jump to navigation

Kerja Februari 27, 2008

Posted by anditoaja in Sosial.
trackback

5064.jpg 

Manusia itu makhluk material. Agar ia bisa berkembang dan melanjutkan kehidupannya, ia butuh makan syarat hidup. Berbeda dengan makhluk lain yang tidak butuh alat apa pun untuk bisa bertahan hidup, kecuali insting, maka manusia membutuhkan ketrampilan lain agar ia bisa makan.

 

Konkretnya, manusia itu harus hidup agar ia bisa mengaktual. Untuk itu ia butuh makan.Dari mana makanan itu datang? Tidak datang dari langit. Ia datang dari suatu proses produksi. Dari benih hingga menghasilkan buah, diproses lagi oleh tenaga manusia agar bisa dikonsumsi sebagai makanan layak manusia. 

Tapi manusia bukan hewan. Makanan tidak datang dengan sendirinya. Kalau anda tidak bisa bercocok tanam, mustahil anda bisa mengkonsumsi sayuran. Kalau anda tidak bisa beternak, mustahil anda bisa mengkonumsi telur dan daging. Karena itu anda perlu uang, sebagai alat tukar. 

Dengan uang, anda bisa menikmati hal-hal yang tidak bisa anda lakukan secara teknis. Anda bisa membeli makanan atau barang. Bahkan anda bisa membuat seseorang mau melakukan sesuatu untuk anda, dengan imbalan uang. 

Dari mana uang itu? Langit? Buanglah jauh-jauh pikiran sesat itu. Uang tidak datang dari langit. Ia datang dari dompet, atau dari tangan orang yang percaya bahwa anda layak diberi uang. Lagipula uang jatuh dari langit adalah penghinaan bagi sistem ekonomi karena akan menyebabkan nilai uang itu sendiri menjadi turun.  Jadi, uang itu adalah simbol dari kita bekerja. Dari bekerja, kita mendapatkan laba atau gaji. Jerih payah itulah yang kita pakai untuk membeli makanan dan kebutuhan hidup lainnya. 

Mengapa kita bisa bekerja? Janganlah pula kita menganggap pekerjaan adalah sebuah rezeki dari langit. Cobalah ingat-ingat, Tuhan tidak pernah kan jadi mandor atau menejer ha-er-de yang membuat lamaran anda diterima atau ditolak. 

Pekerjaan didapat karena anda punyai ketrampilan. Ada skill yang bisa anda jual atau jasakan kepada orang atau lembaga lain. Ketrampilan itu sendiri berasal dari kumpulan pengetahuan. Anda bisa kuasai sesuatu karena anda punya pengetahuan dan pengalaman tentangnya. 

Sedangkan berinteraksi dengan orang lain dan membaca informasi adalah sumber darimana pengetahuan kita itu muncul. Ada wilayah sosiologis yang harus didudukkan secara ketat. Yang membuat anda survive adalah karena daya tahan anda sendiri. Tidak ada Tuhan apalagi makhluk antah berantah lain yang tidak bisa diverifikasi. Intinya, anda bisa hidup karena anda bekerja.

Mengapa bekerja? Karena anda makhluk material, yang niscaya bergerak dan berubah.  Di dalam sebuah proses kerja, setiap keringat yang keluar harus dihitung. Karena keringat tersebut keluar akibat sebuah transaksi kerja. Iya, transaksi, artinya kontrak sosial.  

Sehingga, manusia paling sadis adalah ia yang bisa menangguk untung dari keringat orang lain, sedangkan dirinya tidak mengeluarkan keringat setetes apa pun. Anda tidak perlu sebut makhluk semacam itu sebagai manusia. Julukan hewan pun mungkin sudah terlalu bagus untuknya. 

Semakin ia bekerja, mengeluarkan keringat untuk dirinya, orang-orang yang ditanggungnya, dan juga masyarakatnya, kualitas manusianya semakin tinggi. Bekerjalah. Lalu Tuhan? Biarlah Dia menempati relung hati kita yang tidak terkena efek pada wilayah sosiologis kita. Taruhlah Dia di sana. Jangan paksa keluarkan Dia dari tempat semestinya. Karena bila demikian, pasti Tuhan adalah oknum pertama yang anda jadikan kambing hitam saat anda menemui kegagalan atau kesulitan hidup. [andito]

Komentar»

1. pembenci lelaki - Februari 27, 2008

Kerja adalah detik ini bukan menit nanti, jam kemudian, hari esok atau sebelas tahun berlalu… detik ini sepenggalah waktu, Nabi muhammad menjadi nabi di umur 40 tahun. Life begins at forty apakah kita masih STMJ…. who knows…, 20 tahun kemudian nabi meninggal, apa yang sudah kita rencanakan 30 tahun lagi ? dream, will,plan, do, now…

2. juliach - Maret 3, 2008

Apakah sebagai ibu rumah tangga itu termasuk bekerja/profesi?

3. amuli - Maret 12, 2008

Menurutku, kerja material bukan satu-satunya sarana yang mendatangkan uang. Kadang-kadang malah kerja material kita tidak sebanding dengan keringat yang dikeluarkan. Sering disebut-sebut, bahwa ada faktor lain yang menambah faktor bertambahnya penghasilan kita suatu ketika. Ada orang yang kerja materialnya begitu-begitu saja, tetapi tetap dapat mencukupi kebutuhan keluarganya padahal keahliannya cuma, katakanlah, membikin lontong dan gorengan. Orang itu kadang-kadang tak paham, sekaligus bersyukur tentunya, bagaimana dirinya yang sudah tidak bersuami lagi dengan dua anak dewasa yang belum punya kerjaan dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Boleh jadi, takwa menjadi faktor tambahan, selain keahlian, dalam mencari rezeki material. Wallahul ‘Alim.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: