jump to navigation

Jodoh Februari 25, 2008

Posted by anditoaja in Asal Nulis.
trackback

 “Ya habis gimana lagi kalau udah jodoh?” Inilah kalimat acap aku dengar saat ngobrol dengan sejumlah pasangan.

Benarkah?

Aku curiga, jodoh itu tidak sedramatis yang kita kira. Sebagaimana juga kehidupan sosial, maka perjodohan, persandingan 2 orang lain jenis dalam bahtera rumah tangga, tidak lepas dari kontrak sosial. Ya, itu masalah sosial. Dalam relasi sosial, selalu ada take and give. Hukum umumnya, anda akan terima sejauh apa yang anda beri. Kita juga gak bisa dapat semua apabila kita tidak memberikan semua.

Itulah kontrak sosial. Bahasa lainnya adalah komitmen, kesepakatan.

“Ternyata ia tidak seperti yang aku kenal. Ia sudah berubah jauh” Begitu juga omongan yang sering kita dengar. Eit, tunggu dulu! Berubah, benarkah ia telah berubah? Atau jangan-jangan, memang itulah sifatnya, hanya saja tidak mengaktual ketika masa pacaran itu berlangsung. Yang dilihat hanya yang manis dan gurih. Selebihnya disepelekan begitu saja.

Kegagalan kontrak sosial dalam tipe ini bukan karena adanya unsur penipuan, melainkan karena ketidakpekaan salah satu pasangan dengan salah satu klausul yang ternyata bila kita cermati bisa jadi menyusahkan, membelenggu, ataua malah menyakiti orang lain (baca: pasangannya).

Apabila dalam hubungan tersebut ada terlibat suatu romansa atau perasaan, itu adalah hal lain, yang bisa jadi tidak relevan. Tapi keterlibatan perasaan biasanya adalah sebuah kompromi baru, penerimaan pada pasangan dengan lebih luwes dan eklektik. Sehingga orang yang menikah bisa jadi tidak saling mencintai, melainkan sekadar menyayangi dan menghormati pasangannya. Bisa jadi hati/perasaan salah satu/dua pasangan tersebut berlabuh di lain hati. Mengapa mereka tetap menikah? Banyak faktor lah.

Pernikahan adalah ajang pembuktian cinta, bukan eksploitasi seksual, bukan pula dominasi material/psikologis. Sehingga setiap suami/istri adalah status yang “belum selesai” karena ia belum teruji sehingga pasangannya benar-benar rela dan ikhlas atas segala apa yg telah pasangannya lakukan. Sampai kapan ujian ini berlangsung, hingga maut memisahkan mereka.

Soulmate (belahan jiwa) adalah kecocokan jiwa kita dengan jiwa lawan jenis yang lain, yang belum tentu menikah dengan kita. Biasanya dari sekadar mendengar curhat, terus ada kesamaan nasib, ada kepedulian dan empati. Akhirnya jadi simpati, dan suka, sayang, cinta… Tentu tanpa harus memiliki karena setiap orang dibatasi oleh pagar-pagar sosialnya.

Akhirnya, cinta itu meluas. Ia laksana api, yang bisa menerangi dan memberi arti bagi sebanyak apa pun lilin yang siap menampungnya. Jadi, kita tidak bisa menyalahkan apabila ada orang yang bisa mencintai lebih dari satu orang dengan kadar yang sama. Ini tidak ada hubungannya dengan kegombalan atau kepalsuan cinta… []

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: