jump to navigation

Laut Februari 20, 2008

Posted by anditoaja in Asal Nulis.
trackback

 Laut itu sudah menunggu. Demikian luas dan dalam. Warnanya biru, sangat jernih. Dengan darat hanya dibatasi tempok beton. Aku melihatnya dari bangunan ibadah yang sudah tua.

Bangunan ini persis di pinggir lautan itu. Air merembes masuk ke bangunan tersebut. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada aku.

Tapi tiba-tiba mulai muncul penghuni bangunan itu, kadal-kadal besar bermunculan dari sela-sela bawah dinding. Mereka bersiap melahapku. Aku teringat pimpinan mereka, seekor buaya berbadan manusia. Buaya inilah yang membunuhi saudara-saudaraku sesama manusia tapi dengan lembutnya mengajak aku bergabung dengannya.

Aku dipanggil berkali-kali oleh suara batin, “Ayo gabung saja di lautan. Sekarang atau nanti sama saja. Toh, nanti engkau akan bertemu dan tenggelam di dalam lautan ini!”

Di situ ada bidadari cantik.

Aku tidak bisa berenang.

Tapi aku kan bisa berenang bersamanya, sambil mendekap dadanya.

Laut itu sudah menunggu.[]  

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: