tertarik berdialog dengan peradaban-peradaban lain.

Di sisi lain, pihak yang didominasi biasanya terpilah dalam dua kelompok. Yang pertama adalah kelompok puritan yang mencoba berlindung dari keterusiran di permukaan bumi sebagai identitas yang jelas dengan memolitisir konsep nilai-nilai tertentu untuk tujuan ideologi politik sektarian dan agenda yang bersifat domestik atau global. Mereka menerima pandangan dunia lain selama hal tersebut berasal dari pendapat mereka sendiri. Ini merupakan bentuk keterbukaan yang palsu (pseudo-openess) (Osman Bakar, Islam and Civilisational Dialogue, 1997). Khaled Abou El Fadl menyebut ideologi kelompok itu adalah Wahabisme.

Alih-alih berdialog, kelompok ekstrem ini meyakini semua kehidupan yang dijalani di luar hukum agama merupakan kejahatan terhadap Tuhan yang harus ditentang dan diperangi. Bila keseluruhan dokstrin Islam seperti ini, maka tesis Huntington tentang benturan antar peradaban terpaksa harus dibenarkan.

Kelompok kedua adalah kelompok yang mengekor gerakan Barat. Mereka tidak tertarik berdialog dengan Barat, tapi mereka ingin seperti Barat. Edward W Said menyebutnya sebagai “sindrom kulit putih”. Kelompok ini menyepelekan seluruh budaya non-Barat, bukan hanya Islam. Di antara mereka malah ada yang “lebih Barat” ketimbang Barat itu sendiri. Tapi tiruan tetaplah sebuah tiruan, tidak akan pernah bisa identik. Bentuk tiruan seperti ini tidak bisa disamakan dengan dialog sebagaimana yang dimaksud. Dialog adalah aktivitas memberi dan menerima tanpa mereduksi identitas masing-masing, sedangkan tiruan berarti penyerapan sebuah identitas ke identitas yang lain.

Pertanyaan besar hari ini adalah bagaimana model dialog antar peradaban (agama, lama/tradisional) dengan peradaban Barat (baru/modern) dan bagian-bagiannya di belahan dunia lainnya. Pada the Conference on Religion and Dialogue among Civilisations, Juni 2001, Seyyed Hossein Nasr mengatakan bahwa syarat utama dialog adalah kesejajaran antar peradaban.

Peradaban Barat yang dominan menerima eksistensi peradaban-peradaban lainnya dan meyakini bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bernilai yang patut didiskusikan. Adapun bagi pihak peradaban yang didominasi mesti yakin pada eksistensinya secara eksternal dan internal. Ketika berdialog, pihak yang didominasi mesti memiliki percaya diri akan keberadaannya, identitas dirinya sendiri dan pada saat yang sama mempunyai keterbukaan untuk berbagi.

Sayangnya, hal ini banyak tidak dipahami oleh banyak pemikir belahan dunia Timur atau negara-negara Selatan. Saat ini Barat saja yang menentukan seluruh agenda. Kalaulah tidak ada agenda-agenda tertentu yang dibuat oleh para pemikir Barat, pemikir kita sibuk memberi tafsir atas tindakan-tindakan Barat. Setiap intelektual kita menjadi tukang bagi isu-isu mereka yang belum tentu berdampak guna bagi kita sendiri. Pemikiran Muslim poskolonial secara emosional tetap reaktif dengan otonomi dan integritas yang sangat sedikit. Lebih kepada pro-Barat atau anti-Barat daripada memfokuskan diri pada pertanyaan yang lebih substantif: apakah pemikiran modern umat Islam saat ini manusiawi atau tidak?

Untuk hal itu, Nasr menawarkan dua alternatif bentuk dialog. Dialog pertama adalah dialog antara sisa peradaban tradisional. Disebut “sisa peradaban tradisional” sebab tidak ada peradaban tradisional yang benar-benar utuh di dunia saat ini. Hal ini dikarenakan oleh adanya perbedaan tingkat kesadaran dan kemunduran pada sesuatu yang transendental pada tiap-tiap bagian dunia.

Dialog semacam ini tidak terlalu sukar sebab berbagai macam ajaran tradisional mempunyai kebenaran yang sama walau diutarakan dalam bahasa yang berbeda-beda, kalau dilihat dari satu sisi. Mereka tidak identik namun mereka sangat dekat. Sejarah telah mencatat adanya dialog antar peradaban-peradaban lama, walaupun tidak formal, seperti Islam dan Hindu di India; Islam, Kristen dan Yahudi di Spanyol; Budha ke Konghucu Cina; Konghucu ke Shinto Jepang; dan contoh-contoh sejenisnya yang lain.

Dialog kedua jauh lebih sulit, yaitu antara peradaban non-Barat dan peradaban Barat, karena struktur kekuatan militer dan politik yang jauh berbeda. Kesulitan terjadi karena salah persepsi terhadap eksternal dan kemampuan kalangan internal yang telah menghambat geraknya sendiri.

Menurut Edward W. Said, sebelum memulai berdialog dengan Barat, kita perlu mengetahui secara lebih mendalam kompleksitas Barat (Eropa/Amerika) sebagai sebuah komunitas dengan segala macam peristiwa, kepentingan, tekanan, dan sejarah konflik di dalamnya. Sosok Barat yang dipelajari secara akademis di berbagai perguruan tinggi acap tidak sesuai dengan kenyataannya. Jarang terdapat intelektual peradaban yang didominasi mampu mengenali bagaimana semua proses kultural dan sosial yang akhirnya terjadi itu bisa diterjemahkan. Sebab, salah satu kendala dan ketimpangan dialog adalah ketika kaum intelektual Timur (Arab-Asia) berpikir terlalu sederhana, reduktif dan statis atas Barat.

Sewajarnya, setiap peradaban dapat duduk pada kursi dan meja yang sama tanpa privelese pada pihak tertentu sehingga tidak ada kemungkinan masing-masing untuk berpikir bahwa tiada peningkatan kualitas hidup dan budaya mereka bila tidak mengikuti cara mereka saja. Di sana, masing-masing peradaban membuat agendanya sendiri dan akan berdialog dengan peradaban-peradaban yang lain.

Dialog antar peradaban-peradaban dan peradaban modern tidak hanya berdasar pada ketidaksamaan kekuatan, militer, media, politik dan kekuatan ekonomi. Tetapi juga berdasarkan porsi asing yang tidak pernah kita ketahui di sejarah dunia di mana satu peradaban menentukan agenda. Walaupun peradaban-peradaban yang lain ingin memberi jawaban mereka sendiri, mereka mesti menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Barat.

Untuk itu, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah menentukan cakupan-cakupan persetujuan tertentu, yang harus berlandaskan pada persetujuaan atas prinsip-prinsip realitas akan asal usul dunia, di mana mereka berasal, ke mana mereka menuju. Sekadar kebijaksanaan saja tidak cukup. Tanpanya, persetujuan hanya sekadar membikin perdamaian semu, sebab semuanya beralaskan standar ganda pihak yang dominan (Barat).

Said Ramadan dalam the West and the Challenges of Modernity mengajukan syarat agar kepala kita bisa tegak di hadapan peradaban Barat: beriman yang dijalankan dengan komitmen dan pragmatis, membebaskan diri dari fantasi teknologi Barat dan modernisme; transendensi rasional, spiritualitas yang diperkaya dengan kepastian hukum; hidup bersama tuhan dan berdampingan dengan manusia. [andito]

Komentar»

1. virlina - Maret 27, 2008

abang seorang NDP-er kan?

Di lingkungan HMI, saya sering diminta memberi materi Nilai-nilai Dasar Perjuangan (NDP), di teman2 mahasiswa materi nasionalisme, di lingkungan lintas agama materi Dialog Kebenaran dan Kebangsaan, di komunitas buruh materi seputar ideologi pekerja. Inti semua materi sama, pluralisme dan humanisme, hanya titik tekannya dibedakan sesuai kondisi forum.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: